
Asih masih mendekap tubuh Edy dalam tidur lelapnya. Ia merasakan begitu takutnya akan kehilangan sang suami.
Meskipun mereka terlihat tidak pernah romantis, namun Ia nyatanya mencintai pria tersebut.
Mentari pagi menerpa kulit Edy, yang kini masih dalam dekapan Asih.
Ia mencoba mengingat peristiwa semalam saat mereka tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang yqng entah darimana datangnya dan membuat kekacauan. Namun pastinya itu adalah para orang suruhan yang jika bukan dari pihak Robert, tentu dari pihak Wei.
Edy melihat sekelilingnya, jika Ia berada diatas sebuah dahan yang rindang, dalam dekapan sang pujaan hati.
Asih masih tampak lelap, dan Edy mencoba mengecup lembut bibir sang istri, agar Asih terbangun.
Benar saja, Asih mengerjapakan kedua matanya, dan melihat Edy sudah terbangun.
Ia melepaskan dekapannya "Sudah merasa baikan?" tanya Asih yang mencoba beranjak untuk memindahkan tubuh Edy yang menindihnya.
Edy kemudian beranjak dan duduk didahan disisi kanan Asih.
"Siapa mereka? Mengapa dapat menemukan keberadaan kita?" cecar Edy.
"Mereka orang-orang suruhan Wei.." jawab Asih, sembari membenahi rambutnya.
Edy mengerutkan keningnya "Namun mengapa mereka dapat menemukan keberadaan kita?" tanya Edy penasaran.
Asih menghela nafasnya. Ia menatap sinar mentari yang menyapa dedaunan dan rerumputan.
"Wei kini dirasuki kekuatan hitam dalam tubuhnya. Kekuatan kegelapan yang berasal dari perpaduan Jahadi, Ristih dan juga Rekso telah menyatu padanya, maka itu Ia dengan mudahnya menemukan keberadaan kita dan dengan mengirimkan orang-orang terlatih" jawab Asih.
Edy terperangah mendengarnya. Bagaimana mungkin Wei dapat dirasuki oleh tiga kekuatan yang sangat penuh kegelapan.
Tiba-tiba saja Asih mendengar suara ringkikan kuda dari arah bawah pohon.
"Bara..?" ucap Asih dan Edy secara serentak.
Lalu keduanya menoleh kearah bawah pohon, dan benar saja, seekor kuda berbulu coklat dengan tubub tegap dan gagah menghampiri keduanya dengan sangat penuh keriduan.
"Bara..?" Asih memeluk leher kuda tersebut, dan kuda mengenduskan hidungnya dan menggeseKnya dengan isyarat kerinduan.
Lalu kuda itu melihat Edy, dan Ia juga menyapa Edy dengan ujung mulutnya.
"Siapa yang mengantarkanmu kemari?" tanya Asih.
Kuda itu meringkik dan menunjukkan satu sosok didepan padang rumput "Romo" guman Asih lirih, sembari tersenyum sumringah saat melihat siapa yang membawa Bara Sembrani kepadanya.
Sosok itu membalas senyum Asih, lalu menghilang.
"Aku merindukanmu" ucap Asih "Mari berkeliling padang rumput ini" ucap Asih, lalu naik keatas punggung kuda gagah tersebut.
"Tidak, mengajakku?" ucap Edy sembari menaikkan satu alisnya.
"Ayo.." jawab Asih, lalu menjulurkan tangannya dan membawa Edy naik kebelakangnya.
Lalu Asih memacu tali kekang kuda tersebut "Bara.. Kamu siap?" bisik Asih.
Lalu kuda itu meringkik kuat dan Asih menghentak tali kekang itu dan membuat Bara berlari kencang mengelilingi padang rumput yang merupakan sebuah taman terbuka.
Mau aku ajarkan sesuatu saat menunggangi kuda?" ucap Asih kepada Edy yang dengan erat memeluk pinggang Asih.
"Boleh.. Apa itu?" tanya Edy penasaran.
Lalu Asih mengambil busur dipunggungnya dan memasang anak panah, lalu membidik seekor tikus yang sedang berlari direrumputan.
Asih kemudian melepaskan anak panahnya saat tikus itu berlari mendengar suara derap langkah Bara yang gagah, dan..
Wuuuusssh...ssttt...
Ciiiiiiiit..ciiiit..
Suara tikus itu mencicit karena terkena anak panah dari Asih.
Edy terperangah melihatnya dan tak menduga sama sekali jika objek bergerak dapat dibidik dengan mudahnya.
"Mau mencoba?" tanya Asih kepada Edy.
"Boleh.." jawab Edy, lalu Asih memberikan busur berserta anak panahnya kepada Edy.
"Sekarang bidik ular kobra yang sedang merayap tersebut" titah Asih kepada Edy, sembari menunjuk seekor ular kobra berwarna hitam yang sedang merayap di rerumputan.
Edy membidiknya, lalu Bara berlari kencang dan berputar, membuat Edy semakin kesulitan untuk membidik targetnya.
Edy berusaha membidik dengan benar, dan..
Wuuuuussh.. Ssttt..
Anak panah melesat dan jauh meleset dari target yang diinginkan. Bahkan ular itu semakin kencang merayap dan menghilang.
Edy mendengus kesal, karena merasa gagal untuk mengenai targetnya.
Lalu Asih kembali memberikan anak panahnya "Fokus dan tenangkan hati saat membidik target" Asih memberikan instruksi.
"Jangan panik Jika Bara berlari lebih kencang" Asih kembali menimpali ucapannya.
Edy menganggukan kepalanya, dan saat itu, sang ular menengadahkan kepalanya hingga setinggi 30 cm, dan...
Wuusshh..ssstt..
Sssssssshhhhhhsss..
Ular itu mensesis saat kepalanya tertancap anak panah dan menggeleparkan tubuhnya direrumputan.
"Bagus.. Sepertinya kamu sangat cepat sekali dalam mempelajari sesuatu" puji Asih kepasa sang suami.
Edy merasa sangat tersanjung mendengar pujian dari Asih.
Lalu Wanita itu melompat dari duduknya, dan kini dalam posisi berdiri diatas punggung kuda nan gagah tersebut.
"Sekarang kamu harus belajar bagaimana caranya memanah dalam posisi berdiri, dan perhatikan keseimbangan tubuhmu" ucap Asih, sembari memperagakan apa yang akan diajarkannya dan Asih membidik pohon yang mereka jadikan sebagai tempat menginap malam tadi.
Dan..
Wuuush.. Sssttt..
Anak panah tertancap dibatang pohon.
Asih kemudian mencoba untuk duduk kembali diatas punggung kuda dan memberikan busur kepada Edy untuk mencobanya.
Edy masih bingung bagaimana caranya Ia melompat dari duduknya untuk berdiri diatas punggung kuda tersebut.
Namun karena keinginannya yang kuat, Edy mencoba melompat, dan..
Aaaargggh...
Edy terjatuh dari punggung kuda dan dengan cepat Asih melompat untuk menangkap Edy, namun yang terjadi mereka bergulingan diatas rerumputan dan berhenti dibawah pohon tempat mereka menginap.
Edy menatap Asih yang kini berada diatasnya. Keduanya akhirnya tertawa cekikikan.
"Itu sangat sulit.. Bagaimana Aku dapat melompat dari atas punggung Bara yang terus berlari?" ucap Edy dengan nada mengeluh.
"Kamu harus mencobanya.. Tidak ada yang tidak mungkin dan itu sangat mudah jika kau ingin berusaha" ucap Asih memberikan semangat kepada suaminya.
Edy menatap sang istri, lalu mengeratkan dekapannya "Istirahat sejenak, Ya." jawab Esy beralasan, lalu mengecup Asih dengan nakal.
"Heei.. Ini siang bolong, bagaimana jika ada yang melihat kita disini?" bisik Asih mengingatkan.
"Kalau begitu gendong aku ketempat yang tidak terlihat oleh manusia" jawab Edy.
Asih memanyunkan bibirnya "Bukankah Kamu sering mengomel jika Aku menggendongmu?" sindir Asih.
"Kali ini aku akan dengan senang hati untuk kamu gendong kemanapun yang kamu mau.." jawab Edy pasrah.
Lalu dengan cepat, Asih beranjak bangkit dan menggendong Edy menuju sebuah tempat yang akan mereka jadikan sebagai tempat memadu kasih dan menghabiskan waktu yang indah. Selama mereka telah sampai dinegara Asing ini, mereka selalu disuguhi oleh pertarungan yang membuat mereka selalu tidak berkesempatan untuk beritirahat dengan nyaman dan memadu kasih.
Asih membawa Edy kesebuah goa yang sangat jauh dari kota dan hanya ada mereka berdua ditempat itu.
"Ya ampun, Sayang.. Gak disini juga tempatnya kali.." omel Edy saat Asih meletakkan tubuhnya diatas bebatuan.
"Berisik.. " jawab Asih yang kemudian menyumpal mulut Edy dengan kecupan hangat.