Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pertolongan



Asih memasuki toko untuk membeli beberapa potong pakaian. Ia berjalan tanpa alas kaki dan dengan pedenya memilih pakaian yang akan dibelinya.


tiga orang karyawan toko menatap merendahkannya. Namun seorang diantaranya bersikap ramah.


"mau cari apa kak.?" tanya seorang karyawan tersebut.


Asih hanya membalas dengan senyumnya. Ia. mencoba memilih pakaian yang cocok untuknya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Ia membayarnya dikasir.


Mereka meremehkan apakah Asih mampu membayar barang yang dibelinya. namun semuanya tercengang saat melihat Asih mengeluarkan uang dalam kantong kresek dengan jumlah banyak.


Setelah selesai membayarnya, Asih keluar dari toko, Ia ingin membeli sarapan dan alas kaki. Di kejauhan terdengar suara sirene polisi. Namun karena Asih tidak mengetehui apa dari tanda bunyi itu, maka Ia bersikap santai.


Namun seseorang membekapnya dari arah belakang dengan menggunakan obat bius


dan menyeretnya kedalam sebuah mobil, lalu meninggalkan lokasi tersebut.


Mobil melaju kencang menuju sebuah lokasi yang yang menjauh dari pinggirin kota. Setelah satu jam perjalanan, sampailah mereka pada sebuah gudang kosong, dimana dulunya tempat menjadi pelelangan ikan dan sebagainya. Aroma amis menyeruak menusuk hidung Asih.


Asih mengerjapkan matanya. Lalu menvoba memaksa membuka matanya yang masih dihinggapi rasa kantuk . Ia memandang kesekelilingnya. Ia terkejut saat melihat Lee sudah berada dihadapannya. Duduk sembari menghisap rokok electriknya


"Kak Lee.." sapanya dengan suara berat. Ia memegangi kepalanya yang serasa pusing. Lalu berusaha bangkit, namun sedikit sempoyongan.


Kriiiiiukkk ...


terdengar suara cacing diperutnya sedang meronta-ronta ingin meminta untuk diberi makan. Ia memandang Lee dengan tatapan memelas, dengan ungkapan Ia sedang lapar dan belum makan seharian.


"dasar.. Bocah Nakal.. Tunggu sebentar disini, aku akan mencarikan sarapan untukmu. Jangan kemana-mana." Titah Lee kepada Asih.


Lalu Lee keluar dari gudang, meyelinap keluar dari gudang-gudang yang berjejer dan sudah tidak lagi terurus. Letaknya tepat dipiggiran laut.


Lee mencari penjual sarapan yang ada disekitar lokasi. Ia memesan seporsi nasi uduk untuk Asih.


Lee memberiakan uang selembar 50 ribuan.


"wah, bang. Saya tidak ada kembaliannya. Tunggu bentar ya, saya cari tukarannya saja.


"sudahlah bu, ambil saja kembaliannya" ucap Lee dengan sopan. Sesaat akan meninggalkan tempat itu, Ia melihat 2 orang berpakaian preman sedang menuju arah tempat Asih bersembunyi.


Seketika Lee membulatkan matanya.


"siaaall.!!"


Lee mempercepat langkahnya menyusuri rumah-rumah penduduk yang terbuat dari papan kayu kelapa yang sudah tampak lapuk. Bahkan, sebagian sudha tidak berpenghuni.


Lee meniti titian yang terbuat dari papan sebagai penghubung dari satu jalananan kecil kejalanan lainnya.


Ia melihat seorang berpakaian preman itu hampir mendekati gudang bekas penyimpanan ikan tersebut.


Lee mengikat kantong kresek untuk sarapan Asih dengan kencang, lalu memasukkan pada jaket kulitnya, Ia menutupi wajahnya dengan menggunakan topinya, sebuah kaca mata hitam terpasang pada wajahnya yang tampan.


"mengapa anak buah Wei sudah secepat ini sampai kemari.? Apakah mereka melihat vedeo wajah Asih yang menyebar di dunia maya." Lee berguman dalam hatinya. Ia mengendap-endap.


----------♡♡♡-------


Asih merasakan perutnya sangat lapar. Ia meremas perutnya dengan satu tangannya. Sedari malam tadinIa belum sarapan hingga hampir menjelang siang. Ia berniat ingin menyalin pakaiannya yang sudah sangat kotor, selagi Lee sedang membeli sarapan untuknya, Ia mengambil kesempatan untuk itu.


Asih melepas pakaiannya, lalu mengganti pakaian dalamnya, Ia memakan celana kulot, yang dianggapnya selain tidak ketat, tetapi juga membuatnya bebas bergerak. Iabmemakai tank top berwarna hitam yang akan digunakan sebagai pakaian lapisannya, namun, Saat Ia akan memungut pakaian gantinya. Ia mendengar suara patahan ranting terinjak kaki manusia.


Seketika Ia waspada, Ia melupakan pakaiannya, dan hanya menggunakan tank top saja. lalu meraih tas joran dan memakainya. dengan getakan cepat dan dan ringan Ia bersembunyi diatas langit-lagit gudang tepat berada diatas pintu.


Terdengar suara pintu didobrak paksa. Seorang berbadan kekar masuk kedalam gudang dengan tatapan menyapu seluruh ruangan. pria melihat bekas pakaian wanita berserakan lengkap dengan underwarenya.


"ciiiih.. Sepertinya mereka habis bersenang-senang disini.." pria itu berguman keras sembari memungut penutup bukit milik Asih dengan menentengnya kedepan wajahnya, lalu pria itu melemparkannya begitu saja dilantai gudang.


Asih membulatkan matanya. "brengsek..!! Mengapa Ia membuang pengaman bukitku.! Kurang kerjaan banget.!".


lalu perlahan Ia membuka resleting jorannya, mengambil satu anak panahnya, yang akan digunakan sebagai senjata. Asih melihat pria itu membawa senjata Api. Lalu dengan cara merangkak dilangit-langit gudang yang sudah tidak utuh lagi dan banyak lubang sana sini. tepat berada didekat pria, itu, Asih menjatuhkan dirinya, tepat dipundak pria itu seperti bocah yang sedang digendong oleh ayahnya. Asih Mengunci kedua pergelangan kakinya dileher pria itu dengan sangat kencang.


Pria itu begitu sangat kaget, dengan ekspresi wajah menyeramkan mencengkram kedua pergelangan kaki Asih yang mencekik lehernya.


Asih semakin mengencangkan cengkramannya dengan kekuatan penuh Ia memutarkan tubuhnya, memaksa pria itu ikut berputar juga. Dengan gerakan salto Ia mendarat sempurnah dilantai. tanpa memberi jedah, Asih melibaskan anak panahnya tepat pada senjata api pria milik pria itu, sehingga senjata itu terpental disudut lantai.


Pria itu balik menyerang dengan melayangkan tinjunya menyasar pada wajah Asih. Lalu Asih dengan gerakan menghindar, memiringkan kepalanya kesisi kiri, dan memberi sambutan dengan memggoreskan ujung anak panah pada lengan pria itu.


"aaaaarrrghh.."


Pria itu mengerang menahan sakit. Ia melihat darah mengucur pada lengannya yang tergores sangat dalam dan menimbulkan rasa perih.


Ia menatap geram pada Asih, namun sesaat matanya teralihkan dengan sebuah liontin pink diamond milik Asih yang menggantung tepat pada belahan kedua bukit milik Asih.


Pria itu jadi gagal fokus akan apa yang harus dialakukannya. Ia seperti blank akan rencananya.


"busyeet.. !! Tu bocah ternyata aduhai juga." lalu Ia tersadar pada tujuan awalnya, untuk merebut batu mustika milik Asih. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, lalu menggelengkan kepalanya untuk agar tetap sadar.


pria itu bangkit dengan sedikit terhuyung, lalu memandang penuh amarah pada Asih. Ujung matanya melirik pada senjata Api yang berada di sudut gudang tak jauh darinya.


Asih memasang kuda-kuda pertahanan, melihat gelagat lawannya, Ia segera kembali menyerang, lalu menyasar pada pergelangan kaki lawannya, dengan gerakan cepat, Ia menyapu kaki lawannya, sehingga pria itu terjungkal kelantai. dengan gerakan salgo, Asih meraih sejata api yang berada disudut gudang, lalu menembakkannya pada betis pria itu..


Doooor...


Suara tembakan itu memenuhi area gudang.


"aaaaaarrgh.."


Teriak pria itu dengan sangat keras. Ia memegangi betisnya yang terkena tembakan oleh Asih.


Seorang temannya yang sudah berada di dwpan gudang menerobos masuk, Ia menatap dengan sangat marah ketika melihat temanbya sudah terkapar berlumuran darah. Ia menembakkan senjata apinya pada pada Asih. Saat itu Asih tak sempat untuk menghindar, lengannya menjadi sasaran tembakan oleh pria itu.


Senjata apinya yang dipegangnya terjatuh kelantai bersamaan dengan tubuhnya. Pria itu datangang mendekatinya. Pandangan Asih mulai kabur, Ia berusaha bangkit untuk melakukan perlawanan.


Pria itu datang menghampirinya, lalu memberikan sebuah tamparan di pipinya. Sebuah rasa perih berada tepat di pipi kirinya yang putih halus, dan pandangannya kian kabur.


Darah mengucur dari sudut bibirnya. Pria itu ingin menarik liontin pink diamond yang melekat di leher Asih dan bergelantungan tepat pada kedua belahan bukitnya yang indah.


pria itu ingin mengambil keuntungan dari ketidak berdayaan Asih. saat Ia akan menarik liontin pink diamond dan menjamah bukit itu, tiba-tiba saja pria itu merasa silau dengan cahaya berkilauan berwarna pink yang keluar dari liontin tersebut. Seketika pria itu berteriak karena matanya terasa amat sakit dan mengeluarkan darah. Pria itu mengalami kebutaan. Ia berlari sembari memegangi kedua matanya yang mengeluarkan darah dan mengalami kebutaan. Ia berlari tak tentu arah.


Asih yang merasa lemah, lalu memejamkan matanya, Ia sudah tak mampu lagi bertahan. Lengannya yang terkena peluru itu bamyak mengeluarkan darah.


Sedangkan pria yang berada tak jauh darinya tewas karena kehabisan darah dan terkena terpaan cahaya pink Diamond.


------------♡♡♡♡-----------


Asih mengerjapkan matanya, Ia melihat kesekelilingnya. Ia melihat sedang berada disebuah ranjang mewah. Sepertinya sebuah rumah mewah. Ia melirik lengannya yang sudah berbalut kain kasah. Tampak didekatnya dua buah wadah terbuat dari bahan steinles stell dan berbagai alat medis lainnya. Ada sebuah botol yang bertuliskan al kohol, gumpalan kapas penuh nada darah begitu amat banyak dalam sebuah wadah satunya.


"Dimana aku.? Siapa yang membawaku kemari.?" Asih bertanya dalam hatinya. Saat akan menggerakkan lengannya, Ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Ia meringis menahan sakit.


"Kak Lee.." gumanny lirih dalam hatinya. Ia mencoba berpura-pura tertidur. Namun ekor matanya mengintai apa yang dilakukan oleh pemuda itu. Tampak pemuda itu sedang menyalin pakaiannya.


deeeegggh..


Perasaan berdebar memenuhi ruang hatinya. dadanya bergemuruh melihat pemandangan yang tak biasa Ia lihat. desiran-desiran aneh menjalar ditubuhnya. Ia tidak memahami itu apa. Karena tidak adanya pembelajaran yang signifikan selama Ia berada di hutan tentang apa itu hasrat.


Ia semakin gelisah dengan pemandangan yang dilihatnya, apalagi Ia adalah gadis yang masih dalam fase pubertas terhadap lawan jenisnya. Ia menutup wajahnya dengan selimut.


Lee selesai menyalin pakaiannya. Ia datang menghampiri Asih. Lalu menarik selimut yang menutupi wajah gadis itu.


Seketika wajah Asih memerah dan membuang pandangannya.


Lee mengambil semangkuk bubur diatas nakas. Lalu menyendokkannya dan akan menyuapkan bubur itu kepada Asih. "bukalah mulutmu. Sudah seharian kamu tidak makan." titah Lee kepada Asih.


Asih memanyunkan bibirnya. "aku bisa makan sendiri." jawabnya ketus.


Namun Ia terperangah saat menyadari pakaiannya sudah berganti dengan sebuah kaos oblong berwana putih. Seketika matanya membola. "kakak yang gantiin pakaianku ya..?" tnya Asih dengan kesal.


"tubuhmu penuh noda darah, begitu juga dengan pakaianmu. Aku terpaksa menggantinya." ucap Lee santai.


"haaah..!! berarti kamu juga melihatnya..!!" ucap Asih dengan nada mencibir, lalu memasang wajah masam. Ia bangkit dan memmbenahi duduknya, bersandar disandaran ranjang.


Dengan rasa kesal Asih merampas begitu saja mangkuk bubur itu, lalu menyuapkan kemulutnya dengan kasar tanpa sisa. Setelah menghabiskan buburnya, Asih minum segelas air putih yang sudah disediakan oleh Lee sebelumnya.


"aku sudah menyelamatkanmu dari bahaya, aku juga sudah mengeluarkan peluru dari lenganmu." ucap Lee mencoba menenangkan Asih.


Setelah melihat Asih mulai tenang, Lee mencoba mencari tau apa sebenarnya tujuannya Asih ke kota.


"mengapa kamu melepas topengmu.? Bukankah aku sudah memperingatkan jika ada banyak bahaya diluar sana yang sedang mengincarmu." ucap lee dengan tenang, namun penuh penekanan. Tatapannya menghujam jantung.


"maaf, aku kecebur ke sungai, saat dikejar-kejar oleh para penculik. Topeng itu berlumpur, dan menggangguku" jawab Asih tanpa menoleh kepada Lee.


"aku akan membelikannya yang baru, dan tidak akan merusak kulitmu." ucap Lee datar.


"lalu apa sebenarnya tujuanmu datang kekota ini..?" Lee terus mendesak Asih, untuk mengorek keterangan yang mungkin bisa Ia pecahkan.


"aku mencari Bara." ucap Asih tegas.


"Ba.. Bara? Siapa dia.?" tanya Lee penasaran. Ada sedikit rasa rasa sakit dihatinya. Entahlah Ia juga tak tahu itu apa.


"Dia adalah temanku.. Aku sudah begitu amat dekat dengannya. Tanpanya hidupku terasa hampa." jawab Asih, dengan tatapan sendu.


"seperti apa Dia.?" Lee semakin penasaran, namun hatinya semakin sakit saat mendengar Asih mengatakan sesuatu yang istimewa tentang sosok Bara.


Asih menoleh kepad Lee. " dia sangat tangguh, setiap saat aku bermain dengannya, dia memiliki tenaga yang sangat kuat, aku mengaguminya."


Telinga Lee rasanya seakan terbakar mendengar semua ucapan Asih. "a..apaa.. Ka..kamu sering bermain dengannya.?" Lee terbata, Ia seperti tak percaya dengan apa yang didengarnya. "ku kira dia adalah gadis yang lugu dan polos, namun ternyata sama saja.!!" Lee menggeram dalam hatinya.


"Ia.. Aku sering bermainnya dengannya. Aku menyukainya, tubuh kekarnya, tegap dan kokoh. Aku Juga suka bulu coklatnya yang berkilau dan ekornya yang panjang." ucap Asih menggambarkan sosok Bara.


Lee mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang diucapkan oleh Asih.


"kamu bilang berbulu dan berekor panjang.? emangnya Bara itu siapa sih..?" Tanya Lee bertambah bingung.


"Kuda.." jawab Asih singkat.


"Haaaah.?! Kuda..?! Jadi kamu dari tadi ceritain kuda.? Bukan pacar kamu.?!" cecar Lee dengan bingung.


"Iya.. Kuda.. Aku kemari mau mencari kudaku yang diculik oleh orang-orang kota. Semalam aku hampir menemukannya, namun mereka mengejarku dan aku menceburkan diri ke sungai. Karena aku mendengar mereka sedang mengincar batu permata ini." jawab Asih, sembari memegang batu permatanya.


"Ya salaaam.. Kamu jauh-jauh datang kemari hanya demi mencari seekor kuda? Ku kira kamu ada tujuan lain atau keperluan penting. Lalu dimana kamu menemukan Kudamu?" ucap Lee dengan penasaran.


"Didekat padang ilalang dan ada sebuah pacuan kuda." jawab Asih sendu.


Lee terdiam sejenak. "bukankah pacuan itu milik Andre sang gembong Narkoba yang kini juga sedang dalam masa penyelidikanku..?" Lee berguman lirih dalam hatinya.


"Hampir saja aku khilaf dibuat gadis konyol ini. Aku sampai mengira dia adalah seorang wanita murahan." Lee kembali berguman lirih.


Lee memandang Asih. Lalu meraih batu liontin yang menggantung dileher dan berada diantara celah bukit milik gadis itu.


Namun anehnya, liontin itu tidak mengeluarkan cahaya apapun, hanya sedikit berkilau saja.


"dari mana kamu mendapatkannya? Ini adalah batu permata yang sangat mahal, mengapa kamu memilkinya.?" tanya Lee penasaran.


"kan sudah pernah aku jawab, ini pemberian Romoku." jawab Asih ketus. Karena saat ini, wajah Lee teramat dekat dengannya.


"apakah Romomu seorang konglomerat? Sehingga Ia memiliki batu permata semahal ini? " tanya Lee lagi dengan sangat penasaran.


Asih mengernyitkan keningnya. Ia tidak faham apa yang sedang diucapkan oleh Lee.


"apa itu kolongmerat?" tanya Asih bingung


"konglomerat, buka kolongmerat..!" protes Lee.


Asih memonyongkan bibirnya tanda kesal.


"konglomerat mereka adalah orang-orang yang memiliki harta berlimpah, terkadang mereka mencarinya juga dengan jalan yang salah meski tidak semuanya. Apakah Romomu seorang penyeludup batu permata.?" tanya Lee dengan selidik.


Asih mendorong tubuh Lee agar menjauh darinya. Ia merasa sesuatu yang tidak nyaman.


"aku tidak faham apa yang kakak ucapkan. Menjauhlah..!!" ucap Asih sembari menyingkarkan wajah Lee darinya. Lalu Ia membuka selimutnya untuk pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Lee menangkap pergelangan tangan kiri Asih ." duduklah sebentar, aku belum selesai bertanya"


"Aaww.. Sakit kak" pekik Asih, karena lengannya yang masih sakit. Lalu Ia terjatuh tepat dipangkuan Lee.


Lee mendekapnya, membuat debaran didada Asih semakin kencang. "jangan pernah lagi berurusan dengan polisi. Karena kamu akan kerepotan" ucap Lee dengan lembut, sembari mengecup punggung Asih. Seketika Asih merasakan tubuhnya meremang, matanya membola karena Ia tidak tau dengan apa mengatakan perasaannya saat ini.


"aa..pa itu polisi.?" tanya Asih ditengah menahan hasratnya.


"jangan berpura-purah bodoh, karena se primitifnya orang pasti tau apa itu polisi. Kamu jangan mencoba mengelabuiku, dan kamu harus mengingat apa yang aku katakan." ucap Lee sembari menyusuri punggung Asih dengan kecupan-kecupan lembutnya, yang membuat Asih serasa terbakar dan menggeliatkan tubuhnya. Sesaat Lee tersadar, lalu Menarik nafasnya dengan berat, dan menghelanya dengan kasar. Dengan segera Ia menghentikan aktifitasnya. Lalu melepaskan dekapan dan menurunkan Asih dari pangkuannya.


"pergilah untuk mandi, jangan mencoba kabur, aku akan mengambil pesanan topeng untuk wajahmu. kamu harus meyembunyikan identitasmu." Lalu Ia beranjak bangkit, memakai kacamata hitam dan menggunakan topi yang menutupi wajahnya. Ia berjalan dengan sangat cepat, lalu menghilang dibalik pintu.


Asih berdiri terpaku, menatap kepergian Lee. Ia tidak mengetahui perasaan apa yang sekarang sedang dirasakannya. Dengan tertatih Ia menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.


--------♡♡♡♡------


Lee memasuki mobilnya, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran jok mobil. Ia masih merutuki dirinya yang sudah merasa khilaf telah membangkitkan hasrat gadis itu.


Ia menggelengkan wajahnya dengan sangat kesal. "sekali lagi aku hampir saja menjerumuskannya ke liang dosa." ucapnya penuh penyesalan. Lalu Ia menghidupkan mwsin mobil dan bergerak menuju tempat pertemuan antara Ia dengan sipembuat topeng tersebut, Karena Ia memesannya secara khusus.