
Ditempat lain dihutan bakau. Tampak gadis cantik berkulit putih halus bak pualam sedang tertidur lelap dengan bersandar disebuah pohon prepat dengan buahnya yang rimbun.
Gadis cantik berkucir ekor kuda itu mengerjapkannya matanya. Ia melihat sekitarnya yang sudah tampak meremang.
Asih, gadis cantik yang baru saja terbangun dari tidurnya, menggeliatkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa penat yang mendera tubuhnya.
Ia merentangkan tangannya, mencoba meregangkan ototnya. Namun seketika tangannya menyentuh wajah seseorang.
Asih membulatkan matanya, . Sesaat dia mematung dan dan mencoba menelusuri wajah disisi kirinya. Lalu dengan cepat menoleh kearah wajah seseorang yang sedang tidak sengaja disentuhnya.
Seketika Ia terperangah melihat siapa yang berada disisinya. Lee... Pemuda itu tengah tertidur lelap. Sesekali Ia memukul serangga penghisap darah yang singgah dikulitnya. Lalu mulutnya bergerak laksana orang sedang menguyah.
Dalam keremangan malam, Asih mencoba memperhatikan wajah pemuda itu. 'Tampan' ya.. Satu kata yang tak begitu Ia fahami.
Dalam beberapa waktu Ia lalui bersama dengan pria itu, ada rasa yang tak biasa. Sebuah perasaan yang begitu sangat nyaman didalam hatinya.
Saat Ia sedang asyik menikmati wajah tampan itu, sesaat Lee membuka matanya, lalu mendapati wajah Asih yang begitu sangat dekat dengannya.
Seketika Asih memalingkan wajahnya, merasa sangat begitu malu karena diam-diam meperhatikan wajahnya.
Lee menyunggingkan senyum nakal, lalu berpura-berpura kembali tidur, memancing reaksi sang gadis.
Merasa Lee tidak juga bangun, Asih mencoba kembali menelisik wajah pemuda itu. Bibir tipis itu, yang pernah memberinya kecupan pertamanya dengan cara refleks, membuatnya sangat penasaran. Dengan memberanikan dirinya, Asih mencoba menyentuh dengan jemarinya. Lalu tanpa diduga, Lee menggigit kecil jemarinya yang membuat Asih tersentak, lalu memberikan sedikit hadiah pukulan diwajah Lee.
"Aaaargh.." Lee mengerang kesakitan, sembari memegang sudut bibirnya yang terasa perih, dan mengeluarkan sedikit darah.
"Mengapa Kau begitu sangat kasar..? Tidak bisakah kau berlaku sedikit lembut pada seorang pria..? Jika sikapmu seperti ini, maka tidak akan ada pria yang ingin menikahimu.." gerutu Lee dengan kesal.
"Menikah..? Apa itu menikah..?" tanya Asih dengan wajah bingung.
Seketika Lee terperangah, lalu menautkan kedua alisnya. "Heeei.. Kaku ini sebenarnya tinggal dihutan mana sih..? sampai arti menikah saja tidak tahu.?" Lee mengomel seperti emak-emak yang sedang kehabisan gas saat sedang asyik memasak.
Asih memandang kepada pemuda itu. sesaat kata hutan itu mengingatkannya kepada kedua orang tuanya, dan seorang kakak lelakinya.
Hutan dimana ada Romo dan Ibu.. Ya.. Disana penuh kedamaian dan ketenangan. Mau makan tinggal berburu, atau menanam sayuran dikebun. Disana tidak perlu mengeluarkan uang seperti disini. Semua sudah tersedia, dan tinggal mengolahnya saja. Asih mencoba mengingat masa dimana merasakan nyamannya tinggal dihutan.
Tatapannya nanar memandang lepas kearah hitan yang sudah mulai gelap.
"Ibu.. Aku merindukanmu.." lirih Asih, lalu mendekap kedua lututnya, dan memejamkan matanya, memanggil nama ibunya, yang kini begitu sangat dalam diperasaannya.
Lee tersentak dengan gumanan sang gadis. Tak pernah Ia duga jika ucapannya membuat sang gadis mengingat hal tentang kedua orang tuanya.
Lee dapat merasakan perasaan gadis itu. Namun Ia masih tidak mampu mencerna dengan akal sehatnya, tentang siapa sebenarnya gadis yang penuh misteri ini.
Jika dilihat dari pengetahuan umumnya, tampak gadis itu terbilang lamban, namun sangat mudah menyerap dengan apa yang baru saja dipelajarinya. Disisi lain, jika diukur dari kemampuan bela dirinya, Asih adalah yang terbaik.
Semakin jauh Lee mengenali Asih, semakin banyak hal misteri yang perlu dipecahkannya, untuk mencari siapa jati diri Asih sesungguhnya.
namun Ia juga tidak mengerti, mengapa Ia sampai ikut terjebak disuasana sulit seperti ini.
"Apakah kau benar-benar tidak tahu apa itu menikah..?" tanya Lee dengan selidik.
Pemuda itu menghela nafasnya dengan berat, lalu meraih jemari tangan lentik milik Asih. Ia mengambil sesuatu dari saku pakaiannya, sebuah kotak merah berbentuk hati.
Lee membuka kotak itu, lalu mengeluarkan sebuah benda bulat membentuk lingkaran, disana terdapat sebuah permata pink diamond dengan ukuran sangat sangat kecil, yang lebih tepatnya hanya sebesar biji jambu batu.
Ia menyematkannya dijemari Manis Asih dengan sangat lembut. "Jika nanti ada masa kita berpisah, lalu kamu mengerti apa arti menikah, maka kamu juga akan mengerti apa makna dibalik cincin ini. Jika kamu ingin menginginkan makna dibalik cincin ini maka bersiaplah untuk hidup bersama denganku, tunggu aku untuk melamarmu kepada kedua orang tuamu."Ucap Lee, dengan lembut namun dengan nada serius.
Asih menarik jemarinya, memandangi cincin yang tersemat dijemari manisnya, tampak indah, dan membuatnya telihat mempesona. "Apa tadi kamu sebut nama benda ini..? Cincin..?" Tanyanya sembari terus menatap benda yang melingkar dijemarinya.
Lee menganggukkan kepalanya. "Ya.. cincin, permata itu tidak sebanding dengan dengan yang melingkar dilehermu, namun itu bentuk dari perasaanku padamu." Jawab Lee meluncur begitu saja. Ia sudah tidak sanggup lagi menyimpan perasaannya yang sudah Ia coba pendam selama ini.
Sejak Ia pertama kali melihat gadis itu, rasa tak biasa telah muncul begitu saja pada dirinya. Ia tidak mengerti apakah Asih gadis polos atau hanya berpura-pura polos, namun Ia tidak sanggup lagi menyimpannya.
"Terimakasih..atas cincinnya." Ucap Asih, tanpa ekspresi.
Lee hanya dapat melengus dalam dadanya. "Oh..Tuhan..tolong ajarkan padanya apa itu arti cinta dan mencintai, agar aku tidak jantungan setiap saat menghadapinya.." Guman Lee dalam hatinya.
Seketika Asih menatap pada Lee. Lalu mengerutkan keningnya. "Mengapa kamu mengadu pada Tuhan tentangku..? Apakah aku ada salah denganmu.." tanya Asih dengan tenang.
Seketika tersentak "Haaah..?! Bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang aku katakan didalam hatiku..? Siapa sebenarnya dia..?" Tanya Lee berguman lirih dalam hatinya.
Asih menatapnya dengan sendu. "Aku adalah Dewi Asih, seperti itu kedua orang tuaku memberiku nama.." jawab Asih singkat.
Sekali lagi Lee merasa lemah, Ia tidak tau harus menjawab apa. Ia bingung dengan pribadi Asih dan siapa Asih sebenarnya.
Namun sesaat Lee memiliki Ide yang cemerlang, bagaimana jika Ia membawa Asih kepada kesatuannya, lalu melatihnya. Dimana kemampuan Asih bisa digunakan untuk mendeteksi lawannya.
Dimana Asih dapat menggunakan kemampuannya untuk mempermudah melumpuhkan lawannya, dimana Ia dapat dengan mudah mendeteksi setiap pergerakan dan taktik lawannya.
"Heei.. kamu mau tidak ikut denganku kemarkas..? Aku akan mendaftarkanmu sebagai kesatuan kami. Disana nanti kamu akan dilatih untuk menembak dan sebagainya." Lee mencoba merayunya.
Mendengar kata menembak, Asih begitu sangat antusias. Ia sangat ingin belajar tentang senjata tersebut.
"Benarkah..? Aku mau belajar menembak, tetapi aku ingin mengambil Bara Sembrani terlebih dahulu" jawab Asih dengan raut wajah sedih.
"Tenanglah.. aku akan membantumu mengambil kudamu kembali, tetapi kamu harus meningkatkan keahlian menmbakmu terlebih dahulu." Ucap Lee meyakinkannya.
Asih tersenyum dengan sumringah, dan sangat senang. Tanpa sadar Ia memeluk Lee dengan erat, lalu..
"Terimakasih, atas kebaikanmu selama ini." Ucapnya tulus, lalu melepaskan pelukannya.
Disisi lain, Lee merasa jantungnyan seakan berhenti berdetak saat menerima pelukan Asih yang dengan tiba-tiba saja.
Ia tampak gugup dan gemetar. Selama ini berbagai tindak kejahatan sudah banyak ia taklukan dan menghadapi segala jenis bahaya dari para Mafia, namun mengapa menghadapi gadis polos ini Ia bagaikan menghadapi ribuan tentara musuh. Ia merasa lemah tak berdaya.
Ia mencoba menetralkan degub jantungnya yang teramat kencang, begitu sangat memburu. "Oh..Tuhan.. Andaikan saja Ia tahu betapa aku mencintainya, maka tidak akan sesulit ini." Gerutu Lee dengan nelangsa.
"Apaa..? Kamu mengadu lagi kepada Tuhan.? Kamu mencintaiku? Apa salahku padamu.?" Tanya Asih lagi. Lalu seketika Lee menepuk jidatnya. Ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Semua ungkapan hatinya terbaca oleh Asih, apakah otak gadis ini mirip bagaikan sebuah server system? Entahlah.. Lee bingung sendiri dan juga menyukainya.