Buhul ghaib

Buhul ghaib
Gigitan Ular



Dina berjalan dengan cepat menuju dapurnya. Terlihat masakannya sudah hangus.


"ya Salam.. Nasiku sampai hangus.." Ia menggerutu dengan kesal. Lalu dengan terpaksa Ia membuang nasi itu dan memberikannya kepada ayam-ayam peliharaan Abahnya. Kini Ia harus memasak ulang kembali.


Saat Dina asik meracik bahan untuk sayur lodeh, Ia mendengar suara derap langkah kaki menaiki tangga belakang dapur. Dina menajamkan indra pendengarannya. Lalu mencoba tetap fokus dan waspada. Dina bersembunyi disamping lemari kayu yang sudah usang, mencoba mengintai siapa datang.


kreeeeeek...


Seseorang membuka pintu dapur, Dina semakin berdebar, tampak satu kaki masuk melalui celah pintu yang hanya dibuka sedikit saja, lalu menyusul kai satunya, dan tampak sebagian tubuhnya yang ikut memaksa masuk melaui pitu yang sengaja dibukanya sedikit.


Pria itu menggunakan topeng hitam sebagai penutup wajahnya.


Dina semakin bergetar. "apakah Ia seorang pencuri atau perampok yang ingin menyatroni rumah Abah.?" Dina berguman lirih dalam hatinya.


Ia melihat jika pria itu menyingkap pintu kamarnya, lalu memperhatikan dengan seksama seisi kamar, lalu menutupnya kembali.


Lalu Ia melihat tungku perapian yang sedang terdapat nasi sedang ditanak. Namun Ia mengalihkannya.


"siaaall..!! bakal hangus kembali ne nasiku.. Kapan kelarnya aku mau masak kalau begini." gerutu Dina semakin kesal.


Pria itu memasuki ruang utama, lalu terdengar jika Ia sedang membuka pintu kamar Abah, Dina mendengar derit pintu itu dibuka.


Dina memanfaatkan kesempatan untuk mengambil kayu bakar sebagai senjata jika sewaktu-waktu pria itu melakukan tindakan kriminal.


Sesaat terdengar, langkahnya kembali menuju dapur, Ia tampak memeriksa seisi dapaur. Ia sepertinya melihat ujung jemari kaki Dina yang berada dibalik lemari dapur.


Pria bertopeng itu tampak tersenyum licik, Ia menghampiri lemari dengan berjalan lambat, lalu..


Buuuugh..


Dina menghantamkan balok kayu itu kepada si pria misterius itu.


Lalu pria itu menangkap balok kayu yang dipakai Dina untuk menyerangnya.


Terjadi pergelutan anatara Dina dan pria itu. Pria itu seperti memiliki kekuatan yang tidak biasa. Dina mulai waspada. Ia memeberikan tendangan kepada pria itu tepat dikakinya, sehingga membuat pria bertopeng itu tersungkur dulantai kayu, dan..


Braaaaaak..


Pria itu terhempas dan membuat bumbu dapur milik Dina berhamburan di lantai kayu.


Dina mengambil balok kayu dan ingin memukulkan kepada pria itu, namun..


"Din.... Buka pintunya, Abah dan Umi sudah pulang." terdengar suara Abah dari luar. Pria itu mengambil kesempatan dan berusaha bangkit, lalu menyelinap dari jendela dapur dan keluar.


Dina membuang balok kayu bakar itu begitu saja, lalu Ia berjalan menuju kepintu luar.


Tampak Abah dan Umi membawa beberapa batang bambu untuk anyaman, serta oucuk bambu muda atau rebung.


"rebungnya dimasak gulai lemak ya Din. Abah lagi ingin makan gulai rebung." ucap Umi kepada Dina.


"baik bu." jawab Dina sembari mengangguk.


Umi menajamkan penciumannya "aroma hangus apa ini..? Sepwrtknya masakanmu ada yang hangus." ucap Umi memberitahu.


Seketika Dina teringat akan nasinya yang Ia tanak. Lalu Ia menepuk jidatnya. "aissh.. Hangus lagi dah..!" Dina bergegas kedapur untuk memeriksa masakannya. benar saja , masakannya hangus lagi.


Umi yang merasa curiga juga mengekori Dina, Ia terperangah melihat bumbu daour berserakan dilantai. tomat, cabai dan bawang bergelindingan memenuhi lantai dapur.


"astaghfirullah.. Apa-apaan ini Dkn..? Kenapa bisa berserakan begini.?" ucap Umi dengan bingung. Ia berjongkok dan memunguti bumbu dapur yang berserakan.


"emm..itu Mi.. Tadi ada biawak besar masuk kerumah, trus Dina halau pakai balok kayi, karena takut, dia menabrak tempat rak bumbu." jawab Dina sekenanya.


Umi menggelengkan kepalanya, pertanda bingung. Lalu membantu Dina membersihkan segala sesuatu yang berserakan.


👻👻👻👻👻


Abah, Umi, dan Dina sedang menikmati makan malamnya. "Din, cucuku Asih dan Chakra bagaimana ya sekarang kabarnya.?" tanya Umi sembari menyuapkan makanannya.


Dina terdiam, seketika Ia merindukan kedua anaknya. Sudah lama sekali Ia tidak bertemu keduanya. Tetapi Ia meyakini jika mereka baik-baik saja.


"mereka sedang bekerja Mi.." jawab Dina seasalnya.


"uhuuuuuuk..." Dina tersedak dengan ucapan Abah, lalu buru-buru mengambil air minum, dan meminumnya.


"emmmm.."..


Tok..tok..tok..


Abah.. Tolong bukakan pintunya Abah.." teriak beberapa orang dari luar ruamah.


Abah menghentikan suapannya, lalu mencuci tangan dan beranjak membukakan pintu.


Tampak 4 orang pria yang merupakan tetangganya, membopong seorang wanita yang tampak tak berdaya.


Mereka menerobos masuk tanpa permisi dahulu kepada Abah. "maaf Abah, mbak Rani butuh pertolongan, tiba-tiba saja ada ular hitam masuk kerumahnya, lalu mematoknya." ucap Rahman menjelaskan.


"lha.. Terus apa hubungannya dengan saya. Bukankah sebaiknya dibawa kepuskesmas.?" tanya Abah bingung.


"kami butuh Dina untuk mengobatinya Bah.." ucap Rahamn menjelaskan.


Abah melirik Dina, Ia tidak mengerti mengapa warga mempercayai anak permpuannya dapat menyembuhkan gigitan ular tersebut.


"Mbak Dina, tolong sembuhkan Mbak Rani.." pinta Rahman memelas.


Dina bangkit dari duduknya, lalu menghampiri Mbak Rani yang tampak pucat.


"Carikan saya telur ayam kampung, yang baru pertama keluar. " titah Dina kepada para pria itu.


Lalu mereka melirik kepada Abah..Bah.. Ada gak ayam betina abagmh yang baru bertelur pagi tadi dan masih pertama kalinya bertelur.


Abah mencoba mengingatnya. Ya ada.. Ayo temani saya, soalnya kandangnya ada dibelakang dan sedikit dekat dengan semak.


"sama saya Bah.."seorang dari mereka menawarkan diri.


Abah dan pria itu bergegas pergi kebelakang dapur. Lalu mencari kandang ayam dan akan memilih sangkar yang diinginkan.


Sesaat Abah mendengar suara desis ular.


Ssiiiisssssstt...


Abah dan pria itu saling pandang, lalu tampak oleh mereka, ular sebesar batang kelapa dengan panjang sepuluh meter berdiri tegak siap menyerang keduanya..


"aaaarrrgghhh.."


Abah dan pria itu berteriak bersamaan, lalu mereka memilih lari langkah seribu dan menabrak pintu.


braaaak..


Keduanya tersungkur di lantai papan dapur.


Semua orang terkejut mendengar teriakan abah dan pria itu, diatambah dengan pintu yang terdobrak paksa oleh keduanya.


Mereka tercengang melihat keduanya.


"ada apa Abah.? Mengapa seperti melihat setan saja.?" ucap Dina dan yangblainnya merasa penasaran.


"a..a.ada. Ular.. Sebesar batang kelapa dan sangat panjang." ucap Abah dan pria itu tergagap.


Dina memejamkan matanya " Ristih..? Mengapa Ia membuntutiku sampai kemari.?" Dina berguman dalam hatinya.


Dina mencoba keluar, melihat apa yang diceritakan oleh Abah dan pria itu. Lalu yang lain ikut mengekori.


"Jangan semua ikut saya, tunggu mbak Rani disana" titah Dina kepada semuanya.


Saat Ia sampai diambang pintu dapur, Ia melihat ualr itu sudah tidak berada lagi disana. Hanya suara lengkingan kuat yang Ia dengar, sepertinya ada seseorang yang telah menghalaunya.


Dina menuruni anak tangga dapur, lalu menuju sarang ayam yang berisi telur.


Ia memungut senter yang dibuang begitu saja oleh abah dan pria tersebut. Ia menemukan satu sangkar ayam yang berisi satu telur, dan memastikan itu adalah telur ayam yang baru pertama kali bertelur..


Brsambung 🐛🐛🐛🐛🐛🐛