Buhul ghaib

Buhul ghaib
Mencari



Tubuh Dina bergetar dengan sangat kuat. Rasa sesuatu yang akan melesat dalam tubuhnya begitu sangat terasa.


Seketika sebuah kilau cahaya keluar dari kening Dina dan melesat masuk kedalam mulut Lee yang sedang ternganga karena merasa bingung melihat tubuh wanita muda dihadapannya seperti sedang tersengat listrik.


Seketika Lee yang menerima spertiga batu mirah delima itu membolakan matanya. Tubuhnya terasa panas dan merespon sesuatu energi yang sangat kuat yang berusaha menyesuaikan dengan tubuhnya.


Asih dan juga Chakra merasa bingung mengapa batu mirah delima itu masuk kedalam tubuh Lee.


Lee berkeringat dingin menahan energi yang merasuk kedalam tubuhnya. Setelah beberapa saat, Lee merasakan sesuatu yang berbeda. Ia merasakan tenaganya sangat kuat dan juga tidak merasa lelah.


"Benda apa yang masuk kedalam tubuhku?" tanya Lee dengan bingung.


Dina mengatur nafasnya dan mencoba tenang. "Itu batu mustika mirah delima milik leluhur Romo nya Asih. Batu mirah delima itu dicuri oleh ratu siluman ular yang disalah gunakannya. Namun Asih dapat mengambil sebagiannya, dan Romonya mengambil sisanya" Dina menjelaskan.


Lee merasa bingung dengan penjelasan wanita muda itu. Ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan batu mirah delima dan ratu siluman ular, semuanya seperti tampak dongemg belaka.


"Aku tidak mengerti dan memahami semua ini" ucap Lee dengan perasaan yang penuh dengan penasaran.


"Batu itu menemukan siapa yang akan menjadi pilihannya. Maka Kamu adalah orang terakhir yang terpilih" Jawab Dina dengan tenang.


"Lalu, apa manfaat batu mirah delima ini untuk saya" tanya Lee dengan rasa penasaran yang teramat sangat.


"Untuk menambah kekuatanmu, dan bahkan kamu dapat melihat makhluk astral" ucap Dina menjelaskan.


Seketika Lee tersentak mendengar hal tersebut.


"Apa?! Tidak.. Tidak.. Saya tidak ingin melihat makhkuk astral, itu sangat menakutkan" ucap Lee dengan gamblang.


Seketika Asih yang mendengar ucapan Lee merasa tersinggung, Ia menatap Ibunya, lalu berlari menuju anak tangga dan keluar dari rumah dan terus berlari menuju arah langkah kakinya kemana.


Saat ini masih malam, dan suasana sangat gelap.


Lee tidak mengerti mengapa Asih berlari meninggalkannya. Ia tidak tahu apakah ada ucapannya yang menyinggung gadis itu.


"Apakah ada yang salah dengan ucapanku?" mengapa Asih berlari meninggalkanku?" Lee merasa bingung dengan sikap gadis itu.


Asih duduk di halte bus. Ia menyandarkan kepalanya ditiang penyangga halte.


Ia baru menyadari, jika selama ini Lee belum melihat siapa dirinya yang sebenarnya.


"Bagaiamana jika Ia mengetahui jika Aku adalah wujud manusia dmsetengah siluman? Mungkin Ia akan menjauhiku" guman Asih lirih dalam kesendiriannya.


Sementara itu, Lee mentap Chakra yang kini tampak sehat bugar. Ia mengira jika Pemuda itu terluka parah karena bertarung melawan Andre.


Namun kenyataannya pemuda itu baik-baik saja dan sehat walafiat. kini Lee menatap wajah Dina, wanita muda nan ayu rupawan yang baru saja memberikan batu mirah delima kedalam tubuhnya.


"Jika boleh bertanya, Siapakah Anda sebenaranya?" tanya Lee dengan hati-hati.


Dina menatap Lee dengan seksama. Ia dapat melihat isi hati Lee terhadap Asih. Ia mengetahui jika pemuda itu memiliki rasa terhadap puterinya.


"Saya adalah Ibu dari Chakra dan juga Asih" jawab Dina tenang.


Seketika Lee terperangah mendengar jawaban Wanita didepannya.


"A..apa? Ibunya Asih dan Chakra? Saya kira tadi hanya teman sebaya saja" ucap Lee keceplosan. Karena tubuh Dina yang ramping dan juga wajahnya yang awet muda membuat siapa saja terkecoh. Bahkan orang-orang tidak akan mempercayai jika Dina sudah memiliki dua orang anak yang beranjak dewasa.


"Ja..jadi Chakra dan Asih ini adik kakak?" tanya Lee lagi mencoba meyakinkan pendengarannya. Jika benar Asih adalah adik yang dicari Chakra selama ini, maka adalah hal yang sangat menggelikan, karena gadis seperti Asih jika diculik seseorang tidak perlu dicari, sebab penculiknya yang akan babak belur dihajar olehnya.


Lee menatap dengan canggung. Ia tidak tahu harus bersikap apa dengan wanita dari Ibu seorang gadis yang dicintainya.


Lee hanya tersenyum menanggapi ucapan Dina..sebab jika dari awal Ia mengetahui Chakra adalah kakaknya Asih, maka Ia dengan suka rela menjaganya.


"Emm.. Kalau begitu apakah Chakra ingin ikut dengan saya atau masih ingin tinggal disini untuk sementara waktu?" tanya Lee dengan sungkan.


"Saya tinggal disini sejenak, sebab masih merindukan Ibu dan adik saya" jawab Chakra dengan sopan.


Lee menganggukkan kepalanya, lalu berniat berpamitan, meski sebenarnya Ia ingin mencari Asih yang tiba-tiba melarikan diri darinya.


"Kalau begitu saya permisi, Bu" ucap Lee dengan sedikit merunduk kepada Dina, meski sebenarnya mereka terlihat sebaya, namun Lee tetap menjaga sopan santun karena itu adalah Ibu dari Chakra dan juga Asih.


Dina menganggukkan kepalanya, lalu Lee berlalu melalui anak tangga yang tadi dilupakannya.


Saat Lee sudah menjauh, Arini menyembulkan kepalanya dari dalam tas milik Chakra, lalu melompat kedalam pelukan Dina.


Rasa kerinduan kelinci itu begitu sangat dalam Dina, Ia tampak begitu mengendus-enduskan kepalanya kesana kemari.


Dina mendekapnya "Mumu... Aku juga merindukanmu.. Terimakasih sudah menjaga puteraku" ucap Dina sembari membelai bulu halus tersebut dengan penuh kasih.


Kelinci itu menggerakkan kepalanya dan mengangguk.


Sementara itu, Lee beranjak dari rumah tersebut. Ia ingin mencari keberadaan Asih yang masih belum terlihat dan pergi entah kemana.


Tiba-tiba saja Ia merasakan sebuah bisikan jika Asih berada dihalte bus tak jauh dari tempatnya berdiri.


Semenjak menelan batu mirah delima itu, Lee merasakan jika Ia dapat lebih kuat dengan instingnya.


Lee menuju halte bus tempat dimana Ia merasakan keberadaan Asih.


Ia berjalan menyusuri trotoar dan mempercepat langkahnya untuk mencapai halte.


Tak jauh dari tempat Ia berjalan, Ia melihat Seorang gadis sedang duduk bersandar ditiang halte bus.


Lalu Ia menghampirinya, dan duduk disisi sang gadis.


"Hai.. Kenapa Kamu tiba-tiba pergi? Apakah ada kata-kataku yang menyinggung perasaanmu?" tanya Lee dengan tenang.


Asih hanya diam membisu tanpa ingin berbicara sedikitpun. Ia menyadari siapa dirinya, namun jika hal itu diucapakan oleh pemuda yang Ia sukai, tentu hal itu sangatlah membuatnya begitu merasa hilang kepercayaan dirinya.


"Tak mengapa, Aku hanya sedikit ingin menyendiri saja" jawab Asih dengan lirih.


Lee menatap gadis itu. Lalu meraih jemari lentik milik sang gadis. "Diammu membuatku tersiksa, maka jangan siksa aku, ini sungguh menyakitkan. Jika ada yang harus kuperbaiki maka katakan saja, jangan berdiam tanpa sepatah katapun" ucap Lee dengan lembut.


Asih menatap wajah pemuda itu "Apakah Kau benar-benar mencintaiku" tanya Asih dengan tatapan serius.


Lee menganggukkan kepalanya "Ya.. Dan itu benar adanya" jawab Lee dengan cepat.


"Apakah Kau tetap akan menyukaiku jika Kau mengetahui siapa Aku sebenarnya?" tanya Asih dengan seksama.


Lee mengerutkan alisnya, mencoba memahami apa yang diucapkan oleh Asih.


"Maksdumu?" tanya Lee penasaran.


"coba Kau gunakan kekuatan batu mirah delima yang bersemayam ditubuhmu, maka Kau akan dapat melihat siapa Aku.." ucap Asih dengan tatapan tajamnya.