Buhul ghaib

Buhul ghaib
Terjebak



Rere dan Chakra berada diatap cor rumah berbentuk bangunan ruko yang berjejer merapat.


"Bagaimana dengan malam ini? kita menginap dimana? Masa Iya diatas atap rumah warga" Rere berguman sendiri. Sedangkan Chakra mengangkat kedua bahunya, menanggapinya dengan masa bodoh. Karena Selama ini Ia tinggal dimanapun tidak menjadi masalah, sebab sudah terbiasa hidup dihutan.


Tengah Malam nanti kita coba menyelinap, apakah mobilku masih terparkir disana, jika masih kita harus mengambilnya dan kabur dari tempat ini.


"Chakra hanya diam saja menanggapi segala keluh kesah dari Rere. Hal tersebut membuat Gadis tomboy itu merasa jengkel. Kalau saja Ia tidak tampan dan faham bela diri, mungkin Rere lebih memilih menenggelamkan pemuda itu kedalam got, agar bloonnya berkurang. Rere mendengus kesal, dan mencoba bersabar didalam kekalutannya.


Malam semakin larut, suasana hening semakin sepi, Rere melompat turun dari satu gedung kegedung lainnya dengan cara parkur . Hal itu diikuti oleh Chakra. Hingga akhirnya mereka berada sampai dibawah gedung.


Keduanya berjalan dengan sangat ringan, memantau secara waspada dengan melihat setiap sisi lorong.


Pukul dini hari mereka sampai dipelataran toko tempat dimana mereka meninggalkan mobil.


Namun sayangnya, mobil itu sudah tidak berada lagi ditempat.


"Siaalll...!!" gerutu Rere dengan kesal. Rere memperhatikan sekelilingnya, tampak masih sangat sepi.


"Hei..kita mau kemana..? Aku ngantuk banget.." ucap Chakra dengan memelas. Saat ini rasanya Ia ingin sekali tidur dan merebahkan dirinya, tubuhnya sangat lelah.


Rere berbalik kearah Chakra yang sedang berbicara dengannya.


Deeeeegggghh...


Jantung Rere seakan terhenti, dimana Chakra ternyata berdri tepat dibelakangnya, sehingga saatnIa berbalik, tentu wajah mereka begitu amat dekat.


Rere tergugup, dan untungnya saja Chakra tidak melihat rona merah diwajah gadis itu.Rere segera membuang pandangannya kearah lain. Semakin lama aku dengannya, semakin jantungan aku saja aku. Rere mendengus kesal.


"Sebaiknya kita segera kembali Apertemen, mungkin disana kita bisa beristirahat sejenak." ucap Rere berusaha mengatur detak jantungnya yang berpacu dengan cepat.


Chakra menguap. Rada kantuk sudah tidak dapat ditahannya lagi.


"Ayo..!! Bisik Rere dengan nada penekanan.


Rere menyetop tax yang melintas, dan memintanya untuk mengantar kearah tujuan mereka.


mereja dengan terburu-buru menaiki taxi tersebut.


Chakra mulai tampak memejamkan matanya. Seketika Ia sudah terlelap dan tidur bersandar di pundak Rere, suara dengkuran halus keluar dari mulutnya.


Rere membiarkan tubuh lelah pemuda itu bersandar dipundaknya, debaran didadanya kian berpacu cepat. Rasa hangat menjalar cepat dialiran darahnya.


Sesaat Rere larut dalam alam fikirannya, Ia baru menyadari jika apertemen merwka telah terlewat.


Deeeeq..


"Haaah.." Rere tersadar jika mereka telah terlewat jauh. Seketika Rere melirik kearah sopir yang dianggapnya mencurigakan tersebut.


"Pak..kita sudah kelewatan sangat jauh.. Apertemennya sudah tertinggal dibelakang." ucap Rere mencoba memberitahu sang sopir. Namun sopir itu hanya tersenyum menyeringai.


Mereka sudah keluar dari inti kota, dan menuju tempat lain.


Rere yang melihat reaksi Sopir tersebut dari kaca dashboar, merasakan sesuatu gelagat yang tidak baik.


"Brengseek.." Maki Rere dengan kesal. Ia segera membenahi letak posisi tidur Chakra. Lalu dengan gerakan cepat, Ia mengambil sepucuk senjata api dan menodongkannya kepada sang sopir.


"Kembali ke apertemen, atau kuledakkan kepalamu..?" ucap Rere dengan nada ancaman.


senjata api itu jatuh dikelantai mobil. Mobil begerak tidak tentu arah, Karena keduanya sedang saling baku hantam.


Saat itu Rere melihat mobil mengarah pada trotoar, lalu mencoba mengemudikan, sembari menahan serangan sopir tersebut.


Namun Ia terpojok, dan jatuh dijok depan. Sopir itu mencoba mengendalikan mobil agar tepat jalannya, setelah itu..


dan..


Buuuugh...


Sebuah hantaman tepat di kepala Rere, membuat gadis itu tak sadarkan diri. Sedangkan Chakra tak juga bangun dari tidurnya.


🐊🐊🐊🐊🐊🐊


Ssssssttt...byuuurrrr...


Sebuah semburan air yang berasal dari satu ember telah mendarat sempurnah diseluruh wajah dan tubuh Rere dan Chakra.


keduanya tersentak, dan mencoba membuka matanya. Sementara itu, seekor kelinci juga terkena semburan air tersenut, dan ikut terbangun. Ia dan Chakra seperti sebuah jam dinding. Jika battreinya hidup, maka akan berputar menunjukkan waktu, dan jika kehabisan battrei, Ia akan berhenti berputar.


Keduanya mencoba membuka matanya. Mereka merasa heran karena berada di sebuah gudang tua. Mereka disekap. Kini mereka duduk dikursi dan dalam kondisi diikat. Keduanya saling pandang dan merasa bingung. Disekeliking mereka tampak beberapa orang pria bertubuh kekar dan berwajah tidak bersahabat.


Lalu dari arah luar, terdengar sebuah deru mesin mobil berhenti. Seketika orang-orang itu bersiap, seolah ingin menyambut dan memberi hormat kepada seseoarang yang datang.


Terdengar pintu mobil ditutup, lalu derap langkah kaki menuju kearah gudang. tampak seorang pria dewasa berwajah tampan yang diperkirakan berumur 40 an tahun sedang memasuki gudang tempat Chakra dan Rere disekap.


Pria itu berjalan dengan diriiring oleh 2 orang bodyguard yang siap siaga melindunginya.


Lalu para orang -orang bertampang sangar itu memberi hormat kepadanya. "Selamat datang Bos Besar.." ucap mereka serentak sembari merundukkan kepalanya.


Lalu Pria itu mengahampiri kedua tawanannya. Ketika jarak mereka hanya sekitar satu meter saja, Pria tampan itu meminta untuk anak buahnya mengambilkan kursi untuknya. Dengan sigap seseorang diantara mereka mengambil kursi plastik yang sudah berdebu, dan mengibaskannya.


Setelah itu memberikannya kepada pria yang dinyatakan Bos Besar mereka.


Pri itu duduk, lalu menyilangkang kaki kanannya dan menopangkan betisnya dilutut kaki kirinya.


Lalu Ia menghisap rokok elektriknya dengan dalam. Ia memandang Rere dengan tatapan tajam menghujam. Lalu beralih kepada seorang pemuda disisi sang gadis.


Seketika Pria itu tersentak. Entah apa yang merasukinya saat melihat wajah pemuda dihadapannya.


Wajah itu mengingatkannya pada seorang gadis, wajah polos yang pernah Ia tinggalkan didesa dibawah kaki bukit. Seketika fikirannya melayang kemasa lalu. "Bagaimana kabar gadis itu kini.? Akh..Dina.. Apakah kau tau, aku masih mengingat.jelas wajah cantikmu.." lalu Berusaha menepis semuanya.


Namun Ia berfikir, jika saja gadis itu mengandung saat ditinggalkannya waktu itu, maka saat ini anak itu akan seusia pemuda dihadapannya.


Para pengawal dan anak buahnya merasa heran dengan perubahan sikap san Big Bos mereka. Saat dari kediamannya, Ia tampak begitu sangat emosiobal, dan ingin membunuh sang gadis detektif beserta pemuda yang mendampinginya.


Namun ketika berhadapan dengan pemuda itu, Ia seolah lemah tak berdaya.


Disisi lain, Chakra merasakan sebuah getaran yang tak biasa saat Pria itu menatapnya. Sebuah rasa yang tak biasa.


Sesaat suasana hening. Lalu Andre berusaha membuang perasaan mellownya, dan menatap tajam kepada Rere.


"Serahkan chips itu sekarang juga.!!" pintanya dengan nada kasar, dan berusaha tenang. Namun masih terdengar bergetar. "Sialll..! Mengapa Pemuda itu membuatku melemah." gerutu sang Big Bos dalam hatinya.