
"Apakah kita harus kembali ke Kota?" tanya Edy dengan lirih. Ia menatap sang gadis yang baru saja terjaga dari tidurnya, hari masih gelap, sunrise masih tampak malu-malu.
"Ya.. Aku harus kembali ke kota" jawab Asih dengan tatapan nanar.
"Dengan apa Kita ke kota? Kudamu juga tertinggal di atas bukit" ucap Edy mengingatkan.
"Dengan itu..!" ucap Asih, sembari menunjuk rimbunan batang bambu yang berukuran sekepalan tangan.
"Maksud kamu?" tanya Edy bingung.
Asih mencabut pedangnya..
"Maksudku, ini..!!" ucap Asih sembari menghunuskan ujung pedangnya ke arah wajah Edy, yang membuat pemuda itu tersentak kaget.
Hahahaaha....
Asih tergelak hingga terpingkal-terpingkal sembari memegangi perutnya. Ia begitu merasa lucu melihat wajah Edy yang memucat ketika sedang ketakutan.
"Wajahmu sangat lucu jika sedang ketakutan" ledek Asih, lalu beranjak pergi menuju rimbunan pohon bambu.
Edy mendengus kesal, Ia merasa Asih sudah sangat sering mengerjainya, dan Ia terlihat begitu senang melakukannya.
Lalu Ia beranjak mengikuti langkah gadis itu. Sesampainya disana, Ia melihat Asih dengan cekatan menebang batang bambu dan sudah terkumpul sebanyak 30 batang bambu.
"Bawa kesana" titah Asih seenaknya.
"Iya, Nyonya" jawab Edy sembari memunguti batang-batang bambu itu sebanyak 5 batang dan meletakkannya dipundaknya.
Lalu Ia berjalan tertatih menuju bawah pohon tempat mereka beristirahat.
Asih memandangi pemuda itu sembari berkacak pinggang"Dasar lemah..!" Asih menggerutu dengan kesal.
Lalu Ia memunguti 10 batang bambu dan meletakkannya diatas pundaknya, lalu berjalan dengan cepat dan melewati Edy yang setengah perjalanan.
Seketika Edy terperangah melihat Asih yang dengan mudah memanggul batang bambu sebanyak itu dan berjalan dengan sangat cepat.
Belum sempat Edy sadar akan keterkejutannya, gadis itu sudah kembali memungut sisa batang bambu dibelakang sana dan kembali melewatinya, lalu melemparkannya begitu saja dibawah pohon.
Edy merasa jatuh harga dirinya, karena melihat Asih yang sudah kedua kalinya melewatinya membawa batang bambu tersebut.
Gadis itu sudah memotong ujung batang bambu dan menyamakan panjangnya.
Edy meletakkan batang bambu yang dibawanya dan dengan nafas yang tersengal.
kemudian Asih mmenyelesaikan pekerjaannya memotong batang bambu dan menyama ratakan panjangnya.
"Tunggu disini, Aku ingin mencari rotan disekitar sini" titah Asih kepada Edy.
Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya. Lalu memandangi sang gadis yang sudah bergerak menuju kedalam hutan untuk mencari rotan.
Setelah tubuh gadis itu menghilang, Ia duduk tersandar, lalu merenungi dirinya.
Ia seperti sedang bermimpi bertemu dengan gadis itu. Namun Ia juga tak mampu menjauh.
"Aku terjebak dalam cintamu.. Pesonamu membuatku tak mampu berlari menjauh" Edy berguman lirih dalam hatinya.
Bayangan wajah gadis itu saat tertawa lepas membuatnya semakin gila. Senyumnya dan bulu mata nan lentik yang begitu sangat menggoda.
Wuuuuuuusssh..
Buuuugh..
Sebuah benda melayang dan jatuh tepat dihadapan Edy yang sedang melamun. Hal tersebut membuat Edy kembali tersentak karena terkejut, tiba-tiba saja ada benda melayang dan jatuh tepat dihadapannya.
Seekor biawak berukuran sebesar lengan orang dewasa tanpa kepala tergelatak tepat dibawah kakinya.
Edy sudah tau siapa pelakunya, siapa lagi jika bukan gadis yang selalu usil terhadapnya.
Benar saja, gadis itu sudah tertawa diujung sana, sembari memanggul banyak rotan yang sudah dikulitinya.
Sementara itu, Asih mulai membuat rakit. Ia mengikat batang bambu itu dengan menggunakan rotan yang sudah sayatnya menjadi tali menali.
Gadis itu tampak begitu sangat cekatan dalam mengerjakannya. Sedangkan Edy yang bertugas untuk memasak sesekali melirik sang gadis yang tampak berkeringat.
Bulir bening itu mengalir dari pelipisnya dan meluncur ke leher jenjangnya.
Edy menggelengkan kepalanya, Ia mulai menepis segala fikiran kotornya terhadap gadis itu.
Daging biawak itu sudah berubah kecoklatan, dan pertanda sudah matang.
Ia mengangkatnya, memegang bilah bambu yang menjadi penusuk daging biawak tersebut.
Edy membawanya kesisi sang gadis.
"Makanlah.. Hari sudah hampir siang, dan kamu belum makan" ucap Edy kepada Asih yang masih sibuk mengikat batang bambu itu satu persatu.
"Makanlah, Aku belum lapar" jawab Asih, sembari terus mengikat batang bambu dengan tali rotan tersebut.
Edy mencubit daging biawak tersebut, lalu menyuapkannya kepada Asih "Buka mulutmu" titah Edy dengan tatapan memaksa.
Asih tersenyum geli, lalu membuka mulutnya, dan menerima suapan dari pemuda itu.
Lalu Edy juga menyuapkan daging itu untuk dirinya secara bergantian.
hingga akhirnya Asih menyesaikan pekerjaannya dan rakit telah selesai, begitu juga dengan suapan demi suapan yang sudah selesai dan membuat perut keduanya kenyang.
Edy memungut pedang Asih. Lalu menebas sisa batang bambu yang tidak tepakai, lalu membuatnya menjadi tabung untuk menampung air sebagai wadah minum.
Lalu Ia meletakkannya kembali, dan menuju sungai untuk mengambil air minum
Asih duduk diatas rakit yang baru saja diselesaikannya Edy datang meberikan batang bambu yang berisi air sungai tersebut.
Asih meraihnya, lalu meneguknya, dan memberikan wadah itu kepada sang Pemuda.
"Apakah Kau lelah?" tanya Edy yang melihat keringat bercucuran disekujur tubuh sang gadis.
Bulir-bulir bening itu tampak seperti kristal saat terkena pendaran cahaya mentari.
Edy menyeka keringat yang membasahi wajah sang gadis. Menatapnya dengan lekat.
"Mengapa Kau begitu sangat cantik" ucapnya tanpa sadar, meluncur begitu saja.
Ia mengangkat dagu sang gadis, mencoba menyentuh bibir yang berwarna merah muda itu.
Lalu menyeka keringat yang jatuh disana dengan ibu jarinya.
Asih hanya diam terpaku melihat tingkah Edy yang tampak aneh hari ini.
Lalu pemuda itu mendenguskan nafasnya dengan kasar, lalu beranjak dari hadapan sang gadis yang tampak bingung.
"Kemana rakit ini akan kita bawa?" tanya Edy memecah kekakuan diantara mereka.
Asih tersentak, lalu mencoba menguasai dirinya. "Kearah sana, airnya tampak dalam disana" ucap Asih, lalu beranjak bangkit dari atas rakit.
Dengan dibantu Edy, keduanya menuju arah sungai yang tampak dalam.
Keduanya mengangkat rakit yang lumayan berat itu.
Mereka meletakkannya ditepi sungai, lalu kembali memunguti perlengkapan mereka dan dua bilah batang bambu berukuran panjang yang berfungsi sebagai pendayung rakit.
Setelah merasa tidak ada yang tertinggal, lalu keduanya mendorong rakit itu kedalam sungai, Asih menancapakan batang bambu sebagai pendayungnya, dan melompat ringan keatas rakit, lalu menahan rakit agar tidak hanyut, dan meminta Edy agar segera naik.
Edy lalu melompat, dan naik keatas rakit, dan keduanya memulai perjalanan mereka, mengarungi sungai yang berair dalam tersebut.
Bagi Edy, ini adalah pengalaman pertamanya berada diatas rakit dengan seorang gadis ayu nan rupawan, namun jelmaan seekor siluman buaya putih.