Buhul ghaib

Buhul ghaib
Kepulangan Dina



Sudah hampir 2 minggu Dina, ibunya tak kunjung juga pulang. Kecemasan melanda hati Chakra. Ia berniat mencari ke kaki bukit. Ia akan bertanya pada sang kakek, agar Ia dapat menemukan keberadaan Asih dan ibunya.


Chakra membawa kudanya, Ia menyiapkan perbekalan untuk diperjalanannya. Sebuah tas selempang Ia sematkan di pundaknya sebagai wadah untuk meletakakn barang dan perbekalannya.


Setelah semuanya selesai , Chakra bersiap hendak pergi. seekor kelinci berada dimulut goa. Kelinci itu memandang Chakra. seolah meminta dibawa serta.


Chakra merasa iba, lalu Ia memungutnya, dan meletakkannya di dalam tas ranselnya, dengan kepala menyembul.


Chakara melompat keatas kuda, Ia menarik tali kekang kuda. Lalu menghentaknya, meminta kuda itu bergerak berlari.


Kuda itu berlari dengan sangat kencang, membelah hutan belantara. Chakra merasa penasaran, kemana menghilang para wanita itu.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan semua ini. "Mengapa ibu dan Asih menghilang begitu saja..? " Chakra berguman lirih.


-------♡♡♡♡♡--------


Dina tiba dipelataran goa, tampak sunyi. "kemana Chakra pergi..? Mengapa sepertinya tampak sepi sekali" Dina berguman lirh.Dina memasuki goa.


Deeeegh..


Jantung Dina seakan lepas. Ia mendapati ruangan goa dalam keadaan sepi. Ia seperti mendapatkan firasat yang tak menyenangkan.


"Chakra...dimana kamu nak..?" ucap Dina penuh kekhawatiran.


"kanda.. Datanglah, dinda butuh bantuanmu.." Dina memanggil Bromo dengan panggilan bathinnya.


Baiklah Dinda.. Kanda akan datang." jawab Bromo dengan cepat.


dalam kedipan mata saja, Bromo telah berada di samping siai kanannya.


Dina menghamburkan dirinya dalam pelukan Bromo. "Chakara... kanda.." ucap Dina dalam isak tangisnya.


"tenanglah Dinda, Ia dalam kondisi yang baik-baik saat ini..." ucap Bromo menenengkan hati Dina. Ia membelai lembut rambut indah Dina.


Bromo melihat dengan pandangan ghaibnyanya, Jika Chakra sedang menuju kampung dikaki bukit. Ia sedang mencari tahu keberadaan Ibu dan adiknya.Tampak wajah Chakra sangat khawatir.


Saat berada dipertenghan jalan , Chakra dihadang beberap penggangu. tampak bola-bola tanah bergelinding mengikutinya. Banaspati itu bekumpul membentuk tembok hendak menghalangi langkah Chakra.


Chakra menarik kekang kudanya. Lalu seketika kuda itu berhenti. Chakra mencabut pedangnya. Lalu bersiap untuk melawan jika musuhnya menyerang.


bola bola memiliki wajah yang menyeramkan. Dengan gigi tajam dan wajah yang sangat menakutkan.


Saat melihat Banaspati, jangan pernah merasa takut, karena mereka akan menyerap energi negatif dari kita.


Banaspati itu bergelinding menyerang Chakra. Maka Chakra mengayunkan pedanganya, lalu membelah banaspati itu.


Seketika banaspati berteriak kesakitan, lalu menghilang. Namun dari arah berlawanan terdengar suara desingan benda terbang, saat Ia melihatnya, ternyata banaspati itu kembali menyerangnya. Lalu dengan cepat Chakra menghunuskan pedangnya, kali ini meleset. Ia kembali menyerang Chakra, namun Kali ini Ia bernasib sial, Ujung pedang Chakra melukainya.


Hal ini membuat para pasukanbanaspati berang. Mereka menyerang Chakra bersamaan, lalu tanpa ampun membuat Chakra kewalahan.


Seketika Arini keluar dari tas sandang milik Chakra. Ia melompat kesemak, lalu mengubah dirinya menjadi peri cantik. Dengan semangat Ia membantu Chakra melawan banaspati yang hendak menyerangnya. Pertempuran sengit terjadi.


Chakra yang kaget dengan kehadiran gadis cantik membuatnya gagal fokus. Sehingga tanpa sadar banaspati itu menyerangnya, namun tiba- tiba saja, sekelabat cahaya ungu memyelamatkannya.


Arini telah menyelamatkan Chakra dari serangan itu. Chakra sangat bingung kapan hadirnya gadis itu. Bukankan dari atas bukit sangat jauh berkilo-kilo meter, jika hanya dengan berjalan kaki tidak mungkin secepat itu Ia sampai ketempat ini


Seketika pasukan banaspati tanah itu terpental jauh, menyisakan erangan yang memekakkan telinga.


Bersamaan dengan pendaran cahaya ungu itu, Membuat mata Chakra merasa silau. Ia menutup matanya, karena tidak kuat melihat pendaran cahayanya.


Saat Ia membuka matanya, Ia tak lagi menemui pasukan Banaspati dan si gadis cantik. Ia celingukan mencari keberadaan sigadis cantik tersebut.


"kemana dia.? Mengapa begitu cepat menghilang.? " Chakra keningungan mencari keberadaan Gadis cantik.


Dari sesemak, tampak Seekor kelinci berlari menuju kearahnya.


"heeeiii.. Kemari.. Kamu takut ya.?" Chakra meraihnya, lalu membawa pada dekapannya sembari membelai lembut bulu halusnya.


"kamu masuk kedalam tas lagi ya..? Kita akan melanjutkan perjalanan mencari ibu dan asih.." ucap Chakra, sembari memasukkan Arini kedalam tas sandangnya.


Chakra melompat keatas kudanya, Ia ingin melanjutkan kembali perjalanannya.


Chakra menarik tali kekang kudanya, lalu kuda itu berlari menyusuri jalanan setapak ditengah hutan.


Hari mulai senja, Ia chakra mempercepat lari kudanya, agar Ia tidak kemalaman. Jika sudah gelap, maka Ia tidak akan dapat melihat dengan jelas.


Saat kuda itu berlari kencang, tiba-tiba saja tersungkur ketanah. chakra terlempar hingga jauh. Kuda itu meringkik menahan sakit pada kedua kakinya. Ternyata kuda itu menginjak perangkap yang dibuat oleh pemburu hewan.


Chakra berusaha bangkit, Ia meringis menahan sakit. Ada banyak luka dilutut dan sikunya.


Ia menghampiri Kuda miliknya, terlihat luka cukup parah dibagian kakinya. Chakra tak tega jika memaksanya untuk melanjutkan perjalanan.


Chakra mencari dedaunan untuk mengobati luka kudanya.



ini adalah visual daun senduduk yang sering author tulis didalam novel. Fungsinya untuk menghentikan luka pendarahan dibagian luar dan didalam tubuh. Haluskan daun ini dengan cara dikunyah, tempelkan pada luka yang berdarah, lalu balut dengan kain kasah dan sebagainya.


Jika luka dalam seperti habis melahirkan, dapat dicampur dengan kunyit, asam jawa, gula aren, dan rempah lainnya. Dihaluskan dengan blender, lalu direbus, disaring dan diminum hangat, Insya allah nifas akan segera cepat berhenti. Selamat mencoba.


Chakra mencari dedaunan seperti daun pandan untuk membalut luka kuda miliknya. Kuda itu meringkik kesakitan.


Chakra membelainya, "maafkan aku, tetapi aku harus mencari Asih dan ibu." ucapnya kepada kuda itu. Ia memeluk kudanya, lalu menciumnya.


"kamu akan baik-baik saja dihutan ini. Esok lukamu akan sembuh. Kamu bebas kemanapun." ucap Chakra.


Ia mencari dedaunan pisang. Lalu menutupi kuda itu. Meskipun ia sembuh, tidak mungkin Chakra membawanya, karena akan sangat menyiksanya kuda itu.


Untuk salam perpisahan, malam ini chakra akan menginap dihutan bersama kuda itu.


Chakra tertidur dengan lelapnya, bahkan ia belum memakan sesuatu.


Arini, merubah wujudnya menjadi peri cantik, lalu Ia membuat perapian. Aroma pisang bakar membuat Chakra mengenduskan penciumannya.


"aroma apa ini..? Seperti pisang bakar.." Chakra berguman lirih dalam hatinya.


Ia memaksa matanya untuk terbuka, lalu Ia melihat ada setumpuk pisang bakar yang sangat menggoda tersaji diatas daun jati.


---bersambung