
Asih masih terus mendayung rakitnya. Perjalanan kali ini terasa lama, sebab harus menggunakan tenaga manual. Sedangkan Edy masih terlelap dalam tidurnya.
Asih menepikan rakitnya, mereka harus mengisi bahan bakar, berupa energi. Sebab hari hampir senja dan perutnya juga terasa lapar.
Asih mencabut pedangnya, Ia melihat seekor ikan Mas sedang berenang didekat rakitnya. Lalu..
Jeeeeebssss...
Ujung pedang itu menembus perut ikan disertai percikan air yang mengenai wajah Asih, karena ikan itu menggelepar.
Asih mengangkat ikan itu keatas rakit, lalu dan terus mengayuh rakit, hingga ketepian.
Edy masih tertidur pulas. Asih menambatkan rakitnya dengan pengayuh bambu agar tidak terbawa arus sungai.
Ia membuat perapian, Lalu membersihkan ikan tersebut dan membakarnya.
Sesaat aroma harum ikan bakar itu tercium begitu menggiurkan, namun Edy masih tertidur dengan pulasnya.
Asih lalu melompat keatas rakit, mengangkat tubuh pemuda itu, lalu memindahkannya diatas dahan pohon yang lumayan tinggi.
Lalu Asih turun dan menikmati ikan bakarnya, menghabiskan sisi kiri, dan menyisakan sisi kanan untuk pemuda itu.
Setelah merasa kenyang, Asih kembali memanjat pohon dan menggantung sisa ikan tersebut menggunakan sulur tanaman rambat dan meletakkannya tepat berada dihidung pemuda itu.
Setelah selesai, Gadis itu kembali turun, dan duduk ditepi sungai, menikmati lembayung yang kian merona.
Sementara itu, hidung pemuda yang sedang tertidur itu mengendus aroma ikan bakar yang begitu teramat menggoda. Ia mengerak-gerakkan hidungnya dan mencoba mempertajam penciumannya.
Seketika Edy mengerjapkan kedua matanya, lalu melihat ika bakar tergantung tepat diatas kepalanya. Edy membolakan matanya saat melihat banyaknya rimbunan daun dan...
Aaaaaaaaggh...
Teriak Edy dengan wajah memucat. Ia merasa bingung dengan apa yang terjadi padanya. Seingatnya Ia tadi tertidur diatas rakit, lalu mengapa tiba-riba bisa diatas dahan pohon.
Sesaat Ia bangkit dan duduk sembari melongok kebawah. Ia yang mengalami phobia pada ketinggian, tiba-tiba merasa begitu sangat ketakutan dan juga gemetaran.
Ia melirik kearah gadis yang sedang duduk bersantai ditepi sungai sembari menikmati panorama indah disenja hari.
"Heeeei.. Turunkan Aku..!" teriak Edy yang meneriaki Asih. Ia begitu takut akan ketinggian, apalagi Asih sengaja meletakkannya didahan yang tinggi.
Gadis itu seolah merasa tak bersalah dengan apa yang dibuatnya. Bahkan seolah-olah tidak mendengar ocehan Edy yang tampak semakin kuat terdengar.
Asih dengan sengaja tidak menoleh kearah pemuda tersebut, sebab Ia merasa jika Edy pastinya akan terlihat sangat lucu jika sedang ketakutan.
Edy terus mengomel karena Asih tak kunjung juga menurunkannya. Sementara itu, perutnya terasa sangat lapar, akhirnya Ia memakan ikan bakar yang disisakan Asih untuknya.
Setelah kenyang, Ia memberanikan diri untuk turun, meskipun kakinya bergetar danndadanya bergemuruh.
Ia mencoba menapaki satu-persatu dahan pohon kayu dan ingin segera sampai turun dibawah, namun karena kurangnya hati-hati dan kakinya yang menggeletar karena gugup, Ia terpeleset, dan..
Aaaaaaaaagghh...
Edy terjatuh, lalu melayang, dan...
Asih yang melihatnya, secepat kilat berlari dan menangkap tubuh pemuda, yang jatuh tepat ditangannya, dan berhasil menangkapnya.
Kedua mata mereka beradu, saling menatap satu sama lain. Entah perasaan apa yang mereka rasakan.
Sesaat kemudian, Asih merasa kikuk ditatap seperti itu, lalu..
Buuuuuuugh...
Asih menjatuhkan tubuh pemuda itu begitu saja dari gendongannya, dan..
Aaaaaaggh..
Gadis itu melenggang menuju rakit, lalu melompat ringan dan berdiri diatasnya.
Edy meringis kesakitan, lalu dengan terhuyung berusaha untuk bangkit dan berdiri tegak.
"Mau ikut denganku, atau tetap tinggal disana?" ucap Asih, sembari menatap pemuda itu dalam keremangan senja yang mulai menghitam.
Edy berjalan terseok menuju tepi sungai. Ia menggerutu karena Asih sudah beberapa kali mengerjainya. Namun jika harus tinggal ditepi hutan itu sendirian, Ia juga tidak sudi.
Sesampainya ditepi sungai, Ia kesulitan untuk turun dari atas rakit, lalu Asih mengulurkan tangannya, dan sebenarnya Edy merasa bimbang, takut jika gadis itu kembali mengerjainnya, namun Ia meraih uluran tangan Asih, dan berhasil melompat turun dari tepi sungai, dan mendarat sempurnah diatas rakit.
Ternyata Asih saat ini benar-benar lagi tidak ingin mengerjainya, dan gadis itu membisu, lalu menarik batang bambu yang dijadikan sebagai pengayuh.
Ingin rasanya Edy membantu gadis itu, namun Ia sendiri tidak tahu caranya.
Ia menatap punggung sang gadis, yang bergerak mengikuti irama kedua tangannya yang terus mengayuh rakit tersebut.
Jika menggunakan speedboat, mungkin mereka hanya akan menempuh perjalanan 1 hari saja. Namun karena manual, mereka harus menempuh 2 hari perjalanan.
Edy berjalan melangkah menghampiri sang gadis, berdiri disisi gadis itu, Ia sungguh gadis luar biasa, begitu tangguh dan kuat.
"Apakah Kamu lelah?" tanya Edy memecah kesunyian.
Asih tersenyum tipis dan terus mengayuh. baginya hal seperti ini sangat hal mudah baginya, karena Ia bukan wanita biasa yang sama seperti manusia normalnya.
Rakit terus meluncur mengikut arus sungai. Malam semakin gelap, dan Edy merasakan udara semakin dingin. Karena empedu ular yang pernah dimasukkan Asih waktu itu, membantunya melawan hawa dingin.
Edy mesasakan bulu kuduknya meremang, Ia meeasakan sesuatu yang negatif sedang berada disekitarnya. Lalu Ia menoleh kearah belakang, dan dikejauhan, Edy melihat sebuah cahaya bola api terbang melayang seperti mengikuti mereka dari arah belakang.
Edy tersentak kaget karena cahaya itu semakin mendekat, dan Ia belum pernah melihatnya.
Edy gemetar dan mencengkram pergelangan tangan Asih.
"Mengapa ada bola api dibelakang Kita?" tanya Edy dengan gemetar.
Lalu Asih menghentikan rakitnya. Meminta Edy memegang pengayuh bambu "Jangan takut, jika Kau merasa takut, maka Ia akan menyerap energi negatifmu dan Kau akan mati" Asih mencoba mengingatkan pemuda itu.
"Dan jangan pernah kamu menoleh kebelakang, tetaplah fokus menyetir"Asih kembali berpesan kepada pemuda itu.
Edy menganggukkan kepalanya, lalu menggantikan Asih untuk mengayuh. Meski tak semudah yang Edy bayangkan, namun Ia berusaha untuk terus mengayuhnya.
Asih mencabut pedangnya, lalu berjalan ringan diatas diatas rakit, menyambut kedatangan tamu mereka.
Bersamaan dengan itu, bola api itu semakin membesar dan siap menyerang Asih yang sudah sedari tadi menantinya.
Asih menghunuskan pedangnya, lalu menyerang bola api yang tak lain adalah banaspati tersebut. Asih sepertinya tidak memiliki rasa takut dengan makhluk yang mengerikan itu.
Pertempuran keduanya terjadi sangat begitu cepat. Keduanya saling serang dan menimbulkan suara dentingan beradunya senjata yang terbuat dari logam.
Asih berputar, lalu melayang dua jengkal dari atas rakit, dan memberikan tendangan bebas kepada bola api tersebut, sehingga membuat Banaspati itu terpental jauh, namun dengan secepat kilat kembali meluncur dan berputar-putar bagaikan gasing yang bersiap untuk memberikan balasan.
Lalu Asih memasukkan pedang kesarungnya, dan mengambil busur panahnya, lalu memasang anak panah dan membidikkan tepat diarah banaspati yang sudah semakin dekat jaraknya.
Gadis itu menarik kuat anak panah yang ada pada tali dawainya.
Lalu...
Wuuuuuuuussh...sssst..
Asih melepaskan anak panah itu, dan tepat mengenai bola api yang sudah semakin dekat jaraknya.
Aaaaaaggghhhhhsss...
Suara menggema memenuhi alam sekitar. Suara lengkingan kesakitan yang membuat banaspati itu terpental jauh, meninggalkan keduanya.