Buhul ghaib

Buhul ghaib
Ganguan dalam Perjalanan



Pagi yang cerah. Asih sudah tak sabar untuk melakukan perjalanan pertamanya.


Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya. Lalu mencium kening Chakra yang masih terbaring lemah. "bertahanlah kak.. Aku akan membuat mereka jauh lebih menderita dari apa yang kakak rasakan.." Asih berbisik ditelinga Chakra, penuh dengan penekanan disetiap katanya.


Dina menangis tersedu melepaskan kepergian puterinya, Gadis keras kepala yang selalu ingin mendapatkan apa yang akan diinginkannya.


"jaga dirimu baik-baik Asih.. jika sudah menemukan Bara, maka segeralah kembali.." Dina terus menciumi pipi puterinya seolah tak rela.


Bromo mengerti akan perasaan Dina yang begitu berat melepaskan puterinya.


"Asih..fokuslah pada tujuanmu..!!" titah Bromo dengan tegas.


Asih menganggukkan kepalanya. Lalu menyalim kedua orangtuanya.


"pergilah ke tepi sungai, Bromo sudah menyiapkan kendaraan untukmu." ucap Bromo kepada Asih.


Setelah berpamitan, Asih meminjam kuda Bromo, menungganginya dengan gagah menuju tepian sungai. Saat Ia sampai disana, Bromo dan Dina sudah terlebih dahulu berada disana. "gercep banget Romo sampai dimari..padahal tadi aku tinggal masih didalam Goa." Asih berguman lirih.


Asih tidak pernah tau, jika Bromo adalah raja siluman yang memiliki kekuatan yang tak pernah Ia bayangkan.


Sesampainya ditepi sungai, Asih dikejutkan oleh sebuah speedboat. "untuk apa ini Romo..?" tanya Asih yang masih bingung dengan benda yang dilihatnya.


"ini namanya speedboat. Benda ini akan menemani perjalananmu ke kota. Bromo akan mengajarimu cara menggunakannya." Bromo melompat ringan kedalam speedboat tersebut, yang diikuti oleh Asih.


Setelah mencermati apa uang diajarkan oleh Romonya, maka Asih dengan cepat belajar apa yang Ia lihat, dan Ia dengar.


"benda ini milik siapa Romo? Dan mengapa aku harus menggunakan benda ini?" Asih mulai cerewet.


"ini milik orang-orang kota itu, Romo menyimpannya. benda ini lebih cepat kerjanya dibanding rakit. jika menggunakan rakit kamu bakal memakan waktu seminggu, sedangkan benda ini hanya memakan waktu perjalanan sehari saja." Bromo menjelaskan.


Dina yang sedari tadi diam dan masih tak rela melepaskan Asih ikut nimbrung dalam percakapan keduanya. " akan ada banyak kendaraan yang kau lihat dikota, jangan panik, lihat bagaiamana cara orang-orang menyeberangi jalan. Jangan sampai kau tertabrak benda bermesin itu." Dina menjelaskan dengan sangat gamblang.


Asih semakin penasaran dengan keadaan kota. Seperti apa rupa kota tersebut.


"Asih, periksa kondisi bahan bakarnya setiap 3 jam perjalanan, romo juga sudah menyiapkan stok bahan bakar untuk perjalananmu. Ikuti aliran sungai ini menuju kearah timur"


"terimakasih Romo." ucap Asih dengan tegas.


Asih turun dengan cara melompat, Ia menghampiri Dina, memeluk erat wanita itu dengan perasaan yang berat. Namun Ia sudah membulat tekadnya.


Dina akhirnya pasrah, saat Asih melepaskan pelukannya, Dina terus menatap Asih yang meninggalkan mereka. hingga akhirnya tubuh Asih menghilang ditikungan sungai.


Asih terus memacu laju speedboatnya. Setelah cukup jauh menempuh perjalanan, kini mulai tampak rumah penduduk satu persatu.


Asih memandang setiap aktivitas yang dilakukan oleh warga. Selama ini matanya tertutup oleh lebatnya hutan.


Asih mengingat pesan Romonya untuk mengecek bahan bakar. Ia memeriksanya, lalu mengisinya. Saat selesai mengisi bahan bakar, Ia merasakan speednya berguncang.


Asih mencoba untuk tenang, lalu Ia mengeluarkan pedangnya, bersiap menghadapi kemungkinan yang terjadi. Asih menajamkan pendengaran dan penglihatannya.


Saat Ia memeriksa ketepian speedboatnya, Ia melihat rambut terbentang diatas air sepanjang 5 meter.


Asih terperangah. "Sane.." Asih berguman lirih.


Rambut panjang yang membentang itu perlahan bergerak mendekatinya. Asih merasakan hal akan adanya bahaya. Lalu dengan cepat ia Ia menusukkan ujung pedanganya kepada hantu air tersebut.


Seketika rambut yang awalnya membentang, bergulung seperti tikar dengan sangat cepat. Gilungan itu mengambang di air.


Cara memangsa hantu Air atau Hantu gulung Tikar (bukan hantu bangkrut ya..😅) Ialah dengan cara menggulung korbannya hingga berlendir. Setelah itu Ia akan membawa korbannya kedalam air. Setelah 3 hari, tubuh korban akan ditimbulkannya kembali, ketempat awal tenggelam. Korban dari hantu Gulung Tikar atau Hantu Sane, tubuhnya akan berlendir saat ditemukan.


hantu Sane itu kemuadian mendekati Asih dengan cara bergulung seperti roda menuju speedboat.


Asih menghunuskan pedangnya kedepan. Lalu memutar tubuhnya dan melayang setinggii satu meter diudara, dan...


Kreeeesssh..


Ujung pedangnya menggores gulungan hantu tersebut. Gulungan itu bergerak mundur dan menjauh. Ia membuat pusaran air yang sangat kencang, sehingga membuat speedboat Asih seperti akan tersedot.


Tak ingin bernasib sial, Asih mengambil busur dan anak panahnya. Ia membidik pusaran air uang semakjn kencang menarik speedboatnya.


Dengan mengucapkan kalimat ta'awudz' ('audzubillahi minas syahithonirrazim..)


Wuuuuuush...ssst


Asih melepaskan anak panahnya, tepat pada pusaran air yang berputar kencang.


Seketika terdengar suara lengkingan kesakitan. Pusaran air itu berhenti, diiringi dengan menghilangnya riak air.


Asih bernafas lega, lalu mengucapkan syukur. Asih memakai cadarnya, menyimpan kembali pedang dan busur beserta anak panahnya dalam gulungan kain.


Asih melanjutkan perjalanannya.


Kini Ia memasuki muara sungai. Ia menuju kearah timur sesuai petunjuk Romonya.


Sungai itu menuju laut. Lalu Asih mencari dermaga ilegal. yang masih belum diketahui orang. Ia tidak ingin orang-orang melihat kedatangannya menggunakan speedboat tersebut.


Asih melompat keatas dermaga. Meninggalkan speedboat itu terbawa arus.


Asih berjalan celingukan seperti orang bingung. Setelah lama berjalan, hari mulai senja, Ia harus mencari tempat untuknya tidur malam ini.


Asih bingung harus tidur dimana malam ini, katena Ia belum sempat menjual berlian pemberian Romonya.


Asih memandang takjub lampu-lampu penerangan dan kerlap kerlip lampu aneka warna yang menghiasi jalanan.


Di goa ia hanya melihat lampu lentera dan suluh bambu sebagai penerangan.


Dan ucapan ibunya benar, jika ada banyak kendaraan bermotor yang lewat. Kendaraan-kendaraan dengan berbagai bentuk dan ukuran, melintas tanpa ada habisnya. Bahkan kendaraan itu mengeluarkan berbagai bunyi yang membuat Asih merasa pusing. Selama tinggal dihutan, Ia merasakan ketenangan dan kedamain, Jauh dari hiruk pikuk dunia.


Asih merasa bingung bagaimana caranya akan menyeberangi jalan.


Lalu Ia melihat seorang ibu yang sedang mendorong gerobak sampah akan menyeberangi jalan, Asih dengan cepat merasa tanggap. Ia berjalan cepat mengekori ibu tersebut.


Sesampainya di seberang jalan, Ia merasa semakin bingung. Ia melihat ibu yang mendoring gerobak berjalan menuju sebuah kolong jembatan. nalurinya mengatakan untuk mengikuti ibu tersebut. Penampilan Asih yang sedikit berbeda, menjadi pusat perhatian warga yang melintas.


Asih membawa sebuah gulungan kain yang berisi pedang dan busur yang terus dipegangnya.


Sebuah tas ransel yang terbuat dari anyaman rotan tempat Ia meletakkan barang-barang pribadinya Ia pakai dengan santai.


Dan ternyata tas itu yang menjadi perhatian para warga. Mereka dapat menebak jika Asih berasal dari kampung dan hendak merantau ke kota.


Tak sedikit yang mencemooh Asih, namun Ia tidak menghiarukannya.


Ibu yang mendorong gerobak merasa ketakutan karena Asih terus mengekorinya. Ia gemetaran, karena mengira Asih akan melakukan tindak kejahatan padanya. Pada saat melintasi lokasi yang sangat sepi, segerombolan brandalan sedang berkumpul. Mereka menggunakan drugs dan mabuk-mabukkan.


Melihat kedatangan Ibu tersebut, seorang dari mereka menghalangi jalannya, lalu memaksa si ibu untuk menyetorkan uang hasil memulungnya hari ini.


Si ibu menangis, memohon agar mereka tidak mengambil uangnya, karena Ia akan membawa anaknya kerumah sakit esok hari untuk berobat.


Para brandalan itu tidak menggubris permintaan si ibu uang sudah memohon sembari menangis.


Asih menghentikan langkahnya, memperhatikan setiap perbuatan para berandalan itu.


Asih menyadari, jika hidup dikota sangatlah keras. Tidak adanya belas kasih.


Seorang dari mereka melihat Asih yang berdiri tak jauh dari mereka.


"lihaat disana..!! Ada cewek cantik cuuy..!" teriak seorang pemuda bertato dan penuh tindik disana sini. Dari mulai telinga, hidung dan bibirnya penuh dengan tindik.


Seketika semua pandangan mereka tertuju pada Asih, tak terkecuali si ibu yang menjadi korban pemerasan para berandalan.


Asih tidak mengerti dengan teriakan sebutan kata 'Cewek' yang ditujukan padanya.


Mereka serempak menghampiri Asih. Setelah cukup dekat, mereka mengelilingi Asih.


"sepertinya datang dari kampung nih cewek.. Bisa juga buat bersenang-senang malam ini. Mana cantik lagi.." ucap seirang berandalan lainnya.


Jumlah mereka sekitar 10 orang. mata mereka memandang Adih dengan tatapan liar, dan imajinasi kotor.


Mereka saling pandang, memberikan kode untuk menagkap Asih.


Saat seorang dari mereka ingin menyentuh lengan Asih, dengan cepat Asih menangkap pergelangan tangan berandalan tersebut, lalu mencengkramnya dengan kuat, sehingga membuat berandalan itu mengerang kesakitan.


belum sempat pemuda itu menyadari semuanya, dengan cepat Asih menyikutkan sikunya tepat didada pemuda itu, dan memberikan tendangan tepat dilututnya.


pemuda itu duduk bersimpuh dan berhasil dilumpuhkan.


Pemuda itu terpekik menahan sakit. Ia memegangi dadanya yang terasa nyeri.


Dengan tatapan dingin dan tajam, Asih terus memperhatikan gerak-gerik para pemuda berandalan.


Seorang dari mereka mengeluarkan sebilah pisau, ternyata mereka salah satu geng motor yang biasa menyerang korbannya tanpa ampun.


Ibu yang mendorong gerobak menjauh dari tempat tersebut.


Mendapati korbannya bukan gadis sembarangan, Mereka menuju sepeda motor mereka, mengeluarkan segala jenis senjata tajam, dari mulai golok, linggis, sabit dan lainnya.


Mereka mengelilingi Asih. Satu lawan sembilan..


Mereka menyerang Asih tanpa belas kasih, meskipun yang mereka serang seorang gadis seusia mereka.


Saat seorang menyerang Asih dengan menggunakan linggis, Asih menahannya dengan pedang dan busur beserta senjata dwi sula yang masih terbungkus dengan kain.


Asih melayangkan pukulan tinjinya pada wajah pemuda itu, lalu menghempaskannya ke tanah.


Asih diserang denhan membabi buta oleh gerombolan brandalan itu.


Memakan waktu yang cukup lama, Asih akhirnya melumpuhkan mereka.


Dengan membawa dendam, mereka kabur meninggalkan lokasi tersebut dengan melontarkan kata-kata makian dan ancaman.


Asih menanggapinya dengan tatapan dingin.


Setelah kepergian para berandalan itu, Asih, mencari keberadaan sang ibu pendorong gerobak.


Bersambung....😴😴😴