
Dina menyadari jika dirinya dalam lingkaran bahaya. Dina sudah menyelesaikan makan siannya, lalu meneguk air minumnya. Ia membuang dengan asal bungkus makanannya dan berniat hendak meninggalkan tempat itu.
Namun Ia telah disergap oleh kawanan pria yang tampak seperti lapar melihat wanita didepan mereka. Sorot mata mereka terlihat sangat menjijikkan.
"Hai, Cantik. Kemarilah sayang. Kita bersenang-senang." ucap seorang dari mereka yang diperkirakan berjumlah cukup banyak.
Dina berdiri dengan ekor mata yang terus mengawasi pergerakan para bajingan tersebut.
Seketika mereka menccoba menyergap Dina secara bersaman, seolah mereka tak ingin melepaskan buruannya.
Namun Dina hang sudah bersiap sedari tadi melancarkan serangan balasan dan mencoba melumpuhkan satu persatu para pria bangsat tersebut.
3 orang telah berhasil dilumpuhkannya dengan mudah. Namun kali ini Dina tidak menyadari, jika sepasang mata yang mengawasinya sedari tadi dari balik sesemak telah mengarahkan sebuah senjata api kepadanya..
Dan....
Dooooorrrrr...
Sebuah timah panas mengenai betisnya, dan Wanita itu ambruk seketika ke tanah yang ditumbuhi oleh rerumputan.
Ke empat pria yang tersisa beramai-ramai mengangkat tubuh Dina yang sudah tak berdaya.
Mereka membawa kepada Bos mereka yang sedang menanti dan berhasil melumpuhkan wanita tersebut.
Dina mencoba menjaga kesadarannya, Ia merasakan tubuhnya sedang diangkat beramai-ramai kesuatu tempat.
Mereka membaringkan tubuh wanita itu diatas tanah rerumputan.
Pria yang sedari tadi menunggunya menatap penuh tak sabar. "Biarkan aku yang mencicpinya terlebih dahulu, setelah Itu kalian boleh bergiliran." Titah pria bermata sadis tersebut dengan raut wajah tak sabar.
Ia merobek paksa pakain wanita itu, dan seperti singa yang kelaparan, mencoba menggagahi wanita yang terbaring lemah tersebut.
Para bawahannya menyaksikan perbuatannya yang tak manusiawi.
Senjatanya yang sudah menegang sedari tadi, mencoba untuk keluar dari sarangnya. Ia menekuk kedua kaki dina yang masih mengeluarkan darah bekas luka tembakan tersebut.
Sesaat Dina berusaha meraih betisnya yang terluka dengan susah payah.
Pria bejad itu sudah bersiap dengan senjatanya yang siap menerobos ke organ inti sang wanita. Berasamaan dengan itu, Dina berhasil meraih betisnya, lalu mengucapkan kata "Sembuhlah" dengan nada lirih, dan seketika luka itu sembuh, lalu tanpa diduga, Dina memberikan tendangan yang sangat kuat kepada Pria itu tepat di senjatanya yang menegang.
Aaaaaaaaargh...
Teriak pria bertubuh kekar itu dengan teriakan yang sangat mengerikan sembari memegangi senjatanya yang terasa sangat ngilu dan menyakitkan.
Para bawahannya terperangah menyaksikan Bos mereka mendapatkan tendangan yang sangat dahsyat, dan mereka merasa bingung mengapa luka dibetis Dina menghilang.
Dengan cepat Dina melompat dan berdiri tegak, belum sempat para pria brengsek menangkap kembali. Saat mereka bergerak hendak menangkap Dina, wanita menggunakan ajian Bayu Bajra dan terbang melayang diatas kepala mereka dengan ringannya, lalu melompat keatas punggung kudanya dan memacu kudanya untuk segera meminggalkan lokasi tersebut.
Ke tiga pria yang tadi dilumpuhkan oleh Dina berusaha bangkit dengan tubuh yang terhuyung-huyung dan penuh luka.
"Bos.. Bagaimana senjatamu? Apakah aman?" tanya seorang bawahannya yang tampak kebingungan melihat sang Bos yang meringis kesakitan.
"Diaaam..!! Ini sangat sakit tau..!" bentaknya dengan nada kesal.
"Awas saja jika aku bertemu lagi dengannya, akan ku siksa Dia sampai memohon ampun..." ucap pria dengan penuh dendam.
"Tetapi, wanita itu tampak bukan seperti wanita biasa Bos, Ia bisa terbang seperti para ninja suruhanmu" ucap seorang diantara mereka.
Seketika wajah pria itu berubah seketika, sepertinya Ia tidak bisa meremehkan wanita yang barusan ditemuinya tadi.
Setelah jauh melakukan perjalanan, Dina menghentikan kudanya. Ia melihat ada bekas tempat orang melakukan peristirahatan dan menginap.
Tampak bekas tulang belulang daging hewan buruan yang tampak dibakar. "Sepertinya ada kelompok lain yang terlebih dahulu naik kepuncak bukit. Apa tujuan mereka?" Dina berguman lirih.
Lalu kembali melanjutkan perjalanannya, menerobos hutan tersebut dan mencoba agar lebih dahulu sampai dibanding para pendaki tersebut. Ia memastikan jika mereka berjalan kaki untuk mencapai puncak, itu terlihat dari banyaknya jejak tapak sepatu yang tercipta ditanah basah tersebut.
Hari semakin gelap, Dina mencoba mencari tempat untuk berlindung, hingga Ia sampai dibawah pohon rindang. Ia melihat kembali tempat peristirahatan tempat kawanan kelompok manusia tersebut.
Tampak dua kerangka tubuh manusia yang baru saja dimangsa hewan buas. Dina tidak turun dari Kudanya. Ia melihat ada banyak hewan pipih disana, Ia membatalkan niatnya untuk bermalam ditempat itu, Ia mencoba mencari tempat lain dihutan, dan kembali memacu laju kudanya.
*****
Bara sembrani berlari dengan kencang. Asih terus memacu kuda gagah itu melintasi hutan.
Seorang pemuda memegang erat pinggang sang gadis, mengikuti irama pergerakan Bara yang berlari dengan sangat kencang.
"Jika tak ada halangan, kita akan sampai dipuncak bukit sebelum senja" Ucap Asih kepada pemuda itu.
Pemuda itu hanya menjawab dengan deheman.
Asih terus memacu Kudanya dengan kecepatan yang tak biasa. Sesaat Bara sembrani berhenti mendadak karena sesuatu menghalanginya.
Seekor ular berukuran raksasa mebghalangi jalannya. Seketika Asih menarik tali kekang kudanya dan berputar menghindari ular tersebut.
Asih melepaskan pegangan tangan Edy di pinggangnya, lalu berdiri di atas punggung Bara.
Kemudian Ia melompat turun kebawah dan menarik senjata Dwi sulanya dan bersiap menghadapi lawan didepannya.
Edy merasa bingung dengan apa yang dilakukan Asih. Mengapa Ia tampak begitu bersiaga menghadapi ular dihadapannya.
Ular itu berdiri tegak, lalu mengeluarkan 3 kepala lainnya. "Asih... Apa kabarmu? Lama kita tidak bersua" ucapnya dengan nada parau.
Edy bergetar seluruh tubuhnya, Ia seketika menciut ketakutan, karena ular itu dapat merubah wujudnya menjadi berkepala empat.
"U..Ular siluman.." ucap Edy terbata.
Ular siluman itu tampak tersenyum senang melihat kehadiran Asih yang sepertinya sudah lama dinantikannya.
Asih memutar-mutar senjata Dwi Sulanyanya. Ia sudah tak sabar bermain-main dengan anak siluman manja tersebut.
"Majulah Rekso, namun jangan mengadu ke ibu mu jika kamu nanti terluka" ucap Asih dengan nada mengejek.
Seketika Rekso mersa tersinggung, lalu menyerang Asih dengan brutal.
Sedangkan Edy hanya terperengah melihat pertempuran tersebut.
Keduanya saling serang, Asih mencoba mencari kesempatan untuk melumpuhkan lawannya.
Saat Rekso ingin menyerang Asih menggunakan gigitan bebrbisanya, Asih menancapkan senjata dwi sulanya dileher lawannya, hingga tersangkut.
Energi panas dari senjata Dwi Sulanya itu membuat Rekso menggelapar. Seketika Asih mencabutnya, dan memberikan tendangan maut yang membuat tubuh Rekso terlempar jauh ke negeri wakanda.
Setelah berhasil melumpuhkan Rekso, Asih bernafas lega, lalu Ia kembali naik keatas punggung bara dan melanjutkan perjalanannya.
~Dwi sula adalah senjata berbentuk tombak dengan dua mata tombak. Sumber by wikipedia.