
#Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.semoga enjoy... 😉
"ada apa Mi?".tanya Sagita penasaran.
"katakan saja jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu Mi". ujar Sagita setengah memaksa.
Midea bergeming sesaat seraya menunduk kan wajahnya untuk menghela nafasnya pelan. lalu ia mengangkat wajahnya perlahan.
"bantu aku untuk menggugat cerai Justin" ujar Dea mantap.
...----------------...
triiing..
suara pecahan gelas kaca hotel yang tersenggol oleh tangannya sendiri sedikit mengagetkan dirinya. Justin melihat pecahan kaca gelas tersebut lalu berjongkok untuk memungut pecahan kaca yang berantakan tersebut.
sret..
"aukh.. syit.. ". pekik Justin seraya mengibas kan jari telunjuknya untuk menjauhkan jarinya yang terkena pecahan kaca tersebut.
Justin segera membersihkan jarinya yang berdarah ke wastafel. lalu ia mengambil sebuah plaster yang terselip di dompetnya.
setelahnya ia memanggil service room dan meminta tolong untuk membersihkan pecahan kaca tersebut.
"pagi pagi udah naas". gerutunya sambil mengambil kunci mobil setelah service room itu pergi.
Justin kembali mengendarai mobilnya ke perusahaannya Andra untuk mendapatkan informasi alamat rumahnya Midea. setibanya
di sana ia menemui seorang satpam untuk di antarkan ke bagian personalia.
setibanya di bagian personalia Justin di perkenalkan pada seorang penanggung jawab dari seluruh data karyawan yang bekerja di perusahaan ini.
"selamat pagi pak. ada yang bisa saya bantu? ". sapa petugas tersebut kepada Justin.
lalu Justin menceritakan perihal tentang nama yang ia sebutkan yang bekerja di sini. seorang petugas mencoba mencari nama yang di sebutkan Justin. tetapi dari keseluruhan data personal yang masuk hanya nama Jasminka Orchidea atau pun Midea Hasxander yang di sebutkan Justin tidak terdaftar dalam data yang di maksudkan.
"tidak ada sama sekali pak nama tersebut. mungkin nama tersebut sebagai pekerja lepas atau buruh harian". jelas petugas tersebut.
"maksudnya?". apa dia benar benar pekerja lepas atau buruh harian? ". pekik Justin.
"sepertinya begitu pak". ujar petugas tersebut.
Justin terdiam memikirkan Dea dan Dean yang keberadaannya hingga kini belum di ketahui. lalu ia teringat pada sebuah foto Dea yang ada di galerinya dan ia menunjukkan pada petugas tersebut.
"bapak pernah lihat perempuan ini di sini?". tanya Justin.
sang petugas pun mencoba menerka nerka seraya mengernyitkan dahinya untuk mengingat sosok Perempuan yang di tunjuk kan oleh Justin.
"ibu ini sepertinya di bagian kantinlah pak. karena kalau saya mau ngopi yang di sediakan. selalu ada ibu ini di sana". ujar petugas itu.
"oh ya??! ". pekik Justin.
"ya. bisa jadi ibu ini tenaga lepas atau pun harian. karena sebenarnya yang di utamakan dalam data data personalia di sini adalah karyawan tetap pak". ujar sang petugas.
"ibu ini berarti yang merekrutnya secara personal melalui orang kepercayaan perusahaan atau pun orang titipan pak". jelas petugas tersebut.
"oh begitu. saya boleh tau siapa orangnya?". tanya Justin penasaran.
"pak Ruslan pak namanya pak. beliau bagian penanggung jawab kantin". jelas petugas tersebut.
"saya boleh ketemu dengan beliau?". pinta Justin pada petugas tersebut.
"baik pak. saya akan antarkan bapak kesana". ujar petugas tersebut.
sesampainya di sana suasana kantin tampak lengang. tak ada aktifitas apa pun di dalam ruangan ini.
"kenapa sepi? ". tanya Justin penasaran.
"mungkin masih berlaku libur pak".sahut petugas tersebut.
"kita ke ruangannya pak Ruslan aja pak. mari sini". ajak petugas tersebut.
tetapi belum pun sampai di ruangannya pak Ruslan. mereka telah bertemu dengan orang yang di cari. setelah Justin di perkenalkan pada pak Ruslan dan pak Ruslan menawarkan bantuan. ia pun menceritakan tentang nama yang ia cari di perusahaan ini.
Dan dari cerita pak Ruslan juga jika istrinya itu mendapatkan bantuan dari Cindy nyonya perusahaan ini. istrinya Andra. dan dari Cindy lah jika Midea bisa bekerja di sini sebagai pembuat kopi dan cemilan.
"kurang tau pak. mungkin bisa jadi mereka tinggal di tempatnya ibu Cindy. soalnya saya sering melihat ibu Jasmine di antar jemput oleh ibu Cindy kalau bapak ga ada". jelas pak Ruslan.
Justin menghela nafasnya sesaat. lalu ia pamit setelah mengucapkan terimakasih pada pria paruh baya tersebut.
Justin menstarter mobilnya menuju ke sebuah apartemen miliknya Andra yang pernah Justin dan Indra singgahi. Justin mencoba mencari istri dan anaknya di gedung itu. ia berprasangka jika Midea dan Dean ada di sana.
sebab jika mereka menyewa sebuah rumah adalah sesuatu yang boros dan terlalu besar bagi mereka berdua tinggali. kenapa Justin berprasangka Midea ada di sana karena ia mencerna kata katanya pak Ruslan jika Cindy sering di antar dan di jemput oleh istrinya Andra itu.
"ternyata kamu mencari perlindungan sama sahabat aku sendiri ya Dee. ckk". Justin berdecak kesal.
"fine. kita lihat Sampai kapan kamu mau berlari larian terus seperti ini". gumam Justin saat ia telah sampai pada gedung yang di tuju.
Justin keluar dari mobilnya dan menaiki lift menuju lantai di mana unit apartemen milik Andra berada.
dengan berbekal sedikit informasi dari Indra tentang nomor unit apartemen temannya itu akhirnya Justin tiba di depan pintu yang berwarna putih itu yang bertuliskan 421 tersebut.
Justin pun segera memencet bel di pintu tersebut. sekali dua kali tak ada sahutan. akhirnya Justin kembali ke bawah menemui pos satpam dan menanyakan tentang penghuni di nomor yang di sebutkan Justin.
mereka saling bertanya ke satu sama yang lain. dan serempak menggelengkan kepala nya. sebab selama mereka bertugas di sini mereka belum sekalipun mendengar penghuni dengan nomor yang di sebutkan oleh pria yang ada di hadapan mereka.
"yang benar kalian ga tau apa pun soal penghuni 421 tersebut?". tanya Justin setengah memaksa.
"benar kali pak. kita tidak tau siapa yang tinggal sekarang ini kecuali yang kita tau kalau unit dengan nomor yang bapak maksud kan itu adalah apartemennya pak Andra. cuma sekarang beliau tidak tinggal di sini lagi". jelas salah satu satpam tersebut.
"iya pak. pak Andra udah pindah ke villa biniknya kalau kita tidak salah dengar". timpal satpam yang lain.
Justin menarik dalam nafasnya sesaat. lalu ia menunjukkan sebuah foto Midea dan Dean di galeri ponselnya.
"kalian pernah melihat mereka di sini? ". tanya Justin penuh harap jika para satpam tersebut memberikan yang ia harapkan.
"lha ini kan keponakannya ibu Cindy istrinya pak Andra. kalau yang ini ga tau pak". sahut kedua satpam itu serempak.
"kalian kenal?!". pekik Justin seraya menarik kedua sudut bibirnya.
"ga kenal kenal kali pak. cuma saya pernah ajak ngobrol ini bocah. namanya kalau tak salah Dee". sahut seorang satpam yang iseng menyapa Dean waktu itu.
"lalu? ". tanya Justin kembali.
"yah cuma gitu aja pak. orang cuma sambil lewat pas waktu itu mobilnya bu Cindy lagi susah di keluarin dari parkiran karena ada mobil mogok pas pulak berhentinya di belakang mobil bu Cindy yang baru saja beliau mau keluarin dari parkiran". jelas satpam tersebut yang mencoba mengingat ingat kronologi saat bersama Dean.
"jadi mereka sering bersama Cindy? ". tanya Justin kembali untuk mengumpulkan informasi.
"yah bisa jadi pak. memangnya ibu yang satu lagi siapa pak? ". tanya satpam tersebut.
"oke terimakasih". sahut Justin segera berlalu tanpa menjawab pertanyaan dari satpam tadi tentang siapa itu wanita yang ada di samping Dean.
"Mi.. dea...Jas...mine... ". desis Justin seraya menghembuskan nafasnya perlahan.
"aku akan menemukan kalian kembali. aku pastikan itu".desisnya seraya memegang erat setir kemudi mobilnya.
Justin pergi meninggalkan gedung tersebut. rencananya ia akan menemui Andra di villa istrinya itu.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.