My D you are the first for me

My D you are the first for me
omelan Justin vs ancaman Dea



Hai readers I am coming back. Selamat membaca kembali..semoga happy...


Midea segera menahan tombol stop pada lift tersebut dan segera keluar dari sana saat pintu lift terbuka. Midea tersenyum miring pada pria brengsek yang masih berada di dalam lift yang sedang menahan sakit.


"rasain lu. lain kali mikir mikir kalau mau gangguin seorang perempuan ya. dan ga semua perempuan lu kira goblok kayak lu!". maki Dea pada pria itu.


Dea kembali masuk ke lift yang lain setelah mendapatkan lift yang bergerak naik hingga ke lantai di mana kamar keluarganya berada.


sementara pria yang ada di dalam lift tersebut kembali ke kamarnya. ia mengompres barang miliknya dan membuat strategi yang baru untuk menjebak Midea kembali. kali ini ia tidak akan bertindak sendiri. ia akan meminta bantuan pada koleganya yang bernasib sama dengannya. sama sama pernah di kelabui oleh wanita licik itu.


"Midea Hasxander. jangan pikir kamu bisa lolos begitu saja ya perempuan. kali ini aku akan menghabisimu sampai tak ada lagi rasa manis di tubuhmu. Ha..ha..ha..ha...Hahahaha.. ". ucap pria itu hingga tertawa terbahak bahak membayangkan keberhasilan akan rencana nya.


***


"dari mana sajo De?". tanya Alma pada Midea yang baru saja kembali.


"ga kemana mana ma. cuma nyari angin di rooftop aja kok". sahut Midea.


lalu ia mengambil segelas air dan langsung menghabiskan dalam sekali tegukan pada saat itu juga.


"haus banna sepertinyo De". komentar Alma saat memperhatikan tingkah Dea saat ini.


"panass ma... aku mandi dulu ya?". jawab Midea seraya masuk ke kamar pribadinya.


"anak anak mana ma?". tanya Dea saat tak melihat dua bocah di kamarnya.


"di bawa Neeha ke kamarnyo nenek cantik". jawab Alma.


"oiya. tadi Justin ke sini. dia nanyain awak. ambo bilang awak keluar. lalu ia menyerah kan ini untuk awak. mama jugo di kasih nyo". ujar Alma seraya memberikan tiga paper bag pada Midea.


"yang ini untuk anak anak". tutur Alma sebelum Midea menanyakan peri hal dua paper bag lainnya.


"oh". desis Midea seraya mengambil tiga paper bag tersebut dari tangannya Alma.


"jadi dia ke sini hanya untuk mengantar ini?". tanya Midea seraya membuka paper bag tersebut untuk mengintip isi nya.


"iyo. dia nanyain awak tadi nyo. mama cuma menjawab awak keluar buat nyari angin segar. eh indak tau nyo samo pulak yang awak jawab barusan saat mama bertanyo". jawab Alma.


Midea menanggapinya dengan senyuman.


"nah ini di coba dulu lah. mana tau ada yang tak pas di badan awak bisa kito orang minta tolong pada tantemu itu". saran Alma saat melihat Midea hanya melirik pada isi paper bag tersebut.


"iya ma. aku mandi dulu. nanti aku coba". jawab Midea sambil meletakkan paper bag tersebut di atas tempat tidurnya.


"ya sudah. ambo ke kamarnya tante qanita dulu yo". pamit Alma.


"iya ma".sahut Dea sembari menganggukkan kepalanya.


beberapa menit kemudian Midea membuka satu paper bag yang berukuran lebih besar dari dua paper bag lainnya. pupil netranya melebar saat ia melihat sebuah long dress berwarna silver serta lengkap dengan hijab nya.


lalu Dea mencoba dress tersebut di tubuhnya. dan semua terasa pas di tubuhnya. ia akui jika Justin pintar dalam mengukur lekuk tubuhnya sehingga apa pun yang pria itu


berikan padanya selalu saja pas dan terasa nyaman saat ia menggunakannya.


ponselnya berdering membuat ia mengalih kan pandangannya dari kaca besar yang me -nampilkan tubuh rampingnya.


"unknown number". desisnya saat melihat layar ponsel yang terterakan nama dari pria itu.


tapi ia tahu nomor itu adalah milik Justin yang tak pernah sekali pun pria itu mengganti nya kecuali pria itu pernah memblokir nomor nya yang dulu saat ia masih berstatus istri terpaksanya.


"hallo". sapa Midea.


"kamu kemana aja si De. kenapa ponselnya baru di aktifkan sekarang?" sahut Justin yang langsung mencercai pertanyaan untuk Dea.


"kenapa sih?". tanya Midea heran.


"belum. kenapa?".dusta Midea.


"hah. kok belum sih. anak anak aja udah nge tes semua. ibu Alma juga. masa kamu sendiri yang belum sih De. kamu ngapain aja?" cecar Justin.


"belum sempat". dusta Midea singkat seraya mematutkan dirinya di kaca cermin.


"ya udah. habis ini kamu coba dulu ya gaun nya?. biar aku tau kekurangannya di mana? jadi kita bisa fitting ulang". titah Justin


"hmmm". Dea hanya bergumam malas saat menanggapi titahnya Justin.


baru juga ia menutup ponselnya tiba tiba justin mencegahnya.


"ada apa lagi sih?". tanya Dea dengan rada kesal.


"jangan lupa satu set perhiasannya di guna kan juga ya?".titah Justin.


"ya elah udah kayak toko perhiasan berjalan aja mau di pake semua". dumel Dea pelan tetapi cukup di dengar di telinganya pria tampan ini.


"kalau kamu merasa riweh. ya udah minimal salah satu kamu pake ya. jangan ga sama sekali. okey De?". saran Justin menanggapi omelan mantan istrinya itu.


"Midea". panggil Justin saat wanita itu terdiam


"Midea". panggil Justin lebih keras.


"iya. apaan sih. berisik tau ga sih". hardik Dea


"ya makanya di jawab dong kalau di panggil. kayak ga punya mulut aja. beneran ga punya mulut baru tau rasa deh ntar". dumel Justin.


"nyumpahi orang jadi bisu gitu". tuduh Midea


"ya ga gitu saaayannng. maksud aku di jawab dong. kalau di panggil jangan diem gitu De??"


bujuk Justin.


"cih. sayang.. sayang.. pala lu peyang. najiss. udah ya. jangan ganggu ganggu aku dulu. kalau masih aja gangguin aku. ini long dress nya ku biarin aja. aku pake gaun yang di tawar sama tante Qanita ntar". ketus Midea dengan nada mengancam.


"oh..iya.. iya..aku janji ga gangguin kamu dulu"


jawab Justin patuh.


bunyi nada terputus dari sambungan ponsel keduanya terdengar di telinga Justin yang masih berharap bisa mengobrol dengan Dea lagi meskipun hanya sebatas di ponsel.


"hemmm....cepet banget di putusin telponnya sih De". keluh Justin.


sebenarnya jika ia mau bisa saja ia memaksa kan Midea untuk terus mengobrol dengannya di telpon bahkan ketemu langsung pun akan ia lakukan. akan tetapi karena perempuan yang di hadapi nya saat ini adalah perempuan kategori nekat dan juga keras kepala yang akhirnya ia lebih memilih mengalah saja dari pada rencana yang di susun dengan rapi bisa runyam nantinya.


Justin kembali ke lantai dasar dari hotel ini untuk memeriksakan hasil dekorasi untuk acara esok hari khusus anak anak para tamu undangan. sedangkan acara di pagi harinya Justin mengadakan acara pembacaan doa dengan mengundang ratusan anak yatim yang turut mendoakan anak anaknya khusus nya yang sedang berulang tahun di hari itu.


next chapter..


*ancaman terhadap Midea tak berhenti begitu saja ya guys.


*siapakah yang akan menolong Midea nanti nya? atau wanita itu Punya caranya sendiri dalam menghadapi masalah?".


stay cool here ya readers...


Lanjut ke next chapter ya readers.


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.