
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
"ikhlas berarti merelakan dua D nya". Justin membathin di hatinya.
"ikhlas berarti benar benar harus melepaskan dua D nya".
"ikhlas berarti aku harus mengikuti apa yang Dea minta sesuai kesepakatan kami bersama.ya Allah ya rabbi apakah aku bisa?. apakah aku sanggup tanpa mendekati mereka jika suatu hari aku menemukan dan melihat mereka di manapun?".Justin membathin sembari menundukkan wajahnya.
"ya Allah baru aku membayangkan saja rasa nya sudah berat. Bagaimana jika selamanya aku hidup dengan hanya membayangkan mereka tanpa menyentuh dan berbicara dengan mereka?. Bukankah sama saja seperti mereka tak berada di dunia ini?". Gumamnya di hati.
"bagaimana bisa abang hidup tanpa memeluk dan menghabiskan waktu bersama mereka Satria?". Keluh Justin pada Satria.
"bisa bang. Abang hanya harus bisa bersabar dan tegar. Aku yakin bang, suatu saat bunda nya Dee itu akan membuka hatinya untuk abang kembali asalkan abang tidak bersikap dominan lagi padanya". tukas Satria.
"sebenarnya bundanya Dee itu wanita yang baik dan dia sangat pemaaf orangnya. Jika kita bisa memahami dia sedikit saja. Akan memudahkan kita untuk hidup berdampingan dengannya bang. karena selama dalam pengamatan aku, sebenarnya yang Dea butuhkan adalah ketenangan bathinnya, lain tidak bang". Ujar Satria.
"jika boleh aku jujur bang. raut wajahnya Dea sebelum abang datang dan menetap di Mdn. mantan istri abang itu terlihat ceria dan bahagia. Mungkin karena hatinya merasa tenang menjalani hidup tanpa ada abang. tetapi di saat abang sudah pindah ke sini dan ia tau abang di sini, aku melihat raut wajahnya sudah mulai terlihat gusar bang. Seperti ada ketakutan di dalam hatinya. dan ternyata memang benar kan bang?". Masalah masalah yang datang ke padanya selama ini, itu adalah pembuktian. jika betapa beban berat menghimpitnya selama ia hidup bersama dengan abang". tukas Satria lugas.
"maaf bang kalau aku harus berkata jujur seperti ini. Tapi memang seperti itu lah ada nya bang. Jasminka atau pun Midea adalah wanita yang sama. Yang secara tak langsung terhubung dengan keluarga besar kita, Kehl's Family.
"jadi saran aku bang. ikhlaskan dan lepaskan lah mereka sejenak. Aku yakin suatu hari nanti mereka pasti kembali bang. Percayalah. sekarang yang harus abang lakukan adalah sabar dan yang paling utama adalah ikhlas. Seperti aku dan Retha yang dulu telah meng -ikhlaskan Dee kembali ke keluarga abang, Ardiansyah's family." tukas Satria lugas dengan tenggorokan yang tercekat saat mengingat bagaimana sedihnya Retha saat harus melepaskan Dean kembali ke keluarga Ardiansyah.
Justin terdiam sesaat. Ia mencerna kata kata adik sepupunya kembali meskipun nyeri di kepalanya masih menyerangnya hingga kini. akan tetapi ia tak perduli. baginya rasa sakit di kepalanya tidak begitu terasa dari pada ia merasakan nyeri di hatinya karena mulai kini ia harus melepaskan dua D nya pergi dan entah kapan kembali.
"baiklah akan abang coba". jawabnya dengan tenggorokannya yang tercekat.
Satria menanggapinya dengan tersenyum demi menyemangati abang sepupunya itu.
Satria melirik jam dinding kamar mewah itu.tanpa terasa waktu telah mereka lewati beberapa jam dalam obrolan hati ini. Lalu Satria bangun dari duduknya untuk menge -check kembali kondisi Justin.
"masih panas bang. Kita minum obat lagi ya?". Ujar Satria seraya mengambil obat dan air minum lalu meminumkannya pada Justin.
"makasih dek". Ucap Justin.
"tidurlah bang. Biar cepat sembuh besok. Jadi abang bisa menjadi seorang workaholic lagi tanpa harus mengabaikan keyra lagi". saran Satria.
Akan tetapi saran tersebut sarat mengandung cibiran terhadap Justin karena memang telah mengabaikan anak yang satu lagi saking terlalu sibuk dan fokus mengejar anak yang di bawa lari oleh ibu kandungnya sendiri.
Justin tau akan maksud di kalimat terakhir dalam pernyataan Satria barusan. Tetapi ia lebih memilih diam karena pernyataan Satria memang benar adanya. Justin kembali lagi mengabaikan putrinya selama ini karena terlalu fokus mencari dan memberi perhatian pada dua D nya.
Akan tetapi semua tak sama dan tak pernah sama dengan siapapun di dunia ini jika sudah menyangkut ibu biologis dari anak anak nya.
setelah Satria memberikan obat penurun panas itu lagi serta memasangkan kompres penurun panas khusus dewasa ke dahinya Justin. Satria pun akhirnya pamit setelah merapikan selimutnya Justin.
Satria keluar dari kamar tersebut setelah ia melihat mata Justin terpejam dengan nafas nya yang mulai teratur. Meskipun Satria tau bahwa abangnya itu belumlah tidur. Justin hanya menutup matanya saja demi membuat mata nya menjadi rileks akibat hawa panas yang di timbulkan oleh tubuhnya sendiri. Sehingga kedua netra Justin pun turut merasakan hawa panas dari tubuhnya sendiri.
Sehingga tadinya Satria dengan telatennya menaruh kompres khusus mata di kedua matanya Justin juga agar abangnya itu bisa bangun pagi dengan mata yang cerah meski pun yang namanya sakit demam ini tidaklah langsung sembuh total di keesokan hari nya.
Sepeninggalnya Satria, Justin belum bisa tidur meskipun netranya terpejam rapat tetapi fikirannya menerawang jauh membayangkan kenangan bersama dengan dua D nya selama ini.
Memang pertemuan mereka termasuk singkat apa lagi dengan putranya itu tetapi kenangannya cukup melekat di hatinya bahkan saat minggu minggu terakhir mereka menghabiskan waktu bersama dengan kegiatan yang sederhana. Seperti memandi kan anak anak, memakaikan baju baju mereka menemani Dea berbelanja bersama anak anak. Semua hal yang di lakukan memang sangat sederhana tetapi begitu membuat dirinya amat bahagia.
Justin merasakan sensasi rasa kebahagiaan yang sempurna bersama mereka. wanita itu telah memberikan rasa yang lain dalam hidupnya meskipun di awalnya ia fikir wanita itulah yang menghancurkan hidupnya, impian nya tetapi Justin salah. Sebenarnya yang berperan sebagai antagonis, sebagai iblis adalah dirinya sendiri. Pria jahat yang telah merusak kehidupan seorang gadis yang memiliki nama bunga yang harum nan suci.
"maafkan aku De Jasmine. Maafkan aku. mulai hari ini aku akan mengikhlaskan kalian. Terbanglah kemana kalian suka. Dan pulang lah kembali jika kalian sudah jenuh. Aku tetap menunggu. Aku janji. aku janji aku akan memegang kesepakatan kita De ". Justin membathin di hatinya dengan lirih.
Tanpa terasa di dalam pejaman matanya dua bulir bening jatuh di kedua sudut netra pria yang kini terlihat rapuh itu. jam di dinding berdetak seiring jarum jam meninggalkan angka angka yang tertera di sana dan juga perlahan menggiring Justin ke alam mimpi nya karena di rasakan kepala dan netranya mulai berat.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.