
#Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
Saat taxi tersebut melewati kafe dan Resto nya Arjun tiba tiba pandangan Cindy teralih kan pada sebuah pemandangan yang mengusik hatinya tiba tiba.
"pak berhenti sebentar". titah Cindy.
supir taxi tersebut pun menghentikan laju taxi nya yang tak jauh dari cafenya Arjun. Cindy mengalihkan pandangannya melalui kaca belakang taxi ke arah kafe restonya Arjun. darahnya berdesir saat melihat pemandangan yang membuat miris hatinya.
"mas Andra???". pekik Cindy pelan yang merasakan dirinya seakan mimpi di atas mimpi.
satu jam yang lalu...
Andra baru saja menyelesaikan pekerjaan terakhirnya. waktu menunjukkan pukul lima sore saat ia melirik jam tangannya. rasa penat yang mulai menderanya terbayar sudah dengan tuntasnya pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari ini.
ia berniat pulang cepat sore ini setelah menuntaskan pekerjaannya karena ingin menghabiskan sabtu malamnya bersama sang istri.
Andra mengendarai mobilnya dan berniat menjemput Cindy di tempat pesta pernikahan nya chef yang sering mereka pesankan makanan jika mereka malas masak.
Andra sengaja tak memberitahukan Cindy soal niatnya untuk menjemput istrinya itu karena ia ingin membuat kejutan untuk istri cantiknya itu.
selama dalam perjalanan menuju ke tempat pesta pernikahan kenalan mereka. Andra membayangkan wajah bahagia Cindy yang kaget saat kedatangannya yang tiba tiba.
Saat terus melaju ke jalanan yang hampir mendekati sebuah kafe di mana menjadi tempat favoritnya Cindy jika mereka ingin makan di luar. seketika dari kejauhan Andra melihat seorang ibu yang menggendong anak nya tampak kelelahan sedang berdiri di pinggir jalan dalam keadaan kebingungan.
Andra merasa tidak tega membiarkan ibu dan anak itu sendirian di tempat yang sepi serta waktu telah menunjukkan jika hari mulai gelap. Andra menepikan mobilnya di sisi jalan di depan kafe tersebut.
ia keluar dari mobilnya dan menghampiri ibu dan anak yang sedang kebingungan itu.
"permisi bu". sapa Andra pada wanita itu yang sedang membelai punggung anaknya.
"ya". sahut wanita itu.
serrrr....
darah Andra berdesir di iringi jantung jantungnya yang seperti berdetak sesaat saat melihat wajah yang di kenal Andra selama ini dan pernah mendominasi hatinya sebelum ia mengenal Cindy.
"Jasmine". desisnya pelan seraya terpaku menatap wajah cantik nan manis itu.
Andra merasakan dirinya seperti mimpi di atas mimpi saat ini.
beberapa jam yang lalu....
saat Dean telah tertidur di pangkuannya. Dea ikut mencoba merilekskan tubuhnya dengan menyetel jok empuk dari bus mewah yang sedang di tumpanginya saat ini.
Dea melirik jam kecil yang terpasang rapi di sebuah rak yang berada di atas spion bus tersebut. saat ini waktu telah memberitahu kannya jika jarak tempuh dari perjalanan mereka telah memakan waktu satu jam lebih dari jarak tempuh yang di perkirakan sebelum nya.
yang itu berarti masih ada satu jam lagi yang harus Dea tempuh untuk sampai di kota di mana Arjun berada menurut ceritanya Ravi.
Midea menatap ke luar jendela kaca di mana awan hitam mulai menyelimuti langit yang tadinya biru. itu berarti daerah yang mereka masuki sudah memasuki wilayah yang memiliki kelembapan tinggi dari da.
dan sesekali menatap Dean seraya tersenyum rasa kantuk mulai menghinggapi netra hitam pekatnya. Dea mencoba mengurut urut ujung kelopak matanya dengan telunjuknya agar ia tidak tertidur di bus.
sebab ia tak mau lengah dalam perjalanan ini. meskipun keseluruhan penumpang yang naik bus ini adalah orang orang yang tergolong elit dari luar tampilannya saja. akan tetapi bagi Dea pribadi berhati berhati dalam melakukan perjalanan darat ini tetap harus ia waspadai.
rasa lelah akibat kekurangan tidur dalam perjalanannya membuat Dea sendiri tak bisa menahan diri agar tak menutup matanya dan terbuai dalam mimpi bersamaan turunnya rintik hujan.
Dalam mimpinya ia sedang berada di dalam sebuah bus yang sama. hanya saja waktu sajalah yang membedakan antara mimpi dan kenyataannya.
Dalam mimpinya itu ia mengalami waktu di malam hari di mana hujan turun dengan derasnya. di mimpinya Midea mengalami sesuatu hal yang menyedihkan baginya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya sehingga di mimpi nya itu ia menangis tersedu sedu sembari menyembunyikan wajahnya dari para penumpang lain yang berada di dalam bus yang sama dengan dirinya.
untungnya suasana di dalam bus yang gelap dan hanya minim cahaya itu membuat penumpang lain terhanyut dalam mimpi mereka masing masing.
dalam mimpinya itu Midea menangis cukup lama hingga ia merasa lelah dan ikut tertidur lelap bersama penumpang lain dalam mimpi nya itu.
Dea melihat pria asing itu mencoba merapi kan hijabnya dengan memasukkan beberapa helai rambut hitamnya yang keluar tanpa di sengaja.
lalu pria itu menuliskan sesuatu di sebuah kertas bekas tiket bus. lalu kertas tersebut ia masukkan ke saku jaket yang di pakainya dalam mimpinya saat ini. lalu pria itu pun pergi setelah mengecup lembut keningnya dan membisikkan sesuatu ke telinga sang kernet.
suara petir di mimpinya bersamaan suara klakson bus di kehidupan nyatanya menyadar kan Dea dari mimpinya yang sedang berada di atas mimpinya yang lain membawa jiwanya kembali di kehidupan nyata. ia membuka matanya perlahan dan samar ia melihat pria bertubuh jangkung yang bergegas turun dari bus yang di tumpanginya dengan membawa dua tas sekaligus.
sayup sayup suara pengumuman dari terminal bus terdengar di telinga Dea saat pintu bus terbuka lebar. seorang kernet bus yang di tumpangi Dea memberitahukan jika kota yang di tuju Midea dan putranya telah sampai.
Dea mengerjap ngerjap matanya untuk mengkondisikan cahaya yang masuk dari luar jendela kaca. Dea melihat awan putih di langit yang masih memunculkan sinar mataharinya meskipun hanya mengintip dari celah awan yang seputih kapas itu. itu berarti daerah yang mereka lewati sebelumnya hanyalah sebatas hujan lokal.
Dea melihat Dean masih terlelap tidur. dan ia pun tak tega membangunkan sang putra. akhirnya ia mengangkat tubuh gembul itu dan membawanya dalam gendongannya.
saat Dea bangun dari duduknya dan mencoba mengambil tas sedang yang ia bawa selama ini yang tadinya ia letakkan di samping kirinya di mana posisi duduknya Dean yang sebenar nya.
Deg.
jantung Dea berdetak kencang bersamaan dengan darahnya yang berdesir hebat. rasa takut menyelimuti dirinya saat ini, di mana tas yang seharusnya ia jaga setelah putranya kini raib entah kemana. Dea mencoba mencari di sekitar tempat duduknya dan juga di seluruh ruangan bus tersebut.
"ya Allah". gumam Dea seraya meletakkan Dean kembali di atas bangku bus.
Dea menyusuri setiap lorong dan kolong kolong bangku dari bus tersebut. ia mulai panik tatkala benda yang di cari tak menunjuk kan bekasnya.
"ya Allah... ". gumam Dea seraya terduduk lemas.
uang yang ia miliki satu satunya kini raib entah kemana. rasa sesak menyeruak yang akhirnya ia menangis seraya menundukkan wajahnya. seorang kernet yang bertugas di bus tersebut kembali masuk seraya membawa sebuah tas ransel dan meletakkan nya di atas rak yang sesuai dengan nomor bangku yang di miliki oleh sang pemilik tas.
ia melihat Dea sedang menangis di atas lantai bus.
"ibu kenapa? ". tanya kernet bus tersebut khawatir.
"ibu sakit? ". tanyanya kembali seraya melihat Dean yang masih terlelap.
kernet bus tersebut memeriksakan kondisi Dean dengan memegang dahi Dean dan memeriksakan nafas Dean yang masih hangat. ia bertanya kembali pada Dea saat di rasa putranya tidak kenapa napa.
"bu. ibu kenapa? ". tanya kernet tersebut semakin khawatir.
Midea menghentikan tangisnya saat di rasa sedikit lega karena rasa sesak yang tadinya seakan menghimpit dadanya
"tas saya hilang pak". aku Dea akan permasalahannya.
"Innalillahiwainnailaihiiradjiun". sahut kernet tersebut.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.