
#Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
Midea kembali ke restoran di mana Justin dan anak anak menanti dirinya. saat wanita itu masuk ke restoran semua mata melirik dan menatap terpana padanya. Dea berjalan dengan anggunnya mendekati meja Justin yang juga tengah menatap padanya. dalam pandangannya dan semua orang yang melihatnya Dea tampak cantik dan anggun saat menggunakan pakaian yang ia beli untuk istrinya itu.
"bunda cantik banget". puji Keyra yang menatap terpana pada Dea.
"makasih sayang". sahut Dea tersenyum lalu mengambil jatah makanannya.
sementara Justin terus menatap kagum pada Midea yang cuek padanya.
"dia memang pantas memakai itu".puji Justin di hatinya.
lalu ia melirik Dean yang hanya mengambil sedikit makanannya. lalu ia teringat jika Putra nya itu kurang menyukai makanan selain masakan rumahan. sementara Dea sendiri mempercepat makannya saat melihat piring Dean sudah mulai habis meskipun putranya itu sedari awal hanya mengambil sedikit makanannya karena memang Dean tak menyukai masakan selain masakan rumahan.
"unda... ". panggil Dean setengah berbisik.
"ya". sahut Dea
"Dee mau pipis". sahut Dean.
Midea menarik sudut bibirnya.
"time to show". fikirnya senang.
tetapi Justin mendengar perkataan Dean meskipun anak itu berkata pelan pada bundanya.
"biar sama Daddy aja". tiba tiba Justin menawarkan diri.
Midea terhenyak sesaat lalu menolak tawaran Justin.
"biar sama aku aja Justin. kamu lanjutkan makannya sedikit lagi. sayang jika tidak di habiskan. mubazir". ucap Midea seraya buru buru bangun membawa Dean.
ia pun tak lupa membawa tas sedang yang ia persiapkan dari rumah untuk rencananya ini.
"aku pergi". pamit Dea pada Justin.
"kakak temenin bunda". ucap Keyra tiba tiba menawarkan diri.
Midea pun kembali terhenyak lalu ia pun tersenyum pada Keyra.
"ga usah kak. bunda cuma sebentar kok. kakak di sini aja sama Daddy ya? "ucap Dea yang mencoba memberikan pengertian pada gadis kecil itu.
"oke bunda". sahut Keyra yang juga ikut tersenyum
Dea tersenyum seraya membelai rambut lembut bocah cantik itu. ada sesuatu yang mengganjal di hatinya melihat wajah polos itu. seandainya Keyra murni terlahir dari rahim nya sudah pasti ia pun akan membawa kabur gadis itu bersama dirinya malam ini.
"maafin bunda Keyra. bunda dan Dee terpaksa pergi ninggalin kamu saat ini. semoga kita bisa ketemu lagi suatu hari nanti". ucap Dea di hatinya.
"unda ayok". rengek Dean yang kebelet pipis.
"iya sayang. ayok". ajak Dea seraya menggenggam lengan sang putra meninggal kan Justin dan Keyra yang menatap punggung mereka berdua.
sepeninggalnya Dea dan Dean. ada perasaan tak enak yang menyelimuti hatinya tetapi segera ia tepis dengan meminum minuman nya yang masih hangat. ia masih bersabar menunggu istri dan anaknya kembali dari toilet.
sementara Midea membawa Dean ke toilet wanita dan menemani putranya untuk menuntaskan hajatnya. setelah memberes kan pakaian putranya. Dengan segera Dea keluar dari toilet dan mengendap endap keluar dari Restoran di mana saat yang tepat untuk Dea membawa Dean kabur dari Justin ketika Justin sedang duduk membelakangi pintu masuk Restoran.
"unda kita mau keana? ". tanya Dean heran pada bundanya karena seharusnya mereka berdua kembali ke kursi dimana ada Keyra dan Justin.
Midea menghentikan langkahnya sejenak setelah cukup aman dari pengawasan Justin. ia berdiri dengan kedua lututnya lalu tersenyum pada putra pintarnya itu.
"bunda mau ngajak Dee pulang ke indonesia sekarang. kita cari rumah baru. Dee mau kan ikut bunda?".tanya Dea seraya menggenggam kedua tangan putranya.
"umah ayu? ". tanya Dean memastikan.
"iya. rumah baru di mana ada bunda sama Dee. nanti kalau kita kangen sama nenek dan atok kita jemput mereka untuk menginap di rumah kita". ucap Dea yang seketika teringat akan tante Alma yang sudah ia anggap mama dan juga om Danang.
"atok, nenek, ayah juga?? ". tanya Dean memastikan.
"iya sayang. ayah juga". sahut Dean tersenyum mengingat kebaikan tiga orang tersebut selama masa kehamilannya.
Midea ingat segala kebaikan yang di berikan ke tiganya saat kehamilannya. ia tersenyum haru mengingat momen itu.
"mau..mau... Mau.. Dee.. Mau...ketemu nenek, atok, ayah, papa, abi, ummi, om tama..mau cemuanya. Dee angeeeennn". sahut Dean antusias.
"ya udah kita pergi sekarang ya. ayok". sahut Dean tersenyum senang.
"ayo... k??? ".ajak Dean sumringah.
"to the airport". titah Midea saat mereka telah di dalam taxi.
"fine madam". sahut sang supir taxi.
Dean bersender di bawah ketiak sang bunda dengan tangan mungilnya memeluk tubuh Dea. sementara Dea tersenyum menatap sang putra seraya membelai lembut kepala sang putra.
sepanjang perjalanan menuju bandara Midea menyusun rencana untuk tinggal di sebuah rumah sederhana tetapi nyaman buat mereka berdua. Midea akan membuka usaha kecil kecilan untuk menghidupi mereka berdua. sama saat pertama kali ia tahu jika dirinya hamil.
ia teringat saat di awal kehamilannya hanya ada satu nama yang membantu dirinya dalam kesulitannya saat itu. seketika Midea teringat pesan tante Alma setelah tante Alma datang sebagai saksi kunci dalam persidangannya beberapa hari yang lalu.
Flashback...
setelah Alma menyampaikan kesaksiannya sebagai saksi kunci dalam kasus pemalsuan identitas yang di lakukan oleh Midea Hasxander yang mengaku sebagai Jasminka Orchidea. Alma mengakui bahwa yang terjadi adalah kesalahpahaman yang ia ciptakan karena wajah Dea yang sangat mirip dengan Jasmine.
sidang di tunda selama satu setengah jam untuk melakukan isoma bagi para seluruh peserta sidang. Alma yang melihat Dea yang mengikuti Sagita, sang pengacara yang membelanya saat ini mengikuti kemana Dea pergi meninggalkan ruang sidang.
hingga akhirnya ia tidak tahan lagi menahan rasa merasa bersalah bahkan bercampur rindu pun memanggil Dea dengan nama Dea saat ini.
"Midea". panggil Alma.
Sagita dan Dea menoleh ke arah sumber suara. Gita yang mengerti akan tatapan Alma langsung meninggalkan mereka berdua agar bisa berbicara dari hati ke hati.
Alma mendekati Dea yang tampak lusuh dengan seragam pidananya. hatinya seperti teriris sembilu melihat penampilan Dea saat ini.
"Midea. apa kabarnyo?". Alma membuka suaranya setelah beberapa menit terlewati
tanpa kata kata dari keduanya.
Dea bergeming seraya tersenyum tipis. rasa haru menyelimutinya saat ini lantaran orang yang telah ia anggap sebagai orang tuanya datang untuk membantu dirinya meskipun terlambat. tetapi setidaknya itu sudah cukup bagi dirinya saat ini.
"maafkan tante yang selama ini mengabaikan awak di sini".ucap Alma menyesali perbuatan nya.
Midea tidak bisa mengungkapkan perasaan nya saat ini. sebab ia bingung harus berkata apa. mengingat jasa wanita paruh baya ini yang telah menyelamatkan hidupnya dan juga anaknya selama ini.
jika ia di beri kesempatan ia ingin di peluk sekali saja untuk meluapkan rasa penat yang mendera di bathinnya. tetapi yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah bisa memberikan senyumnya sebagai ungkapan bahwa dia baik baik saja sekarang karena kehadirannya.
setengah jam bergulir dengan cepat tanpa ada ungkapan kata kata panjang. Sagita menjemput Midea kembali bersamanya untuk bersiap siap melakukan sidang selanjutnya. apa lagi wanita itu belum memakan sesuatu semenjak dari mulai sidangnya tadi pagi.
Alma pun mengerti isyarat dari Gita bahwa pembicaraannya harus di sudahi.
"Midea". panggil Alma saat Dea beranjak dari kursinya.
"kalau sudah selesai urusan awak yang di sini. pulanglah ke rumah kito yang di pdg. serta bawa pulang cucu ambo. kita mulai lagi dari awal. ambo tak perduli sekalipun awak bukan Jasmine awak adalah anak ambo sekarang". ucap Alma dengan netranya yang mengkristal
Midea pun tak sanggup menahan rasa haru di dadanya. ia pun menatap Alma dengan tersenyum serta netra yang mengkristal juga, tetapi dengan cepat ia memalingkan wajah nya ke arah Sagita yang tengah menatap mereka berdua.
Dengan langkah cepat ia menghampiri Sagita dan meninggalkan Alma yang menatap kepergiannya. Midea pergi berlalu dari hadapan Alma dan mendahului Sagita yang masih mematung menatap punggung Dea.
dalam perjalanannya kembali ke ruang di mana biasanya ia beristirahat bersama Gita Dea mengusap airmatanya yang tanpa sengaja jatuh membasahi pipi tirusnya.
dari kejauhan ia melihat Arjun yang menunggu kedatangan mereka berdua dengan kotak makanan di tangannya.
hari itu ia belajar sesuatu dari musibah itu bahwa ada kalanya seseorang di datangkan terlambat memang untuk membantu kita di kala saat yang tergenting.
...***************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.