My D you are the first for me

My D you are the first for me
paniknya mereka saat Dea tak ada di kamarnya



Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.


"kenapa dengan My D ku?".tanya Justin pada pria muda itu kembali.


"ga ada waktu buat ngejelasinnya sekarang. nanti aja lah pak". sahut Rendy dan langsung pergi mencari Dea.


sedangkan Justin yang di tinggal pergi begitu saja oleh Rendy, akhirnya ikut menyusul Rendy untuk mencari Dea yang menghilang secara tiba tiba.


Rendy kembali ke ruang kamar rawatnya Dea bersamaan Danang yang baru saja tiba begitu mendapatkan kabar jika Dea menghilang di ruangan ini. mereka melihat Alma yang terlihat sibuk dengan ponselnya sedang mondar mandir menelpon seseorang untuk mencari tau keberadaan Midea melalui kontak ponselnya yang mengenal Midea.


sedangkan Justin sendiri lebih memilih mencari Dea di kamar rawatnya Dean untuk memastikan jika wanita itu kembali ke sana karena memang ingin bertemu dengan anak nya. dan benar saja wanita itu ada di sana sedang tertawa kecil bersama buah hati mereka saat Justin bertanya pada salah satu dari dua orang perawat yang baru saja keluar dari kamarnya Dean.


Justin mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka dan melihat wajah Dean yang senang karena telah bertemu dengan bundanya. di karenakan ia tak ingin mengganggu kedua nya maka Justin membiarkan Dea dan Dean bercengkerama selama Dean di sini. ia pun memilih kembali beristirahat di hotel dan akan kembali besok pagi seperti hari ini.


akan tetapi saat ia hendak menutup pintu tanpa di sengaja terlihat olehnya sesuatu yang putih seperti perban melingkar di kepala nya Midea meskipun wanita itu berusaha menutupi lingkaran perban tersebut dengan hijabnya. tetapi tetap saja terlihat jika di perhatikan dari sisi samping seperti ini.


"keningnya kenapa?". tanya Justin seraya mengernyitkan dahinya.


beberapa saat yang lalu..


Midea merasakan dirinya membaik. walau pun ia masih merasakan nyeri di kepalanya. akan tetapi tidak separah tadi pagi. ia berniat turun dari brankarnya serta melepas infusan yang telah habis isi cairannya. Midea berfikir untuk melepas dulu jarum infus yang melekat di tangannya, hingga nantinya akan di pasang lagi saat jadwal pemeriksaan ulang pada dirinya di saat mau istirahat malam nantinya.


sebenarnya Midea merasa muak dengan segala hal yang berbau bau rumah sakit. kondisi dirinya memiliki riwayat penyakit yang tak kunjung juga sembuh itu terkadang membuat Dea putus asa.


akan tetapi kala ia mengingat sang putra akhirnya rasa jenuh itu hilang dengan sendiri nya malah berganti sebagai motivasi serta penyemangat hidupnya.


suara gemericik air dari kamar mandi di mana Alma, mama angkatnya mengalihkan pikiran nya Midea dari soal infus nya ke putranya yang sudah di tinggalnya di ruang rawat anak selama beberapa jam.


"Dee pasti bertanya tanya kenapa aku belum kembali ke sana". gumam Dea di hatinya.


akhirnya ia berinisiatif untuk kembali ke ruang rawat anak sendiri tanpa berpamitan pada Alma yang sedang berada di kamar mandi dan juga pada perawat jaga yang satu pun entah di mana saat ini.


Midea tak ambil pusing akan hal itu. ia berfikir mungkin ke semuanya sedang pada sibuk mengecek kondisi pasien. sedangkan untuk Alma Dea berfikir jika wanita itu tau kemana harus mencari dirinya saat wanita itu keluar dari kamar mandi dan mendapatkan dirinya tak berada di kamar ini lagi.


langkah Midea Sedikit tertatih mungkin karena rasa perih pada luka di keningnya menyebabkan berefek pada rasa nyeri yang muncul saat ini. tetapi Midea tak perduli yang penting ia bisa sampai di ruang kamar rawat nya Dean.


seperti berjalan layaknya siput. perjalanan Dea menuju kamarnya Dee memakan waktu lama. meskipun orang orang yang lewat mencoba membantu wanita kesakitan itu tetap saja di tolak halus oleh Midea dengan dalih tak ingin merepotkan siapapun.


"Dee". panggil Dea pada putranya dengan sumringah.


"unda....???". sahut Dean yang juga terlihat sumringah.


Midea mendekati Dean dan langsung saja memeluk tubuh gembul itu seraya mencium Ubun ubunnya.


"unda kenapa?". tanya Dean saat melihat sebuah perban terlihat melingkari kening sang bunda.


"ga apa apa sayang. cuma terbentur". jawab Midea.


"terbentur apa unda? ". unda buyu buyu ya? ". tanya Dean penasaran.


"hehe.. iya bunda buru buru Jadinya bunda kurang hati hati makanya terbentur pintu deh" ujar Dea terpaksa berdusta pada putranya karena ia tak ingin putranya itu khawatir.


"kalena tamunya nenek cantik lame ya bun?". tanya Dean memastikan apa yang di katakan Rendy sebelumnya.


"hah?". gumam Dea tak menahami apa maksud pernyataan dari putranya.


"iya kata ayah. nenek sama unda lagi cibuuuk


kali kalna tamu yang nginap di hotelnya nenek cantik lagi lame kali makanya nenek sama unda hayus macak banyak banyak bial cukup makanannya. iya kan unda??". celoteh Dean panjang.


Dea tersenyum geli menanggapi komentar sang anak lalu mengangguk pelan sebagai ganti jawaban atas pertanyaan sang anak.


"tapi unda lain kali hati hati dong. liat ni ada dayahnya di keningnya unda". ucap Dean seraya menunjukkan titik luka di keningnya Dea yang di pakaikan obat luka dan sedikit menembus perban yang menutupi luka di keningnya.


"iya sayang. lain kali bunda bakalan hati hati kok". ucap Dea seraya tersenyum.


"tadi sepanjang hari ini Dee di temani sama ayah terus ya?". tanya Dea basa basi.


Dean terdiam sejenak sebelum bisa menemu kan jawaban yang tepat untuk pertanyaan sang bunda.


"Dee....??. kok ga di jawab. atau Dee di temani sama kakak kakak perawat ya?". tanya Midea kembali untuk memastikan.


Dean hanya bisa menanggapinya dengan senyum kecilnya. sementara Dea masih menantikan jawaban pasti atas salah satu dari pertanyaannya.


"ngapain aja sama ayah nak?". tanya Dea kembali.


"cuma itu aja sepanjang hari?". ga di bawa keluar jalan jalan ke depan gitu? ". tanya Dea heran.


"ada juga". jawab Dean sedikit berdusta lantaran yang membawanya keluar jalan jalan dengan cara di gendong ke taman rumah sakit siang tadi adalah Daddynya bukan ayah nya.


sebenarnya hati kecilnya bocah itu tak mau membohongi bundanya sedikit pun. Tetapi ia takut bundanya akan marah jika ia menyebut kan soal Daddynya. meskipun bundanya itu tak pernah sekalipun memarahinya selama ini untuk alasan lain selain yang menyangkut soal kesehatannya. ia ingin selalu melihat bundanya itu selalu ceria.


sebab selama ini yang ia selalu perhatikan adalah bahwa bundanya itu tak pernah sekali pun terlihat merasa senang jika berhadapan dengan Daddynya. dari situlah ia tau jika sang bunda memang tak pernah merasa senang jika Daddynya datang menemui mereka.


jadi karena itulah juga Dean menutupi tentang pertemuan dirinya dan Daddynya dari bunda nya selama ini.


"maaf ya bunda ga bisa nemenin kamu tadi siang. pada hal bunda udah janji mau nemenin kamu keluar jalan jalan ke taman. jadinya Dee sama ayah deh". ucap Dea menyesal.


"ga papa unda... Dee udah cehat kok unda". jawab Dean jujur.


"ohh ya??". beneran udah sehat?". tanya Dea tak percaya.


"iya benelan unda??". tanya sama doktelnya tu. udah masuk lagi". celetuk Dean yang menunjukkan ke dua orang perawat membawa thermometer dan stetoskop untuk memeriksa kan kondisi Dean.


"apa nya yang beneran Dee?" tanya perawat tersebut yang sudah mulai akrab dengan Dean dari pertama bocah itu masuk ke ruang rawat ini.


"Dee udah cembuhkan kak Doktel?". tanya Dean polos yang belum bisa membedakan mana seorang dokter dan mana seorang perawat.


"ahh yang bener... Dee??". timpal seorang perawat yang satunya yang memang sudah mengenal Dee dari pertama bocah itu di rawat di ruangan ini dengan bernada canda.


"beneran kakak Doktel?? ". ucap Dean yang berusaha meyakinkan ketiga orang dewasa itu.


"kita periksa dulu ya Dee". ucap salah satu perawat seraya menempelkan thermometer di ketiaknya Dean.


lalu stethoscope tersebut di letakkan di atas dadanya Dean dan juga perutnya untuk memastikan denyut jantung yang akan mempengaruhi irama pernafasan dari bocah itu.


setelah tanda dari thermo digital tersebut berbunyi maka perawat tersebut memeriksa kan angka yang tercetak pada layar mini dari alat digital tersebut.


"sudah mulai normal ya bun". ucap perawat tersebut seraya menunjukkan angka yang mendekati suhu normal dari thermo digital tersebut.


"oh syukurlah". ucap Midea saat melihat angka 37. 7 celcius milik suhu tubuh anak nya.


"tuh kan.. apa Dee bilang. Dee udah ga panas lagi kok". celetuk Dean yang membuat tiga dewasa itu tertawa geli mendengarkan celetukan dari bocah tampan itu.


"iya deh.. iya. kakak percaya sama kamu sekarang". sahut salah satu perawat yang mencatat kondisinya Dean dalam jurnalnya.


saat dua perawat tersebut masih betah di dalam karena mendengar ocehannya Dean seorang mendekati pintu kamar yang terbuka sedikit itu.


seiring ia ingin mengintip ke dalam maka bersamaan pula dua orang perawat keluar dari sana dengan wajah sumringah karena celetukan dari seorang bocah tampan yang berstatus pasien mereka.


ia bertanya pada perawat tersebut tentang siapa yang menemani Dean saat ini.


"bundanya pak". sahut mereka serentak.


"terimakasih". jawabnya lega.


Lanjut ke next chapter ya readers. stay cool ya Readers...love you full ♥


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


Ig Hazhilka


youtubenya Hazhilka279


Https://hazhilka279.blogspot.com/2023/02/


Terima kasih.