
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
Saat Pisau lipat tersebut ia coba gesekkan pada tas yang terbuat dari bahan yang gampang di rusak oleh sesuatu yang tajam seperti ini. Satu tangan mulus menahan lengannya. Ia menoleh ke pemilik tangan tersebut dan .....
Ia terpana pada wajah cantik nan manis itu yang kini memegang erat tangannya. Gadis itu menggeleng pelan dengan maksud mem -berikan kode padanya bahwa "jangan lakukan itu".
Ia menundukkan pandangannya dan tercenung sesaat atas apa yang ia lakukan barusan. Ia menyadari kesalahannya. ia merasa khilaf barusan. akan tetapi ia teringat kembali keputusan sang ibu dan juga bullyan yang akan di hadapinya besok kembali.
tentu saja ia tak mau menuruti perintah dari gadis itu. ia malah mengeraskan hatinya untuk berbuat nekat menyobekkan tas tersebut dengan pisau lipat kecil yang masih ada di tangannya. Gadis itu pun semakin mendelikkan tatapannya pada dirinya.
Sehingga mereka semakin beradu tangan yang mana satunya mempertahankan pisau nya dan yang satunya memukul tangan si bocah nekat untuk melepaskan pisau lipat kecil itu dari tangannya dengan payungnya.
kekuatan anak laki laki yang masih belia itu sama dengan kekuatan dengan perempuan yang mulai memasuki umur dua puluh tahun itu, mereka sama sama mempertahankan niatnya sehingga tanpa sadar pisau tersebut mengenai tas seorang ibu yang ingin di copet nya tadi.
Sreeet...
tas tersebut pun robek seketika dan terlihat lah sebagian isinya termasuk dompet yang di simpan dan
Bukk...
dompet tersebut pun terjatuh di susul barang yang lainnya saat itu juga. tentu saja hal ini mengundang sang pemilik barang melihat ke arah bawah di mana dompet miliknya sendiri telah tergeletak ke lantai halte.
Sementara dua insan yang tadi saling terdiam sembari menatap terpaku pada dompet yang sedikit terlihat isi di dalamnya. Sedangkan sang ibu pemilik dompet terhenyak kaget karena mendapati dompet beserta barang barang miliknya yang lain kini telah berada di bawah kakinya secara tiba tiba dan itu mengundang naluri kecurigaannya atas apa yang terjadi pada tasnya, ia langsung saja memeriksa tas miliknya dan benar saja ternyata tasnya sudah sobek di bagian bawah nya.
Ibu tersebut memandang di sekelilingnya yang tampak lengang di karenakan suasana yang masih jadwal kantor dan jam sekolahan. cuaca yang mulai menunjukkan bahwa hujan akan datang membuat suasana semakin mencekam begitupun kedua insan yang kini terpaku menatap si ibu dan juga dompet yang masih tergeletak tersebut.
Si ibu yang melihat sebuah pisau lipat kecil yang berada di tangan dari bocah smp tersebut sontak melebarkan kedua kelopak matanya karena ketakutan apa lagi ia melihat darah yang mengalir dari sela sela jari seorang gadis yang mencengkal tangan anak laki laki yang berseragam smp itu.
"copet...rampok..". Desisnya seraya terus menatap dua insan yang di hadapannya kini.
Ibu itu semakin ketakutan saat bocah smp itu mendorong gadis yang terluka di jarinya itu dan berlari menjauhi mereka.
"tolong..!??..ada copet...copet...".teriaknya seraya menunjuk ke bocah laki laki itu.
teriakan si ibu yang meminta tolong menjadi pusat perhatian orang orang yang berlalu lalang menggunakan trotoar sehingga dari mereka berlari ke arah si ibu dan sebagiannya lagi berlari mengejar sang bocah yang di tunjuk sang ibu.
sementara gadis yang terluka tadi terdorong ke belakang dan jatuh terduduk di kursi halte mencoba bangkit dan menyuruh si ibu untuk berhenti berteriak seraya mengambil dompet si ibu dan menyerahkan pada si ibu agar perempuan paru baya itu menutup mulutnya.
ia melambai lambai kan kedua tangannya agar si ibu jangan berteriak lagi seraya menurunkan jari telunjukknya si ibu yang mengarah pada bocah smp yang kini telah berhasil di tangkap warga itu dengan sebutan "copet".
akan tetapi sekeras apa pun gadis itu berusaha untuk menghentikan kekacauan ini bocah smp itu kini sudah berada di tangan massa yang beramai ramai menghakiminya.
sedangkan si bocah smp yang telah berusaha untuk lari dari teriakan si ibu tadi membuat massa semakin ramai berlari ke arahnya. Kini massa semakin ramai mengarah ke padanya dari segala penjuru. kini ia terjebak dan kini beberapa dewasa mencekal lengannya dengan kuat.
sekuat apapun ia berusaha melepaskan dari cekalan tersebut toh pada akhirnya ia di seret kembali ke halte yang tadi untuk di mintai keterangan atas tindakan nekatnya.
Memang dari Setiap niat dan perbuatan buruk akan berakhir dengan buruk bukan?. Sekeras apa pun ia berusaha berdalih serta mengelak dari yang di tuduhkan padanya tetap saja ia kalah meskipun ia tau jika gadis yang tadi berusaha membelanya tetapi tetap saja ia tidak bisa selamat dari tempat itu.
"woy...jangan kabur kau!!".teriak seseorang dari kerumunan massa tersebut.
tapi ia tak perduli dan terus berusaha untuk berlari. karena sekalinya ia kedapatan lagi sama mereka maka selanjut nya akan terjadi masalah yang berkepanjangan. Itulah yang di pikirkannya saat ini. baru juga ia bisa berlari beberapa langkah tiba tiba..
Bukk...
Sebuah benda tumpul mengarah kepadanya mengenai sisi kanan kepalanya berdekatan dengan telinganya. Seketika itu dengungan yang melengking dari dalam telinga terasa menjalar hingga ke telinga satunya. Ia pun memegang kedua telinga yang ia rasakan ada sesuatu cairan keluar dari dalam lubang telinganya
Ia melihat beberapa orang berjalan ke arahnya menarik dirinya hingga ia tersungkur ke tanah yang sedikit lembab akibat sisa sisa hujan semalam.
"dasar copet. Mau kabur aja kau seenaknya. Sudah tau salah malah mau lari pulak kau ya!!". Samar ia mendengar salah satu dari mereka memarahinya seperti itu bersamaan dengan tendangan di tulang keringnya.
"akh..ampun pak...ampun bang..". kata kata itu lah yang coba Ia lontarkan berharap orang orang dewasa itu menghentikan aksinya untuk menghukum dirinya.
"akh...". Pekiknya saat bogem mentah mendarat di kepala belakangnya dan juga batang lehernya.
Mereka memaki maki dirinya seraya memukul wajahnya bertubi tubi dan menuduh dirinya bahwa dirinyalah copet yang selama ini menyamar sebagai anak sekolahan.
Kepalanya berdenyut hebat seiring dengan telinganya yang juga ikutan berdenyut.Netranya tak mampu melihat lagi dengan jelas. Ia meringkuk di tanah menahan sakit di bagian kepalanya. Kini tenggorokannya pun mulai terasa perih akibat tendangan keras dari massa yang mengamuk di batang leher nya.
Jangankan melawan untuk bertahan saja sepertinya sudah tak bisa sanggup lagi. Ia merasa rohnya akan keluar dari raganya. Yang akhirnya ia membiarkan tubuh kecilnya terkapar di atas tanah dan menjadikan sebuah samsak tinju para orang dewasa itu meskipun ia tak rela.
samar ia melihat gadis berpayung putih itu berusaha menolong dirinya dengan memukul mukul orang dewasa itu dengan payungnya sebelum ia kehilangan kesadarannya dan menutup matanya karena di rasakan sudah terlalu berat untuk terus terjaga.
Kini ia merasa seperti terbang melayang dan pergi kemana ia suka tanpa memperdulikan lagi orang orang di bawah sana memperlaku kan tubuhnya dengan buruk. Ia sempat menoleh ke bawah di mana gadis yang berpayung putih itu berusaha melerai amukan massa dengan tubuhnya. akan tetapi karena gadis itu sendiri tentu saja pembelaannya tak ada apa apanya.
Ia sempat tersenyum terhadap gadis itu tapi ia tak perduli dan memilih terbang kemana pun ia mau. ini adalah kesempatan baginya untuk bebas dari masalah yang menghimpit dirinya dan juga keluarganya. Ia pun terus terbang dan berniat mencari sang ayah untuk hidup bersama dengan sang ayah. Mungkin saja ia di beri kekuatan terbang seperti ini agar bisa bertemu dengan ayahnya.
Lanjut ke next chapter ya readers
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
Terima kasih.