
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
Saat keduanya tengah asyik dalam mencari tau apa yang di lihat oleh Duda keren itu. Sementara Justin mulai menyadari jika ada deru nafas sesorang yang terdengar berat di telinganya kini. Justin pun segera melirik ke arah pemilik deru nafas tersebut.
"ngapain kalian?". Tanya Justin heran saat melihat dua sahabatnya yang melihat ke arah luar jendela sementara wajah mereka hampir bersentuhan dengan wajahnya.
"lu yang ngapain?".jawab Indra sembari men -jauhkan wajahya dari Justin.
"memangnya kau liatin siapa Tin?". Tanya Andra yang sembari menyulut rokoknya.
"ga ada". Sahut Justin datar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan kembali lagi terpaku pada pemandangan yang di lihat sebelumnya.
Netra Justin terus mengikuti pergerakan pada bocah laki laki itu yang kini memayungi seorang pria dewasa yang berjalan ke arah kafe di mana Justin tongkrongi saat ini.
Sementara Andra kembali bertanya pada Indra mengenai tingkah Justin saat ini.
"kenapa tu anak?". Tanya Andra dengan menggunakan bahasa tubuhnya dan Indra hanya bisa mengangkat kedua bahunya sebagai ganti jawaban atas pertanyaan dari Andra.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun tiba.pelayan kafe tersebut meletakkan satu latte pesanan milik Justin.
"nih bang. Dua Kopi itemnya. Ini yang ori dari highland of Gayo ya bang. kopi ini berasal dari Tanah Gayo, Aceh tengah. Aromanya yang memang di kenal harum dan juga rasa nya yang gurih, cita rasanya kelas dunia!.pokoknya TE O PE dah?!. Ada pun Kopi ini berasal dari pohon kopi yang ditanam di dataran tinggi gayo, Aceh.Kopi asal Indonesia ini populer di beberapa negara loh bang seperti Amerika Serikat dan Eropa. Pokoknya mantap deh bang. Jadi kita harus bangga sama produk sendiri bang.". Ujar pelayan kafe tersebut panjang lebar menjelaskan asal kopi yang di minum oleh dua pria dewasa ini.
"kau ngiklan dek??!". Tanya Andra yang menatap bengong pada pelayan muda yang satu ini.
"hehehe..promosi dikit bang. soalnya tadi abang bilang kan kalau akunya ga ngerti kopi sama sekali. Ya inilah bang salah satunya yang aku jelasin ke abang kalau aku ngerti dikit dikitnya soal kopi bang". Balas pelayan kafe yang masih sangat muda tersebut.
"iya iya ..udah paten kali kau tu". Celetuk Andra sembari mengisap dalam rokoknya.
Sementara Indra hanya bisa melebarkan senyumnya sehingga menampilkan sederet gigi giginya yang putih bersih. Lalu pelayan kafe tersebut pun pamit pada dua pria dewasa tersebut.
Indra mencium aroma kopi yang harum semerbak serta menyeruput kopi favoritnya secara perlahan sementara Andra masih dalam mode coolnya menghisap kretek favoritnya dan membiarkan kopinya sesaat. Sementara netranya masih memperhatikan Justin yang masih asyik dalam menatap sesuatu.
"In. sssst....In". Panngil Andra pada Indra yang masih hanyut dalam tingkahnya menghirup aroma kopi tersebut.
Andra pun menghembuskan asap rokoknya ke arah Indra sehingga membuat Indra merasa sedikit terganggu akibat ulah Andra yang jahil itu. Indra pun menoleh ke arah Andra dan mendelikkan matanya.
Sementara Andra mengisyaratkan netranya pada Indra untuk memperhatikan Justin kembali. Sedangkan Justin sendiri masih terpaku diam mengikuti pergerakan lincah sang bocah hingga akhirnya bocah tersebut mendapatkan satu orang pelanggannya yang memintanya menyebrang ke jalan menuju ke arah sini.
Netra Justin terus mengikuti langkah sang bocah dan pria dewasa yang menumpang di payungnya hingga tiba di kafe ini. Lalu Pria dewasa tersebut mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang lima ribuan kepada bocah tersebut.
"cuma segitu?". Tanya Justin di hatinya saat melihat pria itu meninggalkan bocah tersebut di luar kafe dan pria itu masuk ke dalam kafe ini.
Sementara sang bocah tengah asyik meng -hitung jumlah uang yang di beri oleh pria tadi sebanyak empat lembar uang lima ribuan. lalu Justin bangkit dari duduknya dan segera mengambil lattenya serta cemilan yang ada di meja mereka saat ini.
"ehh Tin mau di bawa kemana tu semuanya?"
tanya Indra penasaran.
"kalian pesan lain aja sana". Sahut Justin sambil berlalu membawa minumannya sendiri yang belum ia sentuh serta seluruh cemilan yang ada di meja.
Ia mendekati meja barista dan meminta untuk di buatkan satu hot cup susu coklat panas segera. Dan Tak lupa ia meminta sebuah plastik kresek pada salah satu pekerja kafe tersebut dan memasukkan makanan dan minuman tersebut ke dalamnya. lalu ia segera keluar menyusul sang bocah yang hendak pergi meninggalkan kafe ini.
"dek ..dek..tunggu". Panggil Justin kepada bocah laki laki itu.
"ya om. Mau nyebrang ya om. Ayok om?". ajak bocah tersebut sembari memberikan payung nya ke Justin.
Justin menggeleng pelan seraya tersenyum. Lalu dia menyerahkan sekantong plastik yang berisi minuman dan makanan kepada bocah itu.
"nih buat kamu. Susu coklatnya aja. Tapi latte nya untuk ibu atau ayah kamu ". Ujar Justin.
Bocah tersebut pun menerima bungkusan kresek yang memiliki tulisan dari sebuah nama kafe yang mereka pijaki saat ini dengan mata yang berbinar senang.
"terimakasih banyak om. nanti saya kasihkan sama abang saya ".ucapnya senang.
"memang ayah kamu di mana?.belum pulang kerja ya?. Tanya Justin penasaran.
"ayah udah ga ada om. meninggal karena sakit sebulan yang lalu". tukas bocah itu lugas tetapi bernada sedih.
Seketika Justin terkesiap mendengar penuturan polos dari bocah tersebut. Ia merasa iba pada bocah yang ada di hadapan nya kini.
Oiya rumah kamu di mana?". Tanya Justin untuk mengalihkan pikirannya dari sang ayah nya yang tiada.
"di belakang sana om". jawab sang bocah seraya menunjukkan ke seberang jalan di mana ada halte serta tanah kosong dan juga sebuah bangunan milik salah satu universitas yang terbaik di Indonesia.
"jauh ke belakang sana?". Tanya Justin yang memperkirakan jika rumah bocah tersebut pastilah terletak di belakang universitas tersebut.
bocah tersebut menggeleng pelan seraya tersenyum.
"masa sih?". pekik Justin pelan dengan nada tak percaya.
sebab setau dirinya sebuah fakultas saja bisa memiliki lahan serta bangunan yang begitu luas apa lagi jika mencangkup universitas. mungkin bisa jadi setengah kampung untuk mendirikan sebuah universitas saja.
Dan bocah itu bilang rumahnya tak jauh di belakang sana. Lalu Justin bertanya kembali
"kamu pulang naik apa?".
"jalan kaki om". Sahut bocah tersebut jujur.
"hah?". jalan kaki?". Gumamnya pelan seraya menatap bocah tersebut dari kepala hingga ke ujung kaki yang hanya menggunakan sandal jepit biasa yang mungkin hanya di jual seharga lima belas ribu rupiah sepasangnya.
Lalu Justin mengeluarkan dompetnya dan berniat memberikan bocah itu sedikit uang. Ia pun mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan lalu ia berikan langsung ke tangan mungil bocah itu.
"ini buat ongkos kamu. Sekarang juga Kamu pulang ya?". jangan kerja lagi. Soalnya Ini qudah sore banget. hujannya makin deras. nanti kamu sakit. Lagian ga ada lagi orang pun. Tuh di halte udah pada kosong karena mereka pulang naik bis kota dan ada yang di jemput keluarganya". titah Justin pada bocah itu seraya memberi pengertian.
akan tetapi bocah tersebut tidak langsung mengiyakan apa yang Justin titahkan pada nya malah kini pandangan bocah itu tengah memperhatikan di sekeliling nya dan tatapan nya kini terpaku pada sekelompok bocah remaja tanggung yang sebagiannya sedang duduk menganggur di halte. sedangkan sebagiannya lagi lebih memilih berdiri di halte karena celana mereka sudah basah kuyup di karenakan terkena dari tempiasnya hujan saat mereka berteduh di bawah payung yang mereka bawa sebagai pengais rezeki.
Justin yang menyadari akan hal tersebut pun akhirnya berniat melakukan sesuatu yang sedikit lebih kali ini.
"kamu mau ga ngantar om ke halte tersebut?". Pinta Justin pada bocah SD tersebut.
bocah itu dengan polosnya pun mengangguk kan kepalanya lalu memberikan payung tersebut kepada Justin untuk di gunakan. Justin pun mengambil payung yang berwarna biru tersebut seraya mengambil lengan sang bocah untuk ikut bersamanya menyeberangi jalanan menuju ke sebuah halte yang ada di hadapannya.
Sementara kelakuan Justin yang sudah menjadi perhatian oleh kedua temannya itu yang awalnya hanya menatap heran saat Justin memberikan bungkusan yang berisi minuman pesanan Justin dan juga cemilan yang ada di atas meja mereka kini mengerti dan tanpa Justin tau jika Andra dan Indra juga mengikuti jejaknya Justin.
Andra pun langsung bangun dari duduknya mendekati salah satu barista yang sedang bekerja.
"dek buatin hot cup handle lattenya lagi ya?". Titah Andra pada barista tersebut.
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
Terima kasih.