
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
"kamu udah siap?". tanya Andra yang membuyarkan lamunan Dea.
"udah". sahut Dea seraya mengangguk.
"ayok". ajak Andra.
"ya". sahut Dea datar.
"ayok Dee". ajak Andra pada Dean seraya megambil lengan bocah kecil itu.
Cindy mengikuti langkah Andra berjalan bersisian di samping Andra seraya memeluk lengan suaminya itu. sedangkan Dea hanya mengikuti pasutri itu yang melihat putranya sedang di gandeng oleh Andra hingga mereka semua masuk ke dalam mobilnya Andra.
di sepanjang jalan menuju kafenya Arjun, Cindy mencoba menghubungi Arjun kembali untuk memberitahukan jika mereka ingin mengunjunginya hari ini. hingga Andra membelokkan mobilnya untuk masuk ke areal parkir kafenya Arjun.
Cindy melihat suasana kafe yang masih sepi dan tak ada pergerakan aktifitas apapun di dalamnya. Dea yang mengetahui jika kafe akan di buka senin langsung berkata.
"bukankah kafenya baru di buka besok? ". tanya Dea heran pada Cindy yang tidak mengetahui apapun soal jadwal buka kafenya Arjun.
seharusnya jika Cindy di sini dan tau jika Arjun memiliki acara dengan anak buahnya, paling tidak Cindy mengetahui jadwal buka kembali kafenya Arjun. mengingat ceritanya Andra jika mereka di undang oleh chef utama yang bekerja di kafenya Arjun itu. meskipun hanya Cindy yang bisa datang untuk menghadiri pesta tersebut.
"Arjun tinggal di sini". sahut Cindy seraya tersenyum.
"hah. tinggal disini? ". desis Dea seraya mengernyitkan dahinya heran.
"iya". sahut Cindy tersenyum lalu membuka pintu mobilnya.
"mau ikut? . yuk? ". ajak Cindy.
"mas nunggu di sini atau ikutan?". tanya Cindy setelah Dea dan Dean keluar dari mobil.
"ya ikutlah. emangnya mas supir kamu di suruh nunggu". dumel Andra dengan berpura pura cemberut.
"makanya aku nanya mas?. gitu aja ngambek" ujar Cindy tersenyum geli yang tau jika suami nya suka bercanda.
sementara Midea hanya tersenyum simpul melihat pasutri yang menurutnya kocak itu. sedangkan Dean melihat Andra seperti tingkah kakaknya, Keyra yang memasang wajah cemberut di kala ngambek.
"ih... udah tua cembelut kayak anak anak aja oom ini". celetuk Dean tiba tiba.
Midea terhenyak kaget mendengar celetukan sang putra. sedangkan Cindy dan Andra menatap tak percaya pada apa yang di dengarnya dari bocah laki laki tiga tahun itu. karena setau dirinya jika bocah laki laki kebanyakan cuek dan sering tak perduli pada apa yang terjadi di sekitarnya.
"Dee". tegur Dea pada putranya agar bersikap sopan pada orang tua.
"hahaha... Dee... kamu kritis banget dan lucu deh". ujar Cindy tertawa geli.
"tuh mass.. udah ada saingan kamu tu dalam protes memprotes". cibir Cindy seraya melangkah masuk pada jalan setapak dari parkiran.
"ayok jalan". ajak Cindy yang masih melihat Dea mematung di tempat.
Dea pun akhirnya berjalan mengikuti langkah Cindy yang di susul Andra di belakang ibu dan anak itu.
jalan setapak ini adalah bagian dari pekarangan kafe milik Arjun. semakin mereka melangkah masuk ke dalam jalan setapak ini semakin jelas terlihat dari samping dan juga belakang dari kafe dan Restonya Arjun tersebut.
Cindy seketika menghentikan langkahnya di ikuti Dea di belakangnya. dua wanita itu melihat sebuah bangunan yang di tutupi terpal dan juga seng seng bekas sebagai pagar agar jangan satu pun orang melintas masuk pada sebuah bangunan yang sedang di renovasi tersebut.
"sedang di renovasi?!".desis Cindy mematung
menatap pada tulisan besar yang kini menggantung di pagar seng.
Andra yang tiba di belakang mereka pun akhirnya ikut berkomentar.
"sedang di renovasi ya??! ".
"iya mass". sahut Cindy.
"kok kamunya bisa ga tau kalau lagi di renovasi tu rumah? ". tanya Andra heran.
harusnya Cindy tau bagaimana situasi kafe nya Arjun. apa lagi saat ada bangunan yang satu pekarangan dengan Arjun sedang di renovasi.
"ga sempat ngobrol sama Arjun mas. tu orang kemarin sibuknya luar biasa". sahut Cindy jujur.
"hubungi Arjun". titah Andra.
"ga bisa mas. ponselnya ga aktif". sahut Cindy
seraya memperdengarkan suara operator yang memberitahukan tentang kondisi nomor ponsel yang dituju Cindy.
"di coba lagi yang". titah Andra.
entah yang ke berapa kalinya Cindy mencoba menghubungi Arjun kembali. sudah lebih dari lima belas menit mereka berdiri disitu. sementara Dean sudah mulai jenuh dan ia memilih berjongkok di samping sang bunda yang masih sabar menunggu Cindy menghubungi teman baiknya itu.
"aduh... papa Aljun kemana cih. dali kemalin ga ada telus". keluh Dean tiba tiba.
Sontak membuat Andra dan Cindy menatap iba pada bocah tiga tahun itu yang sudah menunggu lama dan ingin bertemu dengan Arjun semenjak dari kemarin.
sementara Dea mencoba memberi pengertian pada putranya itu agar jangan mengeluh dan harus bersabar.
sedangkan Cindy dan Andra saling mengkode kan dengan bahasa isyarat jari yang Cindy pelajari bersama teman teman kuliahnya saat Jasmine masih bersama mereka dan setelah menikah ia ajarkan pada Andra saat Andra melihat Cindy berbicara pada seorang anak tuna rungu dan wicara yang tersesat di mall saat mereka berdua sedang bulan madu di eropa.
Dan bukan itu saja terkadang Andra meminta pada istrinya itu untuk menghadapi seorang klien yang mempunyai anak disabilitas seperti Jasmine agar lebih betah dan nyaman saat ayahnya sedang melakukan transaksi atau pun meeting bersama Andra di sini.
Cindy meminta pada suaminya itu agar mencari alternatif lain untuk membuat bocah itu teralihkan keinginannya kepada yang lain.
"kamu aja yang bujuk pergi kemana gitu?". kamu kan udah biasa ngadepin anak kecil kalau klien aku bawa anaknya". ujar Andra
menggunakan jemarinya.
"yang ini lain. mau di bujuknya sama mas. kan mas yang lebih duluan dekat dan akrab sama tuh bocah". sahut Cindy yang juga mengguna kan jari jemari lentiknya.
"jadi harus mas ni? ". tanyanya kembali.
Cindy menganggukan kepalanya.
akhirnya Andra mencoba membujuk bocah tampan itu agar mau pergi ke tempat lain yang lebih menyenangkan selain ketemu dengan Arjun.
"memangnya mau kemana om? ". tanya Dean malas.
Andra tersenyum geli melihat tingkah Dean yang ogah ogahan di ajak olehnya.
"oalah bocah bocah. cinta banget sama si Arjun". dumel Andra di hatinya yang terasa meggelitik geli karena seorang bocah yang di panggil Dee itu.
Andra memandang sang istri untuk di mintai pendapatnya tentang tempat yang asyik untuk anak anak seusia Dean. sementara Cindy memegang kerah bajunya dan mengguncang nya sedikit sebagai tanda ke mall dahulu untuk membeli baju ganti buat ibu dan anak itu.
Andra pun mengangguk setuju. sementara Midea hanya memperhatikan tingkah pasutri itu yang menggunakan bahasa isyarat yang ia sendiri tak tau maksud dari pembicaraan pasutri tersebut . ia hanya mencoba menerka nerka maksudnya apa dengan memperhati kan gerak gerik keduanya.
"ehmm kita ke mall sekalian main main ke playzone yok". ujar Andra antusias.
"uhh... ke mol lagi ke mol lagi bocen ahh". sahut Dean jujur.
"hah???? ". Andra dan Cindy terperanjat kaget bersamaan.
sedangkan Dea menepuk jidatnya mendengar keluhan Dean pada orang yang baru di kenal nya bahkan sudah baik pada mereka selama ini.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.