
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
"Dee". panggil Rendy pada bocah tampan yang kini tengah duduk menanti jemputan bersama seorang guru yang masih muda.
"ayah". sambut Dee saat Rendy tiba di depan kelasnya.
"udah siap belajalnya?". tanya Rendy basa basi pada bocah itu.
"udah yah. ayah kok lama jemputnya?". tanya Dean saat melihat teman temannya pada menghilang dari pandangannya lantaran sudah di jemput oleh orang tuanya.
"ehmm iya ni tadi lagi banyak pasiennya terus lagi ada kerjaan tambahan di gudang sayang". jawab Rendy.
"oohh... pantesan ayah bau obat hari ini". ucap Dean seraya mengendus endus baju Rendy yang sedikit basah karena peluhnya yang bercampur dengan suhu udara di ruangan gudang obat.
"hehe.. iya sayang". sahut Rendy.
"ayok pulang". ajak Rendy pada bocah itu sembari menggamit lengan sang bocah.
"iya ayah". sahut Dean.
lalu keduanya pergi setelah pamit pada guru nya. Rendy membawa Dean pulang langsung ke restoran di mana Midea berada di setiap harinya untuk melakukan tugasnya sebagai asisten koki.
mobil berbelok ke arah parkiran restoran. Rendy membawa masuk Dean ke restoran dan langsung menjumpai kedua neneknya yang biasanya berada di meja kasir di jam segini.
sementara ia sendiri harus berganti baju di toilet restoran karena merasa tak nyaman dengan bau yang di timbulkan dari peluhnya yang memang bercampur dengan obat obatan yang ada di gudang obat rumah sakit tadinya.
"Dee langsung jumpai nenek ya. ayah mau ganti baju dulu".titah Rendy pada bocah tampan itu.
"iya ayah". sahut Dean patuh.
maka setengah berlari bocah tampan itu pun meninggalkan Rendy dan langsung sang nenek yang berada di meja kasir. di mana ada Qanita juga yang saat ini sedang mengobrol dan memenani Alma yang masih menghitung total bon pesanan hari ini.
"nenek.. nenek.. ". panggil Dean untuk kedua nya dengan riang.
"ya masya Allah cucu ambo sudah pulang rupanyo". pekik Alma kaget saat melihat Dean yang sudah muncul secara tiba tiba di depan nya.
"pulang sama siapa?.aoa di jemput sama ayah lagi ya? ". terka qanita.
wanita paruh baya itu menebak seperti biasa jika yang menjemput Dean selama dua hari belakangan adalah Rendy, lantaran selama tiga hari beturut turut restoran ini sedang kebanjiran orderan untuk kateringan pesta yang akan di selenggarakan di ballroom hotel ini ke depannya.
"iya nenek manis...". sahut Dean polos dan lucu.
"hahahaha... kamu ya Dee.. udah kecentilan sekarang yo?". celetuk Alma.
"iyo ni. belajar dari siapo kamu hah. ayo ngaku anak ganteng". timpal qanita.
"kenapa tante. kok pada tertawa?".tanya Rendy yang tiba tiba datang dari arah luar.
"ini si Dee. udah mulai kecentilan dia nyo Ren".jawab Alma.
"memangnya dia ngapain tante?".tanya Rendy seraya menghempaskan bokongnya di sebuah kursi yang tak jauh dari meja kasir.
"awak tanyakan sajo pada si bocah ini". ujar Alma.
"Dee tadi ngapain sayang?". tanya Rendy pada bocah itu.
"ga kok. Dee cuma bilang sama nenek itu nenek manis". sahut Dean jujur dengan polos nya seraya menunjuk ke qanita.
"oohhh.. jadi nenek qanita nenek yang manis. kalau nenek Alma nenek apa Dee. cantik apa jelek?". tanya Rendy.
"cantiklah. masa jeyek".sambar Dean cepat sembari mencemberutkan wajah imutnya saat ia di tawari dua pilihan jawaban antara cantik dam jelek untuk sang nenek.
"iya deh. yang ga mau neneknya di bilang jelek". balas Rendy.
"kalau ayah gimana?. ganteng ga?". tanya Rendy.
"ganteng". sahut Dean singkat sembari menganggukkan kepalanya.
"sudah yo. sekarang Dee ganti baju dulu sano. bajunyo udah bauk. mmm bau acem". komentar Alma pada baju seragam yang di pakai oleh Dean saat ini.
"iya nenek". sahut Dean patuh.
"ayok ayah". ajak Dean seraya menarik lengan Rendy.
"loh kok sama ayah?".bukannya Dee udah pintar ganti baju sendiri?". tanya Qanita heran.
"Dee mau di kawanin ayah ke kamal". ujar Dean.
"ooh.. bilang dong. ya udah sama nenek aja ya?". ujar qanita menawarkan diri.
"hah?? Dee??. pekik keduanya heran.
"ayok ayah. ayah juga halus mandi. ayah bauk obat" . ucap Dean tak perduli seraya terus menarik lengan Rendy.
"iya iya..iya". sahut Rendy sembari bangun dari duduknya.
"ya ampun ini bocah. hey sweetu..". pekik qanita pada bocah tampan itu yang kini telah berlalu dari hadapan mereka.
sementara Alma terkekeh geli melihat sang cucu yang sudah membawa paksa Rendy menuju kamar hotel milik bocah itu yang dulu nya di berikan pada Dea sebagai hadiah kelahiran putranya.
"anak si Jasmine lucu sekali. ehmm. guemes pingin tak cubit cubit itu pipi". celetuk Qanita.
"iyo. ada dio di siko jadinya ramai. ambo indak kesepian pun kalau di rumah. karena saat bundanyo istirahat. itu anak diam diam menyelinap masuk ke rumah ambo uni". ungkap Alma saat teringat kenakalan Dean yang sudah mulai terlihat itu.
"hah.. begitukah? ".pekik qanita heran.
"iyo uni. pernah ambo kunci pintu depan rumah ambo. ehh dia malah berusaha panjat itu jendela hanya untuk memanggil dan membujuk ambo yang sedang sholat di dalam kamar agar di bukakan pintu nyo". ungkap Alma kembali.
"wahh.. gawatnya. jadi si Jasmine pasti kecarian lah ya?. pas tau anaknya ga ada lagi di rumahnya? ".terka qanita.
"ya gitu lah uni. tapi si Midea kan tau jika anak nya pasti main ke rumah ambo kalau sudah tak ada lagi di rumahnyo". sahut Alma.
"iya juga sih. ehh tapi mesti harus di ingatin lagi itu si Jasmine jangan di biasakan anak nya keluar rumah tanpa pengawasan mecem gitu ah. ngeri kalilah. kalau sempat aja..... .. aduh ga sanggup ngebayanginnya ahh". qanita terpaksa menghentikan kata kata di akhir kalimatnya sembari bergidik ngeri saat membayangkan sesuatu yang negatif muncul di kepala wanita paruh baya manis itu ter- hadap bocah tampan milik Dean.
"iyo sudah ambo ingatkan hal itu juga pada si Midea agar ia menjaga baik baik anaknyo yang sekarang sudah mulai lasak dan kepingin banyak tau itu. dan si Midea pun tau itu. dia juga khawatir akan hal tersebut uni". jawab Alma jujur.
"iya sih. kita juga ga bisa salahin bundanya juga. wong memang anaknya yang lasak sih". timpal qanita.
sementara dua pria tampan yang berbeda generasi itu sedang bergurau saat menunggu Dea di dapur untuk memberikan kunci kamar Dean.
"unda.. cepat unda....???". pekik Dean saat melihat sang bunda yang masih mengadon tepung.
"unda lama kayi pun. uhh.. cepat dong. Dee capek nunggu nih". pekik Dean saat ia mulai bosan bermain menggunakan trik tangan dengan Rendy.
"iya bentar. bunda cuci tangan dulu ya". sahut Dea.
"mas tolong lanjutin ya. tanggung kalau di tinggal nanti ga ngembang". titah Dea pada seorang asisten yang lain yang berada di sampingnya.
"iya uni. uni tinggal aja. Ambo pakai sarung tangan dulu yo? ".ujar Asisten koki tersebut.
"terimakasih ya? "..ucap Dea tulus.
lalu Midea langsung ke wastafel dan mencuci tangannya serta merogoh kunci yang ada di kantong celana kainnya.
"nih. ga sabaran amat sih kamu. pada hal kerjaan bunda sedikit lagi mau selesai". ucap Dea seraya memberikan kunci tersebut pada Dean.
"bocen nunggunya unda". sahut Dean sembari mengerucutkan bibirnya.
"ihhh.. biasanya juga mau nungguin bunda". ujar Midea bersikap manja pada bocah itu.
"unda ga kacih makan es kem. males Dee nunggu lagi". protes Dean seraya mengerucut kan bibirnya
" Dee lupa aturannya ya? ". tanya Dea seraya memicingkan kedua netranya.
"atuyan apa??! ". ujar Dean berkilah
"Dee..???? ". pekik Midea.
sementara Rendy membuka mulutnya lebar saat mendengarkan jawaban dari si bocah yang sudah mulai berjalan melewati tiga tahun dan akan memasuki usia empat tahun dalam hitungan beberapa minggu lagi.
Lanjut ke next chapter ya readers
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
Ig Hazhilka
youtubenya Hazhilka279
Terima kasih.