
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
Jika Midea merasakan kebahagian dalam minggu minggu belakangan ini. berbeda dengan Justin yang masih di rundung galau.
meskipun ia melampiaskan rasa galaunya itu pada pekerjaan. Tetapi tak juga meredakan rasa rindunya pada dua D nya.
Melihat kebiasaan Justin yang mulai tak sehat itu Andra dan Indra secara bergantian menasehati Justin agar menjalani hidup lebih santai dan tidak memforsir dirinya sendiri dalam bekerja.
Tetapi memang seorang Justin yang memiliki sifat keras kepala, sehingga Andra dan Indra nekat menyeret justin membawanya ke suatu tempat yang sering mereka tongkrongi saat mereka semua masih melajang dulunya.
"emang kalian mau kemana sih?". Di tanyain diem aja". dumel Justin saat tak seorang pun yang menjawab pertanyaan yang ia lontaran berulang ulang.
"woi mau kemana sih?". Tanyanya kembali dengan nada kesal saat keduanya terus saja menyeret dirinya ke parkiran dan memasuk kan tubuhnya ke jok belakang dengan paksa.
"udah ikut aja. Dari pada lu sengok di antara tumpukan kertas yang pada hal masih bisa lu ngerjain besok". Ujar Indra seraya menstarter mobilnya Andra keluar dari area parkir dan langsung melesat gesit ke jalanan.
Sebenarnya jika kondisi cuaca hari ini cerah dan bersahabat. mereka berdua mau saja menggeret Justin dengan berjalan kaki ke halte untuk menunggu bis kota ke arah tujuan yang berjarak lebih kurang lima kilo meter ke sebuah kafe yang terletak tak jauh dari blok gedung kantor mereka. Hitung hitung olah raga dan bernostalgia merasakan lagi naik bus jika berangkat kuliah dulunya.
Tetapi karena dalam beberapa hari ini cuaca sudah mulai menunjukkan kabut hitamnya selama ini dan bahkan perlahan titik titik air turun membasahi kota yang sudah lama tak di sirami air hujan ini.
"hujan hujan gini jugak. Gak asik tau buat kemana mana. Yang ada basah, becek bikin kotor sepatu aja". Dumel Justin yang akhirnya membuang wajahnya menatap jendela.
Sementara Andra dan Indra semakin tak perduli pada omelan Justin yang di tujukan untuk mereka. Indra terus melajukan mobil sport tersebut memasuki pelataran kafe yang menghadap pada sebuah fakultas yang ter --kenal di propinsi ini.
"ayok keluar". titah Andra saat Indra telah selesai memarkirkan mobilnya dengan rapi.
Sementara Justin hanya memutar bola mata nya menanggapi kedua teman gokilnya ini.
"mau ngajak ngopi aja mesti ada adegan nyulik nyulik orang segala. kalau kalian mau ngopi ya ngopi ajalah. Ngapain seret seret gue". Dumel Justin kesal seraya melonggar kan dasinya dan menariknya kasar dari leher nya lalu meremasnya dan menyimpannya di saku celananya.
lalu pria itu pun segera turun dari mobil sport yang biasa di gunakan Andra sebagai alat transportasinya antara Mdn dan Brstgi.
"heh Tin. kalau kau nya ga di seret seret ke sini sampe bulukan kau duduk di kursi panas kau tu Tin tin??". Tukas Andra membalas omelan Justin.
"hehe..iya. Tull tu". Timpal Indra dengan kekehan.
"ayok masuk". Titah Andra.
Andra pun melangkahkan kakinya memasuki kafe di susul oleh Indra seraya menarik lengan Justin yang masih berdiri dengan berkacak pinggang menatap punggung Andra yang melenggang masuk ke kafe yang sering Andra datangi saat pria itu masih tinggal di apartemennya yang berada tak jauh dari kafe tersebut.
Andra memilih duduk di sudut ruangan yang menghadap jalanan di mana ia bisa leluasa melihat orang orang dan juga kendaraan yang berlalu lalang di jalanan sore itu.
Indra tiba belakangan dan mengambil tempat favoritnya yang langsung duduk di antara dua temannya yang berbeda sifat dan karakternya. sedang kan Justin sendiri lebih memilih menyandar kan punggungnya ke sandaran kursi kafe yang berada tepat di samping jendela kaca.
Netranya langsung mengarahkan pandangan Justin ke luar Jendela menatap terpaku pada seorang anak kecil yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar di antara sekelompok anak anak yang berusia remaja tanggung sedang menunggu hujan di antara penghuni halte yang bejibun.
Mungkin bagi orang lain pemandangan itu sudah biasa di lihat oleh orang orang yang berada di sekitar halte tersebut. tetapi yang membuat Justin tertarik adalah sekelompok anak remaja dan seorang bocah SD yang membawa sebuah payung dan menawarkan pada para penghuni halte yang berada di halte tersebut.
Ada sebagian yang mau menggunakan jasa joki payung tersebut untuk menyeberang jalan agar mereka bisa tepat waktu di rumah. dan ada juga yang masih bertahan hingga bus tiba.
Justin menarik sebelah sudut bibirnya saat melihat betapa malangnya nasib seorang anak SD tersebut saat menerima uang yang hanya bisa di pakai sekali jajan di piggiran jalan kampung langsung habis.
"lu mau minum apa bro?". Tanya Andra kepada dua orang sahabatnya itu saat seorang pelayan kafe menghampiri mereka.
"kayak biasa aja An?"..ujar Indra yang lebih menyukai kopi murni tanpa ada embel embel susu, krimer atau pun lain sebagainya.
"dua hot cup handle kopi tubruk alias kopi item ya kalau kau tak tau juga nama lain dari kopi kopian". ucap Andra dengan banyolan nya terhadap para pekerja kafe setiap kali ia datang kemari.
"ya tau lah bang. Kalau pun aku ga tau tinggal ku kasih kan saja sama baristanya. Gampang kan urusannya. Ngapain pulak aku harus repot repot mikirin kopi tubruk itu kopi apa". Celetuk pelayan kafe tersebut yang memang suka membalas banyolan Andra jika pria itu ke sini dan memesan kopi di kafe ini.
Andra memberikan ibu jarinya ke pelayan kafe tersebut seraya tersenyum. Lalu netranya mengarah ke Justin dan menanyakan tentang menu pesanannya.
"lu Tin?". Tanya Andra saat melihat temannya itu tengah bergeming menatap ke luar jendela di mana Andra hanya melihat pemandangan orang orang yang sedang berteduh dari hujan yang turun semakin deras.
Sedangkan Justin masih saja larut dalam tatapannya kepada bocah SD itu. entah yang ke berapa kali ia menawarkan kembali payung nya untuk di gunakan pada orang orang yang sedang duduk termenung di halte.
Seketika ia teringat pada sesuatu yang berhubungan dengan halte. Ia mengernyitkan dahinya sesaat sembari menatap kembali pada halte yang berdiri tegak di hadapannya.
"halte". desisnya pelan tetapi cukup di dengar oleh Indra yang berada dekat dengannya dan juga Andra yang berada tepat di hadapannya.
"Latte?".tanya Indra kurang yakin pada Justin yang masih larut pada objek yang di lihatnya saat ini.
"Latte dek". Sambar Andra yakin akan pendengarannya saat ia mendengar desisan Justin dan ia pun semakin yakin saat Indra menyebutkan kata "Latte".
"oke bang. Tunggu ya?". Sahut pelayan kafe tersebut sembari pamit dari tiga pria dewasa itu.
Sementara Andra dan Indra saling melirik satu sama lain dan saling bertanya dalam hatinya mengenai tingkah Justin saat ini. Dua Dra itu semakin penasaran pada apa yang di lihat Justin sedari tadi.
"Tin. Lu lihat apa sih Tin?". Tanya Indra penasaran seraya mencoba mencari objek yang di lihat Justin saat ini.
Bukan hanya Indra yang ikut ikutan celingak celinguk, bahkan Andra pun juga mengikuti arah netra nya Justin. Kedua pria itu semakin di buat penasaran pada apa yang di lakukan Duda beranak dua itu sekarang. Hingga tanpa sadar mereka berdua mencoba mendekat ke arah Justin sembari terus mencari tau ada pemandangan apa yang menarik bagi Justin di luar sana yang mereka berdua tidak tau sama sekali.
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
Terima kasih.