
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
Justin memarkirkan mobil rentalnya di parkiran hotel di mana ia menginap saat ini. Justin berjalan gontai memasuki restoran untuk mencari makanan untuk mengisi perut nya yang sedari tadi keroncongan. tetapi karena keasyikan main dan mengobrol dengan putranya. ia tak merasa lapar sedikit pun.
hingga saat dalam perjalanan pulang ke hotel ini barulah perutnya meronta ronta ingin segera di isi dengan sesuatu makanan yang gurih lagi berat.
ia duduk di tempat biasa yang ia suka duduk jika berada di tempat ini. seorang pelayan datang membawakan Justin beberapa menu makanan yang sudah ia pesan sebelumnya. . seperti biasa ia memakan menu andalan ciri khas dari restoran ini.
tak lama kemudian Justin menyelesaikan makan malamnya tanpa Desert yang ia pesan di meja makannya berupa ice cream hand made kesukaan putranya. Justin memanggil seorang pelayan untuk menanyakan soal desertnya yang tak ada di meja makannya.
"maaf pak untuk ice cream yang satu itu memang lagi tidak tersedia untuk saat ini pak karena yang buat desert semacam ini cuma ibu Jasmine yang tau cara bikinnya". sahut pelayan tersebut.
"oh. begitu". sahut Justin kecewa.
ini pasti berkaitan dengan sakitnya Dean maka nya Dea tak membuat apa pun di sini.
"apakah anda mau coba yang lain mr. Kehl?. kami punya desert yang tak kalah enak dari handmade ice cream yang anda pesan mr. Kehl". timpal Qanita yang tiba tiba datang ke meja Justin.
sebenarnya ia sudah tau jika Justin akan memesan desert buatan bundanya Dee itu tetapi apa mau di kata. berhubung Jasmine harus menjaga anaknya di rumah sakit. maka stock handmade ice cream di restoran ini mengalami kekosongan, sehingga pelanggan yang memesan ice cream tersebut pun merasa kecewa.
"mmm... tak usah lah bu. berikan saja saya beberapa buah untuk desertnya". pinta Justin pada Qanita.
"baiklah mr. Kehl". sahut Qanita seraya ia melangkahkah ke dapur untuk memberikan apa yang di pinta Justin.
Qanita melihat beberapa buah buahan segar yang ada di lemari es. lalu ia mengambil beberapa buah tersebut untuk ia potong beberapa bagian kecil kecil agar mudah di kunyah oleh tamunya.
"cuma begitu sajo bu di bikin buahnyo?". tanya salah satu asisten koki yang sering mem bantu para koki di sini khususnya Midea.
"jadi ibu harus bagaimana?". toh persediaan desert kita yang lain di tolak oleh tamu kita yang satu itu". jawab Qanita bingung.
"ambo ingat satu resep yang di buat sama uni Jasmine saat si uni itu sudah bosan makan sama desert yang sering di buatnyo". jawab asisten koki tersebut.
"oh iya??". apaan itu?. mungkin kamu bisa membuatnya dengan rasa tak kalah nikmat dari buatan si Jasmine selama ini". ujar Qanita.
"uni Jasmine indak pernah sajikan itu ke dalam daftar menu bu. dia membuat desert begitu jika dia merasa bosan membuat ice cream atau desert yang itu itu sajo bu. dan itu pun memang untuk di konsumsinya sendiri sih". sahut asisten itu.
"ya udah kamu buat aja dulu. desert resepnya si Jasmine. mana tau tamu kita Menyukai nya. sekarang ya kamu buatnya". titah Qanita pada asisten tersebut.
"sekarang Bu? ". tanya asisten tersebut ragu seraya menggaruk lehernya yang tak gatal.
"ya iya lah masa besok. kamu ini aneh deh". sahut Qanita.
"anu bu.. takut indak enak. soalnya resepnya sederhana kali lah bu". sahut Asisten koki tersebut.
"menurut kamu enak ga?". saat di buat sama si Jasmine? " tanya qanita.
"enak sih bu. rasanyo segar". jawab asisten tersebut.
"ya udah kalo gitu ya kamu buat aja sekarang.
asisten tersebut masih bergeming ragu karena ia merasa tak yakin dengan apa yang di tawarkan. mengingat tamu mereka kali ini adalah pria bule.
" cepatlah. kelamaan nunggu nanti tamunya" titah Qanita kembali saat melihat asisten koki.
"eh.. iya bu..tapi.. ". sahut sang asisten masih ragu.
"kamu ini bagaimana sih. tadi kamu protes apa yang saya tawarkan ke tamu saya. sekarang saya suruh kamu buatkan desert dari resepnya si Jasmine. kamu beralasan seribu macam". omel Qanita yang mulai sedikit kesal menghadapi karyawan yang satu ini.
"iya deh bu. ambo buatkan sekarang jugo. iya bu. sebentar yo. ini indak lamo lamo kok". sahut asisten tersebut kikuk lantaran telah di tegur oleh salah satu atasannya.
"nih bu. desert nyo. sudah jadi" ujar Asisten koki tersebut seraya menyodorkan hasil kreasinya berdasarkan Resepnya Dea.
Qanita pun mencobanya sekali dalam satu suapan sendoknya dan
"hmm....enak kok. ini kamunya bisa kok kamu buat. enak rasanya". ucap Qanita jujur dalam pujiannya.
"ahh yang banna bu?? ". tanya asisten itu tak percaya.
"iya beneran". sahut Qanita mantap.
"he.. he.. takut bu. entar tamunyo kabur kalau ambo yang bikinin tu desert resepnya uni Jasmine. soalnya kata uni Jasmine dia mem -buat ini hanya untuk di konsumsinyo sendiri sajo bu". jawab sang asisten.
"ohh.. ya sudahlah. yang ini saya bawa untuk di suguhkan ke tamu yang mungkin ini pelanggan terakhir restoran kita untyk malam ini". ujar Qanita.
"iyo bu. biasanyo kan memang begitu itu Daddy Daddy". celetuk sang asisten.
sementara Qanita hanya melirik sekilas seraya tersenyum simpul dengan dahi berkerut karena memikirkan celetukannya sang asisten tentang para pria bule yang sering ia sebutkan Daddy jika mereka berkunjung ke sini.
"oiya sekalian sini potongan buah buahannya juga". pinta Qanita seraya mengambil sepiring ceper putih buah buahan yang sudah di potong dadu oleh Qanita agar mudah Justin memakannya tanpa harus repot mengguna- kan pisaunya lagi.
"sini bu biar ambo sajo yang bawakan ke tamu nyo bu". tawar asisten tersebut.
"oh ya sudah. terima kasih kalau begitu". ucap Qanita yang tulus memberikan apresiasi nya untuk asisten koki yang memberikan ide nya yang lain dalam penyajian desert malam ini.
Qanita kembali ke meja di mana Justin duduk dengan memandangi ponselnya di mana ter -pampang wajah Keyra dan Dean sedang ter -tidur dalam dekapannya MiDea saat mereka mereka berkumpul bersama di rumah mewah keluarganya yang berada di kota Melbourne.
"pasti anda sedang merindukan mereka". terka Qanita yang langsung duduk di hadapan Justin seraya menyodorkan sepiring ceper buah buahan yang telah di potong dadu oleh Qanita dan juga semangkok desert buatan asisten koki berdasarkan resepnya Midea.
"ohh... iya.. sangat malah". jawab Justin yang Sedikit terhenyak kaget karena kedatangan Qanita yang tiba tiba dengan desert yang di bawanya.
Justin pun segera menutup ponselnya agar Qanita tak terlalu kepo dengan keluarganya. bukan apa apa hanya saja ia belum mau menceritakan pada wanita cantik dan baik ini jika cucunya adalah putra semata wayangnya untuk saat ini.
ia juga tak mau jika Qanita melihat Dea dan Dean dalam ponselnya. karena takut ia akan di tanyai mengenai dua D nya, yang sebenar nya adalah keluarganya juga. kali ini biarlah waktu yang akan memberitahukan hubungan keluarga antara dirinya dengan wanita yang ada di hadapannya kini.
"silahkan mr. ini buahnya dan ini desert yang kami buat berdasarkan resepnya anak kami.". ujar Qanita mempersilahkan Justin untuk menikmati desertnya yang berbeda kali ini.
"terima kasih bu". ucap Justin tulus.
'sama sama mr.". jawab Qanita sembari menganggukkan pelan kepalanya.
lalu Justin mulai mengambil potongan buah apel di sebuah piring ceper dan tersenyum seraya mengunyah buah segar tersebut. lalu netranya melirik ke mangkok putih yang di mana di dalamnya terdapat bermacam buah segar juga hanya saja yang ini terlihat lebih menarik sajiannya di bandingkan dengan isi dari sepiring ceper yang tadinya ia nikmati juga.
"silahkan di coba yang ini juga mr". tawar Qanita saat melihat Justin memperhatikan mangkok putih tersebut.
"itu resep dari anak kami, Jasmine". ucap Qanita yang berniat mempromosikan resep desert terbaru dari restoran ini.
"J.. jasmine?? ". desis Justin pelan tetapi cukup di dengar oleh Qanita.
"iya mr. anak kami semua. Jasmine". sahut Qanita seraya tersenyum.
"silahkan mr". ucap Qanita dengan sopan.
"baik. terima kasih bu". balas Justin seraya menganggukkan kepalanya pelan.
Lanjut ke next chapter ya readers. stay cool here ya Readers
...****************...