My D you are the first for me

My D you are the first for me
Dean yang mulai terlihat perfeksionis



#Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.


Justin segera turun dari lantai dua setelah mengecup pipi putrinya yang masih tidur.


"Daddy pergi sebentar ya sayang. kalau kamu pingin pulang ke Indonesia pulangnya sama oma dan opa aja ya". bisiknya di telinga sang putri.


Mona yang melihat Justin terburu buru segera mendekati putranya itu.


"kamu ga sarapan dulu Tin? ". tanya Mona yang melihat Justin dengan tumpukan berkas dan sebuah tas kerja dan juga koper kecil.


"ga lah ma. aku harus ke toko dulu soalnya ngasih berkas ini ke Millie. setelahnya aku langsung terbang ke Jkt". sahut Justin.


"aku berangkat ma".pamit Justin lalu mencium tangan mamanya.


"iya hati hati ya. kabari mama segera kalau udah nyampe. trus kasih tau mama juga kalau udah ketemu mereka". pesan Mona pada putranya.


"iya ma. aku pergi". pamit Justin.


Dengan menggunakan taxi Justin berangkat ke bandara setelah sebelumnya ia singgah ke toko untuk menyerahkan berkas dan juga pekerjaan tambahan pada managernya itu saat dirinya tak ada.


setibanya di bandara Justin mengirimkan pesan pada Alan bahwa dirinya akan berangkat pagi ini dari Australia dan ia meminta pada Alan untuk menjemputnya setelah ia tiba di bandara untuk enam jam ke depan.


Justin melirik arloji mewahnya yang menunjukkan pukul tujuh pagi waktu benua ini. pengumuman jadwal keberangkatan pesawatnya pun di mulai saat ini juga. Justin memasuki kabin dengan business class seperti biasanya.


ia mengalihkan ponselnya ke mode pesawat lalu tak lama muncullah wallpaper di mana ada Dea, Dean dan Keyra yang sedang tertidur lelap di dalam layar monitor ponsel nya.


momen tersebut ia ambil saat malam di mana ibu dan anak itu bertemu setelah lebih dari dua bulan berpisah karena keadaan. Justin tersenyum kecil membayangkan ketiganya.


"Dee. tunggu Daddy ya. Daddy lagi dalam perjalanan menjemput kamu untuk kembali pulang". gumamnya pelan membayangkan wajah imut putranya saat tertidur.


"have a nice dream my boy". gumamnya pelan yang ia tau jika putranya itu masih terlelap tidur.


hal ini di karenakan selisih jam antara benua Australia dan Indonesia adalah empat jam lebih awal dari Indonesia, mengingat letak geografis belahan bumi dari Benua ini terletak di bumi bagian timur dan selatan yang menjadikan Australia disebut benua bawah.


...----------------...


suara azan subuh bergema di belahan bumi indonesia yang memiliki penduduk dengan mayoritas muslim di negara ini. Dea terjaga dari tidurnya karena lantaran tlah terbiasa bangun saat subuh saat ia tinggal di Sumatra bersama Alma dan juga Retha dulunya.


karena tidak memiliki persiapan untuk melakukan kewajibannya akhirnya Dea hanya bisa membasuh dirinya menggunakan shower hangat yang selalu di sediakan pagi ini oleh pihak hotel.


pagi ini ia berencana untuk Check out lebih cepat dari jadwal yang di tentukan oleh hotel. Dea berencana mengejar jadwal penerbangan pertama hari ini. setelah di rasa cukup berbenah dengan barang miliknya. Dea dengan hati hati memasangkan jaket ke tubuh Dean dan lalu menggendong sang putra yang masih nyaman dengan tidurnya.


sementara Dean sendiri membuka matanya saat ia merasakan guncangan pada tubuhnya ia melihat sang bunda berusaha untuk menggendong tubuh gembulnya yang ia merasa pasti sang bunda masih kelelahan karena perjuangannya semalam untuk memghindari orang jahat.


"unda...??? ". panggil Dean malas karena efek rasa kantuk yang masih terasa di matanya.


Midea yang baru saja berhasil membawa sang putra dalam gendongannya pun terhenyak kaget.


"Dee udah bangun sayang? ". tanya Dea seraya melihat wajah sang putra yang tergolek malas di bahunya.


"iya". sahut Dean malas.


"masih ngantuk ya? ". ya udah bobo aja di gendongan bunda". ucap Dea seraya mengelus rambut ikal coklatnya yang lembut itu.


"kita mau pigi lagi ya? ". tanya Dean seraya mengangkat wajahnya menatap sang bunda.


"iya". sahut Dea seraya merapikan jaketnya.


"ketempat nenek kan?". tanya Dean antusias.


Dea tersenyum lebar melihat wajah sang putra yang tiba tiba jadi bersemangat mendengar kata kata nenek.


"iya sayang. kita ke tempat nenek sekarang. sekarang Dee mau jalan atau bunda gendong terus? ". tawar Dea yang melihat wajah Dean yang sudah meulai cerah.


"Dee mau jalan ajalah". sahut Dean yang merosotkan tubuhnya ke lantai.


"okelah. tapi Dee mandi dulu kalau begitu ya? ". titah Dea pada putranya itu.


"iya.. Dee mau mandi bial ga auk kalo nanti Dee naik pecawat". sahut Dean polos seraya membuka kancing piyamanya.


"hehe.. udah pinter anak bunda sekarang ya? ". kekeh Dea bangga yang melihat sang putra yang sudah mulai mandiri.


"Dee pake baju yang kemalen lagi unda? ". tanya sang putra saat melihat baju kemeja dengan jaketnya yang telah ia gunakan tadi malam.


"iya sayang. buat sementara ya?. nanti kita ke toko baju buat gantiin baju Dee ya?. sekarang Dee pake baju ini dulu". bujuk Dea.


"iya deh". sahut Dean mengerti.


Dea pun tersenyum melihat sikap sang putra yang begitu pengertian akan kondisi mereka.


beberapa menit kemudian Midea dan Dean selesai untuk check out dari hotel tersebut.


Midea melirik jam di dinding kamar hote yang telah menunjukkan pukul enam lewat bahkan mentari pun mulai menunjukkan sinarnya dari balik awan yang terlihat dari jendela kamar hotel yang Dea tempati sekarang ini.


"ayok Dee kita keluar". ajak Dea saat semuanya telah ia benahi dan tak ada satu pun barang yang tertinggal di hotel tersebut.


Midea bergegas naik ke taxi saat sebuah taxi berhenti tepat di hotel yang ia inapi.


"ke bandara pak". titah Dea.


taxi melaju dengan kecepatan sedang menuju bandara di mana tadi malam ia baru saja dari sana. taxi berhenti memasuki gerbang bandara dan menurunkan Midea tepat di sebuah terminal yang mengantarnya pada keberangkatan domesti


Midea segera membeli dua tiket pesawatnya untuk keberangkatan pagi ini. Midea di perintahkan untuk menunggu sesaat dalam jadwal penerbangannya ke kota Mdn.


Midea berniat menemui Sagita untuk meminta maaf serta mengembalikan uang yang telah di ambilnya beberapa hari yang lalu. serta ia ingin membicarakan tentang permasalahan hak asuh anaknya dahulu. baru ia datang menemui Alma.


beberapa menit kemudian jadwal penerbangannya pun tiba. Midea bergegas masuk ke kabin pesawat ekonomi premium class yang tak terlalu menguras kantong tetapi masih cukup nyaman untuk seorang penumpang wanita yang membawa anak seperti dirinya.


"Unda... ". panggil Dean.


"ya sayang. kenapa? ". tanya Dea seraya meletakkan bantal di kepala Dean agar putra nya itu merasa nyaman dalam perjalanan meskipun tidak terlalu lama seperti penerbangannya semalam.


"baju Dee ga di ganti. ini kan udah bau nda? ". tagih Dean pada janji bundanya saat di hotel tadi seraya mencium bajunya sendiri.


Midea menghentikan aktifitasnya sejenak lalu memandang sang putra teduh. ia tersenyum geli melihat tingkah Dean yang mulai terlihat perfeksionis itu. karena sedari tadi pagi putranya itu selalu menanyakan soal penampilannya. lalu ia teringat pada Justin yang juga selalu terlihat perfect dalam penampilannya.


Midea menghela nafaasnya sesaat lalu berkata pada sang putra.


"maaf ya sayang. tadi tokonya belum ada yang buka jadi kita belum bisa beli baju baru. tapi nanti kalau udah sampe di Mdn kita beli baju barunya yang buanyak deh". ucap Dea seraya merentangkan kedua tangannya untuk meyakinkan sang putra.


"mmm.. oke deh. tapi Dee minta paffum lagi ya?. Dee mau cempot cempot di sini lagi". pinta Dean.


"haha... iya deh boleh. sebentar ya?". kekeh Dea sembari mencari cologne milik putranya itu.


ia menyemprotkan cologne tersebut ke baju Dean yang sebenarnya memang belum bau bahkan masih terasa wangi dari parfum laundry yang biasa di gunakan oleh keluarga Ardiansyah.


Dea baru menyimpan cologne itu kembali setelah putranya itu merasa puas akan wangi yang di hasilkan oleh parfum khusus balita tersebut.


"oh My Dee...You start to look perfectionist. just like your Daddy" ( oh My Dee....kamu sudah mulai terlihat perfeksionis. sama seperti Daddy kamu) ". gumam Dea di hatinya seraya memandang sang putra yang sedang menonton kartun khusus anak anak.


...***************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka 279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


ig Hazhilka279


.


Terima kasih.


.