My D you are the first for me

My D you are the first for me
Daddy bertemu Dee



Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉


Justin menopang keningnya dengan satu jari tangannya seraya menatap layar monitor laptopnya. sementara satu jarinya menscroll tak menentu pada layar monitor laptop tersebut. konsentrasinya terpecah pada dua tempat. di mana pikiran satunya menerawang jauh memikirkan sang putra yang di kabarkan sedang sakit.


"Dee.. kamu sakit apa sayang?". sulit sekali buat menghubungi kamu nak". Justin membathin.


Justin melirik jam di tangannya sembari sesekali menatap ponselnya berharap ada kabar terbaru dari pemilik kantin sekolahnya Dean.


hingga akhirnya ia menghubungi Andra untuk menggantikan pekerjaannya saat Alan datang untuk memintanya menandatangi sebuah berkas.


"saya balik ke Jkt sekarang ya pak. permisi". pamit Alan saat ia merasa tugasnya selesai di sini.


"tunggu. kamu ikut saya sebentar".titah Justin seraya. bangun dari duduknya serta menyambar jas kerjanya.


Alan pun mengikuti langkahnya Justin di di belakang duda beranak dua itu menuju roof top dari gedung kantornya, dimana sebuah heli yang di gunakan Alan masih bertengger gagah saat ini.


"kita ke pdg sekarang". titahnya pada seorang pilot yang bertugas.


"baik pak".


"hah?". memangnya mau ngapain si boss ke pdg. emangnya ada acara apa di sana?". Alan bertanya tanya di hatinya.


*


Justin menapaki kakinya kembali di kota pdg. dengan menggunakan mobil rental langganan nya maka ia pun bergegas mencari tau tentang kondisinya Dean melalui salah satu karyawan yang bekerja satu tim dengan Midea.


sedangkan Alan di mintai Justin untuk men -carikannya sebuah apartemen atau pun sebuah perumahan yang berada dekat dengan sebuah rumah perkampungan di mana yang di tempati mantan istri nya sekarang ini.


maka Alan pun harus menunda kepulangan dirinya ke Jakarta serta harus menunda pekerjaannya demi titah sang majikan yang terkadang di luar akal sehatnya saat ini.


"untuk apa pak Justin mencari tempat tinggal di sini sementara beliau tak memiliki kepentingan apa pun di kota ini selain meng -hadiri sebuah undangan dari setiap rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan KBC" Alan bergumam di hatinya.


terkadamg ia menggerutu di dalam hatinya sembari mengutak atik beberapa nomor ponsel dari beberapa agen properti yang di kenalnya selama ini. akan tetapi tak satu pun yang bisa memberikan informasi yang jelas.


"aish... si boss bikin nambah nambah kerjaan aja lah". gerutu Alan kesal.


hingga akhirnya ia melihat sebuah papan advertising di sudut jalan mengenai sebuah agen properti yang berkantor di ujung jalan dari lapangan militer yang telah mereka mintai ijin sebelumnya untuk mendarat dan parkir.


Alan berinisiatif untuk ke kantor tersebut agar pekerjaannya bisa segera di selesaikan.


*


melalui sedikit informasi dari salah satu pelayan hotel dan juga restoran. akhirnya Justin tau jika saat ini Dean sedang di rawat di rumah sakit yang kebetulan ia mengenali direktur yang memimpin di rumah sakit ini. jadi setidaknya ia punya alasan jika pun terlanjur bertemu dengan Midea tanpa di sengaja.


untuk menuju ruang anak. Justin harus melewati sebuah ruangan bersalin yang pastinya terdengar suara tangis bayi yang bersahutan. seketika ia teringat dan menjadi penasaran bagaimana saat momen kelahiran sang putra di rumah sakit ini.


ia menghentikan langkahnya sejenak lalu berniat masuk ke sebuah ruangan khusus untuk ibu dan bayi itu. dari jendela kaca lebar Justin melihat beberapa bayi yang tergolek molek di incubatornya masing masing.


bayi laki laki di tempatkan terpisah dan di tandai dengan gelang biru di lengan mungil nya. ia membayangkan sosok Dean bayi saat itu. apakah anaknya itu se anteng bayi bayi ini yang hanya tau tidur saja. atau si Dean bayi adalah anak yang bikin keributan di tengah malam lewat tangisannya.


entah mengapa tiba tiba ada rasa sesak yang menyeruak memenuhi di ruang dalam dada nya saat ia tak bisa merasakan momen penting dari kelahirannya Mykehl Deansyah, putra kandungnya. ia juga tak bisa melihat dan merasakan bagaimana perjuangan Midea saat wanita itu di nobatkan menjadi ibu saat itu.


"ternyata memang banyak hal yang aku lewat kan tentang kamu Midea, Jasmine". bathinnya


"haaaah...". desahnya kuat seraya menghela nafas panjang.


"bayinya atas nama siapa pak?".biar kita ambil kan untuk di susui sama mamanya. karena saat ini memang waktunya minum susu". ucap salah seorang perawat jaga.


"ohhh.. maaf.. saya salah masuk. Sebenarnya saya mau ke ruang rawat inap anak. tetapi malah nyasar di sini.". sahut Justin.


"oohh.. di sana pak ruangannya. di sebelah koridor ini". jawab perawat tersebut seraya menunjukkan Justin jalan keluar.


"terimakasih mbak. permisi". jawab Justin seraya pamit pada perawat muda itu.


langkah Justin berhenti saat melihat Midea keluar dari salah satu kamar rawat inap anak anak. segera ia menyembunyikan tubuh kekar nya di balik tiang raksasa sebagai penyangga dari gedung ini.


"mungkin itu kamarnya Dee". desis Justin saat melihat Midea yang berjalan menjauh dari kamar anaknya.


"dia mau kemana?". bathinnya.


akan tetapi kesempatan ini tak di sia siakan olehnya. ia pun segera masuk ke kamar yang terhitung vip itu. Justin terdiam menatap ke sebuah brankar di mana ia melihat Dean yang sedang tertidur pulas dengan selang infus di tangan kirinya.


"Dee.. maafin Daddy ya sayang. gara gara Daddy kamu sakit Seperti ini". Justin berucap pelan dengan tenggorokannya yang tercekat.


"Dee.. cepat sembuh ya nak". ucapnya kembali seraya menciumi telapak tangan putranya itu sembari terisak kecil.


Dean terjaga saat ia merasakan ada seseuatu yang hangat berhembus di telapak tangannya


Dean membuka matanya perlahan dan men -dapati pria yang selama satu bulan ini telah menemani jam istirahatnya di sekolah meski pun hanya sebatas video call semata.


bukan hanya itu saja. Daddynya dan juga kakaknya pun menemuinya secara rahasia tanpa sepengetahuan sang bunda yang ia sendiri juga tak mengerti kenapa pertemuan nya dengan kak Keyra harus di rahasiakan oleh Daddynya itu.


mungkin jika dulu bundanya marah pada Daddynya lantaran yang ia tau bahwa Daddy nya juga sering menjauhkan bundanya dari dirinya. makanya ia memaklumi sikap bunda nya terhadap Daddynya yang menurut Dean salah karena Daddynya lah ia tak bisa melihat sang bunda dalam beberapa bulan yang lalu.


tapi kini ia merasa kaget saat sesosok pria menciumi telapak tangannya seraya terisak kecil. ia langsung bisa menebak lewat rambut yang di miliki Daddynya itu. serta jam tangan yang sering di gunakan Daddynya. bahkan wangi parfum yang menjadi favorit Daddynya.


"Daddy?? ". panggil Dean pelan saat bocah itu melihat sang Daddy terisak kecil di telapak tangannya.


"Dee... ". desis Justin saat ia mengangkat wajahnya tampannya dan menatap haru pada putranya yang memanggilnya lembut.


"Daddy di sini?. kapan datangnya? "tanya Dean penasaran dengan suaranya yang terlalu pelan bahkan hampir tak terdengar sama sekali.


akan tetapi hubungan bathin antara ayah dan anak membuat Justin mengerti apa yang di maksudkan oleh Dean.


"maaf Daddy baru tau sayang. pak Amat yang ngasih tau Daddy kalau kamu sakit hari ini". tukas Justin.


"makanya Daddy langsung ke sini buat ketemu sama kamu langsung sayang. Daddy khawatir banget". lanjutnya seraya menatap netra indah milik putranya.


"its ok Daddy". sahut Dean yang nyaris tak bersuara.


"thank you. udah jadi anak yang kuat meski pun Daddy ga pernah selalu ada di samping kamu". ucapnya seraya tersenyum miris melihat wajah pucat sang putra.


Justin dan Dean saling tersenyum kecil untuk waktu yang terhitung singkat. lebih dari lima belas menit Justin menemani Dean yang kebetulan sendirian setelah di tinggal Midea ke ruang kantin. sementara Dean di titipkan sebentar pada perawat jaga yang bertugas saat ini.


"Daddy ga boleh lama lama di sini. nanti bunda mayah". ucap Dean pada Justin saat bocah itu melirik jam dinding yang berpatok pada jarum panjang yang telah melewati tiga angka dan hampir mencapai empat.


"are you sure? (apa kamu yakin?) ". tanya Justin ragu untuk meninggalkan Dean sendiri.


Dean hanya mengangguk pelan. dan meminta Daddynya kembali besok.


"I am sorry my son. Daddy pergi dulu. nanti Daddy kembali". pamitnya pada putranya itu.


Dean menanggapinya dengan senyuman. bahkan ia masih berusaha tersenyum saat Daddynya berbalik dan mencium keningnya.


"Daddy sayang kamu Dee". ucapnya lirih.


"me too Daddy". balas Dean.


"see you honey". ucap Justin saat tangannya menggapai pintu lalu berlalu dari situ setelah memastikan Dean baik baik saja setelah seorang perawat jaga masuk untuk melihat kondisinya Dean.


Lanjut ke next chapter ya readers. stay cool here ya Readers


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


Ig Hazhilka


youtubenya Hazhilka279


Https://hazhilka279.blogspot.com/2023/02/


Terima kasih.