
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. I am coming back. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
Jika Justin merasa sedih atas apa yang di lakukan Midea terhadapnya hari ini. Maka hal ini sangat berbeda dengan Midea yang tersenyum bahagia menatap keluar jendela memandangi dan mengagumi indahnya panorama alam sumatera di mana langit di ufuk barat mulai memunculkan warna warna di saat senjanya tiba.
Midea akui betapa indahnya sang pencipta dalam membuat lukisan alam tersebut yang memanjakan kedua netra hitam pekatnya yang di katakan orang bak mutiara hitam yang di apit oleh sebuah pigura lentik.
ia tersenyum bahagia karena merasa telah bebas dari ikatan rumah tangga bersama pria yang tak pernah ada dirinya di hati pria itu. Bebas dari rasa takut yang pernah ia alami dulu saat ia masih merasa membohongi semua orang akan identitasnya. bebas dari rasa takut akan kehilangan sang putra saat ia belum memiliki surat hak asuh atas nama putranya.
Tetapi sekarang ia tak perlu merasa takut lagi karena semua yang ia takutkan kini berbalik menjadi sebuah kekuatan untuk ia melangkah pasti ke depan.
Midea melirik ke arah Dean yang kini tertidur di atas pahanya dengan kakinya yang ber selonjor bebas di jok sofa dari taxi travel tersebut. Biasanya di jam segini putranya itu sudah terjaga dari tidur siangnya tetapi entah kenapa bocah itu masih tampak terlelap dalam dengkuran halusnya. Mungkin karena faktor kelelahan dalam perjalanannya yang sedari pagi buta hingga memasuki senja tetapi masih berkutat di propinsi yang sama hanya saja kotanya yang berbeda.
Tak sia sia Midea memesan satu deret dari bangku sofa taxi travel tersebut agar nantinya memudahkan dirinya menidurkan Dean yang biasanya mengantuk di setiap perjalanannya. Meskipun nantinya bocah tampan itu terjaga lagi dan berceloteh riang kembali dalam perjalanannya.
Dan benar saja putranya itu masih merasa nyaman dalam tidurnya karena satu deret bangku taxi tersebut di tiduri oleh Dean seorang.
Midea mengelus elus pelan rambut lembut sang putra seraya netranya menatap keluar jendela mobil mini bus yang di jadikan taxi travel pribadi dalam perjalanan jauh keluar dari propinsi ini menuju ke propinsi tetangga seperti Midea. Ia menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya perlahan. lalu memposisikan tempat duduknya senyaman mungkin.
waktu terlewati begitu saja tanpa pria tampan itu tau jika waktu telah melewati masa senja di mana seluruh karyawan telah pulang ke rumahnya masing masing kecuali para sekuriti yang bertugas jaga di malam hari.
Sementara dari kediamannya, Satria tampak resah saat entah panggilan yang ke berapa ia menelpon abang sepupunya itu. sedangkan Keyra yang sedang duduk menatap cemberut pada abinya yang sedang mencoba berulang kali menghubungi Daddynya yang belum pulang pulang hingga isya berlalu.
"udah bisa di hubungi bang?". Tanya Retha khawatir seraya menatap binar keresahan di mata suaminya juga.
Satria menggeleng pelan.
"abang coba susul aja ke kantornya ya". Ujar Satria seraya bangkit dari duduknya lalu mengambil kunci mobilnya menuju ke luar rumah.
"abi ikut". pinta Keyra yang tiba tiba menyusul nya ke teras.
Satria menghentikan langkahnya. Melirik Retha sejenak lalu menatap ke bocah cantik itu dan berkata
"di rumah aja ya dulu sama ummi. abi usahain cepat pulang ya?". Bujuk Satria pada gadis kecil itu.
Keyra langsung semakin memanyunkan bibir nya. Tetapi Satria hanya menanggapinya dengan senyuman lalu mengkodekan pada istrinya agar membujuk Keyra dan membawa bocah cantik itu masuk.
"abi...???. Iku...t..??". Rengek Keyra saat abinya tak mau membawanya pergi menyusul Daddy nya ke kantor.
"Keyra..nanti aja ya kita ke sana. Kalau udah ada ijin dari Daddy ya sayang. Mungkin kalau kak keyra ke sana takutnya sekarang Daddy nya yang lagi sibuk. Mana tau Daddynya masih ada rapat sama investor makanya lagi ga bisa di ganggu". bujuk Retha berharap gadis kecil itu mengerti.
Keyra tak menanggapi ia hanya menunduk dengan wajah yang di tekuk. Sementara Retha menganggukkan kepalanya pada suaminya itu agar bergegas berangkat menyusul abang sepupunya.
"abang pergi ya?".pamit Satria pada istrinya itu dengan hanya menggerakkan bibirnya saja.
Retha menanggapinya dengan senyumnya. Satria pun bergegas masuk ke dalam mobil nya dan meninggalkan Retha dan Keyra di rumah demi menyusul abang sepupunya itu.karena tak biasanya Justin tanpa memberi kabar jika dia terlambat pulang ke rumah.
Satria mendapat kabar dari Andra jika bunda nya Dee itu telah resign dari pekerjaannya dan memilih untuk mandiri di kota lain. hanya saja kepergiannya tidak di ketahui oleh siapa pun termasuk Justin. Bahkan Cindy saja yang terakhir bersama Dea pun tidak tau kemana ibu dan anak itu akan melanjutkan perjalanan nya. Cindy hanya pasrah menunggu kabar dari Dea jika wanita itu menghubunginya.
Satria berusaha menghubungi abang sepupu nya itu semenjak sore tadi yang seharusnya abang nya itu sudah tiba di rumah sedari tadi. Akan tetapi hingga kini abangnya itu tak juga tiba di sini sehngga membuat ia dan Retha jadi khawatir terlebih Keyra yang sedari tadi ingin berbicara pada Daddynya via telpon.
"assallamualaikum bang". Sapa Satria saat memasuki ruang yang berdesain dengan dominan navy dan putih tersebut.
"bang". Satria memanggilnya kembali.
Hanya keheningan yang Satria rasakan dalam ruangan tersebut. Jika pun yang terdengar di telinganya hanyalah detak jam dinding yang terpajang rapi bersama dengan pigura yang berisikan piagam penghargaan untuk abang nya dan juga perusahaan ini.
"bang Justin". Satria mencoba memanggilnya kembali saat melihat jas kerja milik abangnya yang tersangkut di kursi kebesaran abangnya itu.
Satria berinisiatif untuk menghubungi abang sepupunya kembali dengan ponselnya. Ia berharap Setidaknya panggilannya kali ini abangnya itu menerima panggilan telpon darinya.
dering ponsel Justin terdengar jelas di telinga nya Satria. Ia mengernyitkan dahinya sesaat lalu mencari sumber suara tersebut yang berasal dari nada dering ponselnya Justin. Dan benar saja ponselnya Justin terselip di saku jas kerjanya saat ini.
Jika ponselnya Justin ada di saku kerjanya saat ini lalu di manakah abang sepupunya itu berada. "kemana bang Justin ya?". Tanyanya seraya memanggil Justin kembali.
Lalu netranya terpaku pada sebuah pintu yang ia tau jika pintu tersebut adalah pintu kamar pribadi milik Justin jika abang sepupunya itu beristirahat siang jika abangnya itu lagi malas pulang ke rumah.
Satria memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut seraya memanggil nama abang nya.
"bang.. Bang Justin". Satria memanggilnya seraya mengetuk pintu tersebut.
tetapi tetap saja tak ada sahutan apa pun dari kamar yang Satria coba untuk mengetuk pintu itu kembali.
"bang". Panggilnya kembali seraya mengetuk pintu lebih keras.
Di karenakan tak ada sahutan apa pun dari dalam kamar maka Satria pun mencoba membuka pintu tersebut.
klik. pintu terbuka dalam sekali tarikan tuas.ia tertegun menatap abangnya yang sedang berbaring di atas ranjang.
"bang". Panggilnya pelan seraya menghampir nya.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.