My D you are the first for me

My D you are the first for me
abang dan adik



Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.


Beberapa bulan terlewati saat ia membuka kembali ke dua matanya dan juga kembali pada tubuhnya. Ia merasa hidup di dunia asing tanpa bisa mendengar dan juga berbicara. Ia hanya mengenal abang dan ibu nya saja. lalu dengan polosnya bertanya pada mereka berdua yang sedang menangis di hadapannya tentang apa yang terjadi pada dirinya.


Ibunya menceritakan jika ia mengalami kecelakaan saat pulang sekolah. ia sempat bertanya pada ibu dan abangnya bagaimana bisa ia kecelakaan. Ia melihat ke pada ibunya yang semakin terisak sementara abangnya tertunduk dalam.


"ibu". Ia memanggil ibunya.


"abang". Ia memanggil abangnya saat ia tak mendapatkan jawaban dari sang ibu.


Tak ada jawaban. Akhirnya ia menyadari jika mereka memang tak mendengar apa yang ia tanyakan. Ia pikir yang ia tanyakan tadi soal tentang apa yang terjadi padanya adalah karena respon langsung saat ia membuka mata.


hari hari berlalu di rumah sakit dalam keadaan dirinya yang tak lagi tersenyum. Meskipun para dokter dan juga suster berusaha membuat ia tersenyum tetapi tetap saja kebahagiaan itu tak bisa ia rasakan lagi karena cita citanya menjadi seorang tentara akhirnya harus di kuburnya dalam dalam.


Hingga tahun berganti rasa kebahagiaan tak di rasakannya lagi bahkan kini ia harus pindah sekolah di sekolah khusus penyandang cacat. Bukan hanya itu saja yang membuatnya sulit mengumbarkan senyum bahkan kesedihan nya semakin mendalam saat melihat ibunya bolak balik harus di rawat di rumah sakit selama berbulan bulan hingga akhirnya sang ibu pun pergi meninggalkan mereka berdua, meninggalkan dirinya yang masih butuh kasih sayang ibunya.


Tinggallah abang kandungnya, saudara satu satunya yang juga terlihat rapuh dan tak yakin menatap masa depannya sendiri apa lagi diri nya.


Hingga tahun ke tiga saat ia berada di tingkat pertama dari sekolah seniornya ia melewati kembali halte yang menjadi petaka baginya dan di saat itulah ia baru menyadari tentang gadis yang berpayung putih yang telah berusaha menolongnya saat itu.


Ia melihat wajah gadis yang menolongnya dalam sebuah foto yang di pajang beserta ribuan buket bunga di atas halte yang menjadi petaka baginya. Dengan menarik secarik kertas ia menuliskan sesuatu di atas nya dan menanyakan apa gerangan yang terjadi pada gadis itu.


Dari situlah baru ia tau jika gadis yang menolongnya saat itu adalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang meninggal karena insiden kecelakaan pesawat yang lagi menggegerkan satu Indonesia. Gadis itu adalah salah satu korban dari pesawat yang di tumpanginya.


Ia pun menyesali karena terlambat meminta maaf dan mengucapkan terimakasih karena telah berusaha memperingatkannya dan juga berusaha telah menolongnya. Dengan lunglai ia berjalan pulang dengan rasa sesak di hati nya betapa egonya saat itu telah membuat orang orang di sekitarnya turut menjadi korban.


Seandainya saat itu ia menjadi seseorang yang mau medengarkan nasehat gadis itu mungkin tidak ada yang namanya petaka di tiga tahun lalu. Mungkin pun ibunya masih hidup dan mungkin saja ia bisa berteman dengan gadis itu.


Rasa sedih masih menyelimuti di hatinya meskipun setahun telah berlalu semenjak gadis itu pergi. Tanpa sepengetahuan abang nya ia diam diam pergi ke halte dengan menggunakan payung di tangannya. Hari ini adalah bertepatan satu tahun kakak yang berpayung putih yang pernah menolongnya meninggal. Jadi melalui cara ini dan melalui halte ini yang bisa ia kenang atas kebaikan nya. Hujan pun turun dengan lebatnya di musim penghujan tahun ini. Hingga akhirnya ...


"dek ..dek...". Seorang ibu ibu memanggil diri nya seraya menepuk pundaknya.


Ia menoleh dan tersenyum kecil. Hari ini ada seseorang yang memanggilnya setelah ibu itu tau jika ia menggunakan alat bantu dengar pada kedua telinganya.


"bisa tolong ibu antarkan ke seberang. Ibu mau pulang ke rumah segera. Ibu naik angkot nya dari sana soalnya". Pinta sang ibu dengan pengharapan.


Ia tercenung sesaat lalu menganggukkan kepalanya dan membuka payungnya. Mulai hari ini ia mencoba berbuat baik meskipun harus meniru caranya almarhumah. Ia mengantarkan sang ibu hingga berada tepat di atas halte seberang.


"terimakasih ya nak. Ini buat kamu. Hati hati menyebrang ya. Jangan sore sore pulangnya ini hujannya lama. Nanti kamu sakit". Ucap si ibu setelah memberikan uang satu lembar lima puluh ribuan.


Ia tercenung sesaat menatap selembar uang biru yang baru kali ini ia dapatkan dari hasil jerih payahnya sendiri meskipun hanya sebagai joki payung sama seperti kakak itu waktu menolong seorang pria yang ingin menyebrang saat itu.


"apakah senikmat ini mendapatkan uang dari hasil jerih payah sendiri meskipun kerjanya seperti ini?". Gumamnya di hati seraya menatap duit dalam genggamannya.


Ia pun mengucapkan terimakasih banyak dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali kepada ibu itu.


"ya nak". Sahut si ibu yang mengerti akan maksudnya.


Akhirnya ia kembali ke halte yang tadi hingga di jam berikutnya seorang pria muda juga meminta tolong mengantarnya ke kafe seberang. Ia di berikan selembar lima puluh ribuan dan juga satu hot cup coffe dan juga beberapa potong roti manis yang di kemas rapi yang berlabel ciri khas dari kafe ini yang di kenal dengan rasa gurih dan lezatnya.


Ia pun ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan segera menyiapkan menu makan malam meskipun hanya ceplokan telor dan mie instan doang. Setidaknya saat abangnya tiba di rumah nanti. Abangnya itu tidak lagi di repotkan dengan memasak nasi serta membuat lauk pauknya.


saat ia kembali ke kamar tiba tiba netranya menangkap satu buku tentang penerbangan. Seketika ia teringat cita cita sang abang yang ingin menjadi pilot. Ia menyadari jika keadaan yang terjadi tiga tahun lalu adalah ulah dirinya yang membuat sang kakak harus melupakan cita citanya.


Tetapi ada satu yang aneh baginya ia melihat sebuah formulir untuk mendaftar di sekolah tinggi intelijen negara. Dan yang lebih mencengangkan lagi jika sang abang lulus sebagai peserta terbaik dan akan mendapat kan beasiswa selama pendidikannya.


Dari situlah semua cerita dan kisah hidupnya berubah. saat kita tidak lagi menjadi egois dan bisa berfikiran positif maka semua hal yang dulunya merasa sulit untuk kita jalani menjadi sangat mudah kita jalani seperti sekarang ini.


Ia bahagia saat bisa merasa berarti untuk hidup orang banyak meskipun tanpa sepengetahuan abangnya sepulang sekolah ia menjadi joki payung untuk membantu perekonomian mereka. Ia giat belajar agar bisa mendapatkan beasiswa untuk menunjang kuliahnya nanti seperti abangnya.


Hingga akhirnya saat ia harus di masukkan ke sekolah asrama karena arahan sang abang di karenakan abangnya yang juga harus masuk asrama. Maka ia pun menuruti semua kata kata sang abang demi mendukung si abang.


Hingga tahun demi tahun terlewati mereka bisa menjalani dan yakin jika hidup akan lebih baik jika mereka berdua saling mendukung satu sama lain. Seperti hari ini.


"dek. Kok bengong?". Tanya si abang.


"ga apa apa bang". Sahut si adek.


"gimana pekerjaan kamu?". Tanya si abang.


"alhamdulillah lancar bang".sahut si adek.


"ga mengganggu kuliah kamu kan?". Tanya si abang.


"ga kok bang. Abang Tenang aja". sahut si adek.


Pesanan mereka pun akhirnya tiba. Dua adik abang itu menyantap lahap makanan mereka hasil dagangan sate abangnya sebagai job sampingan sekaligus bagian dari tugasnya sebagai intelijen yang mencari agen atau mucikari dari perdagangan manusia yang kebanyakan korbannya adalah para siswi atau mahasiswi yang awal nya di tawari sebagai model yang pada hal pekerjaan selanjutnya adalah pelacur yang berkedok sebagai model.


Lanjut ke next chapter ya readers


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka 279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


ig Hazhilka279


Terima kasih.