
Hai readers. selamat membaca kembali ya???
saat Justin keluar dari kantin rumah sakit tanpa sengaja ia melihat direktur rumah sakit sedang berjalan di koridor rumah sakit. Justin mengernyit kan dahinya sesaat lalu ia pun berinisiatif untuk memanggil direktur tersebut
"pak Rasyid". panggil Justin seraya setengah berlari mendekati pria yang memasuki lebih dari separuh baya itu.
Direktur tersebut pun menoleh seraya menger nyitkan dahinya heran lantaran melihat seorang ceo dari perusahaan sebesar KBC berada di rumah sakit ini.
"nak Justin??". pekik Direktur itu heran.
Justin tersenyum lalu menyalami orang tua itu.
"apa kabar pak?". tanya Justin membuka sapa annya.
"baik nak. tumben nak Justin ke sini tanpa di minta. biasanya harus pake undangan dulu baru mau datang". balas sang direktur.
"iya pak. kmaren anak saya di rawat di sini". sahut Justin seraya tersipu.
"oh ya??. yang perempuan??". tanya pak Rasyid.
"bukan. putra saya. adiknya si Keyra". jawab Justin.
"ohh.. sakit apa?". tanya Rasyid.
"radang tenggorokan pak. tiga hari di rawat di sini". jawab Justin.
"tiga hari??. kok saya ga tau kalau nak Justin ada di sini selama tiga hari ya??. kalau tau kan saya undang nak Justin ke rumah".ujar pak Rasyid.
"hehe.. lain kali aja pak. lagian mungkin saya akan kembali ke Mdn besok pun". jawab Justin.
"ni bapak mau kemana?. mau meeting ya?". tanya Justin basa basi.
"ahh ga. saya mau balik ke ruangan saya. yok ke ruangan saya nak Justin". ajak Rasyid.
"bukannya bapak mau meeting sama apoteker rumah sakit ini?".tanya Justin memastikan.
"enggak. saya free saat ini. ga ada meeting sama siapa pun".jawab Rasyid.
"berarti Rendy berbohong ke gue. dasar bocah". gumamnya di hati.
"pak. sebenarnya saat ini saya ada keperluan mendadak. saya duluan ya pak. lain kali kita ngobrol lagi". pamit Justin pada pak Rasyid.
"ohh.. gitu.. ya udah ga apa apa. iya lain kali kita ngobrol ngobrol lagi". jawab Rasyid.
Justin pergi dari hadapan orang tua itu. ia berniat melihat keadaan Midea meskipun dari kejauhan. saat dirinya melewati beberapa poli Justin melihat Midea sedang menunggu antrian di depan poli psikiater di temani oleh Rendy yang sedang membawa berkas di tangan nya.
"apa Midea mengalani depresi lagi?". tanya Justin di hatinya yang pernah mengetahui jika wanita itu pernah di rawat oleh seorang dokter psikiater di Jkt.
Justin memperhatikan mereka berdua hingga nama Dea di panggil oleh salah satu perawat dan di persilahkan untuk masuk ke ruangan tersebut. tangannya mengepal erat di saat ia melihat Rendy yang juga ikutan masuk ke ruang dokter tersebut.
"jadi karena ini ia membohongiku tadinya. dasar bocah". sungutnya kesal.
hampir lebih dari tiga puluh menit. Justin menunggu di sini. hingga akhirnya ia melihat Midea dan Rendy keluar dari sana dan langsung pergi dari ruang poli tersebut.
Justin tak mengikuti mereka lagi karena ia lebih memilih untuk menjumpai dokternya secara langsung setelah tugas praktek dari dokter itu selesai saat itu juga.
Justin di persilahkan duduk oleh sang Dokter dan menanyakan tentang keperluannya menemui dokter tersebut.
"saya ingin menanyakan soal pasien yang barusan saja keluar dari sini yang di dampingi oleh seorang apoteker yang bekerja di rumah sakit ini". jawab Justin.
"ibu Jasmine?". tanya sang Dokter.
"ya. ibu Jasmine".jawab Justin.
"kalau boleh saya tau hubungan anda dengan pasien saya yang satu ini apa?". tanya sang Dokter.
"ohhh... begitu. kebetulan sekali jika anda ada lah suaminya". jawab sang Dokter.
"ya. apakah ada yang parah mengenai sakit nya istri saya Dok? tanya Justin penasaran.
Dokter itu tersenyum simpul lalu bertanya
"sebelumnya apakah ia rutin di bawa terapi? ". tanya sang Dokter.
"tidak begitu. karena saya pikir ia sudah tidak apa apa lagi sekarang. kenapa Dok?". tanya Justin.
"baiklah saya akan menjelaskan kondisi pasien sekarang ini". jawab sang Dokter seraya membuka berkas medis milik Midea.
lalu sang Dokter menceritakan segala hal yang menyangkut kondisinya Midea sekarang ini pada Justin. sebagaimana yang pernah ia ceritakan pada Rendy sebelumnya seperti itulah juga yang ia ceritakan pada Justin saat ini.
tentu saja hal ini membuat sseorang Justin terhenyak kaget atas apa yang ia dengar saat ini.
"lalu bagaimana mencegah hal itu terjadi Dokter?". tanya Justin khawatir.
"saya belum bisa memastikan. tapi lambat laun Pasien akan mengingat semua hal tentang masa lalunya. kecuali...... masa kini". jawab Dokter itu ragu.
"saya harap itu tidak pernah terjadi pada pasien". ucap sang Dokter penuh harap.
beberapa menit kemudian...
Justin melangkah gontai saat keluar dari ruang Dokter tersebut. ia melangkah menuju ke ruang rawat inapnya Midea.
Justin memperhatikan Midea yang sedang duduk memperhatikan para perawat yang bergosip ria di depan ruang kamarnya yang tak jauh dari meja resepsionis perawat tersebut.
Justin memperhatikan senyum Des yang sesekali tersungging di bibir yang pernah ia kecup puas di satu malam indah mereka.
Justin melihat Rendy kembali dengan dua bungkusan kresek yang berlainan ukuran di tangannya. yang mana satunya berisi obat obatan Midea. sedangkan satunya lagi berisi bungkusan makanan
Justin melihat pria muda itu menatakan makanan tersebut lengkap dengan sendok nya dan mempersilahkan Midea untuk makan
Midea mengambil bungkusan makanan yang berisi sate tersebut dari tangannya Rendy seraya tersenyum kecil tetapi tulus untuk pria itu. senyum yang baru kali ini Justin lihat selama ia memperhatikan senyum wanita itu.
"I am sorry De. "because I was the one who caused you to suffer all this time. I'm sorry I'm sorry" (maafkan aku De. karena aku lah yang menyebabkan kamu menderita selama ini. maaf kan aku.. maafkan aku)". desis Justin pelan seraya menatap wajah manis yang tengah menikmati sate itu.
Justin tersenyum menatap wanita yang selalu bisa menikmati makanannya di mana pun berada, dan juga dalam keadaan apa pun.
...----------------...
dua hari kemudian...
Justin memperhatikan wajah Midea dari balik kaca jendela lantai dua rumah nya dengan menggunakan teropong miliknya yang sengaja ia pesan untuk memperhatikan dua D nya dari sini.
malam ini Justin akan kembali ke kota Mdn untuk melakukan tugasnya lagi seperti biasa.
setelah Midea di perbolehkan pulang oleh sang Dokter. maka Justin pun terus memper hatikan kegiatan Midea dan Dea pasca dua D nya itu keluar dari rumah sakit.
setelah cukup puas melihat dan memperhati kan mereka dari kejauhan seperti ini. Justin pun pergi meninggalkan rumah kontraknya untuk kembali ke Mdn.
mulai hari ini ia pun tidak akan memaksakan kehendaknya lagi atas dua D nya. ia pun tidak akan berspekulasi macam macam lagi di balik dustanya Rendy.
ia hanya ingin Midea dan Deannya bahagia dengan cara mereka sendiri. itu saja yang terpenting. jika pun ia ingin melihat mereka lagi cukuplah melalui rumah kontrakannya saja dan juga video call nya melalui ponsel nya pak Amat saat putranya itu bersekolah.
Yok ke next chapter ya reader..
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.