My D you are the first for me

My D you are the first for me
traumanya Midea 2



"Hai readers I am coming back. Selamat membaca kembali..


Di sebuah bandara MK kota pdg


Midea duduk termangu di sebuah kursi bandara seraya netranya menatap pada pesawat pesawat yang sebagian tiba dan sebagiannya telah lepas landas melalui dinding kaca dari bandara tersebut.


"haruskah aku kembali ke sana lagi setelah begitu banyak hal yang sangat menyakitkan hatinya ada di kota itu?".tanya nya di hati saat ia di hinggapi rasa ragu kembali.


Jika di beberapa menit yang lalu ia begitu yakin akan keputusannya untuk menolong tante Qanita yang sedang di landa musibah di karenakan insiden yang terjadi pada salah satu model nya karena bujukan mama angkat nya itu.


Akan tetapi rasa ragu kembali menghinggapi nya lagi. Rasanya Ia ingin pulang saja saat ini.


"De. Ini alamat hotel yang sudah di pesankan atas nama Qanita. Kamu tinggal bilang ke supir taxinya aja ya agar mengantar kamu ke hotel itu".pesan Rendy.


"ya. Makasih ya Ren". Jawab Midea.


"kamu ga apa kan perginya sendirian tanpa di antar sampe di tempat?".tanya Rendy sedikit khawatir.


"hehehe..ya ga apa apa lah Ren. emangnya aku anak kecil yang harus di antar terus kemana mana". Sahut Midea dengan kekehan nya.


"hehehe..iya juga sih". Sahut Rendy yang ikut terkekeh.


Rendy memegang lehernya karena merasa kikuk akibat rasa cemas yang sangat ber -lebihan pada karibnya itu. Yah, semenjak dokter memberitahukan tentang kondisi penyakitnya Midea. Rendy merasa khawatir terhadap wanita malang itu.


sebenarnya ia khawatir jika melepaskan Dea bepergian sendiri tanpa ada yang menemani. Ia takut jika Dea di serang trauma secara tiba tiba akibat situasi dan juga kondisi yang bisa memicu ingatan masa lalunya.


Dan lebih menakutkan lagi saat wanita itu bingung dengan keadaan dirinya jika suatu waktu karibnya itu mengingat semuanya. Tapi karena di sana ada tante Alma dan juga yang lainnya maka ia tak terlalu khawatir. Mereka semua pasti menjaga wanita malang itu dengan baik.


Masa boarding berakhir. Pengumuman dari operator bandara yang menyatakan jika pesawat yang di tumpangi Dea akan segera lepas landas.


"aku berangkat sekarang ya Ren?". Pamit Dea


"iya hati hati ya. Langsung kasih kabar begitu nyampe di sana". Pesan Rendy.


"iya ayah..makasih sudah di ingatkan". Ucap Midea bernada canda.


"hehe..iya.. Pokoknya hati hati ya bunda. Salam buat anak gantengnya". Sahut Rendy yang juga ikut larut dalam candaannya Midea.


Midea hanya menganggukkan kepala seraya melebarkan senyumnya. Lalu ia pun menarik kopernya sendiri dan melangkah masuk ke badan pesawat di mana dua orang pramugari telah menyambutnya di sana dengan ramah serta memberitahukan tempat duduknya Dea sesuai dengan tiketnya.


Beruntungnya ia mendapatkan kursi yang berada tepat di samping jendela dalam kelas ekonomi premium seperti ini. Ia pikir dalam situasi darurat seperti ini Qanita tidak akan sempat memikirkan kenyamanan dirinya dalam bepergian meskipun hanya memakan waktu lebih dari satu jam.


Ia pikir Qanita akan memesan pesawat apa pun dan berada di kelas mana pun asalkan dirinya segera tiba di tempat tujuan dan segera menunaikan tugasnya sebagai model cadangan.


seandainya bukan mama Alma atau tante Qanita yang meminta tolong pada dirinya mungkin dirinya tidak berada di sini saat ini. di mana ia harus melawan rasa sakit untuk menginjakkan kakinya di kota itu lagi kota yang banyak memberinya rasa sedih dari pada kebahagiaan.


Dan seandainya bukan tante Qanita yang memintanya datang untuk menggantikan Nesha yang sedang mengalami sakit pada pergelangan kakinya mungkin sampai mati ia tak akan kembali ke dunia yang membuat diri nya mati rasa.


Selama dalam perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam itu. Midea hanya bisa menatap keluar jendela. Pikirannya kini menerawang jauh di mana saat pertama kali ia keluar dari rumah sakit pasca kecelakaan.


Saat itu instingnya mengatakan jika baru kali itu ia merasakan menjadi seorang model. Tetapi tante Sonya dan Evan mengatakan jika dirinya telah lama berprofesi sebagai model, hanya saja sebelumnya ia seorang model yang masih amatiran dan belum memiliki banyak dukungan lantaran dirinya kurang mengasah bakat yang ada pada dirinya. Sehingga Evan berinisiatif menyerahkan dirinya pada tante Sonya untuk di gali lebih dalam lagi bakatnya.


"cih..bakat?". Midea berdecak kesal saat teringat bagaimana seorang Sonya mengajar kan trik trik agar para pria cepat tertarik pada wanita dan berminat mengencani wanita secepat mungkin.


(ikuti kisah selengkapnya di novel Jasminka/Orchidea).


"silahkan mbak".seorang pramugari yang mengantarkan makanan dan minuman menyentakkan lamunannya.


dua jam kemudian...


Midea menatap ke luar jendela kaca taxi yang di tumpanginya, taxi bergerak dengan kecepatan standar melintasi jalanan ibu kota. melewati gedung gedung tinggi di mana ada sebagiannya pernah ia singgahi untuk melakukan tugas terkutuknya saat itu.


"Syah Hotel?". Desis Midea saat taxi memasuki area parkiran dari hotel tersebut.


lalu supir taxi memberhentikan taxinya tepat di depan pintu masuk resepsionist dari hotel tersebut.


"sudah sampai mbak". Ucap sang supir taxi seraya turun untuk membantu Midea dengan menurunkan koper milik wanita itu.


"terima kasih pak". Ucap Midea setelah membayar kewajibannya sebagai penumpang.


Arjun segera menghampiri Midea saat ia men dapatkan notifikasi dari Rendy jika bundanya Dee itu sudah sampai di Jkt.


"kenapa ga nunggu di jemput sih De". ujar Arjun.


"cyah gitu aja pake di jemput kayak kehabisan taxi aja di Jkt". Celetuk Dea dengan senyum nya yang melebar.


"ayok". Ajak Arjun seraya menarik kopernya Dea menuju ruang lift yang saling berhadapan satu sama lain.


Arjun dan Dea masuk ke sebuah lift yang kosong dan menekan tombol angka berdasar kan angka lantai di mana Qanita dan timnya menginap.


"gimana keadaan Nesha?". tanya Midea saat melihat Arjun yang kini sedang menoleh padanya.


"yah begitulah De. di suruh istirahat seminggu sama dokter yang menanganinya tadi sore". Jawab Arjun.


"semoga cepat sembuh ya". Ucap Midea.


"ya.aamiin..". Sahut Arjun.


Bersamaan dengan pintu lift menutup tanpa mereka berdua tau ada seseorang yang melihat mereka sekilas dari seberang lift yang baru saja terbuka.


"Midea?". Desisnya pelan seraya mengernyit kan dahinya.


pria itu segera keluar dari liftnya dengan netra nya menatap ke layar monitor di mana saat ini pergerakan lift yang terus melaju ke atas lalu berhenti di satu angka yang mewakili dari lantai tersebut.


Pria itu menarik kecil sudut bibirnya setelah mengetahui lantai mana lift tersebut berhenti.ia pun segera membelakangi lift tersebut dan berlalu dari situ.


"aku pastikan besok kita akan bertemu lagi Midea setelah sekian lama kamu menghilang kan diri". gumamnya seraya menyeringai.


Ia yakin jika Midea adalah salah satu peserta dari model yang di ikutkan dalam even ini.


Hari ini ia membiarkan wanita itu untuk sementara waktu, sebab ia sendiri pun sudah terlalu penat di karenakan aktifitas padatnya mengurus segala bisnisnya di hari ini.


Nb..


Hayooo....siapakah dia...???. Silahkan berkomentar ya readers


Yok kita ke next chapter ya reader..


****************


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.