My D you are the first for me

My D you are the first for me
para orang tua yang panik 2



Hai readers I am coming back. Selamat membaca kembali..semoga happy...


Aaaakh.. astagfirullah ". pekik tiga wanita saat melihat kejadian mengerikan yang sedang berlangsung di depan mata mereka.


"akh.. panaaaassss..".pekik Midea kembali.


suara teriakan dari mulutnya Midea memekik kan telinga yang berada dekat dengan nya.


"Retha.. De Jasmine". Astrid dan Mona memanggil kedua wanita yang tengah bergelut itu.


yang mana satunya berusaha menutupi dan menenangkan wanita yang sedang menjerit jerit frustasi itu seraya berteriak


"panasssss...akhh... panasssss".


Arfan dan Jason segera memalingkan wajah nya ke arah lain seraya menghubungi Justin yang entah berada di mana.


sementara Alma terdiam mematung menatap tak percaya apa yang ia lihat sekarang. sebab ia tak menyangka jika Jasmine nya ada di sini


karena yang ia tau tadinya jika putri angkatnya itu meminta ijin pada dirinya untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Alma sempat berfikir jika Jasminenya sedang tertidur nyenyak karena pengaruh sakit kepala nya yang menyerangnya secara tiba tiba. akan tetapi nyatanya yang ia dapatkan sekarang ini adalah sungguh membuat Alma terkejut saat mendapati putrinya itu tengah berteriak dan mengerang seperti menahan sesuatu di dalam diri putrinya.


" astaghfirullahal'adzim De..Jasmine. kenapo bisa begini nak". Ucap nya histeris di tengah jeritan dan ******* beratnya Midea.


" bawa ke kamar ma. biar dia berendam di kamar mandi". saran Arfan pada Mona saat gagal menghubungi Justin.


"kita butuh es balok".ucap Jason yang tak sanggup melihat keadaan putrinya.


lalu Mona, Astrid dan Retha membawa Dea ke kamarnya Justin yang tak berada jauh di mana mereka berada saat ini.


Alma masih terpaku sedih menatap putrinya yang sedang di tolong oleh keluarganya Justin.


sementara Midea masih berusaha berontak dari dekapan Retha dan Astrid yang berusaha menutupi auratnya Midea.


"akh...akh..akh... panasssss...sss...sss.." teriak nya di iringi desahannya yang semakin terdengar gerah di tubuhnya


"sabar nak..sabar ..". pinta Astrid yang mencoba menenangkan putri tirinya itu.


sesampainya di kamar nya Justin ketiga wanita itu langsung membawa Midea ke kamar mandi dan menyiram kan air di tubuh nya yang setengah polos itu.


pekikan Midea membuat Alma semakin tak berdaya dan pada akhirnya air mata yang sempat ia tahan pun luluh juga.


sementara Mona memutar otak untuk menyelesaikan permasalah nya Midea saat ini. sedangkan Arfan berusaha menghubungi Satria agar segera membawa Justin ke kamar ini.


"Satria".panggil Arfan saat ponselnya tersambung ke nomor ponakannya itu.


"mana Justin. panggil dia sekarang juga. kita butuh dia disini".ucap Arfan.


Satria yang tadinya masih bergelut dengan dua orang pria jahat yang tersadar dari pingsannya berusaha menjelaskan tentang situasi di sini hingga akhirnya suara derap langkah beberapa sepatu dari segerombolan sekuriti hotel berdatangan dan membantu dirinya.


"aku akan bawa bang Justin segera pak de". sahutnya seraya menutup ponselnya nya.


lalu pria itu segera menyusul Justin di mana Abang sepupunya itu sedang menghajar pria paruh baya yang mulai terlihat sempoyongan karena beberapa kali mendapat kan bogem mentah dari Abang sepupunya itu.


"bang". pekiknya saat melihat Justin mulai menggila memukul pria yang berusaha melawan tersebut.


sedangkan Justin semakin tak perduli pada laki laki yang tak memiliki hati nurani sama sekali. hatinya semakin sakit saat teringat bagaimana mantan istrinya itu di hina di caci maki oleh pria ini belum lagi rambut lembut nya Midea di Jambak oleh pria ini.


pukulan demi pukulan terus mendarat di wajah dan rahang pria itu. meskipun sesekali Justin juga merasakan bogem mentah dari pria paru baya ini.


"bang Justin". Satria memanggil Abang nya lebih keras.


melihat abangnya semakin tak perduli ia segera mendekati dan mencegah Abangnya agar segera berhenti dari tindakan ekstrim nya terhadap pria yang mulai tak berdaya itu.


"bang cukup bang. nanti ni orang bisa mati. kita yang repot nantinya". ucap Satria lantang sembari mencegah lengan abangnya agar jangan bertindak lebih jauh lagi.


"biarin. lebih bagus lagi dia mati" jawab Justin kesal saat lengannya di tarik oleh Satria seketika, karena ia masih mau menghajar pria itu.


"Jasmine bang. Midea. Midea bang. pikirkan De Jasmine bang. Dia butuh Abang sekarang. cuma Abang. please bang". ucap Satria dengan nada memelas seraya mengguncang bahu abangnya.


seketika itu juga Justin tersadar jika Midea lebih membutuhkan bantuan saat ini di bandingkan ia harus menuruti amarah nya membalas apa yang di lakukan pria ini terhadap mantan istrinya itu.


ia pun segera bergegas menyusul Midea yang di kabarkan Satria melalui papanya ada di kamarnya saat ini. sesampainya di kamar ia langsung menerobos masuk ke kamarnya dan melihat para orang tua termasuk papa dan mamanya.


"Justin?!".pekik sang mama saat melihat anak nya itu.


Justin berusaha tersenyum meskipun merasa kan perih di pipinya.


"kamu kenapa nak?!"tanya Mona khawatir saat melihat lebam biru di pipi sang putra.


"aku ga apa apa ma?". sahut Justin.


"iya tapi ini pipi kenapa bisa begini. hah?. k..kamu berantem?".tanya Mona khawatir.


"udah ma. aku ga apa apa?.sahut Justin yang berusaha menenangkan sang mama.


"mana Midea ma?".tanya Justin seraya menelisik ke seluruh ruangan mewah itu lalu netranya fokus ke satu pintu


"itu di kamar mandi". sahut Mona seraya menunjuk ke arah kamar mandi di mana suara gemericik air shower terdengar di tambah erangan dan jeritan dari suaranya Midea yang menahan hasrat yang Mona tau semakin kuat.


"De Jasmine nak". ucap mamanya khawatir seolah memberitahukan tentang kondisinya Midea saat ini.


sementara dari dalam kamar mandi masih terdengar suara erangan dan jeritan frustasi dari suaranya Dea yang semakin keras.


"iya ma. aku tau". sahut Justin seraya membuka kancing tuxedonya.


"pakai pengaman nak".gumam Mona seraya mengajak yang lainnya keluar dari kamar.


Alma yang masih menangis terisak Isak karena memikirkan keadaan nya Midea seketika fikirannya terfokus mendengar ucapan nya Mona barusan.


ia mengerti jika rintihan kesakitan dan juga erangan karena hasrat yang tertahan dari putrinya itu butuh pelampiasan segera. tetapi mengingat putri nya itu seorang janda pada siapakah De Jasmine nya akan memberikan tubuhnya saat ini.


"apakah pada Justin?. mantan suaminya?.


Alma menggeleng pelan. ia tidak menyetujui hal ini. itu sama saja ia mendukung sebuah dosa meskipun saat ini dalam keadaan terpaksa.


"tunggu!".Alma membuka suaranya.


"ambo indak setuju jika anak ambo harus di zinahi".


Yok ke next chapter ya reader.


****************


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.