My D you are the first for me

My D you are the first for me
Syah



Hai readers. selamat membaca kembali ya??.


dua bulan kemudian....


Arjun datang untuk menyemangati aunty kesayangannya dalam mengikuti ajang lomba fashion show bertaraf international yang akan di selenggarakan di sebuah hotel mewah yang terletak di selatan Jakarta.


setelah berhasil lolos sebagai salah satu finalis di ajang fashion show sebelumnya, maka para finalis yang ini memiliki hak untuk maju ke taraf international di mana para dewan jurinya adalah orang orang pilihan yang berkecimpung di dunia fashion.


sembari membantu auntynya membereskan barang barang yang akan di bawanya dalam ajang tersebut. Arjun menatap bangga pada aunty nya yang tak pernah menyerah dalam memperkenalkan karyanya meskipun di tengah usianya yang tak lagi muda.


"ngeliatin apa sih anak aunty yang satu ini?". tanya Qanita saat melihat Arjun menatap diri nya sedemikian rupa.


"aku bangga sama aunty. soalnya bentar lagi aunty bakalan jadi desainer terkenal dong". ucapnya sembari tersenyum senang.


"Amiin..Jun". sahut Qanita seraya tersenyum menatap sang ponakan kesayangannya.


"oiya acaranya masih di hotel semula aunty?". Tanya Arjun.


"ga lagi Jun. Kata panitianya acaranya di pindah kan di sebuah hotel mewah yang terletak di selatan Jkt.


"oiya hotel apa tante?". Tanya Arjun penasaran


"Syah Hotel". sahut Qanita mantap.


saat itu ia mendapatkan notifikasi sebagai peserta finalis dan harap hadir tepat waktu di tempat yang sudah di tentukan oleh panitia pelaksana.


"Syah hotel??. Gumamnya pelan seraya berfikir tentang nama hotel tersebut.


"Kok mirip mirip sama nama nya Dee ya?. Apa jangan jangan itu hotel punya keluarganya Dee kali ya?". Gumam Arjun di hatinya seraya berspekulasi terhadap pemikirannya sendiri.


di kediaman Kehl Ardiansyah...


Mona menatap sendu pada foto keluarga yang di mana di dalamnya terdapat Almarhumah Namira dan juga di tambah dengan cucu barunya yang bernama Mykehl Deansyah. ia tersenyum Sedih melihat foto bocah tampan yang sekarang ini sangat sulit sekali untuk ia temui.


Arfan yang melihat raut kesedihan di wajah istrinya itu pun menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya.


"kenapa sih ma. wajahnya manyun gitu? mama kangen ya sama cucunya".terka Arfan.


"hemmm... ". Mona menghela nafasnya yang terasa berat.


"kangen sih pa. tapi tetep aja ga bisa ketemu. Apa lagi itu bocah mau ulang tahun yang ke empat pa". jawab Mona.


Arfan menarik sudut bibirnya lalu merangkul pundak sang istri lalu membelai rambut yang berwarna sama dengan anaknya itu.


"nanti papa coba minta tolong sama Satria ya supaya kita bisa bertemu dengan Dee lagi seperti waktu ulang tahunnya Keyra saat itu. Kalau bisa kita siapin acara ulang tahunnya Dee sekalian". ujar Arfan menenangkan hati istrinya itu.


"melalui si Rendy gitu?". tanya Mona memasti kan.


"emmm... iya lah. jadi sama siapa lagi?. sama si Justin?. bakalan perang dunia lagi dong?". celetuk Arfan.


"iss si papa ini. Bisa aja ngomongnya begitu. Doain anaknya yang bagus bagus kenapa sih?. Masa nyebut nyebut perang". Protes Mona tak suka pada ucapan suaminya.


"yah habisnya. mereka tiap kali jumpa adaaaa aja cek coknya. Ributnya. belum lagi kaburnya ".gerutu Arfan.


"ya juga sih pa??".habis mau gimana lagi toh awal mereka nikah juga dalam keadaan ga baik pa??. Yah jadinya gitu". Ucap Mona saat teringat kisah pernikahan Justin dan Midea.


"kira kira kalau mereka berdua kita jodohin lagi gimana?". alias di nikahin ulang. kita minta ijin dulu sama si Jason untuk melamar si De Jasmine untuk si Justin melalui orang tua angkatnya si Jasmine". Saran Arfan.


"mama ga yakin pa??". sahut Mona pesimis.


"loh kok gitu sih ma?". Tanya Arfan heran.


"hehe..iya juga sih. Ehh mau kemana ma?". Tanya Arfan saat melihat sang istri beranjak dari sisinya.


"bikin kopi. mau ga?". jawab Mona.


"hehe..ya mau lah". Jawab Arfan dengan kekehan.


***


saat kedua orang tua Justin mengutarakan niat mereka pada Justin untuk membuat acara ulang tahunnya Dean di rumah. Justin dengan ragu menolaknya, karena satu sisi ia tak yakin jika rencana kedua orang tuanya akan berhasil. Sedangkan satu sisinya ia memang ingin sekali bisa bertatap muka langsung dengan darah dagingnya yang amat ia rindu kan itu.


"memangnya kenapa sih Tin. kan namanya juga usaha. Kali aja rencananya mama sama papa bisa berhasil melalui Satria dan Rendy lagi". Protes Mona.


"bukan gitu aku ga yakin jika kita berhasil membawa Dean kembali ke rumah ini meski pun cuma sebentar".jawab Justin.


"yah kamu doain ajalah biar rencananya berhasil. Atau kamu jumpai Midea langsung lalu ngomong baik baik sama dia mengenai acara ulang tahunnya Dee". Saran Arfan.


"Takutnya itu anak kabur lagi pa... Begitu dia tau kalau si Justin menemuinya secara langsung tanpa perantara dulu".ujar Mona khawatir.


"jadi menurut mama gimana?". Tanya Arfan bingung.


"minta tolong ke siapa dulu supaya ngomong dulu sama si Mideanya sebelum mereka di pertemukan". Saran Mona


"ya udah nanti papa coba hubungi Satria agar dia mau membahas sama mahasiswanya itu tentang pertemuan bundanya Dee dengan Justin nantinya. Gimana Tin?. Kamu setuju kan dengan ide papa ini?".Tanya Arfan memastikan.


"ya udah lah terserah papa gimana baiknya aja. Justin ngikut aja". Sahut Justin seraya menghabiskan minumannya.


Lalu pria itu pamit kembali ke salah satu apartemen miliknya yang dulunya pernah di tinggali Midea. Di mana jaraknya lebih dekat ke kantornya Justin di bandingkan dari rumah keluarganya Justin.


"loh ga nginap di sini Tin?". tanya Mona heran.


"ga lah ma. Besok aku harus ngantor pagi pagi sekali". Jawab Justin.


"sesekali nginap di sini kenapa sih Tin?". pinta Mona.


"lain kali aja lah ma". Jawab Justin seraya melirik ke lantai dua di mana kamar mewah miliknya berada.


"kenapa Tin? jadi teringat sama almarhumah ya kalau kamu masuk kamar itu lagi?" terka Mona yang memperhatikan arah netra Justin.


Justin hanya bisa menanggapinya dengan senyuman lalu ia pun segera berpamitan dari hadapan kedua orang tuanya itu.


Justin menghela nafasnya sesaat untuk menetralisir suasana hatinya yang berbalut sepi, Tanpa anak tanpa istri yang menemani.


Justin menstarter mobilnya untuk kembali ke apartemennya.


sepeninggalnya Justin. wanita paruh baya itu masih menatap kecewa pada pintu rumah yang di mana baru saja di lewati oleh putra satu satunya.


"kenapa ma?". Tanya Arfan yang melihat gelagat sang istri.


"Justin belum bisa menghilangkan traumanya pa". Sahut Mona sendu.


"pelan pelan ma. Nanti dia bakalan mau kok nginap di sini lagi". Jawab Arfan.


Yok ke next chapter ya reader..


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.