
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉
"Daddy percaya kok. bunda kamu memang yang terbaik kalau menyangkut soal makanan untuk anak Daddy yang pintar". sahut Justin jujur.
"Dee makin gembul aja. pasti makannya banyak ya? "..tanya Satria kembali.
"hehehe". kekeh Dean.
"tuh kan bener". celetuk Satria.
"karena masakan bunda enak ya?". Satria memberi komentarnya.
tak lama kemudian seorang pemilik kantin membawakan menu berupa lontong sayur dan nasi soto sebagai sarapan yang sudah terlambat bagi masyarakat umumnya untuk dua pengunjung bule tampan yang pertama di kantin nya.
"iya". sahut Dean menganggukkan kepalanya.
"ya udah kamu makan dulu ya?. nanti keburu bunyi bel nya. nanti ga sempat makan lagi". titah Justin pada sang putra.
"iya Daddy". sahut Dean patuh.
lalu Dean pun memakan lahap makanan buatan sang bunda yang terasa nikmat bagi siapa saja yang melihat tampilannya. Justin dan Satria ikut memakan makanan mereka. sesekali Justin melirik sang putra yang memakan makanannya dengan lahap hingga habis tak bersisa.
Justin menarik sudut bibirnya menatap sang putra yang sangat menikmati makanannya. ia merasa lega karena melihat Dean mendapat kan gizi yang berkecukupan serta pendidikan yang layak selama tinggal di sini. dan bukan hanya itu saja ia juga merasa tenang karena melihat Dean yang ceria selama berada di sini. itu artinya Justin tak perlu merasa risau akan keadaan putranya selama jauh dari pengawasannya. di tambah lagi Dea dan Dean terlihat lebih bahagia saat ini.
beberapa menit kemudian...
makanan yang terhidang di meja kantin telah selesai mereka eksekusi. jeda untuk istirahat belajar sekaligus di sambung memakan bekal bersama pun sedang di laksanakan oleh program sekolah tersebut.
sebelumnya Justin telah meminta ijin pada gurunya untuk membawa Dean memakan bekal bersamanya khusus untuk hari ini saja di kantin sekolahnya.
saat mereka bertiga menikmati minuman segarnya bersama tiba tiba suara gerobak yang menjual es krem lewat di depan kantin sekolahnya membuat seorang Mykehl Deansyah melihat ke arah gerobak tersebut dengan waktu yang cukup lama. sehingga Justin dan Satria pun turut mengikuti arah tatapan Dean. mereka berdua tersenyum kecil saat tau apa yang ada di pikiran sang bocah.
"Dee mau es krem?". tanya Justin pada bocah yang terlihat sendu itu.
Dean menatap Justin lalu menundukkan pandangannya. karena ia sendiri masih ragu untuk menjawab iya atau tidak lantaran ia teringat akan pesan sang bunda.
"Dee". panggil Justin seraya mengintip netra sang putra yang memiliki kesamaan dengan netranya.
"ga usah lah Daddy. Dee ga makan es krim dulu". sahut Dean ragu pada hal hatinya mau.
"ahh..yang bener Dee ga mau. biasanya paling doyan. soalnya dulu kalau jalan jalan sama kak Keyra jajannya harus ke tempat es krem dulu". celetuk Satria.
"iya cih abi....tapi... ??nanti unda mayah cama Dee kalna ga patuh". sahut Dean tak bersemangat .
"ohh.. ya?? ". memang bunda bilang apa? ". tanya Justin penasaran.
"unda biyang ga boyeh makan es kem di ciang ciang boyong. pada hal Dee udah biyang sama unda kalau ciang ga ada awan yang boyong. tapi unda tetap biyang ga boleh. malah Dee di bilang nanti cakit lagi katanya. pada hal mana ada. Dee cakitkan ya cakit aja. mana ada gala gala es klem. ya kan Daddy, abi". sahut Dean polos.
mendengar jawaban lucu dan polos dari sang bocah. sontak membuat keduanya menjadi tertawa geli. Justin sendiri tau rasanya di protes oleh bocah se usia putranya ketika mereka tinggal bersama dulu. ia pun merasa keki sekaligus geli hati. akan tetapi ia juga merasa bangga karena anak se usia Dee sudah mulai berbicara secara logis.
"emang di pikir pikir ya emang bener sih. sebuah kalimat siang bolong itu apa maksud nya jika di kaji secara ilmiah. malah anak kecil menganggap siang bolong adalah awan yang bolong saat orang dewasa mengungkapkan kalimat tersebut". Justin bermonolog di dalam pikirannya.
"kok ketawa cih?". protes Dean tak suka.
"ga ada sayang. cuma lucu aja sama kamu sayang". jawab Satria sembari terkekeh karena masih tersisa rasa yang menggelitik di hati karena komentar sang bocah.
"mungkin karena cuacanya terlalu panas. makanya bunda ngelarang Dee untuk makan es krim. mungkin bunda takut Dee nantinya bisa sakit". ujar Justin mencoba memberi pengertian pada putranya itu akan maksud Midea.
"Dee udah ga sakit lagi Daddy. unda aja tu yang banyak lalang lalang cekalang. Dee cebel deh". celoteh Dean.
"cieeehh... curhat ni yeeee sama Daddy". celetuk Satria mendengar ucapan dari ponakannya yang bernada protes.
Justin tersenyum senang saat mendengar celetukan Dean yang bersifat curhat padanya.
dalam hatinya ia merasa mulai di atas angin sekarang.
"hmm.. iya ciihh... tapi.. ". Dean tak melanjut kan kata katanya.
"Daddy ijinkan hari ini. Dee boleh makan es krim saat bersama Daddy. kapan pun saat kita bertemu. tapi jika Daddy ga ada. Dee harus patuh sama bunda. mengerti?? ". ucap Justin memberi ultimatum pada putranya itu.
"mmm... ". gumam Dean seraya melirik ke arah Satria yang tersenyum dengan anggukan di kepalanya.
"iya deh. Dee mengelti". sahut Dean yang mulai menunjukkan wajah sumringah pada dua pria dewasa itu.
"nah toss dulu kita". ajak Justin seraya memberikan kelingkingnya pada sang putra.
"ini bukan toss Daddy....tapi ini plomes nama nya". protes Dean.
"hahahaha.... bang... bang... kapoklah bang". ucap Satria sembari tertawa terbahak bahak mendengar celotehan dari Dean untuk abang sepupunya itu.
sementara Justin hanya bisa menggaruk garukkan lehernya yang tak gatal sedikit pun ia merasa keki sendiri karena di protes lagi oleh kembaran kecilnya.
"jadi yang bener gimana dong sayang ?" tanya Justin.
"gini Daddy?? ". ujar Dean seraya memberikan lima jarinya pada ayah biologisnya.
"ohh.. gitu... oke deh.. kita toss dulu". ucap Justin sembari membalas tepukan lima jari imut sang putra.
"tapi Daddy mau yang begini juga". Justin ber ucap seraya menautkan kelingking besarnya dengan kelingnya Dean yang imut.
" Dee harus promise sama Daddy. makan es krim kapan pun Dee mau jika bersama dengan Daddy. tapi jika Daddy ga ada. Dee harus patuh sama bunda. promise??? ". ucap Justin mengingat kan sang putranya kembali.
"iya deh Dee plomes". jawab Dean seraya memainkan kelingking mereka.
"tapi kapan Daddy ke cini lagi? ". tanya Dean yang masih mengaitkan kelingking mereka berdua.
Justin tersenyum menatap sang putra yang menagih janjinya. sungguh ini adalah di luar expectasinya. ia pikir putranya itu akan terus berlaku cuek padanya karena kehadiran ayah yang lain dalam hidup sang putra yang di cintainya.
"insya Allah bulan depan di minggu pertama. Daddy ke sini lagi begitu pekerjaan Daddy selesai". ucap Justin yakin.
"tapi ada satu yang Daddy minta dari Dee.yaitu jangan kasih tau bunda kalau Dee ketemu Daddy di sini. dan jangan kasih tau bunda juga kalau kita buat perjanjian seperti ini. ini rahasia kita berdua. promise Dee?? ". ucap Justin memberikan ultimatumnya yang lain pada putranya itu.
"oke deh. tapi bawa ummi sama kak keyla juga ya? ". ucap Dean secara yang tiba tiba seperti tawar menawar dalam perjanjian mereka saat menyebutkan dua nama yang pernah dekat dengannya.
"hehehe... bakalan rame deh nanti meet up nya. ga bakalan jadi secret meet up lagi dong". celetuk Satria menimpali perjanjian ayah dan anak itu.
Justin dan Dean kini saling terdiam sembari sama sama menatap ke arah Satria.
Lanjut ke next chapter ya readers.
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
Ig Hazhilka
youtubenya Hazhilka279
Terima kasih.