
hai readers. Happy reading ya
satu jam kemudian..
kedua lelaki tampan kini sedang berhadapan untuk kedua kalinya..
"apa pekerjaan kamu sudah siap?". tanya Justin membuka perbincangan siang itu.
"sudah".jawab Rendy datar.
"jadi ada gerangan apa bapak menjumpai saya lagi?..apa ada hal yang penting untuk di bahas? ". tanya Rendy mencoba bersikap ramah pada Justin meskipun hatinya masih mendongkol pada pria ini.
sementara Justin tau jika Rendy merasa keberatan menjumpai dirinya.
"mengenai Dee". sahut Justin datar.
"ya. terus kenapa?". bukannya bapak masih menjumpai Dee secara diam diam selama ini tanpa di ketahui oleh bundanya. bahkan atok dan juga neneknya?". cibir Rendy.
Justin tersenyum smirk menanggapi cibiran dari Rendy.
"iya memang. awalnya semua lancar lancar saja rencana pertemuan rahasia nya kami berdua sampai akhirnya ada seseorang yang dengan sengaja mengacaukan semuanya dengan memanfaatkan kepolosannya Dee dan juga sakitnya Midea". sindir Justin pedas yang langsung di tujukan pada Rendy lewat sorotan tajam netranya.
"oh iya seperti itukah ceritanya?". cibir Rendy.
"lalu bapak datang ke sini dan menemui saya untuk apa?. mau curhat?". Rendy melanjutkan cibirannya kembali.
"hah. kamu pikir aku selemah itu yang gampang curhat dengan sembarang orang. apa lagi dengan orang seperti kamu yang memang telah terang terangan menabuh genderang perang denganku". tukas Justin lugas pada apa yang ingin di sampaikannya terhadap pria muda yang menurut Justin munafik itu.
"perang??". emangnya siapa yang mau ngajak perang pak?".tanya Rendy kaget yang tak habis pikir akan perkataannya Justin.
"hah. jangan berbelit belit Ren. kamu pikir saya tidak tau jika selama ini kamu berusaha ingin menjauhkan saya dari anak saya sendiri ". tukas Justin tegas.
Rendy terkekeh kecil seraya menggeleng kan kepalanya.
"pak Justin yang terhormat menurut orang orang, meskipun saya pribadi melihat anda tidak lah begitu. sebelumnya sudah saya kasih tau ke bapak kan?. agar jangan suka berfikiran buruk sama orang. saya rasa pak Justin orangnya cukup mengerti mengenai apa yang pernah saya sampaikan ke bapak soal Dee".ujar Rendy.
"lalu bagaimana bisa Dee berubah fikiran untuk membatalkan semua apa yang sudah kami rencanakan. kalau bukan ada orang lain yang mempengaruhinya. hah?"pada hal dia sudah begitu bahagia". ketus Justin.
"katakan padaku. apa yang kamu katakan pada anakku sehingga ia begitu takut untuk melanjutkan rencana secret meetingnya kami. kamu menakutinya dengan membawa bawa nama bundanya kan?". tuduh Justin.
"hah??! ". pekik Rendy pelan yang terhenyak kaget di tuduh seperti itu.
lalu ia tertawa sinis sembari menatap pria yang ada di hadapannya ini. sementara Justin mengepal kuat tangannya menahan kesal karena merasa di sepelekan oleh pria yang ada di hadapannya kini. lalu Rendy mencoba menetralisir emosi
"kalau saya mau dan memiliki niat seperti itu mungkin sedari dulu tidak ada yang namanya pertemuan antara bapak dan Dee. sebab sudah pasti bundanya sendiri lah yang akan turun tangan mencegah pertemuan kalian. dan sudah pasti pula Dean akan membenci anda sebagai manusia yang selama ini lah yang telah menyakiti bundanya". tukas Rendy tegas.
"saran saya pak. jangan terlalu berspekulasi dengan pemikiran bapak yang terlalu ber -prasangka buruk terhadap orang lain. nanti bapak sendiri yang akan menyesal. bukankah sudah pernah kejadian bukan?". ucap Rendy sarkas.
seketika ia teringat akan kasus hukum nya Midea yang pernah di ceritakan Sagita saat kakak letingnya itu menjadi pengacaranya Jasmine. dari Retha dan juga Gitalah ia tau jika Justin tak pernah sekali pun mencoba menolong Dea saat persidangan pertamanya.
malah pria ini mengambil kesempatan untuk merebut hak asuh Dean dari tangannya Dea dengan dalih alasan karena dia ayah kandung nya Dean.
"cih. tapi kamu ga perlu ikut campur urusan aku dengan Dee". Ketus Justin.
"saya ga pernah merasa ikut campur antara urusan bapak dengan Dee atau pun mantan istri bapak. tapi yang jelas saya akan tetap membela dan membantu teman saya jika ia dalam kesulitan. siapa pun orangnya".jawab Rendy tegas seraya menatap Justin.
nada pesan di ponselnya Rendy menghenti kan aksinya saat ini. Rendy lebih memilih melihat pesan yang berasal dari tante Alma di ponselnya dari pada harus terus melayani pria galau yang ada di hadapannya ini.
Rendy membaca sejenak pesan tersebut yang mengatakan jika Midea akan di bawa ke pskiater sekarang ini dan meminta tolong diri nya untuk menemani Dea sejenak sampai wanita itu kembali dari restoran.
"maaf pak. saya harus pergi Sekarang juga karena pak direktur memanggil saya. permisi"
pamit Rendy cuek membohongi Justin.
Rendy memang sengaja membohongi pria itu dengan tidak mengatakan tentang kondisi kesehatan Midea yang sebenarnya. ia memang ingin melindungi wanita malang itu dari remehan Justin.
apa lagi jika Justin mendengar Dea harus di terapi ke seorang psikiater karena mengingat kelakuannya Midea yang melakukan self harm. mungkin pria itu akan berspekulasi macam macam serta memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil Dean dari wanita malang itu.
(baca cerita selengkapnya di novel sebelum nya She is My Dea (mengejar istri gila ). jangan lupa tinggalkan jejak di sana ya?
"saran saya lakukan saja apa yang di minta oleh Dee. jika bapak sayang sama dia. bapak pasti akan menuruti permintaan anak bapak itu. karena bagaimana pun kebahagiaannya Midea adalah kebahagiaan bagi Dee juga. begitu pun sebaliknya. jadi biarlah mereka dengan kehidupan mereka sekarang ini". ucap nya sambil berlalu.
"oh ya??"cibir Justin.
"dengan begitu kamu bebas keluar masuk ke rumah mereka layaknya seperti seorang ayah atau suami beneran?!!. gitu kan??!". tuduh Justin seraya menatap Rendy sinis.
mendengar hal ini sontak Rendy terhenyak kaget di tuduh seperti itu. akan tetapi Rendy tak perduli dan memilih bangun dari duduk nya dan berdiri seraya berkata
"terserah!!. sukak sukak ati kau lah. capek aku berurusan sama lakik galau macem kau ini. ku jelaskan panjang lebar kau pun ga akan ngerti ngertinya". sungut Rendy sembari berlalu dari hadapan pria itu.
sementara Justin sendiri lebih memilih membuang pandangannya ke arah lain saat pria muda itu mau pergi. ia mencoba mene -laah kembali setiap pernyataan dari Rendy.
jomblo tampan itu pun segera melangkah kan kakinya keluar kantin meninggalkan Justin sendiri di sana. Justin menarik dalam nafas nya untuk menetralisir hatinya yang gamang.
Yok ke next chapter ya reader..
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.