
#Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
Alan terjaga dari tidurnya setelah alarm yang memang sengaja ia setel di jam lima pagi ini berbunyi. rasa kantuk masih menderanya lantaran ia baru bisa tertidur di jam9 dua pagi karena masih terus di sibukkan melacak cctv di dekat apartemen rahasia milik sang nyonya dan juga di sekitaran bandara.
saking penat dan sulitnya ia menemukan keberadaan sang nyonya yang seperti bunglon itu. bagaimana tidak ia bisa berfikir demikian, karena dari setiap pelariannya tak sekalipun Alan dan anak buahnya bisa menangkap sang nyonya dengan mudah.
Di saat sang nyonya mulai kabur dari tuannya selalu saja wanita itu tak bisa terdeteksi oleh cctv dan juga anak buahnya. seolah olah wanita itu berbaur dengan alam layaknya bunglon.
susah payah Alan meminta pada sahabatnya yang seorang pajar IT untuk meretas rekaman cctv bandara dan ia sendiri yang memeriksa rekaman tersebut sehingga membuat ia tertidur dengan sendirinya di atas meja kerjanya.
ia terjaga sesaat setelah tanpa sengaja menjatuhkan beberapa dokumen penting milik perusahaan KBC yang telah di amanahkan padanya selama ini. barulah ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size miliknya setelah ia menyetel alarm di jam lima pagi ini agar ia bisa mencari keberadaan sang nyonya lebih cepat lagi.
"aisshhh.... cepet banget sih waktunya". gerutunya saat mematikan alarm tersebut dan melihat waktu yang telah ia tentukan sebelumnya.
saat Alan ingin menghubungi anak buahnya ia pun membuka pesan dari bossnya yang mengatakan jika bossnya itu akan tiba di bandara di siang ini.
Alan pun segera bergegas dan berkemas diri untuk memulai tugasnya kembali di pagi yang pasti akan semakin repot nantinya.
...----------------...
Midea tiba di Bandara kota Mdn. ia segera meluncur pada sebuah Mall yang telah di buka pagi menjelang siang itu. ia memenuhi janjinya pada Dean untuk membelikannya baju baru sekaligus ia menggantikannya dengan baju yang di pakainya tadi malam.
Midea pun melakukan hal yang sama. kini ibu dan anak itu tampil elegan dan tak terlihat lusuh sama sekali. dengan menggunakan taxi Dea dan putranya meluncur menuju rumah Sagita.
"unda.. ini lumah ciapa? ". tanya Dean saat bundanya memintanya turun dari taxi.
"ini rumah teman bunda. bunda ada urusan sebentar sama teman bunda. nanti kita lanjutin lagi perjalanannya ya? ". sahut Dea yang mencoba memberi pengertian pada putranya itu.
"iya deh". sahut Dean pasrah.
Dea memasuki halaman rumah yang terlihat minimalis itu tetapi begitu manis dengan desain dan tata ruang tamannya. melihat rumah seperti ini seketika terbayang pada sebuah rumah yang pernah ia tempati paviliunnya selama setahun lebih saat Dean belum berusia genap dua tahun.
rumah tersebut milik adik sepupu dari suami nya yang selama ini ia panggil pak Satria, dosen yang membimbingnya selama ia pura pura menjadi mahasiswi yang bernama Jasminka Orchidea.
Ia baru mengetahui semua keluarga Justin saat dirinya berpura pura menjadi orang lain. semua menyukai Jasmine dan membenci dirinya bahkan Retha sendiri yang ia anggap sebagai sahabat terbaik pun mengabaikan dirinya saat ia menjadi Midea. dan tak sekali pun wanita itu mengunjungi dirinya selama di penjara.
hanya Sagita dan Arjun yang benar benar perduli padanya dan sering mengunjungi dan memberinya semangat saat ia berada di penjara.
( baca ceritanya di she is my Dea ( mengejar istri gila) ).
suasana rumah memang tampak sepi. Dea mencoba memanggil Sagita dan memencet bel rumah tersebut. tetapi tak ada tanda tanda jika Sagita akan muncul dan membuka pintu.
"apa dia berada di kantornya? ". tanya Dea di hatinya.
"unda olangnya pasti ga ada unda. olangnya kelja". ucap Dean tiba tiba.
Midea menatap sang anak yang berkata bak orang dewasa tersebut. dalam pemikirannya saat ini adalah bahwa apa yang di katakan oleh sang putra mungkin benar adanua. karena bagaimanapun tidak semua instansi terkait libur di hari sabtu. bisa jadi Sagita bekerja di hari sabtu. seperti dirinya yang pernah di kunjungi oleh Gita saat sabtu siang.
lalu Midea memilih untuk menemui Gita di kantornya. Dea menghentikan sebuah taxi setelah berjalan kaki beberapa langkah dari lorong rumah Gita. ia meminta supir taxi tersebut agar mengantarnya ke kantornya Sagita law firm.
tak butuh waktu lama taxi itu pun berhenti pada sebuah gedung pertokoan yang sebagian lantai duanya di jadikan kantor firma hukum oleh Sagita. ia melihat
annya terkantor Sagita yang berada dua blok dari cafenya Arjun rumah Sagita. ia menapaki sebuah anak tangga di samping gedung pertokoan tersebut yang menghubungkan pada lantai dua dimana kantornya Sagita berada.
sementara Dean mengikuti sang bunda kemana pun wanita cantik itu pergi. tetapi kembali Midea mendapati rasa kecewa saat melihat pintu dari kantor tersebut tutup dan tertera sebuah pengumuman akan di buka kembali pada hari senin. dan itu berarti Dea harus meninggu satu hari dua malam lagi untuk bertemu dengan Sagita.
Midea kembali turun ke bawah dan menemui seseorang yang sedang menjaga toko mebel dan furniture.
"permisi koh". ucap Dea pada seorang pria paruh baya yang seorang keturunan tionghoa.
"ya ada apa?. owe mau beli barang kita olang ya? ". ucap pria tersebut.
"bukan koh. itu kantor yang di atas. orangnya kemana ya? ". tanya Dea penasaran.
"oh si Gita?". sahut si akoh.
"lagi weekend sama anak buahnya ke gunung katanya. tapi owe ga tau ke gunung mana. mungkin daerah brastagi". sahut si akoh menerka nerka.
"ohh.. terimakasih Koh". ucap Dea lalu pamit dari situ.
"olangnya ga ada ya unda? ". tanya Dean santai.
"kita ke tempat papa aja". saran Dean pada bundanya.
"ya udah yuk". sahut Dea menyetujui saran dari putranya itu.
perjalanan ibu dan anak itu di lanjutkan ke kafenya Arjun menggunakan kendaraan roda tiga memutari dua blok dari gedung pertokoan tersebut. Dea sampai ke kafenya Arjun yang tampak lengang.
Dea melihat ke arah parkiran yang hanya terdapat beberapa motor dan tiga buah mobil standar yang biasa di gunakan anak para mahasiswa atau pun pelajar yang baru habis mengikuti kegiatan ekstrakurikulernya.
Dea mengajak Dean masuk ke dalam kafe. benar seperti dugaannya keadaan di dalam sama seperti di luar kafe. Dea menghampiri seorang kasir untuk menanyakan keberadaan tentang Arjun, sahabatnya.
"bang Arjun lagi di Brtgi kak". sahut sang kasir tersebut.
"oh ya? ". kapan perginya?". tanya Dea penasaran
"kemarin sore kak". sahut si kasir.
"kenapa bisa kebetulan gini ya? ". pikir Dea.
ia teringat jika Sagita dan anak buahnya juga tidak ada di kantornya.
"unda... Dee mau ice creamnya papa". pinta Dean seraya menunjuk ke arah sebuah ice cream kepada dua wanita pengunjung kafe.
lalu Midea memesan dua buah icecream untuk dirinya dan putranya. mereka memilih bersantai menghadap ke sebuah jendela besar di mana mereka menyaksikan manusia berlalu lalang di jalan.
"mmm... uenak... unda". celoteh Dean seraya menikmati ice creamnya.
"Dee.. suka? ". tanya Dea seraya tersenyum bahagia melihat keceriaan pada putranya.
"cuka... unda... ". sahut Dean.
"ya udah habisin". titah Dea senang.
beberapa menit kemudian....
"unda... ". panggil Dean.
"ya. kenapa nak? ". tanya Dea.
"Dee lapal". sahut Dean polos seraya memegang perutnya.
Dea tersenyum lalu bertanya sang putra tentang makanan yang ingin di makannya.
"ayam bakal. tapi papa yang macak". sahut Dean.
"tapi papa ga ada sayang. lagi pergi ke luar kota. kita pesan makanan yang di siapin sama koki yang lain aja ya". saran Dean.
"bunda aja yang macak. dulu kan bunda sering masak di sini sama papa Aljun". sahut Dean penuh harap.
lalu ia teringat pada seorang asisten koki yang sering dulunya ia jumpai saat Dea di ajak Arjun untuk masuk ke dapur kafenya.
...***************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.