My D you are the first for me

My D you are the first for me
satu harian bersama dua D



"Wellcome back my readers yang super duper caem dan cakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.semoga enjoy... 😉.


Justin keluar dari kamarnya setelah selesai berpakaian. Baju santai rumahan yang melekat di tubuhnya membuat tampilannya hampir sama seperti Dean, putranya. Justin menyusul kedua anaknya di meja makan di mana ada dua D dan Keyra yang kini sedang menantinya.


Justin tersenyum menyapa mereka di pagi ini kedua bocah tersebut membalas sapaan mereka kecuali Midea yang masih berlaku cuek padanya. Dari mereka memulai sarapan bersama hingga selesai pun Dea tetap saja bersikap acuh padanya.


Justin mencoba menarik perhatiannya Midea dengan membawa semua piring kotor ke bak cuci piring hingga tak satu pun yang bersisa di atas meja. Midea hanya melirik sekilas saja tanpa mengucakan sepatah kata pun. ia terus membereskan semua peralatan dapur yang kotor hingga tuntas.


"Dee. apa kamu masih sakit?". tanya Justin yamg mencoba menunjukkan perhatiannya kembali pada wanita itu.


Midea bergeming dengan senyum sinis di hatinya. Baginya Justin saat ini adalah seseorang yang termunafik sedunia.


"heh.basa basi banget sih. Kenapa harus di tanya jika ia bisa mengetahui segalanya dari cctv atau orang suruhannya buat mengetahui aku masih sakit atau ga?". Bathin Midea kesal.


melihat Midea bergeming membuat Justin memberanikan diri untuk menyentuh kening nya Dea tetapi dengan cepat Dea menghindar dengan menyusun piring piring dan juga gelas di rak piring yang baru saja ia cuci.


Justin mengepal erat tangannya kala men- dapatkan respons tak mengenakkan dari Dea. Jika bukan karena wanita ini mengalami demam dan sakit kepala berat semalaman bisa saja pagi tadi ia langsung mengangkat tubuh ramping Dea untuk ia bawa berendam bersamanya dalam sebuah bath up yang hangat.


Apa lagi ia teringat jika mantan istrinya itu belum mandi semenjak dari bangun tidur tadi. Karena baju rumah yang ia gunakan semalam masih melekat di tubuhnya saat ini.


Sementara Dea lebih memilih untuk segera keluar dari dapur karena ia merasa sudah mulai gerah dengan keadaan tubuhnya yang


Mulai berkeringat meskipun iklim di kota ini selalu sejuk. Mungkin karena efek obat resep dokter yang ia minum pagi tadi.


"De. Mau kemana?". Tanya Justin seraya menahan lengan Midea sehingga langkah langkah Dea terhenti karenanya.


"nyetor. kenapa?!. Mau ikut?!". Jawab Midea ketus seraya melepaskan tangannya dari Justin dan segera berlalu dari sana.


Justin pun hanya bisa menghela nafasnya memandangi punggung Midea yang kini menghilang di balik pintu.


Beberapa jam kemudian..


Hari ini keluarga kehl hanya bisa menghabis kan waktu dan weekendnya di apartemen tersebut seharian penuh. Jika pun mereka keluar hanya memenuhi kebutuhan dapur di supermarket terdekat seperti yang mereka lakukan sekarang ini.


Selama proses memilih bahan makanan Justin dengan sabar menemani wanita itu melihat dan memilih proses dari belanja tersebut. baginya ini adalah pengalamannya yang pertama menemani seorang wanita berbelanja.


Hanya saja ia merasa heran dengan troli yang sudah hampir meluap keluar karena saking banyaknya bahan makanan yang di pilihkan Midea saat ini. tak heran memang jika sedari awal masuk ke supermarket ini hingga lebih dari setengah jam mereka berdua hanya berkutat pada rak rak bahan makanan saja.


Sementara Midea sendiri masih dengan gaya cuek bebeknya terhadap pria yang menurut nya sok baik ini larut dalam rak rak yang berisi sejuta bahan makanan dari merek yang berbeda.


"ada lagi De?". Tanya Justin penasaran seraya mendorong troli belanjaan mengikuti Midea yang tengah memperhatikan expired dari sebuah botol saus cabe dan mayonaise.


Midea tak menyahut hingga akhirnya ia menaruh kedua benda tersebut ke troli yang full tersebut.


"udah". Sahut Dea pada Justin setelah di rasa cukup ia mengumpulkan bahan makanan.


Justin dan Midea menemui kasir untuk menghitung keseluruhan belanjaan mereka saat ini. Justin pun membayar belanjaan tersebut saat melihat jumlah rupiah yang tertera pada layar monitor kasir.


Setelahnya mereka menjemput kedua buah hati mereka di tempat permainan anak anak dan mengajaknya pulang setelah berburu es krim pada suatu stand es krim yang berada tak jauh dari area parkiran di super market tersebut.


beberapa jam kemudian..


Dea melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan waktu semakin larut malam. Dan ia berdecak kesal saat melihat Justin masih berada di sini malam ini. Ia pikir setelah makan malam pria itu akan langsung pulang. Apa lagi besok adalah jadwal kembali ngantor seperti biasanya.


"kamu ga pulang Tin?". Tanya Midea dengan terpaksa mengusirnya secara tak langsung.


Justin yang sedang memperhatikan acara berita di televisi tersebut membuka kelopak matanya lebar lebar. Ia berharap jika Dea akan mengijinkan lagi dirinya untuk menginap di sini malam ini.


Apa lagi saat ini ia sedang membawa Keyra bersamanya yang masih merindukan adeknya itu. tetapi nyatanya pertanyaan Dea barusan sungguh menohok dirinya. Ia pikir wanita ini bisa memiliki sedikit empati padanya setelah apa yang ia lakukan semalam untuknya.


Saat ia ingin membuka suaranya tiba tiba nada dering dari ponsel Justin berdering keras. membuat dirinya harus menunda dulu apa yang di tanyakan Dea padanya.


Lalu Ia pun menjawab telepon yang masuk dari mertuanya, yang memberikan kabar jika kedua orang tua dari almarhum istrinya itu telah sampai ke kota tujuannya dan akan berniat mengunjungi makam Naminka, ibu kandung dari Jasmine atau yang sekarang sering ia panggil dengan sebutan De itu singkatan dari Midea, wanita yang ada di hadapannya kini.


Jason menanyakan keadaan cucunya, lalu putrinya. Akhirnya pria paruh baya itu ingin berbicara pada Dea yang ada di samping Justin.


Dea menggeleng pelan dan mengucapkan sebuah pertanyaan dengan pelan seraya melirik Justin tajam.


"untuk apa?".


Sedangkan Justin memohon pada Dea untuk menerima saja ponselnya dan mentitahkan pada Dea untuk menerima telpon dari papa nya itu.


"bicara aja De. Cuma sebentar kok". Pinta Justin seraya terus menyodorkan ponselnya pada wanita keras kepala yang ada di hadapannya kini.


Dea semakin menggeleng kuat serta semakin menajamkan matanya melihat Justin. Ia begitu kesal karena di paksa terus oleh Justin. tetapi bukan Midea namanya jika ia tak berani memberontak dan menolak semua keinginan Justin yang bertolak belakang dengan hatinya itu.


Midea segera beranjak dari duduknya untuk pergi menjauh dari Justin sedangkan Justin berniat mencegah Midea pergi tetapi sayang nya ia kalah cepat dari wanita itu.


Akhirnya mau tak mau ia pun harus mencari alasan untuk memberikan penjelesan pada Jason atas penolakan Midea terhadap telpon dari ayah kandungnya itu. sedangkan Jason sendiri hanya menerima dengan pasrah dan kecewa alasan yang di buat oleh Justin barusan.


ia tau jika itu hanyalah alasan saja karena sesungguhnya putrinya itu pastilah belum mau berbicara dengannya meskipun hanya sekedar berbasa basi menanyakan kabar diri nya.


akhirnya Jason pun pasrah dan pamit pada Justin untuk mengakhiri percakapannya saat ini. Maka Justin pun menutup telponnya kala mertua nya pamit pada Justin untuk menutup percakapan itu.


Justin mengeram kesal pada Midea yang bertindak tak sopan pada ayah kandungnya sendiri. Meskipun ia tau masa lalu wanita itu yang hidup tanpa mengenal seorang sosok ayah dalam hidupnya membuatnya berlaku acuh pada Jason. Tetapi tetap saja orang tua adalah orang tua. Semarah apa pun kita padanya tetaplah harus berlaku hormat pada orang tua.


...**************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, serta komen dan juga tolong share link nya ya readers 😉


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka 279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


ig Hazhilka279


Terima kasih.