
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
"hah???? ". Andra dan Cindy terperanjat kaget bersamaan.
sedangkan Dea menepuk jidatnya mendengar keluhan Dean pada orang yang baru di kenal nya bahkan sudah baik pada mereka selama ini.
"Dee... kok ngomongnya gitu sih?". tegur Dea pada putranya.
"iya.. unda... Dee bocen.. ke mol lagi ke mol lagi. kemalen kita juga ke mol. kemalen kemalen juga ke mol waktu sama kak Keyla. ini pigi ke mooooool lagi". keluh Dean tanda protes pada orang dewasa itu.
Andra dan Cindy memutar otak bagaimana caranya agar si bocah mau ikut jalan jalan bersama dan tidak merasa bosan lagi pada akhirnya.
lalu Cindy teringat pada Didit yang memiliki perkebunan sayur dan juga buah buahan di belakang rumahnya. apa lagi ada anak perempuan Didit yang seumuran Dean. pasti lah bocah tampan itu merasa senang jika memiliki teman bermain bersama di tempat yang berbeda.
Cindy menghampiri Dean yanh masih berjongkok di bawah. Cindy pun memposisi kan dirinya sejajar dengan bocah tampan itu.
"Dee... kita berkebun aja yuk? ". ajak Cindy seraya membujuk bocah tampan itu.
Dean menatap Cindy seraya berfikir untuk mencerna sebuah kata kata baru di dengar nya kali ini.
"belkebun?? ". Dean mengulangi ucapan Cindy yang terakhir.
"iya berkebun. nanti di sana kita menyangkul, menanam, terus memetik sayur sayuran dan juga buah buahan. seru deh pokoknya. Dee mau kan? ". ujar Cindy menjelaskan pada Dean betapa menariknya berkebun itu.
"lebih celu dali pada main tobot tobotan ya? ". tanya Dean memastikan.
"iya bener. lebih seru dari pada main robot robotan dan juga nonton di tv berkebun nya". ujar Cindy menjelaskan agar si bocah lebih tertarik pada ajakannya.
sesaat Dean berfikir membayangkan sesuatu tentang yang di maksud Cindy. sementara Midea dan Andra berharap agar anak itu mau mengikuti saran dari Cindy.
"gimana? ". tanya Cindy saat melihat bocah itu masih berfikir.
"mmmm... oke deh.. Dee mau belkebun". sahut Dean seraya menganggukkan kepala nya.
"yesss....!! ". sahut ketiga orang dewasa itu seraya tersenyum sumringah.
"ayok kita kemon". ajak Cindy kembali seraya bangun dari jongkoknya dan meminta tangan Dean untuk di genggamnya.
Dean pun menyerahkan tangan mungilnya kepada Cindy. Cindy pun tersenyum dan berjalan bersama dengan bocah itu kembali ke parkiran di mana mobilnya di parkir. sedangkan Dea dan Andra mengikuti mereka di belakangnya.
sepanjang jalan setapak itu Andra semakin mengagumi Cindy yang pintar mengambil hati anak anak. buktinya dalam sekejap saja keduanya tampak akrab.
"kayaknya musti cepat cepat ikut program hamil deh biar si Cindy ada temannya kalau aku tinggalin sendirian di villa". gumam Andra di hatinya.
sedangkan Dea menatap kagum pada Cindy yang cepat akrab pada putranya itu. karena biasanya Dean memang susah mengakrab kan diri pada seseorang yang baru di kenal nya.
Cindy segera menghubungi Didit jika ia dan suaminya akan bermain di perkebunan miliknya. Didit pun menyambut senang saat mereka telah tiba di sebuah perkebunan yang di jadikan tempat tinggal dan juga sekaligus ladang pencaharian sampingannya yang lain selain ia bekerja sebagai penanggung jawab di bagian gudang farmasi pada sebuah puskesmas di kampung itu.
Cindy turun dari mobilnya dan membuka pintu belakang untuk Dean. sementara Didit terpana menatap pada wajah bocah yang berdiri di samping Cindy. dan ia lebih kaget lagi saat melihat Jasmine ada bersama mereka.
"Cin". panggil Didit pelan seraya mendekati teman dekatnya itu.
"Jasmine??? ". ia bertanya pada Cindy seolah tak percaya pada apa yang di lihatnya.
"iya. udah tau kan ceritanya. Arjun pasti udah cerita kan soal Jasmine". ujar Cindy.
"iya. memang. trus ini anaknya siapa kok ganteng kali lah". ujar Didit seraya menatap pada bocah tampan itu.
"tu... anaknya si Jasmine". sahut Cindy.
"oiya Mine. ini Didit teman kita satu unit saat kita berkuliah dulu". Cindy memperkenalkan Didit pada Midea.
Midea hanya mengangguk kan kepalanya seraya tersenyum kepada Didit. sungguh ia memang tak mengenali teman Jasmine yang satu ini. meskipun semua hal membuktikan dirinya adalah Jasmine tetapi tetap saja ia tak mengingat apapun mengenai kehidupan gadis itu.
"hai Mine. apa kabarnya?. lama ya kita ga ketemu". sapa Didit ramah.
"baik". sahut Dea seraya tersenyum simpul.
"yok masuk". ajak Didit pada semua tamunya.
"Dit. kita ke tempat biasakan". ujar Cindy yang langsung melenggang di depan rombongan bersama Dean.
"iya. kau bawalah tu anak bule ke belakang rumahku yang ada pondoknya. biar dia tau soal kebun di sini". ujar Didit.
"sebentar biar aku panggilkan. kalian duluan sajalah ke pondok itu. biar aku siapkan menu makan makan kita". sahut Didit.
Andra dan Dea mengikuti Cindy dan Dean yang berjalan di depan sebagai penunjuk jalan.
di sepanjang perjalanan jalan setapak yang menuju pondok lesehan milik Didit. Dean mulai berceloteh mengenai pemandangan yang di lihatnya hari ini.
"wiiiihhhh.... ada woltel anyak!!. unda ada woltel tu". seru Dean pada bundanya yang berjalan di belakangnya.
"iya. di sini wortelnya di tanam sayang". ujar Dea menjelaskan.
"itu sana sayulan uga unda". celoteh Dean.
"iya nak". sahut Dea.
"anyak kali unda". seru Dean.
"iya. itu untuk di jual lagi nak". jelas Dea.
akhirnya mereka pun sampai ke sebuah pondok lesehan di mana terdapat sebuah pohon di depannya. Dean langsung merebah kan tubuh gembulnya di atas dipan yang terbuat dari batang bambu yang telah di halus kan. mungkin karena rasa bosan karena terlalu lama dalam drama di tempatnya Arjun sehingga saat menemukan tempat yang nyaman seperti ini dengan suhu udara yang segar meskipun matahari sudah berada di atas kepala.
"yah langsung rebahan dianya". celetuk Andra melihat bocah yang tadinya ngambekan itu.
"hahaha... pewe an dia nya mas. enak ya nak tempatnya". ujar Cindy.
"Dee.. capek jalan jalan.. ". keluh Dean santai.
sementara Dea hanya tersenyum simpul melihat putranya yang mengambil posisi di sudut untuk mengguling gulingkan tubuhnya santai. sehingga tidak mengganggu orang lain yang juga ingin bersantai ria waktu siang ini.
beberapa menit kemudian..
Didit datang membawa anak dan istri nya serta masing masing dari membawa bakul yang berisi makanan.
"wah cepet amat Dit masaknya". ujar Cindy seraya membantu istrinya Didit mengambil bakul yang berisi nasi.
sedangkan Dea membantu putrinya Didit yang usianya hampir bersamaan dengan usia nya Keyra, putri angkatnya yang tengah membawa sebuah keranjang yang berisikan piring dan cangkir plastik.
sedangkan Didit sendiri membawa nampan yang berisikan lauk pauk yang telah di masak sebelumnya oleh istrinya Didit.
"ohh.. biasa masak banyak kalau hari minggu. keseringan datang keluarga atau teman jauh main main ke sini. atau ada yang datang beli sayur buat hajatan. kadang sayang siangnya sampe sini belum sempat makan. jadi ku pikir ku kasih ajalah mereka makan dulu biar transaksinya lancar hehehe ". ujar Didit menjelaskan dan di akhiri dengan kekehan.
"wah baik budi kali kau Dit. semoga lancar rezeki kau". ujar Andra turut serta menimpali perbincangan ringan itu.
"Aamiin bang. makasih untuk doanya. semoga abang pun sama di kasih rezeki yang luas melebihi samudra". balas Didit.
"Amiin". semua mendoakan.
"nah mari kita makan dulu. eh anak ganteng yang di sudut situ sinilah makan dulu sini sayang". ajak Didit yang melihat sang istri dan Dea yang hampir selesai menata makanan di atas dipan bambu tersebut.
"sini Dee makan dulu ya". ajak Andra pada bocah tampan yang masih bermalas malasan di sudut lesehan.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.