
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy terus 😉
"aku kangen... tante.. aku kangen rumah itu. aku pingin pulang". desisnya pelan dengan nada yang terisak.
di kamar mandi ini ia sengaja menumpahkan seluruh air matanya hingga puas. jika ia mau bisa saja ia menangis sepuasnya di dalam kamar seperti layaknya wanita atau anak gadis lainnya yang memilih kamar sebagai luapan kesedihannya.
tetapi tidak bagi Midea. karena kamar yang ia tempati dan seluruh ruangan di sini adalah ruangan yang sangat mengerikan. di mana mata pria brengsek itu ada di setiap ruangan dan bisa jadi sedang mengintainya saat ini.
Midea keluar dari kamar mandi setelah cukup puas ia menumpahkan air matanya.Midea membasuh wajahnya untuk menyamarkan sembab di kelopak matanya.
waktu menunjuk kan jam pulang sekolahnya Dean. Midea buru buru keluar dari apartemen nya untuk menjemput putranya yang sebentar lagi jam belajarnya akan segera selesai.
Dengan menggunakan angkutan umum Dea menjemput Dean di sekolahnya. setibanya di sana Dea melihat kelas Dean yang baru saja selesai melakukan sesi penutupan kelas oleh guru yang bertugas.
Dea menunggu Dean selesai bersalaman dengan gurunya lalu menghampirinya dan membawanya pulang dengan segera.
"Dee"Dea memanggil sang putra.
"unda..?? ". pekik Dean sumringah sekaligus heran karena yang menjemputnya kali ini adalah bundanya.
"iya sayang". sahut Midea seraya menangkup tubuh gembul itu ke dalam pelukannya.
lalu Dean mencercai serentetan pertanyaan kepada bundanya saat tak melihat Cindy yang biasanya datang untuk menjemputnya.
"kok unda yang jemput?. tante Cindy mana?.apa tante Cindy sakit?"
"ada di rumahnya. hari ini bunda yang jemput Dee. ga apa apa kan?". jawab Midea sembari tersenyum dan merapikan rambutnya.
"engga. Dee malah cenang kok bisa di jemput bunda meskipun ****** ******". Sahut Dean sumringah.
Midea menanggapi celetukan putranya itu dengan senyuman. lalu Dea mengajak putra nya itu berjalan kaki keluar dari halaman sekolah menuju pinggiran jalan raya.
di sepanjang perjalanan setiap langkah kaki mereka. si kritis Dean tak berhenti mencercai nya dengan berbagai pertanyaan seputar apa yang di lihatnya hingga akhirnya bocah itu baru menyadari sesuatu yang seharusnya sedari awal penjemputan dirinya ia bertanya pada bundanya.
"unda kok ga kelja?.apa unda masih sakit ya?. kalau masih sakit harusnya bunda istilahat aja". tanya Dean khawatir pada bundanya itu.
Sontak deretan pertanyaan dari putranya itu membuat dirinya tersenyum lalu menunduk kan wajahnya untuk menatap pada putranya.
"enggak..bunda ga sakit kok. bunda udah izin ga masuk kerja untuk hari ini. makanya bunda bisa jemput Dee. jadi hari ini kita berdua bisa mau ke mana aja dan mau ngapain aja. because today is our day. hehehe". sahut Dea dengan kekehan dan semakin melebarkan senyumnya.
"Ooo.. githu.. bealti kita bisa main dong untuk hali ini". ucap Dean senang.
"iya sayang. kita mau kemana hari ini?". tanya Midea yang membebaskan putranya untuk memilih apa yang ia sukai dan putranya itu inginkan untuk hari ini.
"mmm... kita belkebun aja bunda". cetus Dean mengeluarkan pendapatnya.
"hah?.berkebun?". ucap Midea mengulangi perkataan Dean.
"mmm.. iya. kita belkebun waktu kita pergi nya sama om Anda dan tante Cindy".sahut Dean dengan begitu antusias.
"tapi ini udah siang sayang. mana enak lah kita ke sana tanpa oom dan tante. oom pasti ga bisa karena lagi kerja". ucap Midea yang mencoba memberikan pengertian pada putra nya kembali.
"eeeenggg... iya juga sih. jadi gimana dong unda?. kita beldua mau ke mana? ". kini bocah itu yang balik bertanya.
"hahaha... ya udah nanti aja kita fikirkan sambil jalan pulang".kekeh Midea yang juga ikutan bingung mau ngapain untuk meng- habiskan waktu mereka hari ini.
"ayok Dee. bentar lagi angkotnya lewat".ajak Midea seraya menggenggam erat tangan sang putra menaiki sebuah angkutan umum yang mengarah ke sebuah apartemen yang mereka tinggali.
***
di apartemen
"unda".Dean memanggilnya kembali saat Midea telah selesai memandikan putranya itu.
"ya". sahut Midea.
"kita ke kafenya papa aja unda". ujar Dean memberikan saran ke bundanya.
"mmm... boleh juga. Dee kangen masakan papa ya? ".tanya Midea.
"iya. nanti kita macak di sana". sahut Dean.
"biasanya boyeh kok macak macaknya kalau papa ga ada". protes Dean saat bocah itu teringat dengan kegiatan masak memasak mereka di kafenya Arjun meskipun saat itu tak ada Arjun.
"waktu itu ada temannya papa yang jadi penanggung jawab di dapurnya. dan om Ravi itu juga kenal sama bunda katanya makanya kita di ijinin masuk ke dapur dan memasak di sana. tapi yang ini kita kan ga kenal siapa pun karena kita nya kan ga pernah ke sana lagi.
"oh iya". sahut Dean pelan dan bernada lemah seketika saat ia teringat terakhir kalinya mereka pergi ke kafenya Arjun dengan om Andra dan tante Cindy.
"kita pergi aja lagi unda. kita makan ice cream aja deh di sana. kita kenalan duyu sama koki nya. mana tau becok becoknya kalau kita ke sana kita di kasih macak sama kokinya. kan kita udah kenalan dan udah jadi langganan". ujar Dean yang memberikan idenya.
"hehehe...kamu itu ya.. paling bisa deh ngasih idenya".kekeh Dea seraya menoel hidung kecil yang berbatang tinggi itu.
" ayo dong unda..kita ke cana cekalang". bujuk
Dean pada bundanya yang masih terlihat ragu pada idenya.
"iya deh. kita ke sana sekarang". sahut Dea yang mengikuti kemauan sang putra.
"hoyeeeee. ayo unda pake baju cantik duyu. macak mau dinnnel bajunya dastel. ini aja udah ada yang copot kancingnya. nanti kalau Dee udah punya banyak duit unda jangan pake baju jeyek lagi ya". celoteh Dean yang membuat seorang Midea merasa tersanjung akan sikap bocah kecil yang terkadang bersikap dewasa dan terkadang bersikap seperti anak anak pada umumnya.
"hmmm... Iya deh. sebentar ya bunda ganti baju dulu". ujar Midea seraya berjalan ke
memasuki wardrobenya.
***
di cabang Cafe dan Restonya Arjun dua insan yang memiliki hubungan darah dan bathin itu sedang duduk bersantai menikmati ice cream handmade resep rahasia dari ciri khas kafe nya Arjun.
"hmmm....yummy ". Dean bergumam nikmat merasakan sensasi iceream handmade dari kafe cabangnya Arjun yang larut melumer di mulutnya saat ini.
"enak ya sayang?". Dea berkomentar pada tingkah si bocah tampan miliknya.
"enak unda. mantap". sahut Dean.
"Dee mau makan apa hari ini?". tanya Dea pada putranya yang masih asyik dengan ice creamnya.
"cuka ati unda. Dee makan yang unda pecen aja". ujar Dean yang kini asyik mencelupkan astor dan wafer ke icecreamnya.
bocah itu menggunakan cara lainnya dalam menikmati sensasi ice cream yang di padu dengan buah mangga yang di potong dadu di dalamnya.
sementara Dea hanya bisa tersenyum kecil melihat sang putra yang kini sudah mulai mencari ide ide baru dalam menikmati ice cream nya.
Dea menuliskan pesanan menu ke sebuah kertas. ia memesan makanan khas asia selatan itu dalam satu paket yang bisa di makan dengan nasi atau roti.
"Dhal". tulisnya di buku pesanan tersebut.
Dhal adalah kari lentil khas Srilanka. yang me- miliki tekstur lebih tipis dibandingkan kari khas India. Makanan ini juga menjadi sebuah makanan yang akan bisa di nikmati dua atau tiga kali dalam sehari. sama seperti kita makan nasi yang telah menjadi kebiasaan pokok di masyarakat kita.
sebenarnya untuk masaknya sendiri di rumah mungkin Midea bisa melakukan jika ia me -lengkapi semua Bahan-bahan yang di butuh kan dalam proses pembuatan Dhal tersebut. karena ia cukup menggunakan bahan dapur yang meliputi bawang Bombay, cabai hijau, daun pandan, fenugreek, jinten, kayu manis, dan santan.
setelahnya ia cukup memasaknya dengan menggunakan pot tanah liat tradisional untuk mendapatkan rasa lebih gurih dan lezat.
setelah selesai ia menuliskan pesanannya ia pun menyerahkan pada salah satu karyawan kafe untuk segera di persiapkan pesanannya.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empat ku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.