
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉
"apaan sih baaaang?!".tukas Satria kesal.
"jangan jadi provokator ya bang mentang mentang abang udah gagal berumah tangga dengan Midea" tukas Satria pelan.
Justin semakin menyorot tajam netranya ke Satria. sementara Satria tak perduli pada tatapan tajam abangnya yang di tujukan pada nya karena telah menyindir sang abang.
malah ia membuka tutup toples yang berisi kerupuk khas kota tersebut mengambilnya satu dan memakannya seraya menatap ke luar kantin di mana terlihat olehnya halaman sekolah yang sebagiannya di penuhi alat alat bermain untuk anak anak seusia Keyra atau pun anak anak yang masih duduk di sekolah dasar.
Satria sebenarnya masih kesal pada Justin lantaran selama berada di sini abangnya itu sudah dua kali membuatnya khawatir karena pergi dari kamar hotel secara diam diam tak pernah pamit padanya, apa lagi di tambah ponselnya tak sekalipun di angkat oleh Justin saat ia berusaha menghubunginya.
bell berbunyi sekali dari sekolah yang kantin nya Justin dan Satria tongkrongi saat ini. Justin langsung menatap ke arah luar di mana netranya mencari seseorang di sini.
ia tersenyum saat melihat sosok mungil yang di tunggunya selama ini.
"ayok ikut abang sebentar". ajak Justin pada Satria seraya menarik lengan adik sepupunya itu.
"eeh.. mau kemana bang?.tanya Satria.
"udah ngikut aja". sahut Justin.
Satria pun hanya bisa mengikuti langkah kaki abang sepupunya itu di tengah keramaian para murid tk dan paud. hingga akhirnya ia menyadari sesuatu saat ia memperhatikan seragam sekolah yang di gunakan oleh anak anak yang berhamburan keluar dari kelasnya menuju halaman sekolah dan ada juga sebagian yang berlarian ke arah taman bermain nanti.
"seragam sekolahnya kok kayak pernah ku tengok ya sebelumnya?. tapi bukan di sini. kayak ada yang pernah ku tengok siapa yang pakek lah". gumam Satria di hatinya.
"dek. nanti bantu abang ya". ujar Justin saat ia berhenti di depan sebuah kelas yang sebagian muridnya masih berada di dalam kelas karena masih sibuk mengerjakan tugas dari gurunya berupa mewarnai di atas kertas.
"tolongin apa?!". tanya Satria seraya melongok ke dalam kelas tersebut.
ia melebarkan kedua netranya seketika itu juga saat melihat ponakan yang sudah lama tak ia peluk peluk dan ia cium cium gemas itu.
"Dee?!". pekiknya girang.
dan ia pun baru menyadari jika seragam sekolah yang ia lihat tempo lalu adalah seragam sekolah yang di pakai Dean saat bocah tampan itu masih berada di lingkungan hotel dan restoran di mana Midea berada.
" jadi tujuan abang ngajak aku ke sini buat ketemuan langsung sama si bocah gemes ini bang".tukas Satria kegirangan seraya melihat ke Justin.
"ya". sahut Justin seraya menganggukkan kepalanya seraya menatap bahagia pada bocah yang beranjak dari duduknya dengan membawa selembar kertas yang telah di warnai.
"ibu.. ini udah ciap gambalnya". ujar Dean saat menyerahkan selembar kertas atas tugas dari sang guru.
"iya. sini Dee kumpulin bersama yang lain. nanti ibu yang beri nilai". titah sang guru.
"nah sekarang Dee keluar. main dulu sama teman yang lainnya. tapi ingat jangan keluar dari pekarangan sekolah ya". pesan sang guru.
"iya bu". sahut Dean patuh.
lalu bocah tampan itu pun keluar dari kelas dan langsung di sambut oleh Satria dan Justin yang telah menunggunya sedari tadi.
"Dee". panggil Satria menghampiri sang Dean sembari membuka kedua tangannya.
"abi??!!". pekik Dean girang seraya melompat ke pelukannya Satria.
"aduuuuhh... anak abi yang paling gemesin abi kangen banget sama Dee sayang. mmuach". ujar Satria sembari mencubit pelan pipinya dan menciumnya gemas.
"abi kok baru datang?. abi sibuk ya? ". tanya Dean pada Satria.
"mm.. iya nak". sahut Satria yang sedikit berdusta.
"abi kangen sama Dee. Dee kangen ga sama abi hmm? ". tanya Satria.
"iya. Dee kangen sama abi".sahut Dean jujur.
"Dee". panggil Justin.
Dean melihat ke arah Justin sekilas lalu menatap Satria kembali dan bertanya
"Abi pergi ke sini sama Daddy?". tanya Dean.
"iya nak. Daddy juga kangen berat sama kamu nak". ucap Satria seraya mengusap pelan rambut lembutnya.
"ummi mana?". kak Keyla juga? ". tanya Dean yang teringat pada Retha dan kakaknya.
"mmm.. mereka di rumah sayang. abi dan Daddy ke sini ada urusan kerjaan. jadi pergi nya pun cuma berdua aja buat jumpai kamu ke sini". sahut Satria yang terpaksa berdusta demi mengurangi rasa kekecewaan pada bocah itu.
Dean hanya bisa terdiam mendengar jawaban dari abinya. sebenarnya dua pria dewasa itu mengetahui jika bocah tampan itu sedikit banyaknya pasti lah merindukan dua orang yang saat ini ada di rumah, yang pernah menjadi bagian dari hidupnya seorang MyKehl Deansyah.
"Dee.. ". Justin memanggil putranya kembali dengan harapan putranya itu mau mendekati dirinya dan memeluknya sama seperti bocah itu memperlakukan abinya.
Dean melirik Justin sekilas lalu kembali menatap abinya. sementara Justin menelan rasa kecewanya kembali setelah di cueki untuk kedua kalinya oleh putranya sendiri.
"sana pelukin Daddynya dulu". titah Satria pada Dean yang tampak bingung saat melihat Justin kembali.
"Dee. pelukin ya Daddynya". titah Satria lembut pada ponakannya itu.
Dean mengangguk patuh lalu menghampiri Justin dengan berjalan pelan ke arah pria yang di panggil Daddy olehnya.
"Dee". panggil Justin sembari membuka kedua tangannya.
"Daddy". panggil Dean pelan seraya memberi kan senyum kecilnya lalu masuk ke pelukan Justin yang menantikannya.
sebenarnya jika ia ingin menuruti egonya. bisa saja ia menarik Dee ke pelukannya terlebih dulu dari pada Satria. hanya saja ia ingin mem beri ruang pada bocah itu untuk melepaskan rasa rindunya pada adik sepupu nya yang di panggil abi oleh putranya.
cukup lama ayah dan anak itu berpelukan. hingga akhirnya Justin melepaskan pelukan nya setelah puas mendekap erat tubuh gembul sang putra dalam pelukannya.
"Dee. anak Daddy udah mulai terlihat besar sekarang". ucapnya saat mereka saling ber -hadapan.
lalu Justin melirik ke murid yang lain yang sedang jajan di kantin dan ada juga yang memakan bekalnya.
"Dee udah jajan?". tanya Justin pada putranya itu.
Dean menggeleng pelan lalu berkata
"unda bawain Dee beka dali lumah. Dee ga boyeh makan cembalangan kata unda. nanti Dee cakit peyut kata unda"..ucap bocah itu polos.
justin tersenyum geli mendengar jawaban polos putranya. begitupun Satria yang sudah lama tak mendengar celotehan Dean secara langsung.
"sekarang ambil bekalnya. kita makan di kantin ya?. Daddy sama abi belum makan. Dee mau kan temani Daddy dan abi makan?". ucap Justin berharap.
"iya". sahut Dean.
lalu bocah itu pun kembali ke kelas untuk mengambil sebuah kotak makanan dan juga botol minumannya dari tas nya. ia keluar kembali untuk menjumpai dua orang dewasa yang masih menunggunya.
lalu ketiganya kembali ke kantin dan duduk bersama di kantin tersebut.
"Dee. mau minum apa sayang? ". tanya Justin pada putranya itu.
"Dee punya minumnya kok". sahut Dean polos seraya menunjukkan botol minumnya yang berisi air jeruk peras.
"ohh..". sahut Justin singkat tersenyum kecil.
"Dee bawa makanan apa?. pasti bunda masak enak". tanya Satria basa basi.
"mmm.. iya. Abi mau?". sahut Dean dan menawarkan makanannya pada Satria dengan penuh percaya diri.
'hehehe".kekeh Satria.
lalu tanpa di minta Dean pun membuka kotak makanannya yang berisi nasi putih mentega dengan taburan bawang goreng di atasnya yang di bentuk bulat seperti di cetak yang menggunakan mangkok kecil.
di sekitar nasi tersebut terdapat ayam yang di bakar merata di setiap bagiannya dengan sambal kecap manis yang berstektur kental. Justin dan Satria juga melihat ada lauk pauk yang lain berupa perkedel dan nugget yang terbuat dari sayuran hal tersebut dapat terlihat dari warna nugget yang berwarna kehijauan meskipun telah melewati tahap penggorengan yang memiliki kebiasaan berwarna kecoklatan pada umumnya.
"itu apa sayang? ". tanya Satria basa basi.
"ini capcay ciput. tempuya. pelkedel. naget. ayam bakal cama cambel kecap" jawab Dean dengan kesemuanya benar.
"makan sambal apa ga kepedasan sayang? ". tanya Justin khawatir.
"gak. unda buatnya ga pedes kok. nih laca kalau Daddy ga pelcaya". jawab Dean polos seraya menyodorkan kotak makanannya.
Justin tersenyum seraya menggeleng.
"Daddy percaya kok. bunda kamu memang yang terbaik kalau menyangkut soal makanan untuk anak Daddy yang pintar". sahut Justin jujur.
Lanjut ke next chapter ya readers.
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
Ig Hazhilka
youtubenya Hazhilka279
Terima kasih.