
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
suasana duka masih menyelimuti hatinya Arjun. sudah tiga hari semenjak kepergian neneknya tercintanya. Arjun memilih diam dalam melakukan kegiatan pribadi nya di rumah.
sementara Sagita yang semenjak dari kemarin mengunjungi kafenya Arjun Dan mengobrol sejanak dengan Ravi adik letingnya yang dulu sering ia jumpai saat mengikuti kegiatan di kampusnya sedang melayani tamu vvip.
Sagita menyapa adik letingnya itu yang dulu nya juga sering ia lihat bersama dengan Arjun. maka semenjak kemarin ia dan Ravi hanya bisa duduk dan mengobrol pasrah membicarakan teman mereka yang masih betah berdiam diri di rumah duka.
"Vi ". panggil Sagita saat gadis dewasa itu mengunjungi kafenya Arjun hari ini.
"eh kak Gita. mau pesan kopi lagi kak? ". tanya Ravi saat pria muda itu keluar dari dapur.
"boleh. kayak biasa ya". balas Gita seraya mengambil posisi duduk dekat jendela kaca yang mengarah ke jalan.
siang hari di jam segini adalah waktu yang senggang bagi karyawan kafe. karena kebanyakan pengunjung kafe harus terpaksa kembali ke tempat kerja mereka masing masing untuk melakukan tugas mereka kembali.
tetapi berbeda dengan Sagita saat seperti ini ia menggunakan waktunya untuk merilekskan diri sejenak dari setumpuk pekerjaan yang menunggunya di setiap harinya.
"Arjun belum balik Vi? ". tanya Sagita seraya memperhatikan di sekeliling kafe yang tampak sepi.
"belum kak. masih berduka dianya". sahut Ravi seraya membawakan dua buah cangkir
yang mana satunya berisi kopi kesukaannya.
sedangkan yang satunya lagi miliknya Sagita.
"hmmm... memangnya dia sama nenek yang ini deket banget ya Vi? ". tanya Gita yang mulai kepo.
"yah gitulah kak. soalnya sedari kecil memang deketnya sama nenek yang ini. bahkan saat si Arjunnya yang udah mulai punya hobi memasak, dianya udah keseringan suka nginap di rumah neneknya hanya cuma pingin tau cara neneknya memasak". jelas Ravi yang kini mengambil posisi duduk di hadapan kakak letingnya itu.
"ohh.. ". sahut Gita manggut manggut seraya meraih cangkir kopi untuk di dekati padanya.
"ternyata dia begitu jika ada seseorang yang ia sayangi telah pergi". gumamnya di hati.
lalu Gita mencium aroma khas dari kopi yang di padu dengan susu murni tersebut.
Ravi menanggapi dengan senyuman. beberapa menit saat keduanya saling terdiam dan mencium harum aroma kopinya. seketika ia teringat sesuatu akan kasusnya Jasmine yang sempat di tangani oleh Kakak letingnya ini.
"kak". panggil Ravi seraya melihat kakak letingnya itu sedang asyik mencium aroma kopinya.
"ya. kenapa? ". tanya Gita saat mendongak kan sedikit wajahnya menatap Ravi.
"Jasmine beberapa hari yang lalu ada di sini". ucap Ravi.
boleh aku tanya sesuatu? ". tanya Ravi.
"ya. soal apa itu? ". tanya Gita kembali.
"Jasmine". ucap Ravi.
"kenapa Vi? ". tanya Gita seraya menatap adik letingnya itu heran.
"bagaimana keadaan nya sekarang?". tanya Ravi yang ingin tau kabar Jasmine yang sebenarnya.
sebab menurut cerita dari Sagita tempo hari jika Jasmine kini berada di Aussie tinggal bersama keluarga suami. tetapi yang ia lihat tempo hari saat Jasmine berada di sini terlihat jelas di raut wajah wanita itu bahwa Jasmine terlihat gusar dan seperti punya masalah keluarga.
dugaannya semakin kuat saat suaminya yang ternyata abang sepupu dari dosennya dulu yang bernama Satria dan belakangan baru ia ketahui jika kakak letingnya ini memiliki ikatan saudara persepupuan dengan dosen nya itu.
"benar benar dunia yang kecil". pikirnya.
sementara Sagita mengernyitkan dahinya sesaat mendengar pertanyaan Ravi barusan.
"aku dengar dia baik baik saja menurut Retha sih". jawab Gita yang sebenarnya kurang yakin.
sebab yang ia tau selama ini jika Jasmine sedang terluka baik fisik dan psikisnya selama ini.
"mmm... ". gumam Ravi manggut manggut pelan.
"kenapa Vi? ". tanya Gita yang mulai curiga atas sikap dan pertanyaan Ravi.
Ravi menarik dalam nafasnya lalu dengan pelan menghembuskannya.
"saat Arjun ke Brstgi. Jasmine datang ke sini". ujar Ravi.
"oh iya? masa sih?". pekik Gita yang tak percaya pada apa yang di dengarnya barusan.
"iya kak. dia datang sama anaknya". sahut Ravi.
"berdua aja? ". tanya Sagita penasaran.
"iya. anaknya mau ketemu si Arjun. pingin makan masakannya si Arjun. tapi berhubung si Arjun ga ada di tempat yah jadinya si Jasmine yang masak sendiri buat anaknya". jelas Ravi.
"berarti mereka lama dong di sini?". lalu mereka kemana sekarang?". tanya Sagita penasaran.
sesungguhnya ia lebih merasa khawatir terhadap kliennya itu. Karena bagaimana pun jika mendengar nama Dea atau pun Jasmine ia sungguh merasa kasihan akan nasib hidup wanita itu.
"yah lumayanlah kak buat ngobrol sebagai teman yang di anggapnya baru kenal". sahut Ravi.
"terus mereka kemana?". tanya Gita kembali.
"katanya mau ke pdg". sahut Ravi.
Sagita terdiam sesaat. ia teringat saat ayah tirinya memberitahukan jika ada seorang ibu dan anak mencari dirinya pada hari sabtu lalu.
"apa jangan jangan yang di bilang papi itu adalah mereka". gumam Sagita di dalam hatinya.
"kak".panggil Ravi saat melihat kakak leting nya itu bergeming dan tampak memikirkan sesuatu.
Sagita menoleh ke arah pria muda itu.
"sewaktu aku kembali ke Mdn dan singgah ke rumah mama. Ayah tiriku ngasih tau kalau hari sabtu yang lalu ada seorang ibu dan anak mencari aku di kantor". jelas Gita.
"apa jangan jangan mereka ya Vi? ". tanya Sagita untuk memastikan instingnya melalui adik letingnya itu.
"mungkin. bisa jadi begitu sih". timpal Ravi.
"tapi ada hal yang lain lagi kak. abang abang sepupu kakak datang kesini setelah Jasmine pergi sekitar dua jam yang lalu".ujar Ravi yang tiba tiba memberikan statement yang lain tentang Dea atau Jasmine
"oh ya?? ". pekik Sagita pelan.
"ya. sepertinya suaminya itu terlihat gusar kak. suaminya Jasmine ingin buru buru mengejar mereka ke pdg saat aku kasih tau jika istri dan anaknya itu lagi on the way ke pdg. tetapi di tahan oleh pak Satria. karena menurut pak Satria jika istri dan anaknya dari abang sepupu kakak itu butuh waktu untuk menenangkan diri". jelas Ravi panjang lebar.
Gita membisu seraya mencerna kata katanya Ravi barusan.
"dan sepertinya kalau menurut instingku ini ya kak. yah itu pun kalau memang benar ya kak. kemungkinan Jasmine melarikan diri dari keluarga suaminya". ujar Ravi yang mulai memberikan spekulasinya.
Sagita menoleh ke arah Ravi kembali dengan tatapan tajam lalu bertanya
"apa kamu yakin sampe segitunya?". tanya Gita memastikan pendapat dari adik letingnya itu.
"it could be if she feels uncomfortable or even threatened" ( bisa saja kan jika ia merasa tidak nyaman atau pun merasa terancam". ucap Ravi seraya mengangkat kedua bahu nya.
Sagita kembali bergeming mencoba mencerna kembali kata kata dari seorang yang memiliki pengalaman dalam strategi perang.di mana insting dan kekuatan pikuran sangat di butuhkan untuk membaca situasi dan kondisi yang akan terjadi di medan perang.
Sejujurnya dalam hati kecilnya Sagita membenarkan kata katanya Ravi. jika Midea atau Jasmine sedang dalam situasi yang merasa tidak nyaman dalam lingkungan keluarga Ardiansyah atau seorang Justin itu sendiri.
sekarang kembali dirinya di liputi rasa gelisah karena memikirkan keadaan ibu dan anak itu.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.