My D you are the first for me

My D you are the first for me
mengikuti adik sepupu 2



Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉


Di malam hari


Beberapa menit sebelum lepas landas...


Saat Justin memasuki kabin business class di mana hanya kalangan tertentu saja yang bisa memesan tiket seperti ini. tiba tiba netra nya melihat seorang ibu muda yang usianya hampir sama dengan Midea yang sedang menyetel kursi anaknya yang seusia dengan Dean agar si anak bisa lebih nyaman dalam perjalanan.


Seketika itu juga ia teringat tentang dua D nya


"apakah posisinya sama seperti itu saat Dea kabur bersama Dee?". Gumamnya di hati saat membayangkan suasana dan kondisi di dalam pesawat tiket business class ketika mereka melarikan diri darinya dari Melbourne.


Justin di persilahkan duduk di tempat yang telah di tentukan berdasarkan nomor tiket oleh seorang pramugari saat pria itu di kira masih bingung dalam mencari nomor kursi nya.


"ya.terimakasih". Sahut Justin saat ia menem-patkan kursinya.


Lalu pria itu pun menyetel kursinya untuk di buat senyaman mungkin dalam perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam itu. di susul Satria yang juga merebahkan tubuhnya di atas kursi. Ia pun juga melihat seorang ibu muda yang seusia dengan mantan istri abang sepupunya itu.


"bang". Panggil Satria seraya melihat Justin yang tengah bersantai di atas kursinya.


"ya". Sahut Justin.


"jika abang ketemu mereka. Abang mau ngapain?". Tanya Satria yang iseng bertanya pada abangnya itu seraya netranya sesekali melirik pada ibu dan anak itu.


"paling mereka berdua aku culik dan aku sekap di dalam sebuah rumah yang besar dan di penuhi beberapa bodyguard terlatih supaya De yang gede ga bisa kabur lagi membawa Dee ku yang kecil.". Sahut Justin santai sambil memasang headset di telinga nya dan menyetel player music dengan nada santai di ponselnya.


"haha..abang bercanda kan?". Tanya Satria yang tak yakin jika Justin akan melakukan hal yang demikian.


Seketika itu juga ia menghentikan alunan musicnya. lalu ia menatap adik sepupunya itu dengan sorot netra yang tajam.


"aku serius!". Jawabnya datar.


lalu ia memalingkan wajahnya menghadap ke depan dan kembali menikmati alunan musik nya kembali.


Deg.


Jantung Satria berdetak keras seiring darah nya berdesir hebat saat melihat raut wajah abangnya. Ia terpekur menatap wajah dingin abangnya yang sekarang bersikap santai seolah olah abang sepupunya itu memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengeksekusi Dea dan Dean.


"benarkah abangnya bakalan melakukan hal nekat seperti yang ia katakan barusan?". Satria bertanya di dalam hatinya.


Akan tetapi ia tidak berani menanyakan hal yang sama lagi pada abangnya yang kini larut dalam lantunan musiknya seraya memejam kan kedua matanya. Ia pun lebih memilih merilekskan tubuhnya di atas kursi dan juga ikut menikmati musiknya sendiri dalam ponselnya


...---------------...


Sore di sumatera barat


Arjun dan Sagita bersiap untuk turun dari pesawat. saat mereka berdua telah keluar dari badan pesawat. Tiba tiba Arjun sedikit membungkukkan tubuhnya ke hadapan Gita.


"welcome to ranah minang Sagita". Ucapan yang sama saat Retha tiba di sini untuk ia pertemukan dengan Midea saat itu.


Hanya saja sambutan untuk Gita memang lebih spesial untuk gadis dewasa yang sedang tersenyum geli itu seraya melihat tingkah pria jomblo tampan itu.


"hehe terimakasih uda. Ambo tersanjung akan sambutan ini". Ujar Sagita yang meniru kan ucapan orang minang.


"lets go my girl. "I will be your tour guide from now on". ( ayo gadisku. Mulai sekarang aku yang akan jadi pemandu wisatamu )". Ucap Arjun.


"thank you mr. Arjun Sajjad". Ucap Sagita seraya melebarkan senyumnya.


"you are welcome girl" ( sama sama gadis ). Sahut Arjun santai saat mempersilahkan Sagita masuk duluan ke sebuah taxi yang telah menunggu mereka atas pesanan qanita.


"hallo my sweetu". Sapa qanita seperti biasa nya saat keponakan kesayangannya itu datang berkunjung ke rumahnya.


"Aunty....". Sambut Arjun manja seraya mendekat dan langsung memeluk tubuh yang berisi itu.


sementara Sagita hanya tersenyum kikuk melihat bibi dan keponakannya saling ber-pelukan manja di depan matanya.


"Sagita. Kenapa berdiri di situ?. Sini dongAyo masuk cantik. ". titah Qanita mengajak Sagita saat ia melihat gadis cantik itu yang masih berdiri di sudut teras.


"ehh..iya..tante. ". Sahut Gita kikuk seraya menganggukkan kepalanya.


Jujur ia sendiri masih merasa canggung jika di hadapkan pada salah satu anggota keluarganya Arjun Meskipun tante qanita ada lah seseorang yang welcome pada siapa saja dan dirinya juga pernah ketemu dan berbicara sebelumnya pada wanita cantik itu. Akan tetapi tetap saja ia merasa canggung, apa lagi sekarang ini saat dirinya di minta untuk menginap di sini saja selama liburannya di kota ini.


qanita menyambut Sagita dengan memeluk nya erat sama seperti yang ia lakukan pada teman teman perempuannya Arjun yang lain saat mereka berkunjung ke rumahnya. hanya saja kali ini ia merasakan perbedaan saat melihat dua insan ini. di antara mereka berdua seperti ada sesuatu yang lain yang ia rasakan terhadap Arjun dan Sagita.


Qanita tersenyum dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk lalu mengantarnya ke kamar tamu yang selalu qanita siapkan jika ada kerabat atau tamu jauh datang berkunjung ke rumahnya.


Beberapa jam kemudian...


sebuah taxi memasuki pelataran salah satu hotel termewah di kota itu. Dua pria tampan segera turun dari sana setelah membayar taxi nya. Dua bersaudara sepupuan itu pun masuk ke dalam hotel dan melapor ke resepsionis atas pesanan kamar melalui salah satu aplikasi ponselnya.


Justin memperhatikan kamar yang di pesan oleh Satria saat masih menunggu masa boarding di bandara Mdn. kamar yang di tata rapi nan elegant yang di sebut ruangan suite connecting room itu Memang sudah di kategorikan sangatlah mewah untuk sebuah hotel yang terletak di ibu kota daerah yang fasilitas hotel berbintang limanya masih kurang.


"aku mandi dulu bang". Pamit Satria pada abang sepupunya itu.


"ya. habis mandi kamu tolong cari mobil yang bisa di rental selama kita di sini ya?". titah Justin.


"oke bang". Sahut Satria.


'tapi untuk malam ini juga". Titahnya.


"hah?". Kita mau kemana bang?". Bukannya untuk besok aja bang?. Memangnya abang ga cape?. Mending istirahat dulu bang". Tanya Satria heran karena ia melihat jam di dinding kamar jika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat. itu di karenakan pesawat yang mereka tumpangi sebelumnya telah mengalami keterlambatan jadwal dari yang telah di tentukan oleh pihak bandara. Seharus nya mereka tiba di kota ini sekitar satu setengah jam yang lalu.


"ga. Sekarang. Abang butuh mobil sekarang". Ujar Justin datar.


"apa abang laper?". Kita bisa jalan kaki dari sini buat nongkrong di pinggiran jalan kalau mau sekedar nyicipin kopi atau makan berat yang lainnya". Ujar Satria.


Justin bergeming memilih tak menjawab. Sebenarnya ada satu tempat yang ingin ia ingin mencari tau alamat rumah tantenya Arjun. Ia yakin jika wanita itu yang telah membantu Dea selama ini. Hanya saja ia masih ragu.


"bentarlah bang. Aku mandi dulu ya. Nanti aku ajak abang ke tempat yang di rekomendasi kan si Retha waktu dia pernah nginap di sini tiga tahun yang lalu". tukas Satria lugas seraya melangkah masuk ke kamar mandi.


.Lanjut ke next chapter ya readers


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka 279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


ig Hazhilka279


Terima kasih.