My D you are the first for me

My D you are the first for me
Menyalahi kesepakatan 2



Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.


fajar menyingsing. lantunan adzan subuh terdengar di telinga Midea yang Baru saja terjaga karena sulitnya ia mendapatkan kualitas tidur yang baik malam ini. entah karena ia merasa gelisah atau karena merasa tak sabaran ingin segera pergi dari sini dan memulai kehidupan yang baru berada dekat dengan orang orang yang menghargainya saat itu.


ia segera bangun untuk menuntaskan salah satu fardhunya di awal pagi ini. setelahnya ia bersiap menyiapkan sarapannya dan juga bekal selama dalam perjalanannya. ia segera mandi setelah membereskan semuanya lalu membangunkan Dean yang sudah mulai menggeliat bangun.


"unda.. ". sapanya di pagi hari saat melihat wajah Midea yang tersenyum padanya.


"good morning my Dee.. come on my son you can wake up now". (selamat pagi sayang.. ayo anak bunda udah bisa bangun sekarang)". ucap Dea pada putranya.


"kita pelgi ke lumah nenek sekalang unda. ?".


pertanyaan pertama dari Dean di pagi hari ini membuat Dea tersenyum mengangguk.


"iya. makanya buruan mandinya biar ga kelamaan di tungguin supir". jawab Midea memberikan semangat untuk sang putra agar terpacu untuk bergegas ke kamar mandi.


"oke unda.. ". sahut Dean bersemangat.


akhirnya bocah itu melesat ke kamar mandi menggunakan shower hangat di pagi yang selalu membuat kulit jari mengkerut jika menggunakan air dingin yang seperti es yang mencair. sementara menunggu bocah itu mandi Midea meletakkan satu set pakaian Dean di atas ranjang agar nanti nya putranya itu mudah memakai sendiri baju nya.


beberapa jam kemudian..


ibu setelah baru saja menghabiskan sarapan nya. Dea dan Dean keduanya berada di ruang tv sedang menunggu supir taxi travel yang menjemput mereka. sementara Dea sendiri tengah mengetikkan sesuatu pesan yang akan ia kirimkan pada Justin sebagai bentuk protes dan marahnya pada lelaki itu.


suara dering ponselnya Dea mengharuskan ia menghentikan ketikannya an mengangkat telpon dari sebuah nomor salah satu supir taxi travel tersebut.


"hallo bu. saya sudah di parkiran sekarang. ibu di mana? ". tanya sang supir saat Dea mengangkat telponnya.


"tunggu sebentar. saya akan segera turun".jawab Dea seraya menutup telponnya.


lalu ia dengan segera mengajak Dean pergi seraya menggeret dua koper besar miliknya keluar dari apartemennya Andra. sebelum pergi ia memastikan kembali barang barang miliknya jangan sampai ada yang tertinggal. karena sebelum keberangkatannya ia telah memberikan keycard apartemen tersebut pada Cindy agar nantinya saat ia pergi dirinya tak perlu repot repot lagi mengantarkannya pada Cindy.


lift bergerak turun menuju parkiran. setelah pintu lift terbuka barulah Dea di sambut oleh sang kernet. mereka di persilahkan masuk ke mobil travel tersebut. setelah penumpang terisi full semua akhirnya taxi travel tersebut bergegas meninggalkan kota dingin tersebut menuju propinsi lain.


selama dalam perjalanan Dea meneruskan kembali ketikannya yang sempat tertunda. ia melihat Justin yang sedang online dalam chatingan. mungkin pria itu memang sedang menunggu pesan selanjutnya dari dirinya yang saat ini tengah mengetik kata kata yang mewakili rasa Kecewa dan marahnya pada pria itu.


"TERUSLAH BERBUAT CURANG JUSTIN. JIKA KAU BISA MENYALAHI KESEPAKATAN YANG PERNAH KITA BUAT. MAKA AKU PUN AKAN MELAKUKAN YANG SAMA!!!".


kata kata itulah yang ia rasa pantas untuk di kirim ke Justin saat ini. lalu ia mengirimkan video rekaman dirinya semalam kepada pria brengsek itu. setelahnya ia memblokir semua nomor Justin dari dirinya agar pria itu tak bisa menghubunginya kembali. Midea memang berniat memutuskan segala sesuatunya yang berhubungan dengan Justin.


"finally is done ( akhirnya selesai) ". gumam nya di hati. saat ia telah memblokir nomor pria yang tak pernah menghargainya sama sekali.


tanpa Midea tau bahwa Justin saat ini sedang mengendarai mobilnya dalam keadaan cemas memikirkan keadaan Dea dan Dean pasca ia menerima pesan dari Dea yang membuatnya semakin gelisah.


apa lagi semua aset kamera pengintai di apartemennya Andra tak bisa di gunakan lagi. otomatis Justin tak bisa melihat apa pun di dalam apartemen tersebut


"akh sial". umpat Justin saat ia gagal mengetahui jejak Midea saat ini.


Justin mencari tau ke semua tempat yang pernah di kunjungi oleh Dea termasuk kafe nya Arjun tetapi semuanya menunjukkan hasil nol besar. tak ada tanda tanda keberadaan Dea hingga akhirnya ia menemui Cindy yang juga memberikan jawaban yang sama


"apa benar dia akan memiliki job di luar kota? ". fikir Justin saat teringat kata katanya Cindy.


"jika memang benar. job apa? ". bathin Justin seraya menyetirkan mobilnya yang tak tau kemana tujuannya lagi.


Justin memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan untuk menetralisir hati dan fikirannya yang semrawut. ia mencoba menghubungi Midea kembali tetapi tetap saja nomornya tak bisa di hubungi. dua D itu seperti menghilang di telan bumi kembali dan akan muncul kembali di saat ia sedang tidak sibuk mencari cari layaknya orang gila seperti ini.


"puff". Justin menghela nafasnya sejenak untuk menenangkan hatinya yang di landa segala resah dan gelisah.


"akh..sial dia memang sengaja menghilang lagi". umpatnya kesal seraya memukul stir.


"maunya dia apa sih?". gumam Justin yang semakin kesal.


Justin melihat ke layar ponselnya di mana Indra menelponnya kini. dengan rasa malas ia menerimanya.


"ya Ndra". sapa Justin lemah.


"di mana lu Tin? ". tanya Indra khawatir.


"di jalan". sahut Justin datar.


"Midea gimana? ". tanya Indra penasaran.


"dia menghilang lagi". sahut Justin datar.


"sabar Tin. kita coba bantu cari info dari sini ya?. lu pulang dulu ya sekarang. jangan memaksakan diri Tin. ingat lu masih punya Keyra yang sekarang menunggumu di rumah". Indra menasehati temannya itu.


"gue kesel Ndra. dia selalu saja begini setiap kali ada masalah sama gue". keluh Justin.


"ya udah biarin aja dulu dianya Tin. kalian itu sebenarnya butuh waktu untuk Intropeksi diri masing masing". ujar Indra yang coba menenangkan sahabatnya lagi.


Justin hanya bisa bergeming saat mendengar nasehat Indra mengenai permasalahan dalam hidupnya. hingga akhirnya ia menyudahi per-cakapan ponsel tersebut dan mengikuti saran Indra untuk kembali ke Mdn. Justin menyetir seraya memikirkan sikap Midea yang marah padanya hanya karena dirinya memasang cctv rahasia pada setiap ruangan di apartemennya Andra. Midea langsung saja menghakimi dirinya menyalahi kesepakatan yang mereka buat sebelum hasil keputusan sidang perceraiannya di umumkan.


"kamu salah paham De. aku melakukannya demi kebaikan kalian juga. kalian berdua tinggal di apartemen tanpa ada pengawasan siapa pun. tanpa ada seorang laki laki dewasa yang menjaga kalian. makanya aku diam diam menempatkan cctv itu di sana De. dan juga orang orang suruhanku untuk mengawasi kalian saja bukan untuk memata matai secara mendetail urusan pribadimu De". gumam Justin di hatinya.


"please Dea.. jangan bersikap begini lagi De. kamu udah janjikan sama aku ga akan kabur kabur lagi". keluh Justin di hatinya.


sesampainya di kota Mdn. Justin kembali di cecar pertanyaan oleh Indra mengenai suasana bathinnya. Indra yang tau akan kisah rumah tangga Justin yang kandas di tengah jalan yang bercadas membuat segala waktu, tenaga dan pikiran sahabatnya itu jadi habis terkuras yang belum jadi ampas di pasar amplas.


"oalah Justin Justin masalah lu ga habis habis kalau udah menyangkut sama istri pertaama lu Tin". gumam Indra di hatinya seraya menggeleng gelengkan kepalanya.


"gue boleh saranin ga buat lu. itu pun kalau lu mau terima sih". ujar Indra yang tiba tiba mem berikan saran.


"apaan?". tanya Justin seraya mengerutkan keningnya.


"berhenti mengejar ngejar dua D lu mulai dari sekarang!".


...**************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka 279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


ig Hazhilka279


.


Terima kasih.