My D you are the first for me

My D you are the first for me
logic



Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.


beberapa menit lalu..


saat sedang asyik bermain dengan anak anak Midea merasakan sesak di ujung kandung kemihnya.


"Dee, kakak. bunda mau ke toilet dulu ya". pamit Dea pada kedua bocah lucu itu.


"tapi nanti main sama kita lagi kan? ".pinta Keyra.


"iya kak. begitu selesai bunda balik sini lagi kok. kakak jagain adek ya. terus adek nurut sama kakak. okey? ". ucap Dea pada kedua nya.


"oke bunda". sahut keduanya serentak.


maka Midea pun segera berlalu dari kedua bocah itu dan berjalan menuju kamar mandi yang terdekat dari ruangan tersebut. setelah menuntaskan hajatnya ia berniat kembali ke ruangan tadi. dalam perjalanan menuju ruangan bermain Dea tercetus ide sesuatu.


"mmm.... sebaiknya aku bawakan sesuatu yang hangat untuk anak anak itu. mungkin roti panggang cocok kali ya sama coklat panas. kan buatnya ga lama". "fikirnya tiba tiba.


Midea tersenyum kecil lalu berjalan menuju dapur untuk melakukan misinya yaitu membuat cemilan simple dan sederhana untuk anak anak.


saat ia melewati ruangan yang terdapat perapian di mana biasanya seluruh anggota keluarga berkumpul, samar Dea mendengar suara dua orang membicarakan tentang dirinya.


Midea mengintip sekilas dan terlihatlah Justin dan mamanya yang sedang menghadap perapian untuk mendapatkan kehangatan meskipun rumah tersebut memiliki alat pemanas ruangan. hanya saja terpasang khusus di ruangan kerja, kamar dan ruang makan saja.


Midea mematung seraya mencuri dengar pembicaraan ibu dan anak tersebut yang ke hampir keseluruhan menceritakan tentang dirunya. membandingkan dirinya dan Namira terlebih Jasmine.


meskipun pengadilan telah menetapkan dan semuanya membuktikan bahwa dirinya ada lah Jasminka Orchidea yang asli tetapi tetap saja pembicaraan mereka melukai perasaan hati nya. karena hingga kini di dalam diri seorang Midea Hasxander masih tetap tidak percaya dan merasa bahwa dirinya adalah Jasminka Orchidea yang telah menghilang beberapa tahun silam dalam sebuah insiden kecelakaan pesawat.


selama ia belum bisa membuktikan sendiri atau ia menemukan memorinya yang hilang atau ingatannya kembali. ia akan tetap merasa bahwa dirinya adalah Midea. ia sudah tak perduli lagi akan nama besar dari keluarga Ardiansyah atau pun keluarga Archidean yang mengaku sebagai keluarga intinya.


Midea tetaplah Midea dengan segala cerita duka tanpa ada yang tau bagaimana hatinya merana hingga kebahagiaan pun ia dapatkan saat Dean, putranya lahir ke dunia.


Dalam diam ia mengepalkan kuat telapak tangannya untuk menahan gejolak amarah, benci, kecewa dan sakit hati. nyatanya tetap yang berarti di mata mereka adalah Namira dan Jasminka bukan Midea.


"cukup Midea. cukup kamu mendengarkan sesuatu yang menyakitkan dari mulut mereka. saatnya kau bertindak dengan caramu. ingat Midea tujuan utamamu datang kesini untuk apa??!. untuk Dee kan??!. bawa dia pergi hiduplah hanya berdua dengannya saja!! ". otaknya mulai bersiteru memberikan perintah.


Midea tak ingin lagi mendengar pembicaraan ibu dan anak itu lebih lama lagi. percuma saja ia terus mendengar hingga akhir toh akhirnya kalimat demi kalimat yang mereka lontarkan semakin memperburuk suasana hatinya yang baru saja ceria karena anak anak.


Midea berlalu dari situ dan tetap melanjutkan misinya untuk membuatkan cemilan bagi anak anaknya di dapur.


sementara Mona dan Justin masih saling bercerita tentang Jasmine yang terkadang mereka menyebutkan nama Midea.


"bukan karena mama kasihan. tetapi dari yang mama perhatikan dari raut wajah mamanya pastilah mama Naminka itu orang baik baik dan ternyata benar. banyak orang yang ber kunjung ke rumah sakit yang perduli dan ingin mengetahui keadaan Jasmine. karena ibu dan anak itu memang baik sama tetangga nya". jelas Mona yang teringat pada perkataan para tetangganya Naminka yang sedang berkunjung melihat keadaan Jasmine kala itu.


"karena itu mama berharap kamu sama Dea eh maksud mama Jasmine harus baik baik dalam menjalani rumah tangga kalian ya?". ucap Mona berharap pada putranya.


"iya ma. aku memang udah niatnya gitu kok". sahut Justin.


"syukurlah kalau begitu. sekarang kamu udah puaskan yang mama ceritain tadi". ucap sang mama seraya tersenyum.


"udah ma. thank you. kalau gitu aku mau lihat anak anak dulu ya? ". pamit Justin pada mamanya itu.


"iya". sahut si mama yang kini kembali fokus pada ponselnya.


Justin pun kembali ke ruangan bermain di mana ada anak anak nya sedang bermain dengan ceria.


"hey my girl. hey my boy what are you doing hah? ". sapa Justin sumringah.


"Daddy". sahut Keyra senang seraya memeluk sang ayah.


sementara Dean bersikap masa bodo akan kehadiran ayah biologisnya itu. ia masih asyik bermain dengan mainannya. menyusun sebuah miniatur kota setelah merasa bosan dengan robot robotnya.


"bunda tadi katanya ke toilet". sahut Keyra.


"ohh ya. tadi bunda kesini? udah lama? ".pekik Justin pelan.


"mmm.. udah kayaknya". sahut Keyra seraya berfikir.


"ohh... ini anak Daddy lagi main apa? ". tanya Justin basa basi pada Dean yang sedari tak perduli akan kedatanganya.


"angun kota". sahut Dean cuek.


Justin tersenyum melihat bocah berusia tiga tahun itu.


"Daddy bantu boleh? ". tanya Justin basa basi.


"ndak boyeh. sama kakak aja". tolak Dean.


"kok ga boleh sayang? ". tanya Justin kecewa.


"tangan Daddy becal nanti gedungnya luntuh kena tangan Daddy". protes Dean.


mendengar perkataan Dean sontak membuat Justin terhenyak akan jawaban kritis dari putranya itu.


"ohh.. iya... iya... Daddy ngerti. Daddy lihatin aja ya kalian main". ucap Justin seraya tersenyum heran pada bocah tampan tersebut.


"he is so logic". gumam Justin di hatinya seraya melihat tangannya yang kekar.


Justin membenarkan nalar dari seorang bocah yang berusia tiga tahun yang tak lain adalah putra kandungnya sendiri yang bernama Mykehl Deansyah. jika tangan besar dan kekar miliknya menyenggol gedung gedung yang telah di susun oleh putranya itu pastilah akan runtuh.


Dan pastinya anak itu akan mengulang dari awal untuk menyusun gedung gedung tersebut.


"kamu memang cerdas sayang. Daddy bangga sama kamu. karena anak seusia kamu sudah berfikir logis". ucapnya dihati seraya memandang wajah tampan itu.


akhirnya Justin memilih duduk manis di lantai yang terbuat dari kayu yang di haluskan tersebut menemani buah hatinya yang sesekali tersenyum ceria jika sudah berhasil membangun sebagian miniatur kota dan juga sesekali timbul tampang seriusnya saat ia mulai berfikir serius untuk membangun sebagian kota lainnya.


tentu saja hal tersebut tak lupa ia abadikan dalam ponselnya. dan tetap terus merekam kegiatan buah hatinya hingga selesai.


next chapter


Midea berencana pergi setelah mendengar semua curhatan keluarga tentang dirinya...


...****************...


Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉


Dan jangan lupa follow akun ku di


Noveltoon Hazhilka 279


facebook Hazhilka


#Hazhilka


ig Hazhilka279


.


Terima kasih.