
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
"ihhh.. biasanya juga mau nungguin bunda". ujar Midea bersikap manja pada bocah itu.
"males ahh.. oyang unda ga kacih makan es kem tadi. jadinya Dee males nunggu lagi". protes Dean seraya mengerucutkan bibirnya.
" eits... Dee lupa aturannya ya? ". tanya Dea seraya memicingkan kedua netranya.
"atuyan apa.??! ". ujar Dean berkilah dengan bibirnya yang terus mengerucut sembari balas memicingkan kedua netra birunya mengikuti gayanya Dea.
"Dee..???? ". pekik Midea tak percaya pada apa yang di dengarnya.
sementara Rendy melebarkan kedua kelopak matanya seiring mulutnya yang juga terbuka lebar, ia juga terperangah kaget saat men -dengarkan jawaban dari si bocah yang sudah mulai berjalan melewati tiga tahun dan akan memasuki usia empat tahun dalam hitungan beberapa minggu lagi.
saat inilah ia melihat tingkah Dean yang benar benar meniru gaya sang bunda saat bunda nya itu lagi marah.
"aturan makan ice cream Dee". ujar Midea yang mencoba mengingatkan kembali Putra nya.
"yang mana cih?". tanya Dean yang kembali berkilah.
"ihh.. ni anak bener bener deh. ga boleh makan ice cream sebelum ganti seragam sekolahnya!. makan ice cream ga boleh di siang siang bolong begini!. dan boleh makan ice cream saat perut udah terisi makanan pokok".tukas Dea tegas.
"maca gitu aja ga boyeh. kan makannya cikit aja. mana Dee kepanasan lagi. geyah ni unda. unda peyit. Dee ga cuka ahh cama unda". protes Dean sembari membuang wajahnya lucu.
sementara dua orang dewasa yang sedang menatap bocah tiga tahun setengah ini terperangah kaget. mereka pun terkekeh geli dalam hati mereka masing masing saat melihat bocah tampan ini yang sedang mengambek.
"Dee ga boleh gitu sayang. makan ice cream di siang siang bolong gini ga baik sayang".ujar Rendy yang mencoba turut menasehati.
"dari tadi yang di omongin ciang boyong teyus. mana ada boyong ciangnya. tuh liat liat langitnya ga boyong kok unda cama ayah ni boong ajalah". protes Dean keras sembari menunjukkan jarinya pada langit yang terasa terik di jam segini.
"ya udah itu namanya siang bolong Dee". ujar Dea yang tak mau kalah pada anaknya yang sekarang mulai banyak protes dari pada patuhnya.
"mana ada. cini unda. cini. ayah juga. cini. ikut Dee. ayok cepet". ajak Dean seraya menarik dua tangan orang dewasa itu keluar dari teras dapur .
bocah itu berjalan sembari menarik lengan ayah bundanya yang ikut berjalan di belakang tubuh gembul itu menuju teras belakang hotel yang menghadap ke taman, di mana ruang terbuka hijau beserta panorama hutannya serta lengkap dengan hamparan langit yang luas di atasnya.
meskipun saat ini matahari menjulang tinggi di atas kepala manusia, akan tetapi angin yang sedang berembus sepoi sepoi dari celah celah pohon rimbun yang di tanam dengan rapi sepanjang taman itu, membuat suasana terasa nyaman dan semakin nikmat dan juga berselera setiap kali para pengunjung tengah menyantap makanan di tempat ini.
kecuali Justin yang tadinya sangat menikmati detik detik penghabisan nasi dan gulai ikan nya. seketika ia pun harus menghentikan kegiatannya dalam menyantap makanan yang telah menjadi favorit baginya sejak tiga tahun lalu, karena kini ia merasa ada sebuah tulang ikan yang menusuk tenggorokannya, lantaran tanpa di sengaja ia melihat dua orang dewasa yang sedang di tarik lengannya oleh seorang bocah yang berusia tiga tahun setengah sedang berjalan menuju taman yang ada di hadapannya.
ia memperhatikan dua dewasa itu dengan seksama dan juga bocah yang ia hafal betul wajah dan tubuhnya. awalnya ia pikir mereka adalah sebuah keluarga sungguhan yang ingin menuruti keinginan si buah hatinya yang mungkin ingin bermain di taman hotel ini. tetapi ternyata...
"My D". pekiknya pelan seraya menatap Dea dan Dean dari duduknya yang hanya berjarak beberapa belas meter saja dari taman hotel di mana Dea dan Dean berada.
Satria yang mendengar pekikan Justin pun langsung mengikuti arah pandangan Justin.
ia langsung membalikkan wajahnya kembali ke hadapan Justin dan ia pun dengan segera meminta abangnya untuk menundukkan pandangannya, karena ia takut ketauan oleh dua D dan juga Rendy yang memiliki kebiasaan ramah tamahnya akan menyapa nya duluan saat di mana pun mereka ber-jumpa.
akan tetapi Justin tak menggubris titahnya Satria. pria itu terus menatap sendu pada dua wajah yang di rindukannya. ingin rasanya ia
"bang".panggil Satria.
tetapi karena abang sepupunya itu tak juga menghiraukan apa yang ia titahkan akhirnya Satria berusaha menutupi wajah Justin dengan tubuhnya yang membelakangi mereka.
"Satria!!". tegur Justin tegas seraya menyorot tajam kedua netranya pada adik sepupunya itu.
Satria pun menggeleng pelan dengan netra nya yang memberitahukan jika abangnya itu tidak boleh bertindak gegabah yang akan menyebabkan rencana yang ia buat jadi berantakan.
"sabar bang. sabar dulu". pesan Satria pada Justin yang sedang berusaha menahan perasaan hatinya.
Satria mengerti akan emosi yang menjalar di hati abang sepupunya kini. rasa rindu, sedih, marah, bahagia dan entah apapun itu. kini tengah bercampur aduk menjadi satu. akan tetapi Satria pun harus juga bisa mengingat kan abangnya itu agar bisa mampu menahan dirinya.
sementara masih di depan taman hotel dua D itu masih bergelut saat membicarakan tentang langit yang di tunjukkan olehnya tadi.
"tuh. mana ada boyong. unda sama ayah boong aja. tuh langitnya aja masih ada walna nya ga boyong boyong kok". protes Dean pada dua orang dewasa itu.
sontak hal ini membuat Midea dan Rendy menjadi terdiam sesaat saat mendengar protesan dari Dean.
"iya.. iya.. langitnya ga bolong. maksud bunda Dee ga boleh makan ice cream kalau lagi panas terik begini. nanti bisa sakit. ngerti?! ". tukas Dea tegas.
"iss.. unda..biasanya juga boyeh. ini kenapa ga boyeh lagi". protes Dean lagi.
"lupa ya sama sakitnya di dua minggu yang lalu. gara gara apa?. hah? ". tanya Dea pada Dean sebagai pengingat pada bocah itu.
dua minggu yang lalu Dean harus bolak balik ke dokter praktek lantaran flu dan batuk yang
menyerang putranya itu tak kunjung mereda setelah Dean langsung memakan ice cream sepulang sekolah tanpa terisi makanan pokok.
Dean di nyatakan dokter mengalami radang pada tenggorokannya akibat cuaca yang cukup terik akhir akhir ini. Dokter mengatakan saat itu jika memakan es krim sebenarnya dapat meningkatkan suhu tubuh lebih dari makanan lain di cuaca panas seperti saat ini.
bukan itu saja, bahkan Dea juga harus beberapa kali menebus resep obat dan vitamin untuk putranya itu. jadi wajar setelah kejadian itu Dea membuat peraturan pada Dean tentang aturan makan ice cream.
"kan udah cembuh unda.. ". sahut Dean santai
"sakit lagi nanti mau??. kalau Dee sakit. rasain sendiri jangan panggil panggil bunda". ancam Dea pada putranya sebagai ultimatum terakhir nya.
Dean menundukkan pandangannya seraya berfikir. Dea mengkodekan pada Rendy agar menggunakan kesempatan itu untuk mem -bantu dirinya dengan membujuk si bocah agar mau mendengarkan nasehat darinya.
"oke"..sahut Rendy dengan gerakan bibirnya saja tanpa harus menimbulkan suara sedikit pun.
"Dee... ". panggil Rendy pelan sembari membungkukkan sedikit punggungnya ke hadapan sang bocah.
"dengerin bunda ya?". kalau Dee nakal. ayah pulang ni sekarang. ayah pun males main ke sini lagi kalau ketemu anak nakal yang ga patuh pada bundanya". ujar Rendy bernada ancaman.
"lagian siapa juga yang mau main sama anak anak yang nularin virus ke orang lain". lanjut nya.
"vilus itu apa??! ". tanya Dean tiba tiba.
Dea memutar malas kedua bola matanya sedankan Rendy hanya menyengir kuda.
Lanjut ke next chapter ya readers
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,pp vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
Ig Hazhilka
youtubenya Hazhilka279
Terima kasih.