
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.semoga enjoy... 😉.
Andra di sambut Cindy dengan wajah sumringah saat pria itu tiba di rumah. Andra langsung memberikan sekantong kresek yang berisi buah jeruk tersebut ke istrinya itu. lalu Cindy memperhatikan Andra yang pulang sendiri hari ini.
"kok mas pulangnya sendirian?". tanya Cindy seraya celingak celinguk ke sana sini.
"di jemput Justin". sahut Andra seraya masuk ke kamar di ikuti Cindy di belakangnya.
"hah. di jemput pak Justin?.memangnya mereka udah baikan mas?. apa mereka udah rujukan ya?".Cindy mencecar Andra dengan beberapa pertanyaan seputar temannya itu.
"aduh yang nanyak satu satu dong". protes Andra seraya membuka setelan kerjanya.
lalu ia segera masuk ke kamar mandi dan meninggalkan Cindy dengan pertanyaan nya yang belum sempat di jawab oleh suaminya itu.
Cindy melangkah ke ruang wardrobe untuk mempersiapkan baju kaos dan celana pendek selutut untuk bersantai di rumah sore ini. lalu ia keluar kamar untuk melihat keadaan Dean.
Cindy tersenyum saat melihat Dean yang sudah rapi dengan setelan sorenya.
"hai Dee...anak tante Udah rapi dan wangi ni". celetuk Cindy menghampiri Dean dan duduk di samping bocah itu yang sedang duduk santai di sebuah sofa yang berada di ruang keluarga.
"iya dong. kan bental lagi mau di jemput unda". sahut Dean yang sudah tau jadwal kepulangannya ke apartemen.
"hmm... tapi sepertinya hari ini bunda bakalan telat jemputnya deh Dee". ungkap Cindy memberitahukan pada bocah itu.
"unda telat jemputnya?. emang unda keana? ". tanya Dean.
"mmm... lagi ada tamu". sahut Cindy asal karena tak tau harus memberikan jawaban apa.
"tamunya mau unda yang macakin ya tante?". tanya Dean lagi.
"hehe.. iya.. mungkin". sahut Cindy dengan kekehan.
tak lama kemudian Andra keluar dan ikut turut menemani mereka sore itu.
sementara masih di dalam mobilnya Justin dan Midea saling diam saat mereka baru saja tiba di suatu tempat di mana Indra pernah membawa Justin ke sini.
suasana di sekitar perbukitan itu tampak lengang dan sepi. terlebih cuaca yang dingin membuat orang orang jadi malas untuk melintasi perbukitan ini.
"Midea". panggil Justin pelan.
"ya". sahut Dea.
"mengenai besok. terlepas kita di tetapkan bercerai atau tidak? apakah kamu akan tetap pada keputusan kamu. tak mau memberikan aku kesempatan kedua?". tanya Justin seraya menundukkan kepalanya.
Midea menoleh ke arah Justin lalu memaling kan wajahnya ke arah luar jendela.
"keputusan aku udah bulat Justin. aku ga akan merubah apapun yang udah aku fikirkan dan yang aku putuskan. aku memaafkanmu. tapi untuk hidup berdampingan sama kamu lagi..". Midea menghentikan kata katanya sejenak.
lalu ia menggeleng pelan seraya berkata
"maaf. aku ga bisa. dan aku memang ga mau lagi. ". sahut Midea pelan seraya menatap wajah pria yang sedang sendu itu.
"biarlah kita di jalan masing masing Justin. kebahagiaan bisa kita dapatkan dengan cara lain. ga harus dalam suatu hubungan pernikahan. dan aku minta maaf atas apa yang aku lakukan sama kamu dan Namira dulunya". ucap Midea menyesal dari hatinya.
"dan aku sudah menerima semua karmanya". ucapnya dengan tenggorokan yang tercekat seraya menundukkan wajahnya.
lalu Midea mengalihkan pandangannya ke arah kiri luar jendela di mana matahari hanya meninggalkan semburat jingganya saja. sementara Justin hanya menatap wajah sisi kanan dari wanita itu.
Justin seperti mengalami kembali situasi seperti ini saat ia akan berpisah dengan Namira dulunya karena Midea.
(baca cerita selengkapnya di novel Jasminka/orchidea episode sendu).
sekarang situasi seperti itu harus ia alami lagi saat ini. malam ini untuk kedua kalinya Justin harus rela melepaskan seorang wanita lagi karena Midea juga. meskipun wanita itu adalah Midea sendiri.
wanita yang sudah mulai ada di hatinya sejak dulu. wanita yang sebenarnya ia cari cari selama ini.
Justin menundukkan wajahnya dalam menyesali atas sikap dan perbuatannya yang dulu. mungkin jika ia hanya mengabaikan istri pertamanya itu tanpa harus mengejar ngejar Midea hanya untuk di beri hukuman di malam laknat itu. bisa jadi Dea masih mau untuk mempertimbangkan hidup berumah tangga dengannya saat ini.
suara adzan maghrib samar terdengar di telinga mereka berdua. suasana semakin sunyi di atas sini. Midea melirik Justin sekilas dan berkata.
"udah maghrib Tin. aku sudah terlambat jemput Dean. kita pulang ya? ". bujuk Dea pada Justin.
"ya kita pulang". sahut Justin.
"tapi ada satu hal yang aku minta sama kamu mulai saat ini". lanjut Justin.
Midea langsung menatap Justin dengan pertanyaan di hatinya.
"sebenci apa pun kamu ke aku dan semarah apa pun kamu ke aku. tolong jangan pernah kabur lagi. jangan pernah menghilang lagi. kalau ada sesuatu yang tidak kamu senangi tolong kasih tau aku. please... De.". ungkap Justin dalam permintaannya.
"aku juga punya permintaan". ucap Dea datar.
"ya. apa? ". tanya Justin penasaran.
"jangan pernah menyuruh orang lain atau kamu sendiri untuk mengikutiku apa lagi memata mataiku". sindir Dea pada kejadian saat di mana ia merasa di ikuti dan di awasi oleh orang orangnya Justin.
untungnya saat itu ia di lindungi oleh suatu lembaga yang menangani masalah anak dan perempuan atas bantuan Gita. sementara Justin terhenyak dan menelan kasar saliva nya saat mendengar ucapan Midea yang menohok dirinya.
ia sadar jika hal ini akan Dea ungkapkan dengan sendirinya. akan tetapi bukan pada malam dan momen ini juga ia menerima permintaan seperti itu. itu berarti ia harus membuat kesepakatan dengan Midea lagi.
sebuah perjanjian yang di buat untuk terakhir kalinya dalam hubungan pernikahan ini.
" kalau ketahuan sekali lagi sama aku. demi Allah Tin. aku ga akan segan segan melapor kan kamu ke polisi". ucap Midea datar.
"jika kamu bisa menggunakan uang dan kekuasaan kamu untuk mendzalimi aku. maka aku akan menggunakan simpati orang orang untuk mendukungku agar bisa meng hukum dan memenjarakan kamu. sehingga kamu bisa merasakan bagaimana dinginnya lantai dan dinding penjara seperti apa yang aku rasakan dulunya Justin". ucap Midea datar dengan nada mengancam.
"Midea". desis Justin seraya menatap tak percaya pada wajah imut nan manis itu tetapi bersikap sadis padanya malam ini.
"ya Justin. aku akan melakukannya. jangan pernah lupa Justin. kalau aku adalah Midea Hasxander". ucap Midea datar seraya menatap tajam ke dalam netra Justin.
"sekarang kita pulang. Dee udah nunggu lama". titah Dea seraya memalingkan wajah nya ke arah depan kaca mobil.
sementara Justin hanya terdiam menatap wajah cantik istrinya yang kini terlihat angkuh baginya. sungguh kata kata Midea barusan begitu menyayat hatinya.
"kalau kamu merasa terganggu karena aku. aku janji ga akan memunculkan diriku atau orang orang ku lagi di sekitar kamu. aku akan berusaha menghindar jika pun nantinya tanpa sengaja kita bertemu. asalkan kamu jangan lari atau sembunyi bahkan menghilang seperti yang sudah kamu lakukan selama ini. ini janji aku De". ucap Justin dari hatinya dengan tenggorokan yang tercekat.
"aku ga maksa kamu. tapi tolong penuhi saja permintaan aku yang ini. aku ga akan minta apa apa lagi De. penuhi saja perjanjian ini. anggap saja ini adalah perjanjian terakhir yang kita sepakati". Justin melanjutkan kembali kata katanya.
tanpa menunggu jawaban Midea. akhirnya ia pasrah melajukan mobilnya ke arah jalanan menuju kota dan mengemudikannya dalam keadaan hening tanpa suara dari keduanya menuju villanya Andra untuk menjemput sang buah hati yang sedari tadi menunggu untuk pulang kembali ke rumahnya.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉 please.....
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.