
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
Justin terhenyak kaget saat mendengar pertanyaan yang sama dari Indra di mana pertanyaan tersebut sama seperti yang Dea ajukan sebelumnya. ia menatap tak percaya pada pria yang sering ia curhati ini.
"Gila loe Ndra. gue ga perlu jawab untuk hal yang begituan. paham loe? ". sahutnya seraya menggeleng kan kepalanya heran.
Indra yang mendengar jawaban dari Justin yang seolah meremehkan dirinya akhir mau tak mau ia pun harus membuka suaranya kembali menanggapi jawaban Justin.
"kalau begitu berhentilah mengejarnya!!". tukas Indra tegas seraya menatap Justin.
kali ini ia akan membela Midea yang sekarang entah ada di mana. ia mulai merasa kasihan pada Dea jika mengingat bagaimana kisah hidup nya dulu. apa lagi saat wanita itu telah menjadi istri yang di abaikan oleh sahabatnya itu.
"berhentilah mengejarnya seperti orang gila". tukasnya kembali.
lalu Indra mengambil jasnya dan keluar dari ruangan itu. tetapi saat ia membuka pintu ia menyempatkan diri menoleh ke belakang di mana Justin masih berdiri termangu menatap luar jendela kantor dan berkata.
"sebaiknya lu jalani kesepakatan yang udah lu buat dengan Midea sebelumnya". pesan Indra saat ia membuka pintunya
klik. suara pintu tertutup seiring menghilang nya tubuh Indra di balik pintu ruangan kantor pribadinya Justin. sementara Justin hanya berdiri di tempatnya, terpaku diam menatap ke arah luar jendela.
sejuta pertanyaan bersarang di kepalanya kini akan keberadaan dua D nya, di tambah lagi dengan perubahan sikap indra barusan yang tiba tiba lebih berpihak pada Midea dari pada dirinya yang lebih butuh dukungannya ketimbang Midea yang sering berbuat ulah.
saat Justin berniat kembali duduk di kursi kebesarannya tiba tiba Andra datang mem-bawa sejumlah berkas yang harus di tanda tangani segera oleh Justin.
"ini tolong di tanda tangani segera ya. aku butuh hari ini juga. besok aku harus rekap datanya segera". tukas Andra lugas sembari meletakkan keseluruhan berkas tersebut ke atas meja kerjanya Justin.
"duduk lu. ngapain berdiri di situ kayak body guard gue aja lu". cibir Justin pada sahabat nya yang kini menganggap asing dirinya.
tanpa banyak bicara Andra pun menuruti titah nya Justin. ia memperhatikan wajah Justin yang di tekuk sembari terus memainkan pena nya di atas kertas kertas putih yang berharga tersebut.
Andra sendiri sebenarnya tau sedikit banyak nya permasalahan dalam rumah tangganya Justin. terlebih saat Justin sering meminta pendapat pada Indra yang terkadang Andra sendiri pun juga begitu pada Indra. hanya saja Andra bukanlah seseorang yang terlalu kepo dengan urusan hidupnya orang lain.
akan tetapi ia juga bukan seseorang yang terlalu cuek pada teman yang sedang menga- lami kesulitan seperti sohibnya yang ada di hadapannya kini. hanya saja ia menunggu seseorang yang mau berbagi cerita padanya barulah ia akan menjadi pendengar yang baik. meskipun terkadang ia tak bisa memberikan solusi.
akan tetapi ia pernah mendengar salah satu filsafat hidup
"jika tak mampu memberikan solusi pada permasalahan hidup seseorang minimal jadilah pendengar yang baik. dengan begitu orang tersebut serasa memiliki teman dan merasa berkurang beban".
beberapa menit berlalu saat Andra datang dan menunggu Justin menyelesaikan tanda tangan tersebut. hingga akhirnya Justin pun selesai membubuhkan tanda tangannya di lembaran terakhir.
"nih. selesai". ucap Justin seraya mendorong berkas tersebut ke arah Andra.
"ya. makasih". sahut Andra seraya mengambil kembali berkas tersebut.
Andra pun bangun dari duduknya dan bersiap untuk melangkah pergi dari situ. akan tetapi tiba tiba
"Andra".
suara Justin menghentikan langkahnya. ia pun segera berbalik menghadap Justin.
"ya. ada apa Tin?". tanya Andra datar.
"soal Jasmine. mungkin kamu tau dia pindah ke kota mana? ". tanya Justin penuh harap agar sahabatnya memberitahukan padanya.
Andra tersenyum kecil lalu menanggapi pertanyaan dari sahabatnya itu.
"kamu udah tau kan jawabannya dari istriku tadi siang?". tanya Andra kembali.
Flashback
saat Andra sedang melakukan perjalanan ke pabriknya KBC untuk menemui Satria. ia di kejutkan oleh panggilan telpon dari Cindy secara tiba tiba yang dari kebiasaannya mengirim pesan dulu barulah ia menelpon nya. ia pikir ada masalah pada istrinya yang sedang hamil muda itu. maka buru burulah ia menepikan mobilnya agar tak panik dalam berkendara saat ia menerima kabar buruk dari sang istri.
"hallo mas". sapa Cindy saat Andra mengangkat telponnya.
"tadi barusan aja temannya mas datang ke sini". lapor Cindy.
"hah. siapa? dan mau apa? ". tanya Andra penasaran.
"pak Justin. nanyain si Jasmine sama aku mas". sahut Cindy.
"lalu kamu jawab apa?".tanya Andra kembali.
"yah aku jawabnya tak tau karena memang aku ga tau mas". sahut Cindy.
"ya udah ga apa pa. sekarang dia di mana? ". tanya Andra.
"udah pergi mas. barusan aja. wajahnya panik gitu. kayak orang kebingungan mas". sahut Cindy jujur.
"kamu beneran ga tau si Jasmine niatnya mau kemana habis minta resign?". tanya Andra penasaran.
"ga mas. Jasmine cuma bilang kalau dianya mau mandiri. mau buka usaha sendiri gitu di luar kota. tapi dia ga nyebutin di kota mana. Jasmine bakalan ngabarin aku kalau dia udah buka usahanya sendiri". tutur Cindy Jujur.
"oh gitu. ya udah. its ok. kita tunggu kabar aja dari Jasmine. semoga aja dia berhasil seperti yang ia cita citakan. kita doakan aja". sahut Andra.
"kamu baik baik ya di rumah. jangan banyak beraktivitas dulu. mas usahain pulang malam ini. okey? ". pesan Andra saat ingin menutup telponnya.
"iya mas. mas juga hati hati menyetirnya". sahut Cindy seraya menutup telponnya.
Justin menatap gusar pada Andra. ia tau jika Andra akan menutupi keberadaan atau pun informasi apa pun tentang anak dan mantan istrinya itu.
"cih". Justin berdecih seraya menatap Andra tak percaya pada apa yang di dengarnya barusan dari sohibnya itu.
"aku tau kalau kamu bakalan nutupin semua hal tentang mantan istri aku itu. tapi kamu ingat satu hal Andra. bagaimana pun kamu menutupi semua hal tentang dia. aku akan tetap menemukannya". tukas Justin tegas.
sementara Andra memutar bolanya malas. ia pikir sohibnya itu akan menceritakan keluh kesahnya pada dirinya ternyata pria dingin yang ada di hadapannya ini tak pernah ada tanda tanda menunjukkan sikapnya akan berubah.
Andra pun memilih melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar dari ruangan tersebut tetapi dia teringat satu hal yang akan ia sampaikan pada Justin. ia memutar kembali badannya dan menatap sahabatnya yang kini sedang berperang dingin padanya lalu ber -ucap kata pada sahabatnya itu.
"Jasmine alias Midea cuma bilang ke istriku kalau dianya mau mandiri. mau buka usaha sendiri di luar kota. tapi dia ga nyebutin di kota mana. Jasmine bakalan ngabarin ke istri ku kalau dia udah buka usahanya sendiri. jadi kami berdua memutuskan menunggu kabar darinya seraya berdoa untuknya semoga apa yang di cita citakannya terwujud". tutur Andra Jujur.
"dan aku sebagai seseorang yang masih menganggap kamu teman cuma bisa mem -berikan saran ini". ujar Andra.
Andra sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Justin yang kini menatap nya dengan sorot netra yang penuh tanya akan kalimat selanjutnya.
"berhenti lah mengejarnya. beri dia ruang dan waktu untuk menenangkan gejolak bathinnya yang bergumul selama ini. karena aku yakin baik seorang Jasmine atau pun seorang Midea butuh waktu untuk mengenal dirinya yang sebenarnya". tukas Andra tegas dan lugas.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.