
Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
Tunggu!!. Netranya menelisik pada seragam dan simbol dari yang di gunakan oleh anak laki laki tersebut.
Jantungnya berdegup kencang saat mencoba mendekati anak laki laki yang coba di bangun kan oleh gadis dan seorang polisi itu. netra nya menatap lekat pada simbol dan seragam yang di gunakan oleh anak laki laki yang kini wajahnya tak berbentuk itu sama persis dengan seragam sekolah adik yang saat ini sedang ia cari cari..
"tancap gas ke rumah sakit segera Don!". Teriak polisi yang berpakaian bebas tersebut sembari menggendong tubuh anak laki laki itu pada salah satu temannya.
"kamu ikut saya ya untuk sebagai saksi ". Ucapnya pada gadis yang berpayung putih itu.
Gadis itu mengangguk pelan lalu masuk ke dalam mobil polisi yang langsung melesat kencang meninggalkan si abang yang sedang menatap bingung. tak mau di bebani dengan keraguan yang terhinggap di hatinya, akhirnya ia pun berusaha menyusul mobil polisi tersebut menggunakan sepeda motor milik nya.
"mbak pasien yang barusan di bawa pake mobil polisi ada di mana ya?". Tanyanya langsung pada seorang perawat begitu diri nya sampai di rumah sakit.
"lagi di tangani di ruang IGD dek". Sahut perawat tersebut.
ia pun langsung mencari tau nama pasien yang berada di ruang gawat darurat tersebut melalui kartu pelajar yang di periksa oleh seorang polisi yang membantunya tadi.
Ia melirik ke sebuah tas yang mirip dengan adeknya itu. Tunggu!!". Bukan mirip tapi itu terlalu identik dengan tas adeknya yang di pasangi pin pin berlogo tentara itu. Ia segera mengambil tas yang tergeletak begitu saja di atas bangku tersebut dan memperhatikan seluruh isinya dan seketika itu juga si abang berteriak memanggil nama adiknya yang kini sedang di pasangi berbagai alat di ruang yang kini di penuhi oleh para tenaga medis yang sedang bertugas tersebut.
Dan di Saat satu langkah lagi kakinya hampir mencapai ruang IGD tersebut ia di cegah oleh seorang polisi yang menggendong adeknya tadi.
"tunggu dek. Jangan masuk dulu. Kamu siapa?". tanya polisi tersebut.
"sa..ya...saya..abangnya". Ucapnya dengan terisak.
"ya udah sabar dulu. Adek kamu lagi di tangani sama dokter". Ucap polisi tersebut.
Lalu ia meminta si abang untuk duduk di ruang tunggu bersama polisi tersebut. Polisi tersebut tak henti hentinya memintanya untuk sabar dan berdoa.
"Kris. Ini siapa?". Tanya salah teman polisi tersebut.
"abang si korban". jawabnya.
"oo...".
"kris..ada yang mau aku omongin. Kita ke sana bentar yuk". Ajak pria yang di panggil Doni itu.
Sementara si abang hanya menunduk pasrah dan berdoa saat di tinggalkan oleh kedua pria dewasa itu. Hingga akhirnya salah satu dari mereka menghampiri si abang yang sedang ******* ***** tas adiknya.
"rumah kamu di mana dek?"..tanya pria yang di panggil kris itu.
"di daerah..xx..........". Sahut si abang.
"saya harus ketemu sama orang tua kamu". tukasnya.
" bisa tolong kamu antarkan saya ke rumah kamu?". Pintanya kembali.
Si abang pun mengangguk dan mengantar kan polisi itu ke rumahnya. Sampai di rumah ia memanggil ibunya untuk menemui Polisi yang kini sedang meminta dengan sopan pada sang ibu agar mau ikut dengannya untuk bertemu dengan anaknya. Sang ibu pun menurut. meskipun selama dalam perjalanan ke rumah sakit ibu dan anak itu di rundung ketakutan.
Dan benar saja, sesampainya di rumah sakit adiknya itu harus menjalani operasi besar di karenakan mengalami keretakan di bagian batang leher nya. dan bukan hanya itu saja, ibunya bahkan mengalami shock berat saat dokter memberitahukan bahwa adiknya akan mengalami cacat permanen akibat cedera parah yang di alami adiknya itu sehingga menyebabkan kerusakan pada syaraf yang berhubungan dengan kedua inderanya yaitu saraf koklea yang berhubungan pada pendengarannya dan juga saraf kranial di mana Salah satu fungsi dari saraf kranialis ialah memungkinkan seseorang untuk menelan sekaligus berbicara.
Hancur sudah harapan seorang ibu saat mendengar pernyataan dari dokter tersebut. bukan hanya ibunya bahkan sang abang pun turut merasa hancur jiwanya melihat kondisi dari sang adik yang sangat mengenaskan itu.
Jika pun ada bantuan dari pemerintah itu hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari hari mereka saja. Sedangkan untuk biaya perawatan sang adik dan juga ibunya si abang mulai menjual satu persatu benda benda yang ada di rumah selain ia harus berjualan sate keliling kota.
Hingga akhirnya ia kembali di hadapkan pada kedukaan bahwa sang ibu meninggal dunia di saat ia masih butuh salah satu orang tua sebagai penyemangat hidup dan juga sebagai alasan dia untuk terus hidup dan giat bekerja untuk kesembuhan ibunya dan juga adiknya. sampai sampai ia melupakan cita citanya sebagai seorang pilot.
Ting ting ting...
tiga nada pesan masuk ke ponselnya kini yang akhirnya membuat lamunannya buyar seketika.
Ia kembali mengemudikan becak motornya untuk kembali ke rumahnya. Ia berkendara melewati sebuah rumah sekolah khusus penyandang cacat di mana adiknya bekerja di sana sebagai guru. Tukang Sate tersebut berhenti di depan sekolah khusus tersebut untuk menemui sang adik.
ia melambaikan tangannya saat melihat adik nya keluar dari ruang guru dengan membawa serta ransel kerjanya. Adiknya tersenyum sumringah menatap abangnya yang datang menjemputnya.
"bang". Panggilnya dengan isyaratnya.
"sudah siap kamu?". Tanya si tukang sate tersebut pada adiknya yang memberitahukan padanya hari ini jika jadwal mengajarnya dalam satu bulan ini akan sampai sore di karenakan ada jadwal kursus untuk kelas tiga yang akan mengikuti ujian akhir nasional nya.
sang adik menganggukkan kepalanya.
"ayok kita pulang". Ajak sang abang.
Semenjak kedua orang tua mereka meninggal abang dan adik itu saling menjaga dan men -dukung satu sama lain. Terlebih sang abang yang ingin selalu menjadi pelindung bagi sang adik. Semenjak insiden beberapa tahun lalu membuat si abang bergerak lebih protektif kepada sang adik yang kini terpaksa harus menggunakan alat bantu untuk menunjang kegiatan sang adik.
Sehingga dua saudara kandung itu selalu menggunakan bahasa isyarat atau pun membaca gerakan bibir dari masing masing lawan bicaranya seperti sekarang ini.
"ini sudah habis bang?".tanya sang adik ke abangnya saat melihat isi gerobak sate sang abang yang telah habis tak bersisa.
"ya syukur alhamdulilah dek. Tadi habis hujan di serbu sama orang orang yang lewat. Mungkin mereka kelaparan karena cuaca dingin seperti ini". Jawab sang abang seraya tersenyum senang.
"alhamdulilah ya bang. Boleh dong makan enak malam ini di cafe resto yang ada menu masakan asia selatannya". pinta sang adik.
"hehe...ya bolehlah. Apa sih yang ga buat kamu coba?!"..jawab si abang sumringah.
Lalu kedua saudara itu pergi ke sebuah restoran cafe dan resto di mana mereka ingin makan menu menu dari asia selatan tersebut. mereka memasuki halaman parkir kafe yang tertera sebuah nama dari pemilik Cafe dan Resto tersebut.
...****************...
Hai readers jika ingin tau kisah mereka yang sebelumnya baca di novel pertamaku ya. Di Jasminka/Orchidea dan She is My Dea ( mengejar istri gila ). Tinggalkan jejakmu ya di sana. Sukriya 😉.
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
Terima kasih.