
hai readers Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
saat Rendy hendak masuk ke kamarnya Dean terdengar suara gelak tawa Dean dengan suara seorang pria dewasa.
Dee..sama siapa ya tertawanya? ". tanyanya di hati sembari mengintip di antara celah gorden jendela kamar dari ruangan tersebut.
sedangkan Dean dan Justin terus bermain dan bercanda tanpa henti. terkadang ayah dan anak itu saling menggelitik untuk men-dapatkan sensasi geli pada lawan mainnya.
mereka tidak mengeahui jika Rendy mem-perhatikan keduanya.
"apa itu ayah kandungnya Dee?. saudara sepupunya pak Satria? ipar nya si Retha? ". tanyanya di hati.
tak ingin mengganggu kesenangan keduanya apa lagi ia melihat anak angkatnya itu yang terlihat ceria saat bocah itu bermain bersama dengan pria yang terlihat mirip dengannya , maka Rendy pun membiarkan keduanya dan mencari tau dari perawat jaga tentang siapa orang yang sedang bersama Dee saat ini
"katanya si Dee. itu Daddynya pak".jawab seorang perawat yang di beri Amanah untuk menjaga Dean oleh Alma.
"ohhh... ". sahut Rendy manggut manggut sembari berlalu dari ruang rawat anak itu.
Rendy kembali ke ruang rawat Dea dan mem -beritahukan Alma jika Dean baik baik saja saat ini. akhirnya Alma menelpon suami nya jika malam ini ia harus menginap di rumah sakit karena sakit putri angkat mereka kumat lagi.
saat waktu menunjukkan siang hari bahkan hampir mendekati sore hari Dean mulai bertanya tanya di hati mengenai kabar bunda dan neneknya yang tak kunjung kembali ke kamarnya sesuai janji kedua orang tua itu.
"kamu kenapa nak?". tanya Justin saat menangkap raut kegelisahan di netra yang sama dengan miliknya.
"unda sama nenek kok beyum datang datang?". tanya Dean gelisah seraya bolak balik melirik ke pintu
"mungkin bunda sama nenek lagi sibuk di restoran. kan jam segini memang masih rame Dee". jelas Justin untuk menenangkan sang anak yang baru saja selesai ia suapi sop yang di antarkan oleh perawat jaga.
"buktinya yang mengantarkan sop kesukaan Dee kakak perawatnya. berarti bunda sama nenek masih sibuk kan di restoran". ujar Justin agar anaknya itu tak terlalu memikir kan dua wanita itu.
Sebenarnya Justin berharap jika satu harian ini dia bisa menjaga sendiri buah hatinya itu hingga Dean di nyatakan sembuh. akan tetapi hari ini putranya itu tampak gelisah lantaran nenek dan bundanya tak kunjung datang seperti yang di janjikan oleh keduanya seperti yang Justin curi dengar dari percakapan ponsel mereka sebelumnya.
"Dee bocen di kamal telus Daddy". keluh Dean dengan wajahnya yang di tekuk.
"jadi Dee mau apa?. bilang sama Daddy sekarang hmm". tanya Justin mencoba merayu sang buah hati agar tersenyum lagi.
Dean terdiam karena ia sendiri pun tak tau harus berbuat apa dengan tangan yang masih di passngi infus seperti ini. sebenarnya ia ingin sekali bisa pulang ke rumahnya lagi.
"Dee.. ". panggil Justin lembut.
"kalau ga Dee istirahat dulu aja lagi ya?". saran Justin pada putranya itu.
"males ah Daddy. Dee capek bobo teyus". sahut bocah jujur.
Justin menghela nafasnya sesaat saat melihat jam di dinding kamar yang menunjuk kan angka di pukul tiga sore.
suara tuas pintu di buka dari luar seorang perawat yang bertugas menjaga Dean masuk untuk melakukan pengecheckan ulang akan kondisi bocah tersebut.
"apakah semuanya stabil suster?". tanya Justin pada perawat yang sedang mem -perhatikan angka di thermometernya.
"Alhamdulilah pak. kondisinya sudah mulai baikan dan suhu tubuhnya juga mulai stabil pak". jawab perawat jaga tersebut.
setelah perawat itu selesai melakukan tugas akhirnya di sore ini, termasuk tugas menjaga Dean atas arahan teman mamanya itu. akhirnya perawat jaga pagi hingga sore itu pun akhirnya mengutarakan maksudnya jika saat ini jadwal tugasnya menjaga Dean selesai.
Perawat yang di panggil intan itu ingin menyampaikan pesan dari Rendy bahwa jam besuk untuk Dean pada pria itu di akhiri bersamaan jadwal tugasnya selesai di sore ini juga. di karenakan tugas menjaga Dean setelah ini akan di gantikan oleh Rendy sendiri.
meskipun ia sendiri tak mengerti akan silsilah keluarga dari pasien Mykehl Deansyah itu yang mana Dean memiliki ayah atau Daddy seperti yang hari ini dia dengar sendiri dari mulut bocah tampan itu.
"ya terimakasih atas bantuannya hari ini suster". jawab Justin polos tanpa merasakan jika Intan mengusir pria ini secara tak langsung.
"bukan begitu pak". bantah perawat tersebut.
"jadi apa?". tanya Justin tak mengerti.
Justin mengepal kedua tangannya erat saat mendengar nama Rendy yang mencoba memisahkan anaknya dari dirinya.
"mengapa berani beraninya dia mengatur jadwal besuk anak kandungku sendiri". geram Justin seraya menggeretakkan giginya sendiri.
melihat raut wajah Justin yang mulai tak bersahabat akhirnya Intan memilih keluar dari kamar tersebut demi menghindari cacian dan makian keluarga pasien terhadap dirinya meskipun ia memang tak pernah merasakan sekali pun.
akan tetapi berita berita sosial media mem -buatnya harus tetap waspada jika suatu hari menghadapi kemarahan keluarga pasien jika ada masalah dalam pelayanan mereka ke pasien.
Intan keluar lalu mengirimkan pesan ke Alma dan Rendy jika dirinya sudah selesai dalam siftnya di hari ini. sedangkan Rendy bertanya soal Justin tanpa sepengetahuan Alma pada Intan melalui aplikasi chatnya
"apa Daddynya Dee masih di situ?".
"masih pak. saya juga udah sampaikan apa yang bapak pesankan. tapi sepertinya Daddy nya Dee merasa keberatan pak". tulisnya berdasarkan apa yang ia rasakan saat melihat ekspressi wajahnya Justin tadinya.
"baik. terimakasih Intan. kamu pulang aja. biar nanti Daddynya Dee saya yang hadapi sendiri". balas Rendy.
keduanya menghentikan chatingan tersebut.
Rendy memilih kembali bekerja agar dapat segera menuntaskan laporannya hari ini juga. karena setelah ini ia berniat membantu tante Alma dan teman karibnya itu dengan menjaga si bocah tampan yang masih berada di ruang ruang rawat inap anak tersebut.
beberapa jam kemudian..
Dea terjaga dari tidurnya dan mendapati diri nya kembali dengan tangan yang terinfus dan juga selang oxygen yang kembali di pasang kan pada tubuhnya kini. di telinganya ter -dengar lantunan ayat ayat suci yang di baca kan oleh mama angkatnya.
ia melihat Alma yang sedang duduk di atas sajadah sembari terus membacakan sebuah surah yang terdengar syahdu di telinganya.
hingga di menit kemudian..
"Shadaqallahul adzim (Maha benarlah ALLAH yang Maha Agung)". ucap Alma seraya mencium sebuah Al qur' an yang berukuran sedang yang berada di tangannya sebagai tanda jika ia telah selesai mengaji untuk saat ini.
"maaa". panggil Midea saat ia tak mendengar suara Alma mengaji lagi.
Alma langsung menoleh ke arah brankar di mana Dea terbaring lemah dengan wajah pucat pasi.
"sayang. awak udah bangun?". tanya Alma. seraya mendekati Midea.
"ma.". panggil Dea pelan.
"Dee. Dee mana ma. dia sama siapa?". tanya Dea yang langsung teringat Dean pada mama angkatnya itu.
"dia baik baik sajo nak. sekarang sudah ada Rendy yang menjaga nyo. awak tenang saja yo". ucap Alma menenangkan hatinya Midea itu.
sementara tanpa di ketahui oleh kedua wanita itu jika Rendy dan Justin kini sedang duduk saling berhadapan di sebuah meja kantin rumah sakit. sedangkan Dean sendiri sedang di jaga oleh Danang setelah pulang dari bekerja seraya mengantar barang barang milik istri nya ke rumah sakit.
"kenapa?". tanya Rendy seraya menatap dingin pria yang ada di hadapannya kini.
"maksudnya?". tanya Justin seraya menatap balik pria muda di hadapannya kini dengan sinis.
mereka berdua kini saling pandang dan terkesan julid satu sama lain. Justin yang menganggap remeh Rendy, sedangkan Rendy menganggap Justin sosok manusia yang tak punya hati pada wanita sebaik teman karib nya itu.
"wajar di ceraikan oleh si Jasmine. orang punya laki model begini". gumam Rendy di hatinya kini.
"bocah ingusan aja sok sok an jadi ayah dari putra kandungku". gerutu Justin di hatinya.
NB
kek mana pulak orang tu dua bisa ketemu ya?
Lanjut ke next chapter ya readers. stay cool ya Readers.
...****************...