
#Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
taxi memasuki halaman parkir terminal bus.
begitu banyak manusia lalu lalang dengan segala macam model penampilan yang jauh dari kata elegant mau pun elit. jika pun ada hanya segelintir orang saja yang terlihat rapi dan elegant termasuk dirinya yang mungkin akan mengambil tiket vvip agar ia dan putranya bisa menikmati perjalanan dengan nyaman nantinya.
Midea keluar dari taxi setelah membayar sesuai argo. ia langsung di sambut oleh beberapa kernet bus dari armada yang berbeda.
"ayo bu, kakak, tante, adek kita ke bus yang itu saja. nyaman, aman tidak kebut kebutan.
"sambut seorang kernet yang berkacamata hitam di kepalanya mempromosikan armadanya.
"tidak. nanti saja. saya mau ke sana dulu. permisi". tolak Dea secara halus.
Dea segera menggendong Dean dan memeluknya erat tatkala di kejar beberapa kernet bus yang lainnya. sungguh terminal adalah tempat yang kurang nyaman buat bepergian di tambah lagi jika kita membawa barang segudang beserta anak anak.
jika Dea boleh memilih ingin rasanya ia menggunakan kendaraan pribadi saja agar lebih cepat sampai dan nyaman dalam perjalanan. tetapi apalah daya jika dirinya sekarang hanya seorang perempuan dengan anak satu tanpa memiliki apa apa untuk di bawa.
saat ini yang perlu ia amankan hanyalah dua. putranya dan juga tas sedang yang berisikan uang hasil penjualan baju baju brandednya.
Midea berjalan cepat menghindari para kernet bus yang mencoba membujuk dirinya agar mau naik ke armada mereka. tetapi ia sudah memiliki niat sendiri sedari ia masuk ke terminal ini.
Midea memasuki sebuah loket bus yang terkenal dengan supir dan armada yang baik dan nyaman buat bepergian kemanapun.
Midea di sambut baik oleh pemilik loket dan di beri penjelasan tentang armada mereka. setelah membayar tiket vvip yang akan ia tumpangi menuju kota brstgi.
hari ini ia berniat akan mengunjungi Arjun di kafenya yang ada di kota yang terkenal dingin itu.
setelah menunggu beberapa menit di dalam bus yang memiliki tempat duduk yang lebar dan nyaman itu, akhirnya bus berangkat dengan rute perjalanan mdn-pdg yang terdekat serta rute terjauh Mdn-jkt itu melaju ke jalanan lintas sumatera.
selama dalam perjalanan Dea memandangi putranya yang duduk dengan tenang seraya memandang ke arah luar jendela.
terkadang ia juga bertanya tentang benda dan pemandangan yang ia jumpai selama dalam perjalanannya. di sinilah peran Midea sebagai ibu benar benar teruji kesabarannya saat putranya itu tak henti hentinya bertanya tentang hal yang baru ia temui selama hidupnya.
Midea pun memaklumi hal tersebut karena selama ini bocah tampan itu hanya menggunakan pesawat jika bepergian keluar kota mana pun. dan ini adalah pengalaman pertama nya bepergian dengan bus seperti ini.
selama satu jam Midea terus mendengar ocehan putra tampannya itu. hingga akhirnya Dea melihat Dean sudah mulai sayu matanya dan akhirnya bocah tampan itu pun tertidur pulas di sisi Midea. ia membaringkan kepala sang putra ke pangkuannya seraya mengelus elus pelan rambut ikal lembut yang berwarna coklat tersebut.
...----------------...
Justin bergegas turun dari rooftop kantor cabangnya yang berada di kota Mdn. ia segera menghubungi anak buahnya saat mendapati foto Midea dan anaknya di sebuah Mall yang berada di pusat kota.
"dari mana kamu dapatkan foto tersebut?". tanya Justin seraya berjalan menuju lift.
"seorang penggemar Midea Hasxander mengambil foto mereka diam diam dan mengunggahnya di laman sosial miliknya pak". sahut salah satu bodyguard nya Justin.
"berari kalian kalah cepat kan dari mereka. sialan. you are too late". gerutu Justin sebal.
"Alan saya mau kamu melacak seluruh cctv jalanan yang ada di kota ini sekarang juga. terserah gimana caranya". titah Justin lalu pergi meninggalkan Alan sendiri di rooftop dan masuk ke lift menuju ruangan pribadinya
sementara Alan terdiam bengong seraya memandangi pintu lift yang tertutup rapat karena kekesalan si bossnya yang kesal mendapatkan berita yang tidak menyenang kan hatinya.
"aish... si boss. macem dapat PMS aja ni sekarang". gerutu Alan seraya berjalan ke arah tangga darurat.
"nyonya ... nyonya ...ga dulu ga sekarang bikin repot aja sih nya". Alan menggerutu kembali seraya menuruni anak tangga.
...----------------...
Satria terpaksa kembali memutar balik mobilnya ke arah kota untuk mendatangi kantor KBC saat baru tiba di pabrik dari perusahaan itu.
Satria mendapati abang sepupunya sedang menelpon bawahannya yang meminta terus melacak keberadaan istri dan anaknya.
"bang". panggilnya saat abang sepupunya itu selesai dengan telponnya.
"hai dek". sapanya datar dengan wajah gelisah.
"kapan Jasmine kabur bang? ". tanya Satria basa basi yang sebenarnya ia sudah tau dari cerita bu'denya.
"mamaku pasti sudah ceritakan?". sahut Justin setelah menarik dalam nafasnya dan membuangnya kasar.
"iya. seharusnya kalian beritahu kami langsung. dengan begitu aku dan Retha bisa menghentikan mereka dari sini". ujar Satria yang memberikan saran meskipun ia tau sudah sangat terlambat.
"entahlah dek. abang panik. abang pikir ia tidak akan kesini dan memiliki rencana yang abang bisa menebaknya dia akan kemana setelah sampai ke Indonesia. nyatanya ahkh... sial.. wanita itu...puff...". ucap Justin menahan
rasa yang becampur dengan sejuta perasaan yang menghimpit dadanya saat ini.
"aku akan minta bantuan pada teman teman ku yang pintar di bagian IT agar mereka bisa melacak Jasmine melalui cctv jalanan". saran Satria seraya mencari sebuah nama teman lama yang bekerja sebagai pengajar di bagian teknologi dan Informatika.
'hal itu sudah abang suruh si Alan". ucap Justin datar seraya mengurut urut keningnya.
"abang udah makan? ". kita keluar dulu yok? ". ajak Satria seraya mendekati abang sepupu nya itu dan menarik lengannya.
Satria tau pastilah abang sepupunya itu belum sempat makan lantaran kepikiran Dea dan Dean. Satria menyetir mobil membawa abang sepupunya itu ke sebuah kafe resto milik mahasiswanya dulu.
"kenapa bukan di tempat biasa dek? ". tanya Justin saat melewati kafe yang biasa mereka tongkrongi.
"cuma ada kopi dan cemilan doang kalau di situ. ga komplit. mending ke tempat si Arjun. paket komplitnya banyak di sana". sahut Satria tersenyum untuk menenangkan sang abang yang lagi puyeng, yang belum di kepalanya penuh dengan bintang bintang.
sementara Justin terus memikirkan Midea yang terus kabur sementara ia terus mengejar istri yang gila itu.
"yah Midea memang istri yang gila kabur.". dumelnya kesal.
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.