
Hai my readers Selamat menikmati episode kali ini ya???. semoga enjoy 😉.
keesokan paginya...
Justin tiba di kantin sekolahnya Dean dengan wajah yang terlihat sumringah. ia sengaja bangun lebih awal di pagi ini di rumah sewa nya yang terdekat dari rumahnya Jasmine. hanya demi melihat pergerakan aktifitasnya Dean di rumahnya Jasmine atau pun rumah yang satunya berada tepat di depan rumah nya mantan istrinya itu.
"nak Justin. ada di sini?". sapa pak Amat yang terhenyak kaget melihat pria bule tampan itu ada di kantinnya lagi pagi ini.
"hehe.. iya pak. saya udah janjian sama Dee di jam istirahat nya nanti". sahut Justin seraya tersenyum senang.
"Oohh... pantesan.... karena kalian udah lama ga bervideo call ya nak?".ujar pak Amat ber -komentar.
"itu salah satunya pak". sahut Justin.
pak Amat kembali ke dapur lalu membuatkan kopi hitam asli dan menyuguhkannya pada Justin.
"minumlah sambilan menunggu si Dee". ucap pak Amat.
"terima kasih pak".sahut Justin.
lalu pak Amat kembali ke dapur untuk mem -persiapkan kudapan untuk para guru yang nantinya mencari makanan ringan untuk selingan waktu istirahatnya.
bel berbunyi sekali pertanda jika jam istirahat dari sang putra telah tiba. Justin pun dengan - segera bangun dari duduknya untuk melihat dan menyambut sang putra yang keluar dari kelasnya.
Justin tersenyum bahagia melihat Dean yang berjalan ke arah kantin. ia mendekap erat tubuh sang putra saat tubuh gembul itu telah berada tepat di hadapannya.
"Dee... Daddy kangen banget sama kamu sayang". ucapnya seraya terus menciumi pipi gembulnya dengan gemas.
"Daddy..?? ". Dean menegur Daddynya agar berhenti memeluk dirinya seperti ini.
sebenarnya ia ingin menghindari di peluk oleh Daddy, akan tetapi ia belum punya alasan untuk menghindari.
"maaf sayang.. Daddy begini karena kangen berat sama kamu. kemarin Daddy ga bisa peluk kamu seperti ini". ucap Justin saat melepaskan pelukannya.
Dean hanya bisa menanggapinya dengan senyuman atas apa yang di katakan Daddy nya barusan.
"kita keluar yuk?". ajak Justin yang berniat mengajak sang putra untuk jalan jalan hari ini.
"Dee masih ada jadwal belajar Daddy". tolak Dean secara halus.
"ga apa sayang. hari ini kamu free. Daddy udah minta ijin sama kepala sekolahnya jika selama tiga jam ke depan Dee sama Daddy ke luar jalan jalan". bujuk Justin.
Dean bergeming ragu menatap sang Daddy yang berusaha membujuk dirinya. akan tetapi ia teringat pada bundanya yang hingga kini masih berada di rumah sakit.
Dean takut jika pertemuannya dengan sang Daddy membawa petaka bagi bundanya lagi. karena pertemuannya yang terakhir kalinya di rumah sakit kemarin membuat sang bunda harus di rawat kembali.
flasback ya..
Justin meminta Dean untuk ikut dengannya Sekarang.
"besok aja ya Daddy".tolak Dean halus seraya tersenyum.
"kenapa harus besok? "tanya Justin Penasaran.
"besok Dee mulai sekolah. jadi besok kita bisa ketemu pas Dee lagi istirahat sekolah. Daddy boleh datang ke kantinnya pak Amat kayak biasa ya". ucap Dean memberikan saran pada Daddynya itu.
"ya udah deh. besok ya? ". balas Justin menyetujui rencananya Dean.
setelah Dean meminta Justin untuk bertemu besok saja di sekolah dan juga meminta Daddynya itu untuk pergi segera meninggal kan ruangan kamar ini sebelum bundanya itu terbangun karena suara berisik yang berasal dari mereka berdua.
Justin pun setuju. maka di saat itu juga Justin melangkah pergi dari jendela kamar rawatnya Midea. dan benar saja sepeninggal nya Justin beserta dengan wangi yang kini melekat kuat di tubuhnya Dean. membuat bunda nya itu terjaga.
"Dee". panggil Dea lemah kepada putranya mungkin karena efek obat penenang yang di suntikan ke cairan infusannya.
"unda... udah bangun?". tanya Dean seraya tersenyum.
"udah sayang. sini"..jawab Dea lemah dan meminta Dean untuk mendekat padanya seraya mencoba bangun untuk duduk dan bersender pada Headdboard ranjang.
Dean pun menuruti apa yang di minta oleh sang bunda dengan mendekat ke arahnya.
"Dee.. tadi lagi ngapain aja waktu bunda bobo hmm?". tanya Dea pada putranya.
"ga ada. Dee cuma duduk duduk di situ aja kok". jawabnya seraya menunjukkan pada sebuah sofa yang berada di sudut ruangan kamar.
Midea tersenyum kecil menanggapi jawaban polos putranya. samar ia tercium wangi yang kemarin. wangi yang membuat dirinya sering mengalami mimpi buruk.
"nanti sore Dee pulang ke rumah nenek ya?.titah Dea yang mencoba mengalihkan pemikirannya yang membuat dirinya sakit lagi
"Dee bobo sini aja ya bun. kalau Dee puyang. Dee ga ada temannya". protes Dean yang memang keberatan jika pulang tanpa bunda nya.
sedangkan Dean hanya bergeming seraya menundukkan pandanganya.
"Dee mau sekolah lagi kan besok. kalau Dee bobo di sini. gimana peralatan sekolahnya Dee?. kan semuanya ada di rumah sekarang?. pulang ya sama nenek?!. bujuk Dea kembali meskipun wangi misterius itu masih terasa menusuk di hidungnya.
"iya deh unda". sahut Dean lesu.
Sebenarnya ia masih ingin bersama dengan bundanya di sini. berangkat sekolah dari sini. akan tetapi ia telah berjanji dalam hati akan selalu mematuhi bundanya.
"sini sama bunda. bunda pingin peluk Dee". pinta Dea seraya membuka lebar kedua tangannya.
Dean pun langsung lebih mendekatkan diri ke bundanya serta menyerahkan tubuh gembul nya untuk di peluk sang bunda yang ia sendiri pun kangen di peluk oleh bundanya.
sedangkan Midea sendiri yang sedari awal mencium wangi misterius yang tiba tiba muncul di kamarnya kini semakin terasa tercium di hidungnya. wangi misterius ini begitu melekat pada Dean. Dea menciumi tubuh sang putra mulai dari pipi, leher, ubun ubun bahkan tangan serta baju yang di pakai oleh putranya saat ini.
Midea melebarkan kelopak matanya saat ia merasakan jika wangi ini adalah wangi yang sama yang pernah tercium saat berada di koridor rumah sakit ini.
"Dee". panggilnya pelan kepada sang putra yang masih dalam pelukannya.
"ya unda". sahut Dean yang masih nyaman dalam pelukan sang bunda.
"tadi waktu bunda tidur. siapa yang datang ke sini?". tanya Dea lembut.
Deg. seketika jantungnya Dean berdetak kuat.ia kembali bergeming dengan pemikiran yang ragu untuk menjawab pertanyaan yang pernah di ajukan oleh sang bunda sebelum nya. Dean menundukkan wajahnya seraya berfikir untuk mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan sang bunda.
"Dee". panggil Dea kembali seraya menelisik ke wajah yang kini menunduk itu.
"Dee". panggil Dea yang kini mulai mencurigai sesuatu yang lain pada sikap sang putra.
Midea melihat ada rasa tak nyaman serta raut wajah ragu yang terlintas di wajahnya sang putra.
"Dee. kenapa ga jawab?".tanya Dea bernada interogasi.
"Dee. jawab bunda nak?". apa ada dokter datang ke sini?". tanya Dea yang mencoba membantu Dean untuk memberikan jawaban nya.
Dean menggeleng pelan.
"jadi siapa Dee?. jawab bunda". desak Midea penasaran.
"apa tadi yang datang perawat?". tanya Dea pada putranya yang masih memilih diam. bahkan hanya gelengan kepala sang putra yang ia dapatkannya sebagai ganti jawaban.
Midea mendesah pelan seraya menatap wajah yang tengah menunduk itu. wangi misterius dari tubuhnya Dean menyeruak memenuhi rongga hidung mancungnya bahkan meresap masuk ke dalam dadanya yang kini perlahan mulai menghimpit rongga dadanya.
"tidak... tidak.. tidak.. tidak.. boleh seperti kemarin lagi". Gumam Dea di hati seraya menggelengkan kepalanya.
Midea tak mau lagi di tarik oleh ingatannya sendiri untuk masuk ke dalam sepotong memori yang terlintas kini di benaknya yang pastinya akan memaksa otaknya bekerja untuk mencari tau kapan potongan memori tersebut tercipta?, lalu di bagian masa mana tepatnya potongan memory itu berada?.
wangi ini benar benar telah membuat Midea teringat akan momen sesuatu. entah itu di masa yang lalu sekali atau momen saat detik detik ia akan mengalami kecelakaan parah di enam tahun yang lalu.
"akh". pekik Midea secara tiba tiba lantaran ia merasakan kembali nyeri di kepslanya.
sementara Dean yang mendengar pekikan sang bunda yang berusaha untuk memelan kan suaranya menjadi khawatir karenanya lantaran ia melihat raut wajah sang bunda yang mulai kesakitan.
"unda.. ". panggil Dean dengan suara yang pelan.
tetapi Midea bergeming seraya meremas kulit kepals hingga rambutnya untuk meredakan rasa sakit yang di rasakan saat ini. tetapi karena wangi misterius itu masih terasa hingga di benaknya maka otaknya mulai memunculkan kembali serpihan serpihan memori yang membuat Dea harus berfikir keras membuatnya menjadi satu kenangan yang berarti.
"unda... ". Dean memanggilnya kembali saat melihat sang bunda yang mencoba menahan rasa sakit. dan ia pun mulai ketakutan melihat sang bunda yang terus berusaha menahan rasa sakit.
akhirnya Dean keluar kamar dan berinisiatif untuk meminta bantuan pada perawat jaga untuk menolong sang bunda. akan tetapi baru juga Dean membuka pintu kamar rawat sang bunda terdengarlah di telinganya kembali
"aaaaaakhhhhkkk" teriakan kesakitan dari bundanya itu. dan juga seiring ia memanggil
"undaaaaaaaa". teriaknya juga. lalu di akhiri dengan
baammmm. kembali Dea tanpa sadar meng -hantam keningnya kembali ke headboard brankar di depan kedua mata putranya. sontak hal ini mengejutkan bathin anak yang berusia hampir memasuki empat tahun itu.
Dean bergeming di antara para perawat yang berhamburan ke dalam untuk menolong sang bunda. ia terpaku di tempat seraya netranya yang tak bisa lepas dari sang bunda yang kini terdiam di atas brankarnya dengan darah yang mengucur kembali di keningnya.
*
Yok ke next chapter ya reader..
...****************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ku ini ya?? dengan memberi like,vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉.