
#Wellcome back my readers yang super duper caem dan cuakep. Selamat menikmati episode kali ini ya???.
Dea hanya menarik sudut bibirnya seraya membelai rambut Dean saat menatap tingkah sang putra yang mungkin sudah di hinggapi rasa lelah dan bosan pada putranya itu.
Dea menatap keluar jendela kaca dari dalam taxi yang di tumpanginya. ia berharap bisa secepatnya tiba di bandara dan menaiki pesawat yang akan membawanya keluar dari kota ini menuju kota kelahiran putranya.
Mungkin di sana ia akan memulai dari awal kehidupannya kembali. dimana dulunya saat ia sendiri dalam pelariannya dan berdoa di dalam hatinya bahwa ia ingin ada seseorang yang datang menolongnya saat itu. entah siapapun, yang jelas saat itu ia ingin ada seseorang yang menjadi sandaran hidupnya meskipun hanyalah sesaat saja hingga ia benar benar kuat menghadapi dunia terutama Justin dan keluarganya.
(baca cerita sebelumnya di novel She is My Dea ( mengejar istri gila) episode pelarian).
Dan kali ini ia ingin memulai kembali dari awal di kota itu. ia berharap bisa menemukan kedamaian di sana untuk selamanya. menghabiskan masa tuanya meskipun tanpa pendamping dalam hidupnya.
Midea tak perduli lagi pada siapapun yang telah menyakiti hati dan menghancurkan hidupnya sekalipun orang tersebut adalah pria yang sangat ia cintai dulunya. sekarang di hatinya hanya ada satu kata untuk laki laki itu yaitu "BENCI".
rasa benci untuk pria yang telah mencoba memisahkan dirinya dengan darah dagingnya sendiri, sekalipun pria itu adalah ayah biologis dari putranya. meskipun pria itu mencoba berbaikan pada dirinya selama beberapa hari ini. tetapi di hatinya saat ini hanyalah tersisa rasa benci untuk seorang Justin Kehl Ardiansyah.
Midea sudah tidak perduli lagi atas apa yang Justin lakukan padanya untuk bisa berbaikan dengan dirinya lagi, sebab ia tau jika pria itu dan keluaranya tidak benar benar tulus menerima dirinya. mereka baik dan mau menerima dirinya hanya karena Dean, putra nya keturunan dari Kehl Ardiansyah.
itu terbukti saat dirinya di nyatakan sulit hamil oleh Dokter yang memeriksakan dirinya saat itu. Justin dan keluarganya tak perduli pada nya bahkan mengabaikan dirinya selama bertahun tahun.
bukan hanya itu saja bahkan hal yang paling menyakitkan baginya adalah saat Justin telah puas melampiaskan hasratnya malam itu ia di tinggal pergi begitu saja tanpa pria itu mau perduli tentang hidup dan perasaan hatinya setelah itu.
(baca ceritanya di novel Jasminka/orchidea episode Kecewa ya readers).
Midea mengepal erat tangan kirinya saat mengingat masa masa terburuk dalam hidupnya di mana Justin dengan sengaja menyemprotkan obat perangsang padanya dan memberikan dirinya pada beberapa bodyguard nya untuk bisa menikmati tubuh nya sebagai hukuman.
( baca cerita selengkapnya di Jasminka/orchidea episode akhir ya readers).
Midea menarik dalam nafasnya serta mengeluarkannya secara perlahan untuk meredakan rasa sesak yang mulai terasa menghimpit dadanya. rasa benci semakin mendalam pada pria yang dulunya ia cintai itu.
ia berniat akan mengajukan cerai pada Justin dan memperjuangkan hak asuh anaknya setelah ini. baginya sekarang adalah Dean, darah dagingnya yang ia perjuangkan untuk ada dan tumbuh di rahimnya.
"sudah sampai bu". teguran sang supir menyadarkan Dea dari lamunannya.
"terimakasih pak". sahut Dea.
Dea pun turun seraya menggendong Dean setelah membayar ongkos taxinya. menatap sejenak gerbang masuk ke bandara yang terluas ke empat di Indonesia. yang Dibangun di area seluas seribu enam ratus lima puluh hektar. Bandara yang berlokasi di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi SUMUT ini berada di urutan ke empat terbesar se -Indonesia.
Pembangunan bandara ini di laksanakan untuk menggantikan Bandar Internasional Polonia Mdn yang telah berusia lebih dari delapan puluh lima tahun.
( belajar sejarah dikit ya readers biar nambah pinternya hehehe 😉)
ia menghela nafasnya sejenak lalu mulai melangkah mendekati pintu masuk ke dalam bandara tersebut. tetapi baru saja ia memulai beberapa langkah dan hampir mendekati pintu masuk bandara tersebut, dari kejauhan ia melihat salah satu bodyguardnya Justin yang pernah mencoba menangkap dan menyentuh tubuhnya saat ia di hukum oleh Justin karena telah mencelakai Namira kala itu.
dengan sigap Midea memutar tubuhnya kembali menghadap parkiran dan segera pergi menjauh serta memasuki sebuah taxi yang baru saja menurunkan penumpangnya.
"brengsek si Justin. taunya ngerahin bodyguard nya mulu buat ngejar aku". Midea menggerutu kesal di hatinya.
"jalan pak sekarang". titah Dea pada supir taxi tersebut.
"unda... kok kita naik ini lagi? ". tanya Dean heran mendapati dirinya dan juga bundanya di dalam taxi.
"Dee.. kalau kita tunda dulu ke rumah nenek nya hari ini ga pa pa kan? ". tanya Dea hati hati pada putranya itu.
"unda mau ketemu teman unda lagi ya?". terka Dean di liputi rasa penasaran.
Dea tersenyum simpul dan berusaha menjawab sebaik mungkin agar anak itu mengerti tanpa ia harus menjelaskan tentang kondisi yang sebenarnya terjadi saat ini.
"iya. Dee ga keberatankan? ". tanya Dea kembali.
"ga pa pa unda... Dee ga kebelatan kok. apa lagi kalau kita ke tempatnya papa Aljun". sahut Dean polos dengan tatapan penuh harap jika Dea mengajak sang putra ke tempat Arjun yang ada di Brstgi.
"iya kita ke tempat papa sekarang. Dee senangkan? ". sahut Dea tersenyum.
Dea pun memenuhi permintaan sang putra yang baru saja memberikannya ide ke arah mana dan dengan cara apa ia akan melanjut kan perjalanan nya kali ini.
"bener unda? ". tanya Dean tak percaya pada apa yang di dengarnya.
"iya Dee mau unda". sahut Dean senang.
akhirnya perjalanan menuju kota pdg harus terpaksa Dea tunda demi keselamatan dirinya dan juga putra semata wayangnya.
Dea terpaksa menggunakan jalur darat untuk tujuannya. ia berharap Justin dan anak buah nya tidak berinisiatif mencarinya hingga ke terminal terminal atau pun stasiun.
Dea juga berharap agar ia bisa selamanya bebas dari kejaran seperti ini. segera setelah ia menitipkan Dean pada Alma. Dea akan kembali menemui Sagita untuk meminta tolong padanya agar mengurus surat hak asuh anaknya dan juga perceraiannya dengan Justin.
ia tidak akan mau lagi bertahan dalam rumah tangga dan hidup dengan pria yang tidak pernah ada secuil pun rasa cinta untuk dirinya bahkan sudah terlalu banyak hal pria itu dan keluarganya menyakiti hatinya selama ini.
rasanya percuma jika bertahan pada satu cinta. karena Midea yang sekarang bukanlah Midea yang dulu. yang selalu mengemis ngemis dan berharap cinta pada Justin.
cukup ia di abaikan selama ini. cukup ia di remehkan selama ini. cukup ia di hina bahkan di caci oleh suaminya sendiri hanya karena ia berasal dari lembah yang kotor, tidak memiliki keluarga yang bisa ia mintai perlindungan.
tidak ada lagi kata kata bertahan dan sabar dalam kamus hidupnya saat ini. semuanya omong kosong.
Justin dan keluarganya hanya menyukai Jasmine yang berasal dari keluarga terhormat dan juga di kenal gadis baik baik. meskipun pengadilan telah memutuskan bahwa Jasmine adalah dirinya sendiri tetapi tetap saja di hatinya belum bisa yakin jika dirinya adalah Jasmine yang mereka cari selama ini.
"jika mereka menerima aku karena aku memang Jasmine. lalu apakah mereka akan mendepakku jika aku tetap Midea? ". batinnya berkecamuk.
Midea tersenyum miris memikirkan nasib hidupnya yang penuh liku tanpa tau kemana akhir dari liku tersebut.
entahlah. yang jelas saat ini ia hanya mempercayai orang yang benar benar tulus menolong dirinya saat ia jatuh dan rapuh.
"Arjun, Sagita please help me now". desisnya pelan seraya menatap ke luar jendela taxi yang ia tumpangi.
...----------------...
Di rooftop kantor pusat KBC Jkt...
"kecepatan penuh pak". titah Justin saat ia sudah duduk di belakang pilot
Alan meremas pelan lututnya menatap raut wajah bossnya yang terlihat kesal dan juga resah. ia memahami perasaan hati bossnya.
siapapun pasti merasakan hal yang sama jika mendapatkan masalah seperti ini.
belum lagi di kantornya pakai acara drama mati lampu segala lagi. yang menyebabkan perjalanan ke rooftop menggunakan lift jadi tertunda sehingga si boss mau ga mau menggunakan tangga darurat di setengah perjalanannya.
"sudah kamu kerahkan semua orang orang kita untuk mencari Midea di seluruh kota Mdn". ujar Justin setengah teriak di telinga nya Alan.
"sudah pak". sahut Alan seraya mengangguk kan kepalanya.
"Midea.. Midea.. kenapa sih kamu bandel banget jadi istri. kenapa kamu selalu kabur dari aku. seharusnya kita bisa bicarakan baik baik jika ada sesuatu yang ga kamu sukai sayang". gumam Justin di hatinya seraya menatap keluar jendela helinya
...**************...
Hai readers...mohon dukungannya kembali untuk novel ke empatku ini ya?? dengan memberi like, vote, poin, fav, dan share link nya ya readers 😉
Dan jangan lupa follow akun ku di
Noveltoon Hazhilka 279
facebook Hazhilka
#Hazhilka
ig Hazhilka279
.
Terima kasih.
.